
Selesai upacara semua murid kembali ke sekolah masing-masing kecuali anggota paskibra, mereka berkumpul di suatu aula untuk mengikuti acara lain khusus untuk mereka. Hadir pula wali mereka yang sudah mendapatkan undangan untuk hadir dalam acara itu, setelah semua orang hadir sang pelatih anggota paskibra mengucapkan kata sambutan dan selamat kepada mereka yang telah sukses mengibarkan sangsaka merah putih.
"Para ibu atau bapak yang saya hormati, bukan hal mudah menjadi anggota paskibra. Sebab menjadi anggota paskibra tidak hanya dengan modal postur tinggi badan saja, melainkan harus tertanam sifat cinta pada tanah air agar bisa mengibarkan sang bendera merah putih dengan penuh kebanggaan tanpa melakukan sedikit pun kesalahan" ujar pelatih.
"Sungguh besar tanggung jawab mereka sebagai anggota paskibra, untuk itulah saya persilahkan kepada bapak atau ibu sebagai wali menyerahkan pita penghargaan kepada mereka yang telah sukses menyelesaikan tugas" lanjutnya.
Setiap wali di beri satu pita termasuk Yati, di hadapannya Amus sudah berdiri tegak dengan wajah datarnya.
Yati tersenyum melihat betapa gagahnya Amus dengan seragam putih itu, disematkannya pita penghargaan itu di dada Amus sambil berkata.
"Ibu sangat bangga padamu, kau sudah berani mengambil langkah besar dalam hidupmu. Ibu tahu tidak mudah menjalani ini semua, setiap hari kau latihan hingga larut malam karena itu... malam ini ibu akan masakan makanan kesukaan mu"
"Ibu.... " panggil Amus mencoba menahan air matanya.
Tapi Yati yang tak kuasa menahan haru akhirnya menangis dalam pelukan Amus, membuatnya ikut menitikkan air mata juga.
Sesuai janji Yati memasakkan makanan kesukaan Amus setelah mereka pulang ke rumah, saat malam hari tiba Ardi dan Jimy datang berkunjung untuk merayakan kesuksesan Amus dalam misinya sedang Ratna baru bergabung setelah ia pulang bekerja.
"Apa kau tidak kelelahan pulang sekolah langsung bekerja?" tanya Jimy malam itu.
"Tentu saja lelah, tapi aku cukup menikmatinya. Selama pelajaran ku tidak tertinggal kata ayah itu bukan masalah" jawab Ratna.
"Apa benar kau tidak ketinggalan pelajaran?" tanya pula Amus memastikan.
"Kau meragukan ku?" balas Ratna dingin.
"Bukan begitu, kau kan sulit mengerti dalam pelajaran"
"Meski pelajaran di SMA lebih banyak dari SMP tapi aku masih punya banyak waktu luang, lagi pula mulai besok malam aku pulang dua jam lebih awal"
"Kenapa?" tanya Ardi penasaran.
"Paman Hamdani tidak tega melihat ku, ia cukup pengertian bahwa aku juga punya pekerjaan rumah jadi mulai besok aku pulang pukul delapan malam. Meski gajiku jadi di potong sedikit tapi itu tidak masalah, toh aku bekerja hanya delapan jam saja"
"Itu bagus, dengan begitu kau punya waktu lebih untuk istirahat" ujar Jimy.
Ratna mengangguk tanda setuju pada ucapan Jimy.
Perlombaan di sekolah Ratna masih berlangsung, puncak dari acara itu adalah pertandingan final kelas 2IPS 1 melawan kelasnya. Ratna dan Rere memilih menonton pertandingan itu untuk memberikan dukungan kepada teman-teman sekelasnya, meski dukungan mereka kalah nyaring dari anak-anak lain yang memanggil nama Ian.
__ADS_1
"Menyebalkan sekali, pendukung Ian lebih banyak dari kelas kita" ujar Rere.
"Sudah pasti, kau tidak lihat? mereka berasal dari semua kelas. Sudahlah tidak perlu berteriak, lihat saja pertandingannya dengan tenang" jawab Ratna.
Pertandingan yang berlangsung selama satu jam itu akhirnya di menangkan oleh kelas 2 IPS 1, meski awalnya mereka pikir kelas mereka akan menang sebab unggul di menit-menit awal rupanya keadaan berbalik di menit terakhir.
Teriakan kencang menyambut kemenangan itu untuk Ian, menenggelamkan kandasnya harapan Galih sebagai ketua kelas sekaligus ketua tim sepak bolanya.
Di penghujung hari yaitu Sabtu, dimana sekolah Ratna menyelenggarakan acara penutup untuk memperingati HUT RI. Ada sebuah pementasan kecil yang di tujukan untuk menghibur semua murid yang telah berpartisipasi dalam lomba, juga pembagian hadiah untuk mereka yang berhasil menang.
Setiap teriakan terdengar nyaring menyambut mereka yang naik ke atas panggung sebagai pemenang, termasuk Ian yang namanya selalu di sebut-sebut akhir-akhir ini.
"Baiklah, untuk pemenang selanjutnya dalam kategori lomba puisi akan saya beritahu kan mulai dari juara ke tiga" ujar MC di atas panggung.
"Juara ketiga lomba puisi bebas antar kelas adalah Ayunda! perwakilan dari kelas 3IPA 2!" lanjutnya.
Prok Prok Prok Prok
Seorang gadis bernama Ayunda berdiri dan tersenyum kepada semua orang yang telah menyambutnya, ia berjalan ke atas panggung untuk menerima hadiah.
"Selanjutnya juara kedua di menangkan oleh Puput perwakilan dari kelas 1-4!"
Prok Prok Prok Prok
"Baik, ini yang terakhir. Juara pertama dalam kategori puisi bebas di menangkan oleh.... Ratna! perwakilan dari kelas 1-5, silahkan naik ke atas panggung untuk serah terima hadiahnya"
"Yey.... Na kamu menang!" teriak Rere.
"Hah? itu aku yang menang?" tanya Ratna yang tak terlalu memperhatikan.
"Ih malah bengong! cepat pergi sana ambil hadiahnya!" omel Rere.
Ratna tak begitu yakin tapi ia tetap maju dan naik ke atas panggung, disalaminya sang MC dan guru yang telah memberinya piala dan sebuah bingkisan kecil.
Setelah selesai Ratna cepat berlari menghampiri Rere yang duduk di barisan bangku penonton, ia terlihat antusias melihat piala yang di bawa Ratna dan penasaran isi dari bingkisan itu.
"Na! selamat ya... kamu berhasil buat kelas kita juara, meski kalah di sepak bola tapi setidaknya kita menang di lomba puisi" ujar Galih menghampiri.
"Terimakasih" balas Ratna.
__ADS_1
"Aku tidak menyangka kamu hebat banget! waktu dengar puisi kamu aku udah yakin kamu pasti bakal juara" ujar Rere.
"Terimakasih atas dukungannya" ucap Ratna sambil tersenyum.
Ratna masih merasa hal ini adalah mimpi, tak pernah ia berniat untuk memenangkan lomba itu. Ia hanya membantu Galih agar kelasnya dapat berpartisipasi secara penuh, namun tetap saja ia juga berusaha sebaik mungkin.
Dengan bangga malam itu Ratna memboyong pulang pialanya, senyumnya mengembang di setiap langkah kakinya menuju rumah. Tak sabar ingin memberitahu Sapardi bahwa ia telah menjadi juara dan patut untuk di beri pujian.
"Kau baru pulang?" tanya Ardi saat berpapasan di jalan.
"Benar, mulai hari ini aku pulang lebih awal"
"Piala apa itu?" tanya Ardi menatap benda yang di peluk Ratna.
"Oh ini piala ku, aku berhasil menjadi juara pertama di lomba puisi bebas" jawab Ratna menunjukkan piala itu.
"Benarkah? ternyata kau memang hebat dalam membuat puisi, aku ingat saat SMP bahkan kelompok mu mendapatkan nilai bagus"
"Aku ingin menunjukkan piala ini kepada ayah"
"Oh, kalau begitu pergilah"
"Mm, um.... tapi kau mau kemana malam-malam begini?" tanya Ratna melihat stelan pakaian Ardi yang rapih.
"Hanya keluar sebentar menemui teman"
"Teman yang mana?"
"Teman sekolah ku"
"Apa dia wanita?"
"Kenapa?" ujar Ardi balas bertanya.
"Mm.... aku yakin pasti dia seorang gadis" ujar Ratna sambil menyipitkan mata.
"Hhhhh.... ya dia memang seorang gadis" jawab Ardi menyerah.
"Sudah ku duga, baiklah selamat bersenang-senang kelinci putih" ujar Ratna sambil berlalu.
__ADS_1
"Hei! kenapa kau memanggil julukan ku?" teriak Ardi yang tak di hiraukan.