
"Ratna.... " panggil Mita senang.
"Mita.... " balasnya sambil berlari menghampiri sahabatnya itu.
Mereka bertemu di depan gerbang dan saling berpelukan erat sambil bertanya kabar, dua minggu tak berjumpa rupanya ada cukup cerita yang dapat menjadi bahan obrolan mereka.
Mita agak marah sebab selama liburan Ratna tak memberinya kabar meski hanya secuit pesan singkat, Mita yang tahu Ratna hanya punya satu ponsel itu pun sering di gunakan ayahnya tentu tak berani mengirim SMS lebih dulu.
"Aku kerja di kedai minuman, berangkat siang sekitar jam sembilan dan pulangnya jam sepuluh malam. Maaf ya.... aku benar-benar sibuk sampai gak sempat ngasih kabar" ujar Ratna menyesal.
"Iya deh aku maafin, tapi sebagai gantinya nanti istirahat ke kantin bareng aku ya. Kamu gabung terus sama geng kamu apa gak bosen?"
"Ya udah nanti aku yang traktir"
"Serius?" tanya Mita.
"Serius!" jawab Ratna tegas.
Kedua teman itu masuk kelas dan melanjutkan obrolan mereka sampai bel berbunyi, pelajaran pertama adalah bahasa Indonesia. Sang guru yang ramah mengucapkan selamat atas kelulusan mereka di ujian semester satu, beliau berharap di ujian nasional nanti pun mereka akan lulus juga.
"Hari ini kita belajar tentang musikalisasi puisi, ibu akan buat grup dimana satu grup beranggota tiga orang. Tugas kalian adalah membuat puisi dan merubahnya menjadi musikalisasi puisi, minggu depan satu persatu grup tampil di depan kelas membawakan puisi yang sudah kalian buat"
"Aaahhhh..... " erang para murid yang masih malas untuk belajar tapi sudah di hadapkan dengan tugas.
Ratna sangat senang karena ia satu grup dengan Mita dan Jimy, satu orang kaya dan satu lagi anak pintar tentu dia cukup beruntung.
Saat jam istirahat mau tidak mau Jimy harus diam di kelas untuk berdiskusi mengenai tugas mereka, Ratna yang memimpin sudah memutuskan akan bertugas membaca puisi di awal kemudian baru mereka bernyanyi di iringi gitar.
"Tema apa yang akan kita ambil?" tanya Jimy.
"Dari pada itu sebaiknya kita tentukan dulu jenis musiknya" ujar Ratna.
"Kita bernyanyi di iringi gitar sudah pasti akustik"
"Maksudku apakah lagi melow atau yang lain"
"Yang sederhana saja"
"Apa maksud mu sederhana?" tanya Ratna bingung.
Tapi yang lebih bingung tentu Mita, sebab dia satu grup dengan anak-anak yang IQ nya di bawah dia.
"Kalian ingat film AADC?" tanya Mita tiba-tiba.
"Film apa itu?" tanya Ratna.
"Kau belum pernah nonton film AADC?" tanya Mita lebih heran.
Ratna menggeleng tanda bahwa ia memang tidak tahu.
"Tidak perlu heran, yang gadis dolar tahu hanya film naruto dan Rambo" ucap Jimy.
Ratna menatap tajam sambil mengertakan gigi kepada Jimy seolah menyimpan dendam kesumat.
"Sudahlah, dalam film itu ada adegan Cinta membacakan puisi kemudian bernyanyi. Aku punya DVDnya, nanti kita nonton sebagai referensi" ucap Mita.
"Baiklah kalau begitu rapat selesai, kau boleh pergi master" ujar Ratna.
Jimy segera angkat kaki tanpa pernyataan lagi sedang Ratna dan Mita kembali melanjutkan obrolan mereka yang tertunda tadi pagi.
Mita masih saja penasaran bagaimana kelanjutan hubungan Ratna dan Amus meski sudah jelas Ratna tak mau mengubah hubungan diantara mereka, di samping itu ia juga menceritakan perlakuan Ardi yang akhir-akhir ini berbeda dari biasanya.
"Bagaimana kalau Ardi juga menyukaimu?" tanya Mita.
"Kau bercanda? dia sudah punya pacar baru"
"Memang kenapa? semua orang tahu dia playboy, bisa saja dia mencintai dua gadis secara bersamaan"
"Jika memang begitu lebih baik aku mundur, aku sudah kapok dengan kasus Yuni" ujarnya mengenang bagaimana kesalahpahaman yang membuat Ratna hilang kendali.
"Aku... sangat senang bisa dekat dengan Amus seperti ini, aku takut akan ada kecanggungan jika sampai aku menyatakan perasaan ku. Jadi biarlah semuanya mengalir apa adanya" lanjutnya.
Ia memang terlanjur nyaman dengan hubungan persahabatan yang di bumbui kedekatan yang manis, terkadang ia bisa begitu dekat seakan tidak ada penghalang.
* * *
Sudah sejam Ratna duduk mendengarkan alunan musik box setelah ia pulang sekolah, musiknya yang indah menghanyutkan perasaannya jauh ke samudera tak berujung. Sampai ia ingat belum mengucapkan terimakasih atas oleh-oleh yang di berikan Amus kepadanya.
Ratna berencana pergi sebab bosan juga ia diam di rumah, namun saat membuka pintu Amus sudah berada di depannya dengan tangan terangkat seolah hendak mengetuk pintu.
"Apa yang kau lakukan?" tanya Ratna.
"Ah aku... mau bertemu paman" jawab Amus menurunkan tangannya.
"Ayah sedang pergi, ada apa kau mencarinya?"
"Aku mau meminta paku dan meminjam palu"
"Untuk apa?"
"Kenapa kau banyak sekali bertanya?" bentak Amus yang tak nyaman.
"Kalau begitu pinjam dari orang lain" balas Ratna tak mau kalah.
__ADS_1
"Pelit!" ujar Amus hendak pergi namun Ratna menghentikannya dengan menarik baju Amus, mengingatkannya pada kejadian semalam dimana ia menggendong Ratna masuk ke kamarnya.
"Ikuti aku" ucap Ratna berjalan lebih dulu.
Perlahan Amus masuk ke dalam rumah dan mengikuti langkah Ratna ke dapur.
"Kau butuh paku kecil atau besar?" tanya Ratna sambil membuka pintu lemari paling bawah.
"Yang kecil, aku mau memasang foto keluarga di dinding"
"Oh.. tunggu sebentar, biar ku carikan" ujar Ratna sambil mengeluarkan semua perkakas yang ada di dalam lemari itu.
Tapi dia hanya menemukan palunya saja, Ratna pun mencoba mencarinya di pintu lemari yang atas. Karena tubuhnya yang kurang tinggi hanya tangannya saja yang mampu merayap di dalam lemari, Amus yang melihat hal itu tiba-tiba berlari merangkul Ratna sambil berteriak.
"AWAS...... "
Prang......
Tangan Ratna tanpa sengaja menyenggol box paku hingga terjatuh dan menimpa tubuh Amus yang melindunginya.
"Amus.... " panggil Ratna kaget.
"Jangan bergerak!" perintah Amus.
Perlahan Amus melepaskan rangkulannya tapi tepat berdiri di depan Ratna.
"Jangan bergerak sedikit pun, nanti kau bisa menginjak paku. Biar aku saja yang membereskannya" ujarnya.
Amus mulai memungut satu persatu paku yang berceceran di lantai, menaruhnya kembali di dalam box tanpa melewatkan satu pun paku. Perasaan terlindungi kembali Ratna rasakan saat melihat begitu telatennya Amus dalam membersihkan ruangan dari paku-paku itu, perasaan yang membuatnya mengemban harapan.
"Sudah selesai, lain kali hati-hati. Bisakah kau lakukan sesuatu dengan benar?" hardik Amus.
"Apa kau terluka?" tanya Ratna khawatir tanpa memperdulikan omelan itu.
"Ti-tidak, aku baik-baik saja" jawab Amus gugup karena perhatian itu.
"Maafkan aku... " ujar Ratna menyesal.
"Sudahlah, aku pinjam dulu paku dan palunya nanti aku kembalikan" jawab Amus hendak pergi.
"Tunggu!" panggil Ratna menghentikannya.
"Terimakasih.... untuk hadiah yang kau berikan dan untuk pertolongan yang tadi" ujarnya dengan wajah memerah karena malu.
"Tidak perlu di pikirkan" jawab Amus yang langsung pergi.
* * *
Sepulang sekolah grup Ratna berjanji untuk pergi ke rumah Jimy menonton film yang kemarin di rekomendasikan Mita, Jimy pulang lebih dulu sedang Mita dan Ratna menyusul kemudian.
"Sebagus itukah?"
"Aku berani menjamin" jawab Mita.
Mereka tiba di kediaman Jimy beberapa menit kemudian, dengan teh dan biskuit Jimy sediakan untuk menemani mereka menonton. Awalnya Ratna tak banyak merespon pada film itu, tapi lama kelamaan ia hanyut juga dalam suasana hati Cinta yang merasa suka kepada Rangga.
"Kalian sedang nonton apa?" tanya Angga yang tiba-tiba datang.
"Oh... tumben kau pulang kak" ujar Jimy.
"Aku dari rumah teman"
"Oh, kami ada tugas membuat musikalisasi puisi jadi kami menonton film ini atas saran Mita" ujar Jimy.
"Baiklah silahkan lanjutkan" ujar Angga meninggalkan mereka.
Jimy kembali memalingkan pandangan ke TV sedang Ratna saking seriusnya menonton tak sadar akan kedatangan Angga, setelah kepergian Angga Mita berkata akan ke toilet sebentar.
"Jadi kau satu kelompok dengan Ratna dan Jimy" ujar Angga saat Mita keluar.
"Iya" jawab Mita pelan.
Angga mengulurkan tangan sambil tersenyum, Mita nampak melihat situasi terlebih dahulu sebelum akhirnya menyambut tangan itu. Dengan rasa sedikit takut perlahan ia berjalan lebih dekat lagi kepada Angga dan tersipu malu saat tangannya di kecup.
"Apa kau kesulitan satu kelompok dengan mereka?" tanya Angga.
"Tidak juga, sebenarnya mereka punya potensi sendiri. Aku.... hanya takut jika mereka tahu hubungan kita" akui Mita.
"Jika kau mau mengakui hubungan kita kau tidak perlu takut"
"Kakak mau dipanggil fedopil?"
"Kau bukan anak kecil lagi"
"Tapi aku masih SMP"
"Usiamu sudah lima belas tahun, nenek ku saja menikah di umur segitu"
"Itukan masa dulu" ujar Mita terus beralasan.
"Eh, kak Angga kapan datang?" tanya Ratna yang datang tiba-tiba, membuat mereka cepat melepas pegangan tangan dan agak menjauh.
"Aku.. baru sampai" jawab Angga.
__ADS_1
"Oh... lalu sedang apa kalian di sini?"
"Itu... aku bertanya soal tugas kita, aku pikir kak Angga punya saran bagus untuk kita" jawab Mita.
"Ah benar juga, tugas kali ini agak susah. Jika masalah membuat puisi aku bisa melakukannya, tapi aku tidak tahu puisi apa yang harus aku buat"
"Puisi cinta" ujar Angga.
"Bagi mu itu pasti mudah, lagi pula puisi cinta cukup populer di kalangan pelajar. Kau bisa membuat puisi patah hati atau orang sedang jatuh cinta" lanjutnya.
"Ah benar juga, puisi di film AADC cukup bagus. Rasanya aku bisa membuat puisi seperti itu, terimakasih atas sarannya" ujar Ratna.
Mita dan Angga bernafas lega sebab Ratna tak menyadari hubungan spesial yang telah terjalin diantara mereka, sepertinya memang benar Ratna orang yang kurang peka pada lingkungan sekitar apalagi masalah percintaan.
Ratna segera pulang setelah selesai menonton untuk mulai membuat puisi, ketika ia sampai di rumah di lihatnya Sapardi sedang membenarkan sepatu kerjanya yang bolong.
"Ayah... sepatu sudah jelek begitu kenapa tidak di buang saja?" ujarnya.
"Ini masih bisa dipakai ko, hanya perlu beberapa perbaikan" jawab Sapardi.
"Aku masih punya uang dari hasil kerja ku kemarin, nanti aku akan belikan sepatu baru untuk ayah"
"Eh tidak usah, itu adalah uang mu gunakanlah untuk keperluan mu. Bukankah kau ingin melanjutkan ke SMA? kau pasti ingin membeli banyak barang setelah masuk SMA nanti" ujar Sapardi yang membuat Ratna kembali tersadar kondisi perekonomian keluarganya.
Ratna pun hanya mengangguk dan menghabiskan banyak waktu di kamar, untuk menentukan tema dan menuangkan ide dalam setiap pilihan kata yang indah. Sampai akhirnya susunan bait itu telah sempurna menjadi puisi yang siap ia bacakan di depan kelas nanti, tak lupa ia meminta saran Mita dan Jimy tentang puisi itu sekaligus latihan untuk tampil.
Mita dan Jimy nampak suka dengan puisi buatan Ratna, mereka pun mulai latihan di rumah Jimy secara rutin sampai mereka siap untuk nanti tampil.
"Puisi itu... apakah itu curahan isi hatimu?" tanya Mita di suatu hari setelah mereka latihan.
"Kau bisa menganggapnya begitu"
"Kenapa? bukan ya?"
"Kisah ku tak sedrama itu, ini hanya kisah cinta monyet yang mungkin aku lupakan di masa depan nanti"
"Apa maksud mu?" tanya Mita heran.
"Sampai kapan kita akan hidup dalam dunia mimpi ini? apa kau yakin kisah cinta yang manis itu bisa aku dapatkan? kita tidak akan menjadi gadis selamanya, suatu hari nanti kita akan menjadi seorang wanita dewasa dimana pilihan hidup bukan hanya soal cinta. Kita harus menata masa depan mulai dari sekarang, agar hidup kita jauh lebih baik lagi."
Mita masih bingung kenapa Ratna tiba-tiba berubah dalam waktu semalam, ia menjadi pribadi yang lebih dewasa tapi seakan terpaksa membuang semua mimpinya. Entah apa yang telah merubahnya, namun Mita harap ia tetap menjadi Ratna sahabatnya.
Minggu berikutnya guru bahasa Indonesia mulai menyuruh grup yang telah ia buat sebelumnya untuk tampil, satu persatu grup maju ke depan kelas dan berusaha tampil semaksimal mungkin hingga tiba giliran grup Ratna.
Jimy, Mita dan Ratna maju ke depan kelas, Ratna berdiri paling depan sedang Jimy duduk untuk memainkan gitar dan Mita menunggu gilirannya untuk bernyanyi.
Semua mata tertuju pada Ratna saat Jimy mulai memetik senar, dua pasang mata yang teramat memperhatikannya ialah Ardi dan Amus yang tak sabar mendengar isi dari puisi buatan Ratna.
Ratna menarik nafas panjang dan mulai membaca.
"Adalah aku
Adalah aku, yang mematung dalam jarak jauh
Memandang harapan yang tak kunjung terlaksana
Kepada mu sang pemilik hati
Ku labuhkan perjalanan ku
Namun tak dapat menjadi tempat tinggal ku
Mungkin memang benar cinta itu tak berguna
Beribu waktu ku habiskan sendiri
Adalah aku, yang masih mematung
Menangis dalam pelukan malam
Mengadu pada bintang dan mengeluh pada angin
Berharap akan ia sampaikan seluruh cintaku
Apalah dayaku, hanya mematung
Menatap cinta dalam genggamanku
Bingung, entah harus ku buang kemana selain padamu
Adalah aku, yang hanya ingin melepasmu untuk Tuhan bukan yang lain
Tapi kau malah pergi meninggalkan harapan
Di sini, aku yang selalu menjadi orang lain di hatimu
Adalah aku, yang mencoba menjadi bidadari mu
Apakah dapat kau lihat dari jarak sejauh ini?
Sebab aku tak dapat lebih dekat lagi karena keputusasaan
Adalah aku, disini... hanya aku"
__ADS_1
Ratna mundur beberapa langkah, membiarkan Mita maju untuk menyanyikan puisi yang selesai ia bacakan. Dalam alunan musik yang sendu dan suara merdu Mita, tatapan mata Ratna hanya tertuju pada satu cinta yang mulai redup.