
Yati cepat meminta cuti mendadak begitupun dengan Wijaya suaminya setelah mendapat telpon dari kampung, mereka tak bisa tenang selama di perjalanan sampai akhirnya tiba.
Dengan cepat mereka berlari mencari ruangan tempat dimana nenek di rawat, namun saat telah menemukannya yang mereka lihat adalah sosok Ratna yang tengah membantu nenek berjalan kembali ke kamarnya.
"Ibu... astaga... ibu apa yang terjadi? kenapa ibu seperti ini?" tanya Yati cepat menghampiri.
"Bibi tenang saja, nenek hanya jatuh. Kata dokter tak ada luka serius meski pun saat terjatuh kepala nenek terbentur hingga pingsan, nenek hanya perlu istirahat beberapa hari saja" ucap Ratna menjawabkan.
"Kalau begitu ayo kembali berbaring, kenapa ibu malah jalan-jalan"
"Nenek habis dari toilet" jawabnya lagi.
"Ya sudah, ayo! biar ku bantu kembali ke kamar" ujar Wijaya.
Perlahan mereka menuntun nenek kembali ke ranjangnya, dengan sigap Yati membaringkan ibunya dengan nyaman.
"Terimakasih Ratna, berkat mu nenek tidak apa-apa" ujar Yati.
"Kenapa berterimakasih padaku? aku tidak melakukan apa pun"
"Tidak perlu merendah, anak perempuan memang lebih bisa diandalkan dari yang lain. Harusnya aku selalu ada untuk ibu di usianya yang sudah renta, sebagai anak aku telah berdosa meninggalkannya pada orang yang salah" ujar Yati dengki, jelas merujuk pada Amus.
"Ah tapi sekarang ada kau, aku jadi lebih tenang" lanjutnya dengan suara lembut lagi.
Ratna hanya bisa tersenyum tanpa tahu apa yang bisa ia katakan, untuk saat ini karena Yati sudah pulang ia pun memohon undur diri.
"Amus!" panggilnya.
Amus berhenti berjalan dan menunggu Ratna yang sedang berlari menghampirinya.
"Orangtua mu sudah datang, temuilah mereka" ujarnya.
"Oh tidak perlu"
"Kenapa?" tanya Ratna heran.
"Tidak apa-apa, sebaiknya kau pulang! semalaman kau tidak tidur karena menjaga nenek, bukankah hari ini kau masuk kerja?"
"Bagaimana dengan mu?" tanya Ratna khawatir.
"Tidak perlu mencemaskan aku, aku bisa tidur nanti"
"Apa kau yakin? aku bisa minta ijin tidak masuk dulu hari ini"
"Untuk apa? yang sakit nenek bukan aku, sudahlah sebaiknya kau pulang" ujar Amus kukuh.
Sebenarnya Ratna ingin tetap di sana untuk menemani Amus, tapi di lihat dari mana pun ia tahu kondisi Amus saat ini sedang ingin sendirian. Akhirnya ia pun menyerah dan pulang.
Ratna tetap meminta ijin tidak masuk dan Hamdani mengijinkannya, waktu yang ia miliki pun di gunakan untuk istirahat sejenak lalu membuat makanan untuk Amus dan keluarganya di rumah sakit.
Kabar kecelakaan yang menimpa nenek tentu sudah tersiar kemana-mana, orang tua Ardi dan Jimy bergantian datang untuk menengok sedang Sapardi yang ikut membawa nenek ke rumah sakit pulang ke rumah setelah pagi untuk istirahat.
"Amus!" panggil Ratna yang datang setelah sore menjelang.
"Kenapa kau datang lagi?" tanya Amus.
"Aku sudah meminta ijin ke bosku untuk tidak masuk, Jimy dan Ardi akan datang menengok nanti malam dan ini makanan untuk mu. Apa kau sudah tidur tadi?" jelas Ratna.
Amus menggeleng perlahan yang membuat Ratna semakin khawatir.
"Carilah tempat yang nyaman untuk tidur jika kau tidak mau pulang, mau bagaimana pun kau harus tetap sehat karena itu jangan sampai tidak tidur"
"Aku sudah biasa bergadang"
"Jangan membantah!" ucap Ratna tajam.
"Ah kau bisa memakai ruangan di sebelah sana, ku lihat hanya ada satu pasien yang di rawat di sana jadi kau bisa numpang istirahat sebentar saja tapi makan dulu!"
"Baiklah, nanti aku makan"
"Sekarang!" perintah Ratna mulai mengeluarkan sifat negatifnya.
Amus menatap kaget mendengar suara Ratna yang dingin itu, perlahan ia pun membuka kotak makan dan mulai menyendoknya.
"Anak baik... aku pergi menengok nenek dulu ya!" ujar Ratna melembut.
__ADS_1
Dengan makanan yang sudah ia siapkan untuk orangtua Amus Ratna pun masuk ke ruangan tempat nenek di rawat, diserahkannya makanan itu kepada Yati agar mereka juga tetap sehat saat menjaga nenek.
"Terimakasih, berkat mu kami sangat tertolong" ujar Yati.
"Tidak perlu di pikirkan bibi, kita adalah keluarga jadi tidak perlu sungkan. Bukankah itu yang bibi katakan kepadaku?"
"Wah... keliatannya enak, jujur aku lapar karena tadi hanya makan roti. Ayo mah! kita makan dulu" ajak Wijaya yang melihat isi kotak makan itu.
"Baiklah, Na tolong jaga nenek sebentar ya.. "
"Serahkan padaku" jawab Ratna.
Setelah kepergian Yati dan Wijaya dengan sigap Ratna me-lap seluruh tubuh nenek yang sedang tidur dengan air hangat, mulai dari tangan hingga kaki.
"Ratna... " panggil Amus pelan.
"Oh, kau sudah selesai makan?" tanya Ratna.
Amus mengangguk, perlahan ia berjalan masuk dan menyerahkan kotak makan itu kepada Ratna.
"Dimana orang tua ku?" tanyanya.
"Mereka aku suruh makan dulu"
"Oh.. ini obat dan salep untuk nenek, beritahu mereka obatnya di minum setelah makan dan salep nya gunakan di area pinggang nenek"
"Baiklah aku mengerti"
"Apa infus-annya berjalan dengan baik?"
"Ya, tidak ada masalah"
"Baiklah kalau begitu aku keluar dulu" ujar Amus hendak pergi.
Tapi langkahnya terhenti saat melihat Yati yang berdiri tepat di pintu, matanya tajam menatap Amus dengan kebencian yang tak terbendung. Tiba-tiba Yati berjalan cepat ke arahnya dan.
Plak
Satu tamparan mendarat tepat di pipi Amus.
"Apa yang kau lakukan brengsek? inikah caramu membalas budi orang yang sudah merawat mu sejak kecil? jika kau membenciku maka datang padaku jangan celakai ibuku!" teriaknya.
"Minggir Na, jangan halangi aku untuk memberi hukuman pada anak yang tidak tahu diri ini. Gara-gara dia nenek di rawat!"
"Bibi aku mohon... tolong pikirkan perasaan nenek, bagaimana jika beliau terbangun karena pertengkaran ini?"
Yati melunak mendengar ucapan itu, ia mulai bisa diam sedang Amus yang terdiam sedari tadi tiba-tiba pergi meninggalkan tempat itu.
"Amus!" panggil Ratna cemas.
Tapi Amus tak menghiraukan panggilan itu, ia berlari kencang hingga Ratna kehilangan jejaknya. Ratna tahu bagaimana perasaan Amus dan karena itu ia tak bisa membiarkan Amus sendirian, dengan cemas ia mencari di segala tempat bahkan bertanya ke setiap orang yang ada.
Sampai akhirnya ia menemukan Amus tengah memukul-mukul pohon di taman, melihat ekspresi Amus yang menandakan kesedihan dan amarah membuatnya tak tahan lagi. Segera ia berlari menghampiri Amus dan dan menggenggam kepalan tangannya yang sudah berlumuran darah.
"Aku mohon jangan seperti ini, aku tahu kau sedih dan kecewa tapi tolong jangan sakiti dirimu" ujar Ratna.
"Lepaskan Na, aku sudah tidak tahan lagi! aku harus mengeluarkan isi hatiku" ujar Amus dengan suara paraunya yang menahan tangis.
"Tidak! aku tidak akan membiarkan mu melakukan ini" ujar Ratna bersikukuh.
Tiba-tiba Ratna memeluk Amus dan berkata.
"Menangislah... jangan pendam lagi, keluarkan semua kesedihanmu. Kau tidak perlu malu atau takut, menangislah sampai hati mu merasa puas."
Awalnya Amus ragu, tapi perlahan pelukan itu terasa sangat nyaman hingga pada akhirnya ia pun melepaskan segala perasaan yang bercampur aduk di dalam hatinya.
Lewat tangisan ia keluarkan rasa sedih, kecewa, marah, benci dan putus asa. Belaian lembut tangan Ratna perlahan mengusap batinnya hingga ia bisa benar-benar meluapkan itu semua lewat tangisan hingga puas.
"Kau dengar sendiri semalam setelah dokter memeriksa nenek dia bilang nenek tidak cidera, beberapa hari lagi dia pasti sembuh" ujar Ratna setelah Amus selesai melepaskan beban di hatinya.
"Malam itu... aku terbangun karena mendengar suara, saat aku lihat nenek terbaring tak sadarkan diri di depan kamarnya" ucap Amus.
"Jangan salahkan dirimu sendiri, kecelakaan itu sudah bagian dari takdir"
"Tidak! sebenarnya ada alasan kenapa ibu sangat membenci ku, ibu tidak bisa hamil dan berniat mengadopsi seorang anak. Tapi tak di duga rupanya ayah berkhianat, diam-diam ayah menjalin hubungan dengan seorang wanita hingga hamil. Ibu baru tahu saat wanita itu meninggal setelah melahirkan dan anak itu adalah aku" ujar Amus bercerita yang membuat Ratna cukup kaget.
__ADS_1
"Dalam amarah besar beberapa waktu lalu ibu mengatakan hal ini kepadaku, ia memberitahu bahwa aku hanyalah anak haram yang lahir dari perselingkuhan. Awalnya ibu berencana membuangku, tapi ayah mengancam akan menceraikan ibu jika hal itu sampai terjadi. Ibu yang sangat mencintai ayah akhirnya di bujuk oleh nenek agar mau menerima aku sebagai bagian dari keluarga."
Amus menarik nafas panjang, mengingat setiap kata yang di ucapkan Yati saat itu dalam kondisi marah. Setiap kata yang bagai pedang tajam menusuk hatinya, hingga ia tak memiliki wajah untuk di perlihatkan pada keluarga itu. Alasan itulah yang membuatnya minggat dan tak mau lagi bertemu muka dengan Yati.
"Meski aku adalah anak haram, meski ayah telah mengkhianati ibu tapi nenek tetap bersikap baik pada kami. Ia bersedia merawatku dan membesarkan ku sepenuh hati, tapi kebaikan itu malah aku balas seperti ini"
"Sssshhhhh, jangan salahkan dirimu atas apa yang sudah terjadi" ujar Ratna yang tak tahan melihat mata merah Amus yang kembali berlinang air mata.
"Tidak Na, aku yang salah.. aku tidak becus menjaga nenek"
"Sudahlah... semuanya akan baik lagi, nenek akan sehat lagi"
"Aku harus bagaimana Na? harus bagaimana?" tanya Amus kembali jatuh dalam pelukan Ratna untuk menangisi nasibnya.
* * *
"A.... mus.... " panggil nenek yang baru terbangun dari tidurnya.
"Ah.. ibu sudah bangun" sapa Yati.
"Dimana Amus?" tanya nenek pelan.
"Kenapa ibu malah menanyakan anak sialan itu?" tanya Yati kembali emosi.
"Ssst, ah Amus sedang keluar dulu nanti dia datang lagi" ujar Wijaya memberi syarat agar Yati tidak sembarangan bicara.
"Sore nenek, bagaimana perasaannya?" sapa Dokter yang tiba-tiba datang.
"Oh Dokter silahkan masuk" ujar Yati bangkit dari kursinya.
"Saya... merasa lebih baik" jawab nenek pelan.
"Ada pusing atau mual?"
"Sedikit"
"Baik itu masih wajar ya, maaf saya boleh periksa sebentar ya!" ujar Dokter itu ramah.
"Silahkan dok" jawab Wijaya.
"Yap semuanya normal, mungkin beberapa hari ini nenek akan merasakan sakit di pinggang akibat benturan tapi itu tidak masalah. Jangan banyak bergerak dulu ya nek, saya sudah beri obat pusing dan nyerinya tadi cucu nenek yang membawa."
Yati segera mencari obat itu dan menemukannya tepat di samping tubuh nenek.
"Apakah ini obat yang dokter maksud?" tanyanya memperlihatkan obat itu.
"Ya benar, ini obatnya" jawab dokter yang membuat Yati mengetahui niat kedatangan Amus tadi.
"Nenek sangat beruntung memiliki cucu yang gesit seperti dia, anak laki-laki memang lebih bisa di andalkan"
"Maksud dokter?" tanya Yati bingung.
"Semalam hujan sangat lebat sampai ada kejadian pohon tumbang di sana sini, akibatnya laju kendaraan menjadi macet. Beruntung cucu nenek adalah anak yang kuat, begitu melihat nenek tak sadarkan diri dia cepat menggendong nenek ke rumah sakit. Dia juga sangat pintar dan gesit, semalam perawat kami sibuk semua karena ada kecelakaan beruntun, dia hanya di arahkan untuk melakukan pertolongan pertama dan dia melakukannya dengan baik."
Yati terpaku mendengar cerita sang dokter tanpa bisa mengatakan apa pun.
"Setelah di infus dia berinisiatif sendiri membawa nenek ke ruangan inap baru mengurus administrasi, saya sebagai dokter malah tidak melakukan banyak hal. Baru saja tadi juga dia mengurus obat nenek, jika di urus cucu sebaik ini pantas saja di usia nenek yang sekarang nenek masih bugar. Ah... anda sebagai orangtua pasti bangga kepadanya, anda telah memberikan nenek pada orang yang tepat. Baiklah... saya permisi dulu"
"Terimakasih dokter, silahkan... " jawab Wijaya mengantar hingga pintu.
Cerita dokter baru saja menyadarkan Yati bahwa alasan dia membenci Amus adalah karena setiap dia melihat Amus ia merasa sedang melihat kegagalannya sebagai seorang wanita, ia yang begitu mencintai Wijaya merasa gagal sebagai istri hingga suaminya memiliki anak dari wanita lain.
Rasa sakit hati itu telah membutakan matanya pada kebaikan Amus sebagai seorang anak, ia ingat saat kecil Amus nampak menggemaskan dan memperlihatkan kepintarannya. Beberapa ibu seringkali memuji Amus dan menyatakan betapa beruntungnya ia memiliki anak yang tak hanya tampan tapi juga pintar, namun ia tak pernah senang akan pujian itu.
Amus kecil sudah di tinggal olehnya dan Wijaya untuk bekerja, bersama nenek mereka hidup berdua dan tak pernah membuat kesalahan apa pun. Baik di sekolah maupun di lingkungan tempat tinggal Amus menjadi anak paling dewasa yang bisa diandalkan, alasan inilah yang membuat dirinya memberi tugas untuk menjaga Ratna.
Melihat anak perempuan satu-satunya di lingkungan mereka sebenarnya Yati sangat teringin Ratna menjadi putrinya, ia sempat mengatakan hal ini kepada mendiang ibu Ratna tapi tentu permintaan itu di tolak. Justru mendiang ibu Ratna mengingatkannya agar membuka hati pada Amus, kini empat belas tahun telah berlalu dan Amus benar-benar memperlihatkan sosok pria sejati.
Langkahnya yang pelan dengan benak yang tak karuan membawa Yati ke taman dan melihat Amus tengah duduk lemas di temani Ratna, genangan air di matanya mulai tumpah melihat anak yang selama ini ia acuhkan telah tumbuh besar menjadi kebanggaan keluarga.
Dengan cepat ia pun menghapus air mata itu dan berjalan menghampirinya, Amus nampak kaget melihat Yati berdiri tepat di hadapannya begitu pun Ratna. Matanya tanpa sengaja melihat punggung tangan Amus yang luka dan berlumuran darah, entah mengapa ada rasa khawatir timbul dalam hatinya melihat hal itu. Ia pun mengeluarkan sapu tangan dari dalam sakunya dan mengikatkannya pada punggung tangan Amus yang terluka.
"Pulanglah dan tidur, nanti malam baru kembali lagi. Jangan lupa bawa beberapa pakaian ganti untuk nenek dan..... obati luka mu, ibu tidak ingin kau sakit" ujar Yati pelan.
"I.... bu... " panggil Amus tak percaya pada apa yang dia dengar.
__ADS_1
"Sekarang ibu dan ayah sudah ada di sini, jadi kau tidak perlu khawatirkan nenek" ucap Yati yang kemudian segera pergi sebab tak mau Amus melihatnya menangis.
Dengan perasaan bahagia Amus menatap kepergian ibunya sambil mencium sapu tangan yang telah Yati ikatkan pada tangannya.