Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 77 Arsip Pribadi


__ADS_3

"Ini Master, kelinci putih, Naldo dan aku" ujar Ratna.


"Nama apaan tuh?" tanya Irma.


"Julukan"


"Oh... mereka teman-temanmu atau sepupu?"


"Mereka teman masa kecil" jawab Ratna sambil duduk kembali menghadapi makanannya.


"Teman masa kecil ya, terus sekarang kalian saling kirim kabar?" tanya Irma lagi sambil ikut duduk kembali.


"Masih, tapi udah jarang sih. Mereka semua udah punya kerjaan dan kesibukan masing-masing"


"Selalu begitu ya, teman-teman sekolah ku juga sekarang sudah punya kesibukan masing-masing. Bahkan udah banyak juga yang nikah, saat reuni pun jarang ada yang datang"


"Begitulah" jawab Ratna.


Irma meletakkan kembali foto itu dan mulai makan bersama Ratna, obrolan mereka beralih pada seputar pekerjaan yang selalu ada saja ceritanya.


"Ngomong-ngomong kamu sendiri punya julukan gak?" tanya Irma.


"Ada"


"Apa?" tanya Irma penasaran.


"Gadis dolar"


"Hah? gadis dolar? kok bisa kamu dapat julukan itu?" tanya Irma lagi.


Ratna pun menceritakan bagaimana sejarah di balik julukan itu, tentu Jaya sang pemberi julukan terseret dalam ceritanya. Ratna pun memberitahu bahwa Jaya adalah pacar pertamanya, tentu Irma semakin penasaran lagi akan kisah pacar pertama Ratna. Dengan antusias ia mendengarkan seperti anak kecil yang di beri dongeng sebelum tidur.


"Aku gak nyangka kamu pertama kali pacaran pas SMP, aku aja pertama kali pacaran pas SMA. Terlebih kamu orangnya cuek sama cowok, rasanya benar-benar aneh" ujar Irma.


"Jaya memang pacar pertama ku, tapi dia bukan cinta pertama ku"


"Benarkah? terus kenapa kalian bisa jadian?"


"Itu karena aku pikir surat itu datang dari Naldo, aku pikir dia yang menulisnya karena itu aku menerimanya"


"Maksud kamu.. Naldo teman masa kecilmu?" tanya Irma.


Ratna mengangguk sebagai jawaban.


"Ternyata... antara cewek dan cowok cuma ada hubungan pacar dan mantan, memang bohong yang namanya sahabat. Salah satu atau keduanya pasti memiliki perasaan" ujar Irma.


* * *


Ratna kembali melihat foto masa kecilnya sebab meski malam itu telah larut ia masih saja tidak bisa tidur, kemudian dari dalam laci yang lain ia mengambil sebuah buku dengan sampul kulit berwarna coklat.


Saat sampul itu di buka nampak sebuah tulisan 'ARSIP PRIBADI RATNA MANGALIH' lalu di halaman berikutnya ada sebuah kalimat yang di tulis tangan, setiap lembaran kertas itu di penuhi dengan kalimat-kalimat yang mewakili isi hatinya.


Ia tak pernah mencantumkan tanggal sebab ia hanya menulis saat ingin menulis saja, hal itu membuatnya mencoba mengingat kapan terakhir kali ia menulis


Rasanya itu sudah sangat lama, ia ingat setelah lulus sekolah ia memutuskan untuk bekerja. Pekerjaan pertama yang ia dapat dengan ijazah SMA adalah di sebuah pabrik garmen, dengan gaji Rp. 1.300.00 ia hanya mampu membayar uang sewa kamar dan biaya hidupnya sebulan.


Perlahan gajinya mulai naik di tahun 2014 dengan kerja lembur gajinya tembus hingga angka 2 juta, bahkan beberapa kali hampir sampai 3 juta. Dengan uang itu ia tak hanya bisa menghidupi dirinya tapi juga ayahnya, dengan tekad yang kuat ia juga menabung dan membelikan sepeda motor untuk ayahnya.


Tiga tahun lamanya ia bekerja di pabrik dan memilih berhenti karena penyakit magh yang sudah mulai kronis, ia tak bisa mengambil resiko lebih besar lagi sebab masa depan keluarga ada di tangannya.


Setelah istirahat untuk waktu beberapa bulan ia pun mencoba peruntungannya di supermarket, ternyata ia memang beruntung dan bisa bekerja sampai sekarang. Tapi gaji di supermarket tidaklah sebesar saat di pabrik, akhirnya ia memutuskan untuk bekerja ekstra di salon juga.


Hhhhhhhhh


Ia menghembuskan nafas panjang, membuang semua energi negatif di tubuhnya yang lelah habis bekerja. Di ambilnya sebuah pena dan dengan perlahan ia mulai menulis di atas kertas buku arsip pribadinya.


"Waktu berjalan tanpa peduli apakah aku hidup dengan benar, bertahun-tahun habis dan hatiku masih retak seperti biasa. Hanya karena sebuah foto retakan itu semakin menyebar ke segala arah, padahal setiap aku bersusah payah untuk memperbaikinya. Di kehidupan ku yang tak abadi apakah sepadan menghabiskan waktu dengan menjaga cinta ini? yang kisahnya telah berakhir tanpa sempat di mulai."


Ratna menutup bukunya, kemudian menaruhnya di tempat biasa bersama dengan pena dan foto itu. Meski sekilas ia sempat melihat foto itu dan menghembuskan nafas kekecewaan.


* * *

__ADS_1


Karena mendapat shif pagi mau tak mau Ratna harus bangun meski tempat tidur terus menggodanya agar kembali berbaring, februari ini hujan turun dengan cukup intens sehingga hawanya begitu dingin.


Sebenarnya supermarket tempatnya bekerja cukup dekat, ia hanya butuh waktu berjalan selama lima belas menit dan sudah sampai. Hanya saja jalan yang ia lewati tidak bisa di lalui oleh kendaraan apa pun, sebab itu gang-gang kecil yang padat.


Sampai di tempat kerja ia segera membuka jaket dan memasukannya ke dalam loker bersamaan dengan tas.


"Pagi Na" sapa Irma yang baru datang.


"Masih ada waktu nih, mau sarapan dulu gak?" tawarnya.


"Tentu saja, karena takut kesiangan aku tidak sempat sarapan tadi" jawabnya.


Mereka pun pergi ke warung terdekat dan memesan semangkuk bubur dengan kuah panas, Ratna makan dengan lahap seperti biasa yang membuat Irma harus mengingatkannya tentang riasannya yang bisa berantakan.


"Kau membuatku sangat iri" ujar Irma.


"Kenapa?"


"Kau sangat cantik meski dengan riasan sederhana meski cara makan yang buruk"


"Bekerjalah di salon agar kau tahu cara merawat wajah yang benar, aku harus berhemat jadi tidak bisa membeli skincare yang bagus karena itu aku memilih metode bahan alami yang murah"


"Ah kau sangat pandai berhemat"


"Apa siang nanti kau ada acara?" tanya Ratna.


"Tidak, kenapa?"


"Biasa.... " jawab Ratna dengan senyum yang sengaja di buat manis.


Arrghh...


Erang Irma yang sudah tahu maksudnya. Beberapa bulan terakhir Ratna sedang senang dengan seni menghias rambut, seperti membuat sanggul, mengepang dan lain-lain.


Ternyata Ratna punya bakat juga di sana, ia cepat belajar bahkan bisa meniru hanya dengan melihat di video sekali. Saat menata rambut seseorang ia merasa sangat senang dan nyaman, seperti anak kecil yang anteng bermain.


Jika ada waktu ia akan mencoba tatanan rambut terbaru dan yang menjadi model adalah Irma, meski melelahkan bagi Irma karena dia harus duduk berjam-jam tapi nyatanya ia juga cukup menikmatinya.


"Hari ini kau mau mencoba apa?" tanya Irma.


Ratna menyerahkan smartphonenya agar Irma bisa melihat sendiri apa yang ingin ia buat, sementara dirinya mengganti pakaian. Tak lama kemudian makanan mereka pun datang, Irma lebih dulu membuka bungkus makanan itu dan memakannya.


"Kau tidak mengganti pakaian mu?" tanya Ratna.


"Besok aku libur, pulang dari sini aku akan langsung mencucinya"


"Oh begitu"


"Na, aku jadi penasaran soal cerita teman masa kecil mu itu. Kau bilang kau mencintai anak yang bernama Naldo, lalu bagaimana hubungan kalian? apa kalian pernah pacaran?" tanya Irma.


"Itu.... tidak pernah, dia tidak pernah mencintai ku bahkan sekarang di juga sudah punya pacar. Beberapa waktu lalu kami bertemu dan dia mengatakannya"


"Begitu ya, kau pasti sedih" ujar Irma prihatin.


"Jika di bilang sedih memang betul, tapi hidup harus tetap berjalan. Kau tahu? lucunya adalah kelinci putih yang menyukai ku, dia sempat menyatakan perasaannya kepada ku tapi aku malah mencintai Naldo dan dia sudah menyukai orang lain"


"Ah... cinta segitiga, itu lebih tragis lagi."


Ratna mengangguk setuju, memang takdirnya dalam percintaan kurang beruntung.


"Apakah... Naldo alasan mu untuk tidak memiliki pacar?" tebak Irma.


"Itu.... aku sudah berusaha membuka hati ku pada yang lain, tapi sampai saat ini aku masih belum mendapatkan yang cocok"


"Astaga cepatlah moveon! usia mu sudah dua puluh empat tahun sampai kapan kau akan melajang?" hardiknya.


"Sampai aku menemukan pria kaya yang tidak pelit"


"Omong kosong" gumam Irma yang jengkel melihat senyum nakal di wajah Ratna.


Setelah menyiapkan semua peralatan Ratna pun memulai uji cobanya pada rambut Irma, sedang Irma sendiri asyik makan sambil menonton film.

__ADS_1


Tes Tes DRRRSSS.....


Hujan turun begitu saja dan semakin besar saat matahari tepat kembali pada peraduannya, beruntung Irma sudah pulang sehingga ia tak terjebak di sana.


Ratna menatap ribuan air yang turun ke bumi membawa kehidupan baru bagi penghuninya, menyegarkan daun-daun yang layu dan sekarat. Tapi justru membawa hatinya pada kesepian yang selama ini ia hindari, sebab hujan itu mengingatkannya pada kenangan yang ingin ia lupakan.


Dari dalam laci ia mengeluarkan arsip pribadinya, dalam lembaran baru di temani derasnya hujan ia mulai menulis.


"Entah apa yang membuatku bertahan selama ini, aku sudah mencoba membuka hati dan menjalani hubungan namun tak ada yang berhasil. Entah apa yang membuatku bertahan, padahal jelas aku seperti layangan putus tanpa ada seorang pun yang mau mengejar. Kita masih berjalan di bumi yang sama, masih di langit yang sama, kau berjalan terus ke depan seolah tak ada halang rintang dan aku semakin tertinggal jauh.


Bagaimana caraku memperkecil jarak yang ada? sedang aku tertahan oleh rantai di sini, andai aku bukan seorang pengecut, andai aku tidak mencari waktu yang tepat, andai kau memberi ku kesempatan, andai aku tidak berlindung di balik kata teman mungkinkah kita berjalan beriringan?."


Ratna menutup arsip pribadinya, kembali menatap keluar lewat kaca jendela.


"Ahhh..... aku tidak punya semangat hidup, kenapa rasanya hati ku sakit sekali saat melihat hujan itu? seolah ada duri di sana yang tidak bisa aku cabut" gumamnya.


Ia membaringkan tubuhnya di atas ranjang, tiba-tiba mengingat Irma yang sedang berbahagia.


"Beruntung sekali dia, pasti pacarnya sangat mencintainya. Minggu depan dia akan di kenalkan pada keluarga pacarnya, bukankah biasanya setelah itu bertunangan? lalu kemudian menikah" gumamnya lagi.


Mengatakan kata pernikahan ia menjadi ingat pada sahabatnya yang lebih dulu menikah, dia adalah Mita. Hari itu dua tahun telah berlalu semenjak mereka lulus dari SMA, tiba-tiba ia mendapat surat undangan dari Angga.


Itu merupakan undangan pernikahannya dengan Mita, ia pun segera pulang dan datang ke rumah Mita untuk acara bridal shower. Dalam acara itu mereka mengobrol tentang banyak hal termasuk keputusan Mita yang ingin menikah.


"Aku tidak menyangka kau yang mengajak kak Angga duluan" ujarnya.


Hahahaha


"Aku juga masih tidak menyangka, tapi... aku terlalu takut kehilangan dia. Ternyata ucapan mu waktu itu benar, setelah masuk kuliah aku bertemu banyak orang dan banyak pria yang mencoba hadir di tengah-tengah kami. Aku takut ikatan ini tidak cukup kuat sehingga kami bisa berpisah karena hal apa pun, karena itu aku memutuskan untuk menikah" jawab Mita setelah tawanya yang panjang.


"Kau pasti sangat mencintainya" ujar Ratna.


"Ya, aku tidak akan pernah menemukan pria baik selain dia. Lalu... bagaimana dengan mu?" tanya Mita penasaran.


"Aku tidak sempat mengatakannya, dia pergi tanpa bertemu dengan ku lebih dulu. Semenjak kami berpisah dia tidak pernah menghubungi ku, saat aku hubungi pun dia selalu mengatakan sedang sibuk"


"Dia pasti pulangkan? dia pasti datang di acara pernikahan kami, kau masih punya kesempatan untuk mengatakannya" ujar Mita sambil memegang tangan Ratna.


Ratna hanya bisa tersenyum, memikirkan apa yang harus dia lakukan jika Amus benar-benar datang.


"Ratna!" panggil Ardi yang membuyarkan lamunannya.


"Ayo ikut aku!" ujarnya sambil menarik tangga Ratna agar cepat berjalan ke rumah Jimy.


"Ada apa?" tanyanya.


"Lihat siapa yang datang!" ujarnya sambil membawa Ratna masuk kedalam rumah Jimy.


Pintu kamar terbuka, memperlihatkan sosok seorang pria yang selama dua tahun hilang bagai di telan bumi. Ratna terdiam, saling menatap dan entah mengapa menjadi canggung.


"Ka-kau.... kapan datang?" tanya Ratna.


"Oh.. aku.. baru saja, bagaimana kabarmu?" tanya Amus.


"Aku.. baik" jawab Ratna pelan.


Untung mereka tidak hanya berdua, ada Ardi dan Jimy yang mencairkan suasana. Reuni geng itu pun di mulai, mereka membahas kenakalan yang mereka perbuat di masa sekolah dan bercanda seperti biasa.


Ddddrrttttttt Ddddrrttttttt


"Tunggu sebentar, aku harus menjawab ini" ujar Amus saat melihat ponselnya.


Ia segera keluar dari kamar dan kembali setelah beberapa menit kemudian.


"Siapa itu? kenapa kau harus menjawabnya di luar?" tanya Jimy penasaran.


"Itu... dia pacarku"


"Apa?" tanya Ardi dan Jimy berbarengan.


Itu adalah kabar duka yang Ratna dengar di telinganya, setelah sekian lama tidak bertemu ia mendapati kini Amus telah menjadi milik orang lain. Tak ada yang percaya hal itu tapi dengan satu foto di ponsel Amus yang memperlihatkan kebersamaannya dengan pacarnya akhirnya mereka percaya begitu pun dengan Ratna.

__ADS_1


Semenjak hari itu Ratna sadar cintanya memang harus di pendam untuk selamanya, sejak hari itu juga mereka jarang berkomunikasi dan setelah acara pernikahan Mita mereka kembali berpisah untuk yang kedua kalinya dan belum bertemu lagi sampai saat ini.


__ADS_2