Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 27 Berawal Dari Les


__ADS_3

Tawa dan canda kembali hadir di antara keempat teman sejak kecil itu, kesalahpahaman telah mengajarkan bahwa dalam sebuah hubungan butuh kepercayaan dan kejujuran. Dengan begitu persahabatan akan terasa lebih kuat dan selanjutnya semua rintangan akan mampu di hadapi dengan mudah.


Tapi saat ini mereka harus lebih meluangkan waktu untuk diri sendiri sebab ujian semester satu tersisa dua minggu lagi.


"Apa? kau punya pacar baru di tengah krisis seperti ini?" tanya Ratna yang tak percaya.


"Krisis apa maksud mu?" tanya Ardi tak paham.


"Bodoh! kita sedang menghadapi ujian bisa-bisanya kau punya waktu untuk pacaran"


"Hei aku bisa membagi waktu dengan baik, lagi pula menyenangkan rasanya memiliki orang yang memberi semangat"


"Ah.. aku benar-benar tidak menduga kau bisa berfikir seperti itu" gumam Ratna.


"Sekarang kau tahu kan alasan di balik panggilan kelinci putih?" bisik Jimy.


"Setelah lima tahun lamanya aku baru benar-benar kaget kalian punya sifat seperti ini, jika sepuluh tahun lamanya aku baru bertemu dengan kalian bisa di pastikan aku mati karena kaget" jawab Ratna.


"Kau pun membuat kami kaget, aku pikir kau seekor kucing manis ternyata aslinya harimau" balas Jimy.


"Aku hanya akan berubah menjadi harimau jika ada yang mengusik kebebasan ku" ujar Ratna tegas.


Seorang guru olahraga tiba-tiba masuk ke dalam kelas membubarkan mereka yang sedang asik mengobrol.


"Hari ini tidak ada pelajaran olahraga, gunakan waktunya untuk belajar sendiri" ujar guru itu.


Aaaahhhh....


Erang satu kelas serempak.


"Arh aku benci menjadi kelas tiga" gumam Ratna sambil mengeluarkan buku matematikanya.


Meski malas tapi ia tetap mencoba fokus belajar sebisanya, sampai beberapa menit berlalu bukannya pintar kepalanya malah memanas seakan mau meledak.


"Ah... aku bisa gila" gumamnya frustasi.


Ia melirik ke kiri dan kanan melihat teman-temannya yang fokus, bingung kepada siapa ia harus bertanya dan minta penjelasan agar lebih paham.


"Ah aku tahu!" gumamnya melihat Mita di bangku depan.


Segera ia berjalan mendekati Mita dan duduk tepat di depannya.


"Ada apa?" tanya Mita.


"Hehe bisakah kau menjelaskan padaku cara menyelesaikan rumus ini? aku benar-benar hampir mati jika di hadapan matematika" pintanya sambil memasang raut wajah memelas.


"Aku bukan juara kelas, kenapa kau bertanya padaku?" tanya Mita yang tidak percaya diri.


"Lalu aku harus bertanya pada siapa? Amus hanya akan marah jika di mintai tolong lalu Master juga sama bodohnya dengan ku kalau Ardi.... aku kapok berduaan dengannya saat dia punya pacar"


"Hmm, baiklah tapi aku tidak sepintar yang kau pikirkan"


"Yang penting aku paham, ayolah jelaskan sebisa mu saja" ujar Ratna memaksa.


Meski merendah tapi nyatanya Mita mampu membuat Ratna paham bahkan caranya menjelaskan lebih baik dari Ardi, ia benar-benar membantu perkembangan Ratna dalam belajar.


"Mita, apa cita-citamu?"


"Kenapa kau tiba-tiba menanyakan hal itu?" tanya Mita heran.


"Caramu menjelaskan sangat mudah di mengerti, aku seperti menghitung uang dengan kalkulator benar-benar instan"


"Hahaha aku tidak mengerti ucapanmu tapi aku yakin itu sebuah pujian" ujar Mita sambil tertawa.


"Bagaimana jika kau menjadi guru saja, aku yakin akan ada banyak murid yang menjadi pintar jika kau gurunya. Oh bagaimana jika pulang sekolah kita belajar di rumahku? aku selalu sendirian di rumah jadi tidak akan ada yang menganggu, kau juga belum tahu rumah ku jadi ini adalah kesempatan yang baik"


"Um... bagaimana ya?" gumam Mita merenung.


"Ayolah... aku kan teman baik mu, rumah ku memang jelek dan tidak punya makanan enak tapi setidaknya berkunjung lah" rayu Ratna.


"Baiklah... "


"Yes! gitu dong" teriak Ratna bersemangat.


Mita hanya bisa tertawa melihat tingkah Ratna yang kegirangan, ia tak menyangka hal sepele seperti itu dapat membuat Ratna sangat bahagia.


Sepulang sekolah mereka segera pergi bersama, menyusuri jalan sambil mengobrol sampai melihat tiga sahabat kecilnya tepat di depan.


"Oi Master!" teriak Ratna membuat ketiga orang itu menoleh.


Ratna segera mengajak Mita berlari menghampiri ketiga temannya.


"Kalian mau kemana?" tanyanya.


"Tentu saja pulang, kau pikir mau kemana?" jawab Jimy.


"Tumben sekali kalian langsung pulang ke rumah, apa kalian tidak punya kesibukan?"


"Dasar bodoh, kau sendiri yang bilang kita di masa krisis jadi mana mungkin kami punya waktu bermain"


"Oh benar juga!"


"Kalian sendiri mau kemana?" tanya Amus.


"Aku mengajak Mita belajar di rumahku"

__ADS_1


"Oh.... " jawab Amus sambil menganggukkan kepala.


"Baiklah kami pergi duluan, sampai jumpa!" ujar Ratna yang tiba-tiba berjalan melewati mereka bertiga.


Hingga sampai di lingkungan tempat tinggal Ratna tinggal ia menceritakan kenangan masa kecilnya di sana, seperti lapangan tempat mereka dulu sering main.


"Ratna!" panggil seseorang menghentikan langkahnya.


Ia menengok ke arah sumber suara dan melihat Angga yang keluar dari rumahnya, sejenak ia diam menunggu Angga yang berjalan menghampirinya.


"Apa kabar?" sapa Angga.


"Baik! kakak sendiri bagaimana?"


"Aku juga baik, kebetulan aku ada urusan jadi pulang dulu. Kau baru pulang sekolah?"


"Oh... iya"


"Kalau begitu mampirlah aku membawa banyak coklat untuk mu, di saat seperti ini coklat bagus untuk menaikkan mood"


"Benarkah?" tanya Ratna antusias.


"Kakak! sejak kapan kau pulang?" tanya Jimy yang baru tiba bersama yang lainnya.


"Barusan! Amus, Ardi apa kabar kalian?"


"Baik!" jawab mereka sopan.


"Kebetulan kalian juga ada mampirlah dulu, aku membawa beberapa cemilan untuk kalian" ajak Angga.


"Benarkah? terimakasih" jawab Ardi.


"Oh iya kakak kerja jadi guru kan? kalau begitu sekalian saja memberi kami les gratis" ujar Ratna yang tiba-tiba memiliki ide.


"Apa maksudmu?" tanya Amus.


"Aku dan Mita berencana belajar bersama tapi jika hanya berdua bagaimana kami menyelesaikan pelajaran yang kami tidak bisa? kak Angga kan guru jadi pasti bisa membantu kami, aku mohon.... kami tidak punya uang untuk membayar les sebagai keluarga bukankah kita harus saling menolong?"


"Oi sejak kapan kita kelurga?" sergah Jimy.


"Sejak dulu! tidakkah kau tahu kita satu keturunan?"


"Benarkah? keturunan siapa?" tanya Jimy penasaran.


"Adam dan Hawa."


Jimy merasa menyesal telah bertanya, bahkan yang lain ikut menyesal karena penasaran ingin tahu. Tapi jawaban yang di berikan Ratna cukup membuat hati Angga luluh dan mau memberikan mereka les.


Akhirnya Ratna, Mita, Amus, Jimy dan Ardi masuk kedalam rumah Jimy dan siap mendapatkan les. Ditemani setoples coklat Ratna begitu bersemangat dan fokus pada les yang di berikan Angga, setelah penjelasan yang cukup membuat paham Angga mulai mengetes mereka dengan kuis kecil.


"Wah... luar biasa! ternyata kau memang benar-benar pintar, seharusnya yang mendapat juara kelas itu kau!" ujar Ratna kagum.


"Kau terlalu memuji, ini karena penjelasan kak Angga yang mudah di pahami" jawab Mita tersipu malu.


"Jadi kau bukan juara kelas?" tanya Angga.


"Bukan, Mita hanya masuk lima besar tapi dia adalah sekertaris di kelas kami. Meski begitu aku yakin seharusnya dia menjadi juara kelas, di banding Amus dan Ardi bahkan Mita dapat membantuku belajar lebih baik" jawab Ratna.


"Lalu siapa juara kelas kalian?"


"Ketua kelas kami" jawab Jimy.


"Hmm, masuk diakal. Belajarlah lebih tekun, tidak perduli siapa yang menjadi juara kelas yang penting kalian bisa menjawab soal dengan benar dan lulus sekolah dengan nilai yang memuaskan"


"Baik!" jawab mereka serempak.


"Baiklah kita mulai kuis selanjutnya" ujar Angga memulai kembali.


Kali ini mereka mengerjakan dengan lebih serius lagi, Amus dan Ardi bahkan seolah sedang berkompetisi dengan Mita karena mereka mencoba selesai lebih dulu. Hanya Ratna dan Jimy yang masih tertinggal, dari segi IQ memang mereka yang paling bawah tapi bukan berarti bodoh.


Ratna dapat menjawab soal dengan benar meski butuh waktu yang cukup lama begitu pun dengan Jimy, tanpa terasa tak hanya mempermudah mereka dalam belajar tapi les itu juga membuat satu momen indah yang menyenangkan.


"Baiklah karena hari sudah sore maka les berakhir sampai di sini" ujar Angga.


"Ah.... aku cukup kaget ternyata aku pintar juga" ujar Ratna melihat buku catatannya.


"Huh apa kau tidak sadar dengan yang kau ucapkan? kau selalu menjadi yang terakhir menyelesaikannya!" sergah Amus.


"Memang kenapa jika aku yang paling terakhir? yang paling penting adalah pemahaman karena ini bukan kuis siapa cepat dia dapat" balas Ratna.


"Hehe sudahlah, hari sudah sore sebaiknya kalian mandi dan bersiap untuk makan malam" ujar Angga melerai.


"Kak besok kau bisa memberikan les lagi kan? ujian tersisa dua minggu lagi jika aku berhenti les aku akan tiba-tiba menjadi bodoh lagi" tanya Ratna.


"Besok? um.... sepertinya bisa"


"Yey! Mita kau ikut lagi kan?" sorak Ratna.


"Um... entahlah, aku harus ijin kepada orang tua ku dulu" jawab Mita ragu.


"Orang tua mu pasti mengijinkan, kau di beri les gratis bahkan cemilan gratis juga tidak ada yang lebih menguntungkan dari ini"


"Jalan pikiran gadis dolar memang sederhana" gumam Amus.


"Diam!" bentak Ratna.

__ADS_1


"Baiklah nanti aku akan meyakinkan mereka" ujar Mita yang kalah bicara.


"Bagus, biar aku antar kau pulang. Rumah mu dimana?" tanya Ratna.


"Kampung Mekar"


"Ah... kenapa kau tidak bilang rumah mu jauh, astaga ini sudah sore apa masih ada angkutan yang lewat?" ujar Ratna khawatir.


"Entahlah... aku juga baru kali ini pulang terlambat"


"Mita maafkan aku, bagaimana kalau kau menginap saja di rumah ku?"


"Aku tidak bisa, orangtua ku pasti marah jika tiba-tiba aku menginap"


"Kalau begitu biar aku yang mengantarnya pulang" ujar Angga mengajukan diri.


"Sekalian menjelaskan kenapa kau pulang terlambat dan meminta ijin mereka untuk les mu besok, aku yakin jika orang dewasa yang bilang mereka akan mengerti" lanjutnya.


"Ah tidak usah, aku tidak ingin merepotkan" sergah Mita.


"Merepotkan apanya? bagaimana jika kau bertemu penjahat di jalan? sudahlah terima tawaran kak Angga aku tidak mau kau kenapa-kenapa di jalan" ujar Ratna.


"Ucapan Ratna benar, bahaya bagi seorang gadis di jam seperti ini" ucap Ardi setuju.


"Um.... baiklah" jawab Mita akhirnya dan dia pun berpamitan untuk pulang.


Esok harinya Mita memberitahu bahwa berkat Angga orangtuanya tak marah bahkan setuju membiarkan dirinya ikut les. Setelah pulang sekolah mereka segera berkumpul lagi di rumah Jimy untuk memulai les.


"Um... kak Angga, ini untuk kakak dari ibuku" ujar Mita tersipu malu.


"Apa ini?" tanya Angga.


"Aku tidak tahu, ibu hanya bilang karena kakak memberikan les secara gratis setidaknya ibu ingin memberikan sesuatu"


"Coba buka kak! aku penasaran apa isinya" ujar Ratna.


"Hush! itu bukan untukmu!" sergah Amus membuat Ratna kembali duduk.


Angga sempat tersenyum menatap wajah Ratna yang lucu saat cemberut, kemudian ia pun mengeluarkan sebuah kotak dari dalam tas kecil yang rupanya isinya rendang.


"Wah... kelihatannya enak!" seru Angga.


"Memang apa isinya?" tanya Jimy yang cepat menengok.


"Wah apa ini masakan ibumu?" tanya Jimy.


"Sepertinya iya, ibuku asli orang padang jadi sudah di pastikan ia yang memasaknya"


"Ah tiba-tiba aku jadi lapar!" keluh Ratna.


"Baiklah kalau begitu kita makan dulu" ujar Angga.


"Setuju!" teriak Jimy dan Ratna berbarengan yang mengundang tawa.


Angga memimpin acara makan siang mereka dengan memberikan satu potong rendang untuk satu orang agar adil, ia terlihat bahagia makan bersama mereka dan menikmati makanan itu.


"Sudah lama aku tidak makan masakan ibu dan makan bersama kalian, Mita tolong sampaikan terimakasih ku pada ibumu. Sungguh masakannya sangat enak" ujar Angga seraya tersenyum.


"A-akan ku sampaikan" jawab Mita yang gugup sebab senyum Angga membuatnya malu.


Les pun kembali di mulai setelah mereka selesai makan, kini mereka terlihat lebih cepat paham yang mempermudah Angga sebagai pengajar.


Selama seminggu penuh mereka rutin mengikuti les dan Mita akan di antar pulang oleh Angga sampai tiba di akhir pekan Angga memberitahu bahwa ia tak bisa lagi mengajar sebab ia di beri tugas untuk mempersiapkan ujian,hari itu adalah hari terakhir dia mengajar.


"Meski tanpa bantuan ku kalian harus tetap belajar, coba pelajari lagi apa yang telah aku ajarkan dan buat latihan sendiri" pesannya kepada semua anak itu.


"Baiklah, aku rasa pertemuan kita cukup sampai di sini" lanjutnya sambil menutup buku.


"Ah... sayang sekali... padahal aku senang bisa les di sini, aku mendapat banyak cemilan dan makanan yang enak" keluh Ratna sambil mengambil sepotong kue.


"Oi, apakah semangat belajarmu selama ini hanya karena makanan?" tanya Amus.


"Kau pikir aku bisa membeli semua makanan ini? jika aku punya uang pun akan lebih baik membeli gorengan di pinggir jalan raya sana, harganya lebih murah dan dapat banyak"


"Aku tahu kau miskin tapi setidaknya kau harus punya harga diri sebagai seorang gadis, asal kau tahu saja di luar sana ada banyak orang yang ingin di ajari kakak ku karena dia tampan bukan karena makanan" omel Jimy.


"Itu alasan keduaku"


"Jadi kau meminta les karena suka padaku?" tanya Angga yang membuat Ratna sadar akan ucapannya.


"Um.... itu... kurang lebih seperti itu" jawabnya gugup.


"Apa? hei! aku tidak mau punya kakak ipar seperti mu" sergah Jimy.


"Kau tenang saja meski kak Angga adalah pria idaman ku tapi aku tidak berniat sejauh itu"


"Aku akan mengawasimu" ujar Jimy.


"Kenapa kau begitu takut? lagi pula aku yakin dia bukan tipe kak Angga" ucap Amus.


"Ah benar juga, kalau begitu seperti apa tipe kakak?" tanya Ardi.


"Ah... itu.... " ujar Angga bingung tapi perlahan ia menatap Mita yang hanya menundukkan kepala tanpa berani melihat siapa pun.


"Tentunya manis, baik hati, sedikit pemalu mungkin dan.... pintar."

__ADS_1


__ADS_2