Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Rose in Action


__ADS_3

Harusnya sore itu Rosmawati merasa gembira dengan ajakan Justin. Pria tampan itu menawarkan untuk menjemputnya di flat. Akan tetapi, hatinya galau. Resah dan gelisah oleh nasihat Joyce.


Di tengah acara berdandannya, Rosmawati memandang sayu ke arah pantulan dirinya di kaca. Seandainya ada kacamata penerawang batin, pastilah akan jelas terlihat penampakan dua sosok di sisi kanan dan kiri Rosmawati.


Sisi malaikat berpakaian serba putih berada di sebelah kanannya, sedangkan sisi kirinya berdiri sosok iblis berbaju merah. Malaikat dan iblis sedang berperang. Masing-masing beradu mulut, membuat Rosmawati makin pening.


"Jangan, Ros! Jangan terperdaya mulut buaya! Kamu ingat, kan? Beberapa bulan lalu, bosmu menggoda Chelsea di pantry. Saat itu dia tidak tahu jika kamu ada di sana. Untungnya Chelsea tidak tergoda," bisik Malaikat.


"Ah, itu cuma guyon biasa, Ros! Awakdewe ndek kampung mbiyen yo gawene nggudoi arek lanang-lanang sing adus nang kali," timpal Iblis tak mau kalah.


(Kita dulu waktu di kampung juga pernah godain cowok-cowok yang lagi mandi di kali)


"Malah dulu kamu pernah nyuri kolor si Tatang, kan? Kamu jadikan layang-layang," lanjut si Iblis.


"Itu kan dulu! Manusia harusnya berubah ke arah yang lebih baik. Jangan hanya terpatok pada masa lalu," hardik Malaikat.


"Terus aku kudu piye?" Desah Rosmawati.


(Terus aku harus gimana?)


"Jangan pergi!"


"Lanjut!"


Seru Malaikat dan Iblis secara bersamaan.


Rosmawati memejamkan matanya rapat-rapat. Dia menopang dahinya dengan kedua tangan sambil menunduk. Lama dia dalam posisi itu, hingga tiba-tiba ponselnya berbunyi. Dengan malas, Rosmawati melirik sebuah nama di layar, kemudian mengangkat panggilannya, "Hello, Mr. Blake."


"Are you ready, Rose? Aku sudah di bawah," ujar Justin.


"Jangan!"


"Buruan!"


"Ros, nanti kamu menyesal!"


"Ros, nanti tiap hari kamu bakal ditraktir makan enak!"

__ADS_1


Dua suara gaib itu saling beradu mulut dan berakhir adu jotos. Mereka saling gigit, saling jambak, bahkan saling jegal. Pada akhirnya, iblis yang menang.


Rosmawati bergegas keluar dari flat dan menuruni tangga. Dia hanya memakai dress sederhana saat itu, dengan rambut tergerai tanpa aksesoris apapun.


Senyum Justin mengembang saat melihat Rose setengah berlari menghampiri mobilnya. "You look stunning," pujinya.


(Kau terlihat menawan)


"Terima kasih, Sir!" Jawab Rosmawati sambil meringis.


Justin Blake segera membukakan pintu untuk Rosmawati dan melajukan mobil mewahnya sesaat setelah Rosmawati duduk dengan nyaman di sampingnya.


Tanpa Justin dan Rosmawati sadari, beberapa pasang mata tampak mengawasi mereka dengan wajah garangnya.


Para pemilik wajah garang yang mengawasi dari dalam sebuah mobil yang terparkir tak jauh dari gedung flat Rosmawati itu juga ikut melajukan kendaraannya, mengikuti arah kendaraan Justin Blake.


Tak berhenti sampai di situ, para sosok misterius itu juga mengikuti mereka hingga masuk ke restoran. Pura-pura memesan sesuatu, tapi bukan makanan. Apakah itu? Entahlah, hanya mereka yang tahu.


Orang-orang itu juga sempat memvideokan Justin dan Rosmawati yang tengah bercanda. Sesekali Justin berusaha menyuapi gadis oleng itu, namun ditolak secara halus oleh Rosmawati.


Mereka terus merekam video dan berhenti sampai saat Justin dan Rosmawati selesai makan malam dan hendak keluar dari restoran. Terlihat salah satu dari beberapa orang itu mengirimkan rekaman videonya pada seseorang.


"Hello, darling!"


"Yes, yes! I'll be there in five minutes," ucapnya pada seseorang. Setelah itu, Justin menutup teleponnya dan berpaling pada Rosmawati.


"Untuk malam ini, kau pulang sendiri dulu, ya! Aku sedang ada perlu dan terburu-buru," ujar Justin. Tanpa menunggu jawaban dari Rosmawati, dia langsung bergegas pergi, meninggalkan gadis malang itu sendiri di depan pintu restoran.


Rosmawati menghela napas panjang, seraya bergumam, "Oalah, malaikat! Tibake bener awakmu."


(Oalah, malaikat. Ternyata kamu benar)


Dengan langkah gontai, Rosmawati menyusuri trotoar di jalan pusat kota. Jarak restoran dengan flatnya lumayan jauh. Cukup lama dia berjalan hingga sampai di sebuah kawasan sepi.


Di kedua sisi jalan raya, terdapat gedung-gedung kosong bekas pabrik yang sudah tak terpakai. Rosmawati terpaksa melewati jalan ini sebagai jalan pintas, untuk mempersingkat waktu. Dia tidak mau berjalan terlalu jauh karena sayang dengan makanan mewah yang sudah masuk ke perutnya.


Kalau perlu, dia tidak boleh lapar sampai besok pagi agar makanan mewah itu tidak cepat-cepat meninggalkan perutnya.

__ADS_1


Rosmawati mendesah pelan. Tiba-tiba seraut wajah tampan milik Mehmet terlintas di benaknya. "Memet, kamu benar. Aku salah. Ma'afin aku ya, Met," bisiknya lirih.


Sejak kejadian ciuman oleh Mehmet. Zayn Malik kw 1 itu tidak menghubungi Rosmawati sama sekali. Bahkan sore tadi, dia tidak terlihat berjualan hotdog.


"Memet, kamu dimana? Apa aku telpon aja, ya?" racaunya pada diri sendiri, sebelum akhirnya terbelalak menyadari sesuatu. "Oh, iya ya! Aku telpon aja dia!" Serunya.


Rosmawati pun meraih ponsel yang tersimpan di saku dressnya dan memencet nomor Mehmet cepat. Cukup lama nada sambung berbunyi berulang kali. Akan tetapi, Mehmet tak juga mengangkatnya. Rosmawati mencoba meneleponnya lagi dan lagi, sampai empat kali.


Pada akhirnya dia menyerah. Rosmawati kembali meletakkan ponsel kesayangannya itu di dalam saku.


Tepat setelah dia menyimpan ponselnya. Terdengar decit suara rem mobil. Rosmawati menoleh dan melihat sebuah minivan yang berhenti tepat di belakangnya.


Beberapa saat kemudian, lima orang tinggi besar keluar dari dalam kendaraan dan berjalan penuh amarah mendekati Rosmawati.


"Siapa kalian?" Tanya Rosmawati tanpa kenal rasa takut.


"Kamu tidak perlu tahu. Kami hanya ingin menyampaikan pesan untukmu dari seseorang," jawab salah satu dari pria itu. Suaranya begitu datar dan dingin.


"Pesan apa? Dari siapa?" Cecar Rosmawati.


Pria-pria itu tampak bergerak mengelilingi Rosmawati. Salah satunya menyeringai dan berkata, "Jangan dekati Justin Blake kalau kau masih sayang nyawamu!"


Setelah berkata demikian, pria itu melayangkan tinjunya pada Rosmawati. Akan tetapi, gadis itu sigap menghindar.


Rosmawati bergerak ke samping lalu mendaratkan tendangan di perut pria itu hingga meringis kesakitan dan terdorong mundur beberapa langkah.


Melihat temannya diserang, keempat pria itu menghambur ke arah Rosmawati secara bersamaan. Mereka berusaha memukul Rosmawati.


Pemegang sabuk emas pertandingan pencak silat antar RT itu berhasil menangkis satu pukulan, tapi tak bisa menghindari pukulan yang lain.


Pukulan itu tepat mengenai dada Rosmawati hingga ia jatuh tersungkur. Dadanya terasa sangat nyeri sehingga membuatnya terbatuk-batuk.


Melihat Rosmawati berada posisi lemah, pria-pria misterius itu segera menerjangnya. Berusaha menyarangkan pukulan ke wajah mulusnya.


Sebelum hal mengerikan itu terjadi, sesosok pria tampan datang menghalau tendangan. Dia mengarahkan kakinya ke tulang kering si penyerang.


Dia juga menyerang empat orang lainnya secara membabi buta. Sampai-sampai para pria misterius itu menyerah dan berlari menuju mobilnya. Mereka kemudian menyalakan mobil dan melaju kencang meninggalkan Rosmawati yang masih terduduk di aspal sambil terbengong-bengong.

__ADS_1


Pandangan Rosmawati kini beralih pada pria penyelamatnya. Seketika dia terkejut menyadari bahwa pria yang kini berdiri di depannya adalah, "Memet!"


__ADS_2