Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 19 Sentuhan yang menciptakan rasa takut


__ADS_3

"Apa itu cinta? jika tidak bisa tidur dan selalu gelisah saat memikirkannya, apakah bisa di bilang bahwa itu cinta? lantas apa perasaan itu harus terbalaskan? apakah rasa suka bagian dari cinta? jika benar, bagaimana jika orang yang di cintai tidak menyukai kita? aku tidak membutuhkan sayap untuk bisa terbang, begitu pun raganya untuk membuatku merasa nyaman. Selama kita masih di bawah langit yang sama, berpijak pada bumi yang sama tidak peduli kau milik siapa pun atau aku milik siapa pun. Cinta adalah hak setiap manusia, namun berhak mencintai bukan berarti berhak memiliki, sebab itu biar terajam hatiku menahan sakit dan pilu atas cinta yang tak dapat ku genggam tetaplah cinta itu akan suci seperti apa adanya".


Di kutip dari arsip pribadi Ratna Mangalih.


* * *


"Hei aku sudah membeli DVD Rambo yang ke dua, kalian mau nonton sepulang sekolah nanti?" tanya Jimy di sela jam istirahat.


"Tentu saja!" jawab yang lain serentak.


"Jangan lupa cemilannya" lanjut Ratna mengingatkan.


"Aku dan Ardi akan urus itu, kau tenang saja" jawab Amus.


"Kau memang bisa diandalkan" puji Ratna.


"Hai!" sapa Jaya yang tiba-tiba muncul.


Amus menjawab dengan senyum dan anggukan kepala, sedang Ardi dan Jimy terlihat kurang senang dengan kehadirannya.


"Na, aku mau bicara dengan mu" ujar Jaya pelan.


"Oh, baiklah" ucap Ratna segera berdiri.


Mereka pergi agak jauh dari yang lain agar tak ada yang bisa mendengar pembicaraan mereka, dari jauh mereka hanya bisa melihat dan mencoba menebak apa yang ingin Jaya katakan sehingga menghindar dari mereka.


"Apakah Jaya meminta sesuatu?" ujar Jimy melihat gerak gerik Jaya dan Ratna.


"Aku harap itu bukan sesuatu yang merepotkan" jawab Ardi.


"Apa yang kalian lakukan? biarkan saja mereka berbuat sesuka mereka" ucap Amus yang risih dengan kelakuan kedua temannya.


"Kau berpihak pada siapa?" tanya Ardi dan Jimy berbarengan sambil menatap Amus dengan tatapan mengancam.


"A.. eh, tentu saja kalian" jawab Amus gugup.


Ardi dan Jimy kembali menatap sepasang kekasih itu, saling menggumamkan isi pikiran masing-masing hingga Jaya terlihat meninggalkan Ratna.


"Dia bicara apa?" tanya Ardi sekonyong-konyong saat Ratna kembali ke kursinya.


"Oh itu um.... Jaya hanya mengatakan hari ini adalah hari ulang tahunnya"


"Lalu?"


"Dia mengundangku ke pesta ulang tahunnya"


"Hanya kau? dia tidak mengundang kami juga?"


"Ini acara keluarga, jadi... dia hanya mengundangku untuk mengenalkannya pada keluarganya" jelas Ratna.


Ardi dan Jimy saling berpandangan, tersirat kecurigaan pada undangan itu. Awalnya Ardi bersikukuh akan ikut tapi Ratna berhasil meyakinkannya bahwa semua akan baik-baik saja, ia juga berjanji akan pulang lebih cepat.


Setelah pulang sekolah Ratna sibuk mencari kado yang pas untuk di berikan kepada Jaya, cukup lama ia berpikir sebelum memutuskan.


"Sial! sudah jam segini, aku terlambat" gumamnya saat melirik jam dinding.


Dengan cepat Ratna bersiap, memakai pakaian yang pantas dan berlari keluar rumah. Saat ia berlari melewati rumah Amus tanpa ia sadari Amus berdiri di depan jendela menatap kepergiannya.


Beruntung Ratna datang tepat waktu, tapi ia sedikit heran sebab rumah Jaya di penuhi oleh orang-orang yang sebaya dengannya.


"Ratna! kau sudah datang?" panggil Jaya seraya menghampiri.

__ADS_1


"Apa.... mereka semua sepupumu?" tanya Ratna.


"Bukan, mereka teman-teman ku"


"Kau bilang ini pesta keluarga" ujar Ratna bingung.


"Oh, acaranya di ubah jadi aku mengundang semua teman yang bisa aku undang. Ayo masuk!" ajak Jaya.


Di tengah keramaian dan musik yang keras Jaya mengajak Ratna terus masuk, memberinya minum dan memperkenalkannya pada teman-temannya di sana.


Pesta yang meriah itu membuat Ratna beberapa kali di tinggal sendirian di tengah-tengah orang asing, rasa tak nyaman mulai membuat Ratna tak betah hingga ingin pulang.


"Maaf, aku meninggalkan mu lagi" ujar Jaya yang baru kembali.


"Tidak apa-apa"


"Ada banyak teman yang sudah lama tidak bertemu, di hari istimewa ini aku jadi terbawa suasana. Sebaiknya kita pergi ke tempat yang lebih sepi agar kau bisa sedikit bersantai"


"Baiklah."


Jaya membawa Ratna pergi ke tempat lain, sebuah ruangan yang lebih sepi dan tenang. Mereka duduk dan mulai bersantai tapi Ratna tetap merasa tak nyaman, apalagi dia hanya berdua dengan Jaya.


Dengan gelisah ia mulai memainkan tangan sedang Jaya duduk dengan santai tepat di samping Ratna, perlahan tangannya bergerak di punggung Ratna untuk memainkan rambutnya yang terurai.


"Santailah.... kau nampak tegang" ujar Jaya melihat posisi duduk Ratna yang tegak.


"Ba-baik" ujar Ratna mencoba.


Ia menarik nafas panjang dan mencoba untuk sesantai mungkin, tapi sentuhan Jaya yang semakin terasa dan tubuhnya yang semakin dekat membuat Ratna terperanjat.


"Tenanglah.... aku tidak akan menyakitimu" ujar Jaya pelan.


"Jaya... " panggil Ratna pelan.


Tapi Jaya tak menggubris panggilan itu, jemarinya merayap di sela-sela rambut Ratna sedang tangannya yang lain mengarahkan dagu Ratna agar melirik ke arahnya.


Tatapan mereka beradu, dengan jarak sedekat itu Ratna bisa merasakan nafas Jaya yang berhembus di bibirnya. Cukup panas dan membuat jantungnya berdegup kencang, semakin kencang saat wajah Jaya semakin dekat dan dekat.


"Ini sudah malam, aku harus segera pulang" ujar Ratna memalingkan wajahnya.


"Maaf, aku harus pergi" lanjutnya mulai beranjak dari tempat duduk tapi.


Gep


Bruk


Kyaaa....


Dengan satu tarikan Jaya menjatuhkan kembali tubuh Ratna ke atas sofa, tangannya mengunci pergelangan tangan Ratna agar ia tak bisa bergerak dan dengan tatapan marah ia berkata.


"Hanya sebentar, aku hanya minta waktumu untuk ku sebentar saja"


"Ki-kita... bisa bertemu di sekolah nanti" jawab Ratna gugup.


"Tidak! kita tidak pernah punya waktu untuk berduaan, kita adalah sepasang kekasih Ratna... kita seharusnya menikmati waktu hanya berdua"


"Jaya... aku mohon... lepaskan aku" ujar Ratna mulai ketakutan.


Tapi Jaya mulai mencoba menyentuh lagi dengan bibirnya, perlahan mulai dari lengan beranjak ke leher kemudian ke tempat yang ia inginkan selama ini.


"Tidak!" teriak Ratna mendorong tubuh Jaya sebelum bibirnya sempat menyentuhnya.

__ADS_1


"Ratna!" panggil Jaya yang tak senang akan tindakan itu tapi raut wajahnya yang keras berubah kaget saat melihat air mata yang membanjiri pipi Ratna.


"A-aku.... minta maaf, Ratna aku tidak bermaksud... "


"Jangan sentuh aku!" teriak Ratna saat tangan Jaya terulur untuknya.


"Ratna aku.... "


Belum sempat Jaya menyelesaikan kalimatnya Ratna sudah lebih dulu berlari meninggalkannya sendirian, membawa rasa takut dengan berlinang air mata dan hati yang lebih terluka.


* * *


Berkali-kali Amus menatap jam di dinding, dengan perasaan cemas berkali-kali ia menatap keluar jendela hanya untuk memastikan Ratna sudah pulang.


Ia mencoba untuk tidur tapi matanya enggan terpejam, ia mencoba membaca buku tapi satu kata pun tak ada yang bisa ia cerna.


"Kemana sebenarnya orang itu?" gumamnya yang hampir gila.


Sudah jam sebelas malam, semilir angin membawa rasa dingin yang menusuk. Tangannya meraih jaket dan memakainya sebelum pergi ke luar rumah, ia memutuskan untuk membeli kopi agar tetap bisa terjaga.


Tapi langkahnya terhenti saat mendengar sayup suara orang menangis di balik tumpukan batu di pinggir jalan, dengan rasa curiga dan sedikit penasaran perlahan ia berjalan mendekati tumpukan batu itu.


"Ratna!" panggilnya kaget melihat sosok gadis yang jongkok sambil menundukkan kepalanya.


Ratna mendongakkan kepala, melihat Amus menatapnya dengan heran.


"Amus.... " panggil Ratna sambil langsung memeluk di tengah isak tangis.


"A-apa yang terjadi?" tanya Amus heran.


"Hiks... aku.... aku takut... "


Perlahan tangannya beranjak untuk mengusap punggung Ratna, menenangkannya sebisa mungkin.


"Apa yang terjadi?" tanyanya sekali lagi.


"Jaya.... dia... "


"Apa dia menyakiti mu?" potong Amus menebak.


Awalnya Ratna tak menjawab, sadar bahwa Ratna masih tertekan Amus memilih untuk diam dan menenangkannya terlebih dahulu. Setelah beberapa waktu kemudian Ratna baru menceritakan apa yang baru saja terjadi padanya.


"Apa? dia berani melakukan itu padamu?" teriak Amus murka.


"Eh kau mau kemana?" tanya Ratna melihat Amus yang berjalan pergi.


"Tentu saja membuat perhitungan dengan si brengsek itu"


"Jangan! aku mohon... aku tidak ingin semuanya semakin kacau, lagi pula ini sudah malam"


"Tapi aku tidak bisa membiarkan dia begitu saja"


Ratna segera menghampiri Amus dan memegang tangannya dengan lembut, tindakan itu di tambah dengan wajah memelas Ratna yang lucu membuat jantung Amus berdegup kencang.


"Aku baik-baik saja, lagi pula dia tidak berhasil melakukannya jadi aku mohon jangan pergi" tutur Ratna.


"Ya-ya sudah kalau begitu" jawab Amus sambil memalingkan wajah.


"Kalau begitu ayo pulang, ini sudah terlalu larut"


"Ayo!" jawab Ratna yang kembali ceria.

__ADS_1


__ADS_2