
Di saat wajah Maryam masih cemong, amburadul,dan penuh dengan tepung, saat itu ponselnya berbunyi dengan nyaring.
Foto tampan dan memesona milik Charlie Manfred yang ia dapat secara candid, terpampang nyata di layar ponsel milik Maryam. Beberapa hari yang lalu, dua manusia berbeda segalanya itu saling bertukar nomor telepon.
"Hello. Hai," sapa Maryam dengan suara yang dibuat imut dan semanis mungkin, sehingga membuat mrs. Harlekin menajamkan pendengarannya. Awalnya wanita paruh baya itu berdiri di seberang meja dapur. Kini ia secara perlahan menggeser badannya mendekat kepada Maryam.
"What? Aa sudah berada di depan toko kue? Baiklah, aku akan bersiap! Tunggu, ya!" Seru Maryam kegirangan. Gadis itu kemudian melepaskan apron yang dikenakannya. Dilipat dan ditaruhnya apron itu di tangan kiri mrs. Harlekin yang terbuka. Apa yang Maryam lakukan, tentu saja telah membuat wanita itu tampak sedikit kebingungan.
"Titip sebentar ya, Nyonya! Besok pagi saya ambil kembali, okay!" Maryam membungkuk lalu mencium tangan kanan mrs. Harlekin, seperti yang biasa ia lakukan saat berpamitan kepada Mak Odah. Setelah itu, ia kemudian berlalu begitu saja.
Tertegun untuk sejenak, akhirnya mrs. Harlekin pun tersadar. "Hey, Mary!" Seru wanita paruh baya itu. "Kamu pikir toko ini milik leluhurmu? Seenaknya saja kamu datang dan pergi! Aku potong gaji bulananmu baru tahu rasa kamu!" Ancam Mrs. Harlekin. Akan tetapi, ancamannya terasa sia-sia saja karena Maryam sudah tidak ada di dalam toko itu. Gadis itu sudah melenggang tanpa rasa bersalah, di sebelah si tampan Charlie Manfred.
"Mary, wait!" Charlie Manfred menghentikan langkahnya dan juga Maryam.
Seketika Maryam tertegun dan menoleh kepadanya. "What?" Tanya gadis itu dengan ekspresi lugunya. Ia mengernyitkan keningnya ketika melihat Charlie Manfred tertawa geli.
Aktor tampan dan berbakat yang akan segera merilis film terbarunya yang berjudul "Sweet Watermelon" itu berdiri di hadapan Maryam. Ia lalu mengeluarkan sapu tangan dari dalam saku celana jeansnya.
Perlahan, dilapnya pipi Maryam dengan lembut. Charlie Manfred membersihkan sisa-sisa tepung yang masih mengotori wajah manis Maryam dan membuatnya terlihat aneh.
Maryam memundurkan wajahnya. Ia merasa risih akan sikap Charlie Manfred kepadanya. Seumur-umur, Maryam belum pernah diperlakukan seperti itu oleh seorang pria.
Pernah sekali waktu saat Maryam masih SMA. Saat itu, ada salah satu sahabat dekat Maryam yang melakukan hal seperti itu. Akan tetapi, ia melakukannya dengan tidak romantis. Pemuda tanggung itu justru melakukannya sambil tertawa terpingkal-pingkal.
"Heh, Maryam! Eta cileuh mani gede!" Ledek pemuda itu membuat Maryam merasa sangat malu.
(Heh, Maryam! Itu belek gede banget)
Sejak saat itu, Maryam menjadi patah hati. Padahal pemuda itu adalah pemuda yang ia taksir, tapi karena ia justru malah mempermalukan Maryam di depan teman-temannya yang lain, maka Maryam pun melupakan rasa naksirnya kepada pemuda itu.
__ADS_1
Charlie Mandred terus memaksa meskipun Maryam awalnya menolak. Akan tetapi, lama-kelamaan Maryam pun akhirnya hanya terdiam dan membiarkan saat aktor tampan itu membersihkan wajahnya. Lalu, tiba-tiba ....
Cup!
Sebuah kecupan singkat di bibir Maryam, membuat gadis itu membeku. Matanya membelalak dan keringat dingin mulai mengalir. Ini adalah pertama kalinya bibir Maryam disentuh oleh laki-laki. Air mata Maryam mulai menggenang, bingung dan salah tingkah.
"Emaaakkk! Bibir neng udah nggak perawaan," isak Maryam.
Charlie Manfred terkejut dengan reaksi Maryam yang menangis sesenggukan. "Hey, what happen?? Did I hurt you?" Tanya aktor tampan itu. Ia memegangi kedua lengan Maryam.
(Apa yang terjadi? Apa aku menyakitimu?)
"Aa' ... ih ... main sosor aja! Nggak boleh!" Protes Maryam dalam bahasa Indonesia, yang tentu saja tidak dipahami oleh Charlie Manfred. Pria asal Texas itu mengernyitkan keningnya, terlebih ketika Maryam berlalu begitu saja dari hadapannya.
"Are you mad at me, Mary?" Charlie tergesa mengikuti langkah Maryam yang terlihat merajuk.
(Apa kamu marah, Mary?)
"Masa sih, A? Aku menggemaskan? Is it true?" Maryam seketika berhenti dan membalikkan badannya. Matanya berbinar mendengar pujian dari Charlie Manfred untuknya.
Aktor tampan itu mengangguk penuh semangat. "Kamu mirip sekali dengan Molly," ujarnya antusias.
"Molly? Who's Molly?" Tanya Maryam penasaran.
"Kucing peliharaanku, Mary," jawab Charlie Manfred seraya mengacak-acak rambutnya sendiri dan tersenyum dengan sedikit meringis.
Maryam pun mendengus kesal. "Tau ah," gerutunya sebal.
"Hey, jangan marah! Aku punya sesuatu untukmu!" Charlie menggerak-gerakkan kedua alisnya. Ia mulai mengeluarkan jurus rayuan mautnya.
__ADS_1
"Apa?" Tanya Maryam dengan sedikit ketus.
"Kau tahu kan, aku kembali ke Inggris untuk syuting film terbaruku?" Charlie Manfred kembali mengiringi langkah kecil Maryam di sebelah kanan gadis itu.
"Kebetulan ... untuk beberapa hari, bianglala London Eye disewa untuk kepentingan syuting. Jadi, sore ini, semua kapsul bianglala sedang bebas pakai," terang Charlie.
"So?" Sahut Maryam cuek. Dia berlagak sok jual mahal. Kapan lagi, ya kan?
"Ayo, kita naik bianglala!" Ajak Charlie Manfred dengan penuh semangat.
Wajah Maryam yang sedari awal tertekuk, kini mulai merenggang. Gadis itu kemudian menyunggingkan senyum ceria. "Boleeh!" Serunya. Seperti biasa ia melonjak girang seperti anak kecil.
Begitulah ....
Sore itu Maryam menghabiskan waktu bersama Charlie Manfred di dalam kapsul bianglala London Eye. Saling bertukar cerita dan canda, hingga tak terasa waktu menjelang senja.
Pukul tujuh malam waktu London di saat musim panas seperti ini, masih terasa seperti sore hari. Perut Maryam tiba-tiba berbunyi nyaring. Cacing dan bakteri baik di dalam ususnya bertindak seperti alarm yang mengingatkan jadwal makan malam.
Charlie terbahak mendengarnya. "Wanna have a romantic dinner?" Tawarnya dengan lembut dan tingkat kekaleman di atas rata-rata.
(Mau makan malam romantis?)
"Of course!" Seru Maryam. Ia merasa jika saat ini dirinya sedang berulang tahun.
Selang beberapa menit, dia teringat pada sahabat kembar siamnya, Rosmawati. Dia merasa harus memberi kabar kepadanya kalau hari ini, ia akan pulang terlambat.
Ya, meskipun Rosmawati itu galak dan terkadang menyebalkan, tapi ia adalah belahan jiwa Maryam. Teman senasib sepenanggungan. Kepada siapa lagi Maryam meminjam uang jika ia sedang kepepet, kalau bukan kepada Rosmawati. Karena itu, Maryam sangat menyayangi gadis itu.
"Malam ini aku akan menculikmu, jadi katakan pada teman satu flatmu itu jika kamu akan pulang terlambat!" Ucap Charlie Manfred membuat Maryam sedikit meringis. Akan tetapi, kapan lagi ia akan mendapatkan moment indah seperti itu.
__ADS_1
"Oh ... ya tentu saja. Kesempatan tidak datang dua kali, kecuali saat permainan monopoli. Itu juga kalau isinya bukan masuk penjara," batin Maryam sambil senyum-senyum sendiri.