
Abah Jaka berdiri tegak di dekat jendela apartemen Jamie Scott, yang berada di lantai tiga puluh lima. Hati-hati dia melongok ke bawah. “Waduh!” gumamnya seraya kembali mundur.
“Keur naon, Bah? (Sedang apa, Bah?),” tanya mak Odah yang heran melihat kelakuan suaminya.
Abah Jaka segera menoleh. “Ieu keur ngabayangkeun, mun ragrag ka handap bakal kumaha (Ini lagi bayangin, kalo jatuh ke bawah akan seperti apa),” jawabnya polos.
“Nya paeh atuh, Bah! (Ya mati lah, Bah),” sahut mak Odah sambil berdecak heran. “Lagian ya, Abah teh apa-apaan pake mikir kaya gitu sagala? Ini apartemen si neng mani nyaman begini. Mana mungkin emak bakal milih loncat ka bawah,” ujar wanita dengan baju setelan batik sarimbit itu sambil duduk. Sesaat kemudian, mak Odah kembali menoleh kepada suaminya yang masih saja berada di dekat jendela. “Kasini atuh, Bah,” ajaknya. Dia menepuk-nepuk permukaan sofa empuk yang sedang dia duduki. “Tong didinya wae! Emak can sangup jadi randa (Jangan di sana terus! Emak belum sanggup jadi janda),” celetuk mak Odah.
“Ah, lagian jadi randa (janda) juga ga akan ada yang naksir lagi, selain si Jajang,” balas abah Jaka seraya menghampiri mak Odah yang saat itu sudah tampil cantik dengan polesan make up hasil karya Maryam. “Emak teh kalo dandan begini ternyata masih keliatan geulis, mirip Ayu Azhari,” godanya diiringi tawa renyah.
“Lah, dari zaman pacaran sampe sekarang sudah mau punya cucu, apalna (taunya) Cuma sama Ayu Azhari hungkul (saja),” keluh mak Odah seraya tersipu malu. Sikapnya bagaikan gadis remaja yang sedang jatuh cinta. “Lagian ya Bah, ari maksud Abah teh Jajang yang mana?” tanya mak Odah seraya menautkan alis.
“Eta Jajang si Koak, tukang ngurek,” jawab abah Jaka. Ngurek adalah kegiatan mencari belut di sawah dengan menggunakan tali pancing.
“Ih, amit-amit. Hoream teuing (males banget). Biar kata emak sudah tua dan keriput begini, tapi harga diri mah masih setinggi bintang di angkasa. Lagian, memangnya Abah rela kalau emak sama si Jajang?” tanya mak Odah dengan bibir yang dibuat manyun.
“Euleuh-euleuh eta gadis dan jejaka sedang memadu kasih, uhuiiii.” Suara kang Dayat tiba-tiba terdengar di ruang tamu itu. Pria tersebut muncul dengan mengenakan batik lengan panjang bercorak sama seperti mak Odah dan abah Jaka.
“Gandeng siah! (Diamlah!),” sergah abah Jaka.
“Eh, abah ini teh London. Jangan bawa-bawa ‘siah’ kemari. Duh, rasanya saya mah betah jadi orang Inggris. Ternyata di sini sangat nyaman. Ceweknya cantik-cantik, bodas nepika buuk-buuk (putih sampai ke rambut),” kelakarnya sambil tertawa.
“Awasnya, Dayat. Nanti Eceu aduin sama si Enur. Bisa-bisa kamu disuruh tidur sama si Veronica,” ancam mak Odah, yang seketika membuat kang Dayat menghentikan tawanya. Veronica sendiri adalah nama kambing betina peliharaan abah Jaka.
“Aduh! Jangan atuh, Ceu,” pinta kang Dayat. Dia lalu melirik abah Jaka yang terlihat gelisah. “Akang kenapa? Kok kelihatannya tidak bahagia? Ah, sepertinya si Akang kangen sama neng Wiwin ya? Kanyahoan (ketahuan) ....” Kang Dayat menggoda abah Jaka sambil memutar-mutar telunjuk yang dia luruskan kepadanya.
“Wiwin mana? Wiwin A atau Wiwin B?” tanya mak Odah dengan segera. Dia menyebutkan tambahan inisial di belakang nama Wiwin, karena di kampungnya ada sekitar lima orang yang bernama seperti itu.
__ADS_1
“Eta Wiwin B. Kan sebentar lagi dia mau cerai sama si Dadang,” sahut kang Dayat menjelaskan kepada mak Odah.
“Aih, kutanteh? Kenapa Eceu ngga tahu masalah itu?” pikir mak Odah menautkan alisnya.
“Eh, ari Eceu. Kan beritanya sudah menyebar ke mana-mana. Katanya si Dadang suka melakukan KDRT sama si Wiwin. Jadi, lama-lama si Wiwin ngga kuat. Apalagi, denger-denger si Dadang ada main juga sama ceu Romlah,” tutur kang Dayat lagi.
“Astagfirullahaladzim, ceuk saha (kata siapa)?” mak Odah terbelalak tak percaya. “Ceu Romlah kan sudah nini-nini. Usianya hampir sama jeung (sama) Eceu. Masa iya si Dadang mau ngalayanan?” mak Odah tak habis pikir.
“Kan ceu Romlah pensiunan PNS, Mak,” sela abah Jaka menimpali. “Lagian maneh teh Dayat asa ku euweuh gawe (lagi pula, kamu Dayat kaya ngga ada kerjaan). Buat apa kamu ngurusin masalah rumah tangga orang lain. Lebih baik kamu jaga rumah tangga sendiri, jangan sampai kaanginan,” tegur abah Jaka.
“Eh, saya mah bukan maksud begitu, Kang. Habisnya kan hampir setiap hari si Enur kalo lagi ngariung (ngumpul) sambil botram, pasti yang dibahas masalah itu,” kilah kang Dayat. Botram adalah istilah untuk makan-makan bersama. Sesaat kemudian, abah Jaka kembali terdiam. Dia seperti tengah menyimpan beban yang sangat berat. “Ada apa lagi, Kang?” tanya kang Dayat yang masih penasaran dengan sikap kakaknya itu.
“Pengen cepet-cepet balik, Yat. Akang ingat terus sama kambing, kolam, sawah. Aduh, bagaimana ini?”
“Tenang, Kang. Si Yayan kan sudah mahir ngurus semuanya. Lagian sebelum berangkat ke sini juga saya sudah wanti-wanti agar dia lebih telaten lagi,” ucap kang Dayat menenangkan sang kakak yang terlihat gelisah.
“Ayo, semuanya sudah siap?” ajak Maryam tanpa melepaskan tangannya dari lengan Jamie Scott yang terlihat sangat tampan hari itu.
Mereka bertiga yang sejak tadi sudah menunggu pun beranjak dari duduknya. Semuanya akan pergi ke acara pesta resepsi yang disenggarakan oleh Rosmawati dan Mehmet.
Abah Jaka dan mak Odah keluar terlebih dahulu. Sementara Jamie Scott dan Maryam mengikuti. Lain halnya dengan kang Dayat yang tiba-tiba ingin buang air besar. Alhasil, mereka harus menunggu sementara pria itu ke kamar mandi. Padahal kang Dayat malas sekali jika sudah harus ke kamar mandi, karena dia bingung dengan cara menggunakan closet duduk otomatis di sana.
Selama menunggu di luar, mereka kembali berbincang santai, selain Jamie Scott yang hanya menyimak karena belum bisa berbahasa Indonesia, apalagi bahasa daerah yang kerap dicampuradukan oleh keluarga Maryam. Saat itulah, muncul Kiki dengan suaminya Rahul Khan.
“Hai, Marry. Apakah mereka orang tuamu?” tanya Kiki dalam bahas Inggris.
“Iya, Ki. Sana kamu salim dulu. Cium tangan sama orang tuaku,” suruh Maryam dengan seenaknya. Sikapnya terhadap Kiki masih belum berubah, meskipun kini mereka sudah sama-sama berkeluarga.
__ADS_1
Tanpa membantah ucapan Maryam, Kiki pun menghampiri mak Odah dan abah Jaka. Dia lalu menyalami keduanya seraya bertanya dalam bahasa Inggris. Sementara abah Jaka membalas dengan menggunakan bahasa Sunda, membuat Kiki hanya bisa menautkan alisnya karena tak mengerti.
Beberapa saat kemudian, kang Dayat telah selesai dengan aktivitas kamar mandinya. Hanya untuk buang air besar saja, dia membutuhkan waktu hampir setengah jam lamanya. Saat bergabung dengan mereka yang berkumpul di sana, pandangan kang Dayat seketika tertuju kepada Kiki. Pria itu begitu terpukau melihat istri dari Rahul Khan tersebut. Kang Dayat pun segera menghampiri Kiki dan menyapanya. Namun, Kiki tentu saja tak memahami bahasa yang kang Dayat ucapkan. Akhirnya, Maryam pulalah yang harus menjadi penerjemah.
“Gini, Ki. Kang Dayat bilang kalau kamu itu sangat cantik dan menarik. Wajahmu bagaikan buah apel yang dibagi dia, tampak segar dan juga enak dilihat. Katanya kamu mirip sama mantan pacar dia yang bernama Reni, tapi sayang karena Reni sudah meninggal karena ngga sengaja menelan rambutan yang baru dikupas,” jelas Maryam panjang lebar, membuat Kiki seketika meringis kecil.
Kiki lalu menoleh kepada kang Dayat yang saat itu senyum-senyum padanya. Dengan segera dia menggandeng lengan Rahul, sang suami. “Marry, aku duluan saja, ya,” pamitnya. Setengah memaksa, Kiki membawa Rahul menuju ke lantai bawah tempat mobil mereka terparkir. Itu adalah pertama kalinya dia takut saat melihat seorang pria.
Sepeninggal Kiki dan Rahul yang juga akan menghadiri acara Rosmawati, Maryam pun segera mengajak keluarganya untuk turun. Rencananya, mereka akan berangkat ke tempat acara berlangsung dengan menggunakan taksi. Lagi pula, gedung yang dipilih Rosmawati untuk mengadakan pesta resepsi pernikahan, berjarak tidak terlalu jauh dari apartemen milik Jamie Scott.
Selama di dalam perjalanan, Maryam tak henti-henti bersikap manja kepada sang suami. Tak pernah diduga bahwa akhirnya mimpi Maryam untuk menikahi pria yang mirip artis, bisa terwujud. Selain itu, Jamie Scott pun bersikap sangat manis terhadapnya. Apalagi saat ini ketika Maryam sedang mengandung. Lengkap sudah kebahagiaannya bersama keluarga.
...****************...
Di ballroom hotel berbintang lima di London, suasana terlihat ramai dan meriah. Ruangan super luas itu disulap dengan dekorasi yang sangat cantik dengan warna putih yang mendominasi.
Setiap sudut ruangan dihiasi oleh bunga-bunga hias beraneka warna. Begitu pula dengan meja kursi undangan yang didekorasi dengan indahnya.
Di atas panggung, tampak sepasang pengantin bersama keluarga besar mereka. Rosmawati tampil begitu cantik. Begitu pula dengan Mehmet yang terlihat sangat mempesona, membuat semua tamu undangan menatap kagum pada pria tampan tersebut. Tak terkecuali Halimah dan Ahmad yang ternyata turut diundang.
Halimah hanya tersenyum kecut saat melihat kemesraan sepasang pengantin. Sedangkan Ahmad lebih sibuk mengedarkan pandangan, memindai sosok-sosok cantik tamu undangan yang berlalu lalang di depannya.
Di sudut lain ballroom, juga terlihat sosok Justin Blake yang tengah menggandeng pasangannya, si janda bohay. Siapa lagi kalau bukan Lidya Rodriguez. Wajah tampannya terlihat iri melihat pasangan Rosmawati dan Mehmet.
"Tak kusangka, ternyata office girl itu mendapatkan pria yang jauh lebih kaya darimu," celetuk Lidya sambil menowel dagu Justin. Pria itu tak menanggapi ucapan Lidya. Dia malah memalingkan muka sembari mendengus kesal.
Mungkin hanya Justin Blake saja yang merasa kesal. Sementara semua tamu-tamu undangan tampak sangat bahagia. Terlebih Maryam yang kini tengah berjalan mendekati Rosmawati, kemudian memeluk sahabatnya itu erat-erat.
__ADS_1
Memang, persahabatan mereka bagaikan kepompong, meskipun sering ruwet dan membuat sakit kepala. Namun, tak dapat dipungkiri, kasih sayang tulus terjalin dan tercipta di antara keduanya sekian lama dan semoga juga akan berlangsung selamanya.