Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 58 Patah Hati


__ADS_3

"Cinta bukan tentang siapa cepat dia dapat, tapi jika kau terlambat maka kau kehilangan kesempatan. Seharusnya sudah sejak lama ku utarakan saja, sekarang menyesal pun tidak ada gunanya. Rasanya sangat menyebalkan, seperti kau punya sayap tapi tak bisa terbang. Kini aku harus kembali pada kewarasanku yang realistik, kembali berjalan seolah aku hanya bayangan. Meski butuh beberapa pil tidak perlu khawatir, aku akan tidur dengan tenang. "


Di kutip dari arsip pribadi Ratna Mangalih.


* * *


Tiba-tiba semua hal yang pernah ia lalui berputar-putar di atas kepalanya, mulai dari masa kecil yang menyenangkan. Kemudian takdir yang tak pernah ia duga, terkurung dalam kondisi dimana diam adalah satu-satunya cara yang bisa dia lakukan. Separah apa pun rasa sakit yang di derita, selelah apa pun batin bicara, hanya bisa tersenyum untuk menutupi luka.


Lalu hal yang tak pernah terbayangkan terjadi, di tinggal oleh satu-satunya alasan untuk bertahan merupakan awal dari pelepasan belenggu. Kembali pada masa kebahagiaan meski dengan kondisi cacat, lebih baik dari pada hidup bagai orang buangan.


Uang, menjadi benda yang paling penting baginya saat ini. Demi masa depan yang cerah, demi mengubah nasib pada hal yang lebih baik. Dia tidak ingin menjadi dokter, guru, atau apa pun yang berpangkat besar. Cukup mempunyai pekerjaan yang dapat membiayai hidupnya dan membahagiakan ayahnya, untuk itulah ia pendam rasa cinta yang manusiawi.


Saat semua anak seusianya mulai terbuka pada perasaan itu, ia merasa dirinya sangatlah asing. Berbagai hal yang telah terjadi padanya dan keputusan untuk berdamai dengan hatinya, tak disangka kini ia mempertanyakan satu kalimat yang cukup sederhana.


'Bisakah aku mengutarakan cintaku? menikmati perasaan itu tanpa takut merusak apa pun.'


Ia pun gadis biasa seperti yang lainnya, memiliki seseorang yang ia sukai. Ingin bersamanya dan melewati hari-hari bahagia dengannya.


"Aku.... sangat berterimakasih, karena kau sudah mau menyatakannya secara langsung" ujar Ratna.


"Tapi aku harus minta maaf, ada seseorang yang sangat aku sukai"


"Apa... kau sudah punya pacar?" tanyanya.


"Belum" jawab Ratna sambil menggelengkan kepala.


"Aku belum menyatakan perasaan ku, saat ini kami masih berteman baik"


"Begitu ya, aku mengerti. Kalau begitu ambil ini" ujarnya sambil menyodorkan sebatang coklat itu.


"Tapi... " ucap Ratna ragu.


"Gunakan ini untuk menyatakan perasaan mu, sebaiknya kau cepat jika tidak nanti akan ada orang yang mendahuluimu."


Ratna masih ragu, bukan untuk mengambil coklat itu tapi takut kalau ia akan di tolak.


"Jangan pernah ragu! apa pun yang terjadi sebaiknya kau nyatakan saja. Itu lebih baik dari pada kau terus diam dan terkekang oleh perasaan itu, jika pada akhirnya kau di tolak bukan berarti dunia akan kiamat kan? apa pun jawabannya nanti nyatakanlah" ujarnya seolah tahu isi hati Ratna.


"Aku mengerti! aku akan berusaha" jawab Ratna bersemangat.


"Semoga berhasil!"


"Terimakasih!" jawab Ratna.


Ia tak akan ragu lagi, tidak akan pernah. Hari ini juga ia akan menyatakan perasaan itu, dengan tidak sabar sepulang sekolah sebelum pergi ke kedai ia berlari ke sekolah Amus. Jaraknya tidak terlalu jauh sehingga ia yakin akan bisa menemukan Amus sebelum Amus pulang.


Keringat mengucur dari keningnya, dengan nafas yang patah-patah akhirnya ia sampai. Satu tangannya menggenggam sebatang coklat, hatinya berdebar tak karuan dengan mata yang melirik ke sana sini mencari sosok yang sangat ia sukai.


Cukup lama ia mencari sampai akhirnya menemukan Amus yang keluar dari gerbang sekolah dengan menggunakan motornya, ia hendak berteriak memanggil Amus tapi tiba-tiba motor yang di kendarai Amus berhenti di hadapan seorang gadis.


Terlihat gadis itu memberikan Amus sebuah botol minuman, Amus meminumnya sementara gadis itu mengatakan sesuatu yang tidak bisa Ratna dengar sebab jarak mereka yang terlalu jauh.


Hal yang tak terduga kemudian terjadi, gadis itu naik ke motor Amus dan dengan memegang pinggangnya mereka pun pergi begitu saja.


Tanpa terasa coklat yang Ratna genggam jatuh begitu saja, ia tak percaya pada apa yang baru saja ia lihat, tapi itulah kenyataannya. Rupanya seseorang telah lebih dulu mendekati Amus, kini ia harus kembali pada hari-harinya yang dulu. Melupakan cinta yang kisahnya tak akan semanis yang sempat ia harapkan, mungkin dalam hidupnya ia memang hanya boleh terfokus pada uang dan makanan saja.


Dengan lesu kakinya bergerak membawanya ke kedai, bekerja seperti biasa hingga malam meski tanpa senyuman yang biasanya hadir.


Malam itu pun angin cukup dingin seperti hatinya yang beku, ia bertanya-tanya sambil memandang langit yang gelap. Bagaimana bisa berfikir bahwa semuanya akan berjalan sesuai harapannya? padahal sejak awal tidak ada satu pun harapannya yang terkabul.


Keluarga yang utuh, kelulusan dan cinta yang tak pernah sampai. Bahkan sejak awal hal itu tak pernah terjadi, selalu saja ia besar kepala dengan harapan yang datang tiba-tiba.


Pok


"Sadarlah Ratna, kenyataan memang seperti ini" gumamnya sambil menepuk pipinya sendiri.


Ia kembali berjalan menyusuri trotoar, hingga sampai di depan gang tanpa sengaja ia bertemu dengan Ardi.


"Kau mau kemana?" tanya Ratna.


"Rumah Amus, kau baru pulang kerja ya" balas Ardi.

__ADS_1


Ratna mengangguk dengan pelan, mendengar nama Amus ia kembali teringat kejadian tadi siang dan sadar bahwa coklat itu masih ia simpan.


"Ah aku punya sesuatu untukmu" ujar Ratna.


"Apa?" tanya Ardi penasaran.


Ratna mengeluarkan sebatang coklat dan menyerahkannya kepada Ardi, meski ia suka makan tapi di saat hatinya sedang kacau karena cinta coklat yang manis pun tidak menggugah seleranya, jadi sayang jika di diamkan begitu saja.


"Untuk ku?" tanya Ardi heran.


Ratna mengangguk, menunggu Ardi mengambil coklat itu darinya.


"Tumben sekali, dalam rangka apa?"


"Haruskah ada sesuatu yang spesial untuk memberi? aku hanya ingin memberikan ini untuk mu itu saja" jawab Ratna.


Meski masih heran tapi Ardi mengambil coklat itu tentu dengan senang hati, terlebih ia menyimpan rasa yang sudah di ketahui oleh beberapa orang.


Mereka berjalan kembali dan berpisah tepat di depan rumah Ratna, masih menatap kepergian Ratna yang masuk ke dalam rumahnya Ardi membuka bungkus coklat itu dan memakannya.


"Kau sudah datang" ujar Amus saat Ardi masuk ke dalam rumahnya.


"Kau dapat coklat dari siapa?" tanya Jimy yang juga ada di sana.


"Dari Ratna!" jawab Ardi riang sedang Amus tiba-tiba murung mendengarnya.


"Dalam rangka apa dia memberimu coklat? bukankah hari valentine sudah lewat?" tanya Jimy heran.


"Entahlah, dia hanya memberikannya saja"


"Curang sekali, kalau begitu aku juga minta!"


"Eit tidak boleh! dia memberikannya hanya untuk ku!" tolak Ardi.


"Hei jangan pelit! kau harus membaginya" teriak Jimy bersikukuh.


"Pokoknya tidak mau!" balas Ardi tak mau kalah.


Sepulang Ardi dan Jimy harusnya Amus tidur sebab besok dia harus berangkat pagi, tapi apa yang dia lihat tadi membuatnya tak tenang. Ia kembali teringat saat Ardi menggandeng tangan Ratna dan mereka tertawa bersama, hal itu saja sudah membuatnya curiga. Kini Ratna memberikan coklat khusus kepada Ardi tentu bukan hal yang biasa Ratna lakukan, setahunya juga bila seorang gadis memberikan coklat itu artinya sang gadis menyukainya.


Ia menjadi ragu untuk meneruskan niatnya mendekati Ratna, dengan apa yang terjadi mungkin saja Ratna dan Ardi memiliki perasaan satu sama lain. Jika hal itu benar maka ia tidak punya alasan untuk maju, seperti sebelumnya ia juga mengalah kepada Jaya.


* * *


Tiiiiiitttt


Ratna terperanjat dan langsung menepi mendengar bunyi klakson motor di belakangnya, tak lama Amus dengan mengendarai motornya mendahului dan berhenti tepat di depan rumahnya.


Amus turun dari motor dan hendak mengomeli Ratna seperti biasa, namun apa yang dia lihat telah membungkam mulutnya. Ratna menatapnya dengan tatapan dingin, wajahnya datar tanpa ada ekspresi bahkan tak ada omelan yang keluar dari mulut Ratna.


Seolah tak ada dirinya di sana Ratna pergi begitu saja masuk ke dalam rumahnya, membuat Amus bingung sendiri atas sikap itu.


"Apakah dia marah padaku?" gumamnya terheran-heran.


Di lain kesempatan saat mereka berkumpul bersama bahkan bersikap seolah tak ada dirinya di sana, semua itu membuat Amus bingung karena ia tak tahu apa yang membuat Ratna bersikap dingin kepadanya.


"Aku mau ke kamar mandi sebentar, jangan habiskan makanan ku!" ujar Ratna mengingatkan.


"Tergantung secepat apa kau menyelesaikan urusanmu" balas Jimy.


"Awas saja jika kau berani melakukannya" ancam Ratna.


Ia pun pergi kebelakang, setelah beberapa menit berlalu Amus ikut pergi kebelakang menyusul. Ratna yang begitu keluar dari kamar mandi melihat Amus segera memasang wajah dinginnya lagi, seolah tak ada Amus di sana ia berjalan begitu saja melewatinya.


"Tunggu!" ujar Amus meraih tangan Ratna.


"Lepaskan" ucap Ratna pelan.


"Tidak sebelum kau mau bicara padaku"


"Aku bilang lepaskan" ulang Ratna kini dengan menatap Amus.

__ADS_1


"Ada apa dengan mu? apa aku telah berbuat salah?" tanya Amus yang sudah tak tahan.


Ratna tak mampu menjawab pertanyaan itu, Amus tidaklah bersalah kepada dirinya tapi apa yang telah ia lihat membuatnya sangat membenci dirinya sendiri hingga rasa benci itu menyebar kepada Amus.


"Kenapa kau tiba-tiba menjauhiku?" tanya Amus lagi.


"Karena aku membencimu!" jawab Ratna agar Amus berhenti bertanya dan mau melepaskannya.


Perlahan Amus melepas tangannya, ia menatap Ratna dengan rasa kekecewaan yang tak dapat di ungkapkan. Dengan menganggukkan kepala dan senyum pahit yang ia tunjukkan menandakan bahwa ia telah mengerti.


Setelah pembicaraan yang singkat itu tembok tipis mulai terbangun di antara mereka yang semakin hari semakin tebal, mereka masih sering menghabiskan waktu dengan yang lain tapi saat bertemu hanya berdua saja mereka bersikap seolah orang asing.


Jimy menjadi orang pertama yang menyadari hal itu, di sekolah dengan sengaja ia menemui Amus hanya untuk membicarakan apa yang telah mengganggunya.


"Kalian sudah sering berkelahi, bahkan perkelahian menjadi salah satu simbol persahabatan diantara kita. Tapi jarak apa yang telah ada diantara kalian itu sangat menggangguku, sekarang katakan apa yang membuat kalian tidak saling bicara" ujar Jimy.


"Omong kosong, tidak ada apa pun diantara kami" jawab Amus.


"Kau pikir aku bodoh? orang buta saja bisa merasakan ada yang salah diantara kalian"


"Kenapa kau tidak tanya saja kepada dia? aku sama sekali tidak ada masalah dengannya" balas Amus.


Tak puas dengan jawaban itu Jimy terus bertanya, tapi tetap saja Amus tak mau mengaku karena memang alasan yang di ungkapkan Ratna hanya kebencian yang tidak beralasan.


Tak ada pilihan lain, Jimy beralih kepada Ratna. Pulang sekolah dengan sengaja ia pergi ke kedai hanya untuk menanyakan masalah itu. Tapi rupanya Ardi juga berada di sana untuk membantu pekerjaan Ratna, sebelum bicara dengan Ratna ia pun berdiskusi terlebih dahulu dengan Ardi.


"Aku pun merasakan hal yang sama, ah... mereka seperti anak kecil yang sedang merajuk" ujar Ardi menanggapi.


"Ini merupakan perang dingin, di hadapan kita mereka bersandiwara seolah semuanya baik-baik saja tapi jelas saling menghindar"


"Aku sudah mencoba bertanya kepada Ratna tapi dia juga tidak mau menjawab, menurut mu apa yang harus kita lakukan?" tanya Ardi.


Master merenung, mencari ide agar kedua sahabatnya itu berbaikan lagi. Cukup lama sampai akhirnya ide gila itu muncul di dalam kepalanya.


"Tidak penting apa alsan mereka bersikap seperti itu, tugas kita adalah menyatukan mereka kembali maka itulah yang harus kita lakukan. Aku punya sebuah ide, nanti malam kita jalan kan rencana kita" ujar Jimy.


Dengan berbisik Jimy pun mengatakan rencananya, Ardi mendukung penuh dan bertugas membuat persiapan untuk itu.


Tiba saat waktunya menjalan rencana itu, Ardi yang membantu pekerjaan Ratna hingga malam menemaninya pulang.


"Kita ke rumah master yu! dia punya cemilan baru" ujar Ardi.


"Boleh, kebetulan aku juga sedang lapar" jawab Ratna setuju.


Mereka tiba di rumah Jimy tak berapa lama kemudian, di kamar tempat biasa mereka berkumpul rupanya sudah ada Amus juga yang sedang bermain PS.


"Oh kalian sudah datang, cemilannya ada di dapur tunggu aku ambilkan" jawab Jimy.


Tanpa peduli pada PS yang sedang dia mainkan Jimy pergi begitu saja sedang Ratna duduk dekat lemari agak jauh dari Amus.


"Aku ingin minuman dingin, apa kau punya sesuatu yang enak?" tanya Ardi berjalan mengikuti Jimy.


Tanpa di duga Ardi menutup kamar itu dan Jimy langsung menguncinya, seketika Ratna panik dan menggedor-gedor pintu itu.


"Apa yang kalian lakukan?" tanyanya.


"Aku tidak akan membukanya sebelum masalah kalian selesai" balas Jimy berteriak juga.


"Sial! kenapa kalian bersikap seperti anak kecil?" tanya Amus jengkel.


"Kalian lah yang bersikap seperti anak kecil, pokoknya pintu ini tidak akan pernah aku buka sampai urusan kalian selesai" jawab Jimy.


Ratna terus menggedor dan berteriak, bahkan beberapa kali mengumpat saking kesalnya. Tapi semua itu tidak di dengarkan, sedang Amus menyerah dan kembali melanjutkan permainannya.


"Apa yang sedang kau lakukan?" hardik Ratna yang jengkel melihat Amus tidak melakukan apa pun.


Tapi Amus tak menjawab, beberapa kali Ratna memanggil tapi Amus bersikap seolah tak ada dirinya di sana.


"Hei aku bicara dengan mu!" teriak Ratna sambil menarik baju Amus hingga ia menoleh.


"Kenapa? tidak enakkan rasanya di acuhkan" ujar Amus pelan yang membuat Ratna sadar.

__ADS_1


__ADS_2