Gadis Dollar

Gadis Dollar
Bab 23 Sang kakak


__ADS_3

Dugh Dugh Dugh Dugh


Dugh Dugh Dugh Dugh


Kyaaa........


"Aahhh... sudah ku bilang aku tidak mau nonton film horor!" teriak Ratna dari balik selimut yang menutupi seluruh kepalanya.


"Sudah ku bilang kau tidak perlu ikut nonton" balas Amus.


"Tapi aku juga penasaran" erangnya.


"Hhhhhhh kau hanya mengganggu kami saja" ucap Jimy menghela nafas.


"Apa hantunya sudah pergi?" tanya Ratna.


"Sudah" jawab mereka bertiga berbarengan.


Kepala Ratna menyembul dari balik selimut, dengan was was ia menatap TV dan mulai menegakkan badan saat di rasa sudah aman.


Hari yang panas itu mereka habiskan dengan menonton beberapa film dari DVD yang baru Jimy beli belum lama ini, rencananya setelah menonton mereka akan membuat tugas prakarya bersama.


Guru kesenian mereka memberi perintah untuk membuat vas bunga dari bahan limbah, apa pun itu bisa di gunakan seperti botol bekas atau pun karton yang penting di ubah menjadi vas bunga yang bagus.


Jimy memberi ide untuk membuat vas itu dari bekas tusuk sate dan kaleng, semua setuju namun niat mengerjakan tugas itu tertunda oleh DVD baru yang membuat penasaran.


"Astaga ini sudah sore" ujar Ratna melirik jam dinding.


"Rasanya kita baru menonton film" ujar Ardi.


"Kita sudah menghabiskan total tiga film, tentu saja tanpa terasa waktu berjalan dengan cepat"


"Baiklah waktunya mengerjakan tugas, meski kita masih ada waktu sehari lagi tapi lebih cepat di kerjakan lebih baik" ucap Jimy.


Mereka pun akhirnya beranjak dari tempat duduk dan pergi ke belakang rumah Jimy untuk mengambil peralatan, semua bahan ia mereka kumpulkan di depan rumah dan mulai mengerjakannya.


"Ah aku lupa lemnya sudah habis" gumam Jimy menatap peralatan itu.


"Aku akan membelinya, ada yang kita butuhkan lagi?" tanya Ardi.


"Mungkin beberapa cat dan kuas kecil"


"Baiklah, ayo Na!" ajak Ardi.


"Aku ikut juga?"


"Tentu saja, kau tidak mengeluarkan sepeser pun untuk tugas ini setidaknya keluarkan tenagamu"


"Baiklah... kau tidak perlu marah seperti itu, lama-lama kau mirip Amus selalu saja membentak ku" omelnya.


"Itu karena aku baru sadar kalau kau menyebalkan"


"Sudahlah pergi sana nanti tokonya keburu tutup" lerai Jimy.

__ADS_1


Ardi dan Ratna pun pergi, karena hari sudah mulai malam kebanyakan toko mulai tutup sehingga mau tak mau mereka harus pergi lebih jauh lagi untuk mencari bahan-bahan yang mereka butuhkan.


"Cat, kuas dan lem. Sudah semua kan?" tanya Ratna.


"Sepertinya sudah, baiklah ayo kembali" jawab Ardi.


Bruk


Aww.......


Erang Ratna tiba-tiba sambil mengangkat sebelah kakinya, rupanya kantung plastik yang ia bawa robek sehingga kaleng cat yang di masukkan kedalam jatuh dan tepat mengenai kakinya.


"Kau tidak apa-apa?" tanya Ardi yang langsung mengecek kondisi kaki Ratna.


"Astaga kaki mu berdarah!" teriak Ardi.


"Benarkah? rasanya sakit sekali"


"Kita harus membersihkan luka mu sebelum menjadi infeksi, tunggu di sini biar ku bawakan air untuk mencucinya."


Ardi segera pergi dan cepat kembali dengan sebotol air, dicucinya jempol kaki Ratna yang mengeluarkan darah dengan hati-hati.


"Apa kau bisa berjalan?" tanya Ardi.


"Entahlah, rasanya berdiri saja aku tak sanggup"


"Ah kenapa kau ini sangat teledor?"


"Apa maksud mu? ini karena kantongnya yang sobek bukan salah ku" erang Ratna membela diri.


Dibereskannya kembali barang belanjaan mereka dan diserahkannya kepada Ratna, awalnya Ratna hendak protes tapi kemudian dia jongkok telat di depan Ratna.


"Naiklah ke punggungku" ucapnya.


Dengan tersenyum senang Ratna pun menurut.


"Aaarrhhh astaga kau semakin berat saja" ucap Ardi yang sedikit kesulitan untuk bangkit.


"Apa aku seberat itu?" tanya Ratna kaget.


"Ya, kurasa ini akibat keserakahan mu"


Huuuu....


Erang Ratna sambil mendorong bahu Ardi sedikit.


"E-eh hentikan nanti kita bisa jatuh" tukas Ardi yang hampir kehilangan keseimbangan.


Meski ucapan Ardi cukup membuatnya tersinggung tapi perhatian dan perilakunya yang selalu bisa diandalkan bahkan menolongnya membuat senyum mengembang di wajahnya.


Diam-diam dia merasa beruntung memiliki teman yang selalu menjaganya seperti seorang kakak, jika memang ia terlahir dengan memiliki kakak ia berharap kebaikan kakaknya itu sama seperti Ardi.


"Maaf kami terlambat" ujar Ardi saat mereka sampai sambil menurunkan Ratna.

__ADS_1


"Apa yang terjadi?" tanya Amus.


"Kakiku kejatuhan kaleng cat, lihat sampai berdarah dan bengkak" jawab Ratna menunjukkan jempol kakinya.


"Kau ini kenapa tidak bisa melakukan sesuatu dengan benar!" bentak Amus.


"Ini bukan salah ku, kenapa kau marah padaku?"


"Sudahlah diam disini akan ku bawakan obat" ujar Amus yang segera pergi untuk membawa obat.


"Pelan-pelan" pinta Ratna melihat Amus yang mulai menuang alkohol ke atas kapas.


"Aku tahu"


"Aw... ku bilang pelan-pelan!" teriak Ratna.


"Cerewet sekali, kau ingin sembuh atau tidak?" balas Amus.


Dengan wajah merengut Ratna kembali diam dan mencoba menahan rasa perih, untuk beberapa saat ia bisa tahan sampai Amus mengoleskan salep di atas luka tersebut.


"Bagaimana? masih sakit?" tanya Amus.


Ratna hanya mengangguk sambil meringis tanda bahwa ia masih merasakan perih.


"Tahan saja, nanti juga hilang sakitnya" ucap Amus sambil membereskan kotak obat yang dia bawa.


"Sebaiknya kau duduk saja, jangan banyak bergerak agar lukanya tidak menimbulkan perih. Tugasmu biar aku yang kerjakan, ini tidak sulit jadi aku bisa membuatnya dengan cepat" ujar Jimy.


"Terimakasih" ucap Ratna senang.


Pada akhirnya keberadaan dirinya di sana hanya sebagai penonton, satu persatu ia melihat temannya yang sibuk mengerjakan tugas.


Jika di cermati ketiga sahabatnya memiliki cara berbeda dalam menanggapi masalah, terlebih jika hal itu menyangkut tentang dirinya.


Seperti halnya kejadian saat ini yang menimpanya, Ardi cepat tanggap meski dengan kekhawatiran yang berlebih berbeda dengan Amus yang sedikit tenang namun tak lepas dari sikap memarahi, sedangkan Jimy yang paling dewasa dan paling bisa membuatnya senang.


Jika di perhatikan lebih teliti sikap ketiga sahabatnya sudah seperti kakak kepada adiknya, mengingat bagaimana kejamnya perlakuan Sari kepadanya ia bersyukur memilih pindah ke rumah Sapardi dan hidup di kelilingi orang yang mencintainya.


"Akhirnya selesai juga" ujar Jimy setelah menghabiskan waktu berjam-jam untuk mengerjakan tugas itu.


"Boleh aku lihat?" tanya Ratna.


"Tentu saja, bagaimana menurut mu?" ujar Jimy meminta saran.


"Cantik sekali, aku tak menyangka kau berbakat dalam hal seni juga"


"Punyaku bagaimana?" tanya Ardi menyerahkan miliknya.


"Punyamu juga bagus"


"Kalau aku?" ujar Amus yang tak mau ketinggalan.


"Wah... punyamu juga tak kalah bagus, dengan begini kita pasti mendapatkan nilai bagus."

__ADS_1


Ketiga orang itu tersenyum puas mendengar pujian yang di berikan Ratna, jerih payah mereka terbayar sudah dengan senyuman riang Ratna.


__ADS_2