
Ratna datang dengan membawa obat-obatan dari apotek, meski memang luka Amus tidak parah tapi memar di kakinya membuat rasa nyeri hingga sulit untuk berjalan.
"Bagaimana kabarmu?" tanya Ratna.
"Kau bisa melihatnya sendiri" jawab Amus dingin.
Sebenarnya Ratna sudah tidak berharap pada cinta, tapi ia tidak bisa mengontrol tubuhnya yang bergerak begitu saja. Sikap cuek Amus sudah ada sejak dulu tapi setelah ia tahu cintanya tidak ada pada diri Amus membuat sikap cuek itu terkadang menyiksa batinnya.
"Kau semakin baik, baguslah... " ujar Ratna.
"Kalau begitu aku pulang dulu, selamat malam"
"Mm" sahut Amus membiarkan Ratna pergi.
Ia menatap obat-obatan yang Ratna bawa, melihatnya dengan lebih teliti dan ternyata hal itu membuatnya sakit. Ia bergerak perlahan dan mengambil sesuatu dari dalam laci, itu adalah jam tangan yang diberikan Ratna saat ulangtahunnya.
Jam tangan itu ia kenakan di tangan kanannya sebelum pergi tidur, dengan harapan ia akan bermimpi indah tentang hubungan mereka yang mungkin tidak akan pernah menjadi kenyataan.
* * *
Sebelum pergi tidur seperti biasa Ratna membereskan buku-buku pelajarannya agar esok pagi ia tinggal berangkat sekolah, tapi saat melihat salah satu buku itu ia teringat adanya tugas yang belum ia kerjakan.
"Astaga.... besok aku harus mengumpulkan tugasnya, bagaimana ini?" gumamnya.
Waktu menunjukkan pukul setengah sembilan malam, ia harus bergegas kalau tidak toko akan segera tutup. Dengan menggunakan jaket ia berlari keluar rumah, secepat mungkin hingga sampai di toko.
Beruntung saat itu toko masih buka sehingga bisa membeli peralatan yang ia butuhkan, setelah membeli semua keperluan itu ia pun pulang dengan berjalan kaki.
"Kaki ku rasanya akan patah" keluhnya karena lelah berlari.
"Kau dari mana malam-malam begini?" tanya Ardi yang kebetulan keluar rumah.
"Aku dari toko, membeli peralatan untuk membuat prakarya"
"Owh... kenapa larut begini?"
"Aku lupa kalau ada tugas membuat prakarya, besok harus sudah aku kumpulkan jika tidak aku bisa rugi karena kehilangan nilai"
"Mm, kau mau ku bantu? jika kita lakukan bersama pasti lebih cepat selesai"
"Sungguh? terimakasih banyak" ujar Ratna menerima tawaran itu.
Ardi bergegas menghampiri Ratna dan berjalan bersamanya, mereka tiba di rumah tak lama kemudian dan langsung mengerjakan tugas itu. Kali ini Ratna membuat sebuah lukisan 3D dengan menggunakan kulit bawang, ia buat sketsa dulu dengan membuat gambar bunga baru kemudian di tempelnya kulit bawang yang bagus dengan bantuan perekat.
Mereka harus hati-hati dalam mengerjakannya sebab kulit bawang cukup tipis dan rapuh sehingga mudah rusak, berjam-jam berlalu rasa lelah membuat mata Ratna mulai mengantuk.
Untunglah ada Ardi di sana yang membatu sehingga tugas itu akhirnya selesai juga, Ratna nampak senang karena hasil karyanya bagus dan rapi.
"Terimakasih, berkatmu besok aku bisa mengumpulkan tugasnya" ujar Ratna.
Ardi hanya tersenyum sambil menatap Ratna, meneliti wajahnya yang cantik sambil mencoba menerka apa ayang ada di dalam pikiran gadis itu.
"Na, apakah... kau pernah berfikir kenapa aku selalu baik kepadamu? apakah kau tidak pernah merasa bahwa sikap ku berbeda dengan yang lain?" tanya Ardi tiba-tiba.
Ratna tak bisa menjawab pertanyaan itu sebab baginya ucapan itu merupakan pernyataan yang sukar ia mengerti, satu hal yang pasti Ratna sadari itu merupakan kode untuk sesuatu yang lain.
"Kau sudah menguap dari tadi, pergilah tidur aku juga akan pulang" ujarnya tanpa menunggu jawaban Ratna.
Setelah kepergian Ardi Ratna masih mencoba memikirkan ucapan itu, sebenarnya ia cukup peka dan sadar bahwa ada kemungkinan Ardi menyukainya sebagai seorang wanita. Tapi jika Ardi tidak menyatakan perasaanya maka sampai kapan pun Ratna tidak akan mengakui bahwa Ardi memiliki perasaan terhadapnya.
Ia akan tetap bersikap biasa saja layaknya seorang teman bahkan meski saat hari ulang tahunnya Ardi memberikan kado yang cukup istimewa, itu merupakan kalung liontin yang indah dimana ia bisa menyimpan sebuah foto kecil di dalamnya.
__ADS_1
Ratna mencoba bicara dengan Rere tentang masalah Ardi, Rere mengatakan firasatnya mengatakan bahwa Ardi memang memiliki perasaan terhadapnya.
"Cobalah untuk membuka hatimu, dia pria yang tampan dan pintar apalagi yang kurang darinya?" ujar Rere mencoba menasehati.
Itu memang benar, Ardi adalah sosok pria yang banyak di idam-idamkan oleh kaum hawa. Tapi baginya yang sejak kecil sudah hidup bersama, Ardi hanyalah kakak yang overprotective.
"Entahlah, aku tidak yakin" akui Ratna.
"Apa kau masih trauma pada apa yang terjadi dengan Amus?" tebak Rere.
Meski Ratna tak menjawab tapi dari ekspresi saja itu sudah dari cukup untuk menjelaskan semuanya, Rere tidak bertanya lagi atau menasehati yang lain. Semua keputusan ada di tangan Ratna, jika ia mau membuka hati mungkin saja hubungan itu akan berhasil.
Ratna di buat bingung oleh hatinya yang tidak bisa di pungkiri bahwa masih ada Amus di sana, tapi otaknya berkata bahwa dicintai lebih baik dari pada mengharapkan yang bukan miliknya.
Di dalam kamar ia menatap dua benda dengan otak dan hatinya yang terus saja berseteru, satu musik box pemberian Amus yang selalu menemaninya di kala bosan dan satu lagi kalung liontin pemberian Ardi yang menjadi kode perasaannya.
Hhhhhhhhh
"Kenapa kepalaku rasanya mau meledak" gumamnya sambil memijit kening.
Lelah terus berfikir Ratna mengambil keputusan untuk tetap bersikap biasa saja sampai Ardi menyatakan cintanya, saat hari itu tiba ia yakin hatinya akan memberikan jawaban yang tepat.
Setelah semua pendekatan yang di lakukan Ardi Ratna pikir ia akan menyatakan perasaannya lebih cepat namun ternyata setelah mereka memasuki semester kedua Ardi masih belum menyatakan apa pun.
Ia masih memberi perhatian lebih, masih sangat baik dan terkadang membuatnya merasa istimewa sebagai seorang gadis. Kadang ia juga menggoda dengan mengatakan lelucon bahwa sebagai pria ia tertarik kepadanya, tapi semua itu masih sebatas lelucon.
Rasa penasaran Ratna pada isi hati Ardi yang sebenarnya membuatnya lelah juga, pada akhirnya sampai saat ini mereka tetap menjadi teman.
Pada kenyataannya Ardi sudah hendak menyatakan perasaannya, namun saat ia melihat kekhawatiran di wajah Ratna untuk cedera ringan yang di alami Amus membuat niat itu ia urungkan.
Dengan jelas ia masih bisa melihat ada rasa di kedua orang itu yang tersimpan rapi dalam bentuk teman, ia tidak bodoh dan sadar Amus telah menarik diri dari Ratna begitu pun dengan Ratna yang menyerah untuk hubungan mereka.
* * *
"Apa kau memakai parfum?" tanya Ratna mencium aroma harum dari tubuh Rere.
"Kau suka aromanya?"
"Lumayan, kenapa kau memakai parfum saat mau pulang?"
"Ada sebuah toko buku yang baru di buka, aku dengar ada banyak buku-buku menarik di sana. Toko itu cukup populer dan punya banyak anggota, aku ingin ikut gabung agar bisa meminjam buku"
"Jadi yang kau taksir anggota di toko itu atau pemilik tokonya?" tanya Ratna memperjelas.
"Hehe... itu... sebenarnya tidak ada"
"Tidak mungkin, bagaimana bisa kau tampil cantik seperti ini bahkan sampai memakai parfum jika tidak ada yang kau incar" ujar Ratna tak percaya.
"Sungguh, aku hanya berfikir mungkin aku bisa menemukan seseorang yang tepat di sana" jawab Rere.
"Hmm, baiklah semoga beruntung" ucap Ratna.
Rere tersenyum dan berterimakasih atas dukungan yang di berikan Ratna, setelah putus dengan Jimy sebenarnya ia merasa sedikit menyesal. Ia sadar sikapnya sudah kelewat batas, apalagi saat melihat Jimy yang rela menunggunya berjam-jam hanya untuk minta maaf di tengah dinginnya malam ia tahu Jimy adalah pria yang baik.
Tapi keputusan telah di ambil, mereka berpisah dengan cara yang tidak baik dan tak ada gunanya untuk menyesal. Kini ia sudah masuk ke semester dua dimana waktunya untuk bersenang-senang akan segera habis, setelah naik ke kelas tiga tugasnya hanya satu yaitu belajar.
Oleh sebab itu ia ingin mencoba menjalani satu hubungan lagi dan menikmati masa-masa indah sebelum masuk ke zona sibuk.
Setelah sampai di tempat itu Rere kembali merapikan rambut dan pakaiannya sebelum masuk ke dalam.
Ceklek
__ADS_1
"Selamat datang" sapa seorang wanita menyambut kedatangannya.
"Terimakasih, um.... aku mau mendaftarkan diri sebagai anggota grup" ujarnya.
"Oh kalau begitu tolong baca dulu peraturan dan syaratnya di buku ini, jika kau setuju pada semuanya kau bisa mengisi biodata mu di kertas ini" ujar wanita itu memberikan buku panduan dan selembar kertas yang harus ia isi.
"Baiklah" ujar Rere mengambil buku dan kertasnya.
Ia duduk di salah satu bangku yang tersedia dan mulai membaca apa saja peraturan yang harus ia patuhi jika sudah bergabung dengan grup, tak ada peraturan yang memberatkan maka Rere mulai melihat apa saja syarat yang harus ia penuhi untuk menjadi anggota.
Ia hanya perlu mengisi biodata di kertas yang sudah di sediakan dan membayar sejumlah uang untuk biaya administrasi, setelah semuanya selesai Rere mendapatkan kartu keanggotaan dan resmi menjadi anggota.
Tanpa menunggu lama Rere mulai pergi melihat koleksi buku-buku yang ada, tempat itu tak begitu luas tapi koleksi bukunya cukup banyak. Ia melihat beberapa anggota sibuk sendiri dengan buku mereka di meja membaca, sedang yang lain bingung hendak memilih buku yang mana.
Rere menemukan satu rak bagian novel romansa, matanya pun segera membaca judul-judul yang tertera di sana. Saat ia menemukan judul yang menarik tangannya mulai mengambil buku itu dan melihat sampulnya, melihat-lihatnya sekilas dan mengembalikannya ke tempat semula karena kurang tertarik.
Ia mulai melihat buku-buku yang di rak atas, salah satu buku terlihat menarik dan judulnya. Ia mengangkat tangan dan mencoba mengambilnya tapi sayang tangannya tidak sampai, tak ada bangku di sana sehingga Rere harus berjinjit tapi tetap saja ia tak berhasil.
Tiba-tiba sebuah tangan dari belakang tubuhnya mengambil buku itu dan memberikannya kepadanya.
"Terimakasih" ujar Rere sambil berbalik menatap sosok yang telah membantunya.
Tapi senyumnya seketika hilang saat melihat sosok itu ternyata adalah Jimy, tentu saja Rere cukup kaget di buatnya sebab ia tak mengira akan bertemu Jimy di tempat itu.
"Sama-sama, jika kau butuh pertolongan lagi kau bisa minta bantuan orang lain" ujar Jimy degan senyum tipis.
Jimy pergi begitu saja setelah mengatakan hal itu, ia hilang di balik rak-rak yang membuat Rere menjadi penasaran. Perlahan Rere berjalan ke arah perginya Jimy, tepat di balik sebuah rak ia menemukan Jimy tengah membereskan buku-buku.
Ada banyak buku di dalam keranjang di samping kakinya, secara teliti Jimy melihat judul buku itu satu persatu dan meletakkannya di rak sesuai dengan kategorinya.
Apa yang Jimy kerjaan membuat Rere berasumsi bahwa Jimy adalah salah satu petugas di toko itu, tapi itu cukup mengherankan karena setahunya orangtua Jimy pemilik restoran bukan toko buku.
Esoknya ia mencoba menanyakan hal itu kepada Ratna, namun ternyata Ratna sama sekali tidak menahu soal Jimy yang ada di toko buku.
Rere pun tidak bertanya lagi dan sepulang sekolah ia menyempatkan diri mampir ke toko buku untuk meminjam sebuah buku, hari itu rupanya Jimy tidak ada. Hal itu ia manfaatkan dengan bertanya kepada petugas yang ada.
"Oh Jimy adalah salah satu petugas di toko ini, sebenarnya dia bukan benar-benar petugas. Hanya saja dia adalah keponakan dari pemilik toko buku ini, kadang dia datang untuk menyumbangkan buku kadang juga membantu pekerjaan kami sebagai petugas" jawabnya.
"Begitu ya... terimakasih" ujar Rere.
Esoknya Rere datang dengan membawa buku-buku yang sudah tidak ia pakai untuk ia sumbangkan ke toko, pada saat itu datang Jimy yang segera mengambil buku-buku itu untuk ia cek kelayakannya.
"Semua bukunya masih bagus dan layak baca, setelah di stempel bukunya akan ku bereskan terimakasih atas sumbangannya" ujar Jimy.
"Tidak masalah" jawab Rere.
Jimy pergi membawa semua buku itu petugas lain untuk di stempel, Rere yang di tinggal begitu saja hanya bisa melihat punggung Jimy yang lebar dan otot lengannya yang terlihat saat mengangkat buku-buku itu.
Sejak mereka putus terakhir kali yang ia ingat hanya penyesalan di wajah Jimy, sekian lama tak bertemu kini ia melihat Jimy baik-baik saja. Meski jelas ia bisa merasakan kecanggungan yang hadir diantara mereka, hal itu cukup menyebalkan sebab saat mereka masih pacaran Jimy adalah orang yang penuh canda tawa.
Ingin melupakan apa yang di sebut kenangan Rere mulai beranjak mencari buku yang menarik, meski sebenarnya dalam benaknya masih teringat wajah Jimy yang menyenangkan.
"Maaf, bisakah kau ambilkan buku-buku itu?" ujar seorang petugas di atas tangga lipat yang tengah menyimpan beberapa buku.
"Oh baiklah" jawab Rere mengambil lima buku sekaligus dan menyerahkannya.
"Terimakasih" ujarnya mengambil buku-buku itu.
Dengan tangan yang penuh dengan buku-buku petugas itu mencoba mengambil beberapa buku dari dalam rak, tapi ia tidak cukup hati-hati sehingga semua buku yang ia pegang jatuh dan siap menimpa Rere yang tepat berada di bawah.
"Awas!" teriaknya.
__ADS_1