
Maryam sudah melaksanakan pekerjaannya untuk yang terakhir kalinya di toko kue mrs. Harlekin. Sedih dan terharu, itulah yang ia rasakan saat itu. Bagaimanapun juga, ia sudah bekerja di toko itu selama kurang lebih dua tahun, meskipun lebih seringnya ia bolos tanpa ada keterangan sama sekali dan kerap membuat mrs. Harlekin menjadi kesal. Akan tetap,i wanita asal Jerman itu sangat menyayangi Maryam, sehingga ia selalu memaafkan semua tingkah aneh gadis itu.
“Apa yang akan kau lakukan setelah ini, Mary?” Tanya mrs. Harlekin ketika baru selesai menutup tokonya.
“Tentu saja pulang ke flat saya, Nyonya. Emak selalu berpesan agar saya jangan terlalu sering keluyuran. Katanya di luaran sana banyak culik,” jawab Maryam dengan polosnya.
Mrs. Harlekin melirik Jamie Scott seraya mengelus dada. Sementara pria tampan itu justru malah tersenyum. “She’s so funny, Mom,” bisiknya kepada mrs. Harlekin yang saat itu hanya dapat mengela napas dalam-dalam.
“Aku rasa tidak akan ada yang tertarik untuk menculikmu, Mary! Kamu jauh lebih menakutkan dari gerombolan mafia manapun,” sahut mrs. Harlekin dengan gemas bercampur jengkel.
Ya, selalu ada saja ulah atau celotehan gadis itu yang membuat darahnya seakan naik ke kepala. Akan tetapi, rasa sayangnya kepada Maryam nyatanya mengalahkan segalanya. Baginya, Maryam adalah seorang gadis lugu yang apa adanya. Ia bicara dengan ceplas-ceplos tapi terlihat sangat natural.
“Aku akan mengantarkan Mary pulang, Mom,” ucap Jamie Scott seraya berdiri tegak. Ia lalu melirik gadis berambut panjang yang juga saat itu tengah melirik kepadanya. Ada banyak kode rahasia yang muncul dari lirikan tersebut.
Mrs. Harlekin dapat memahami hal itu dengan baik, terlebih setelah apa yang ia lihat pagi ini, di dapurnya. “Oh yes ... of course, Honey!” Sahut wanita berusia setengah abad lebih itu. “Antarkan dia smapai ke depan flatnya, dan pastikan tidak ada yang menculiknya,” lanjut wanita berambut pirang itu lagi.
Mendengar sindiran itu, Maryam tertawa pelan. Dengan segera ia memeluk wanita yang selalu ia gadang-gadangkan sebagai calon ibu mertuanya di masa depan. “Thank you, Nyonya. Anda memang calon mertua idaman,” celoteh Maryam dengan tanpa ragu. Ia memeluk wanita yang sedikit lebih tinggi darinya itu sambil menggerak-gerakan tubuhnya.
“Stop it, Mary!”
“Ah ... Nyonya ... saya sangat bahagia bisa mengenal wanita seperti Anda, meskipun Anda terkadang kelihatan sangat menakutkan seperti ibu tiri Cinderella ... tapi saya tahu jika Anda berhati lembut seperti Putri Salju!” Seru Maryam dengan girang.
“Jangan pikir aku akan terkesan dengan semua ucapanmu, Mary!” Bantah mrs. Harlekin seraya melepaskan pelukan gadis itu. Nada bicara wanita bernama asli Imelda itu terdengar sangat aneh. Tentu saja, jauh di lubuk hatinya sebenarnya ia merasa sangat sedih atas keputusan Maryam yang memilih untuk resign dari tokonya.
__ADS_1
Menjelang sore, Jamie Scott akhirnya mengantar Maryam pulang. Namun, tentu saja bukan ke flat tempat tinggal gadis itu, melainkan ke tepian sungai Thames. Tempat yang akhir-akhir ini sudah jarang dikunjungi lagi oleh Maryam dan Rosmawati.
Maryam duduk manis di salah satu bangku yang ada di sana sambil menunggu Jamie Scott yang saat itu tengah membelikannya hot dog dari gerobak tempat dulu Mehmet biasa berjualan. Maryam mengernyitkan keningnya karena penjualnya kini terlihat sangat jauh berbeda dengan Mehmet. Gerobak hot dog itu kini dijaga oleh seorang pria dengan wajah mirip pegulat profesional Undertaker. Maryam pun meringis ngeri. Namun, senyum manisnya seketika terkembang ketika ia mengalihkan pandangannya pada pria jangkung dan good looking yang tengah melangkah ke arahnya dengan dua buah hotdog di tangannya. Pria yang kini lebih sering memerlihatkan senyuman menawannya.
Jamie Scott kemudian duduk di sebelah Maryam setelah ia menyodorkan salah satu hotdog yang ia bawa kepada gadis itu. “Aku sudah terbiasa melihat wajah Mehmet di dalam gerobak hotdog itu,” ujar pria dua puluh tujuh tahun itu dengan ekspresi yang sedikit aneh.
“Ya, Neng juga,” sahut Maryam menimpali. Ia lalu menyantap hotdog miliknya.
“Apa rencanamu setelah ini, Mary?” Tanya Jamie Scott seraya terus mengunyah makanannya.
“I don’t know,” jawab Maryam enteng. Gadis itu terlihat sangat tenang. Hidupnya seakan tanpa beban sama sekali.
“Dari mana kamu belajar bersikap seperti itu, Mary?” Tanya Jamie Scott lagi.
“Ya ... seperti kamu sekarang? Aku tahu kamu terlihat sedikit gila, tapi ... aku sangat menyukainya. Kamu sangat menghibur,” ujar Jamie Scott.
“Menghibur? Seperti badut dan tukang sulap begitu, A?” Celetuk Maryam membuat Jamie Scott seketika tertawa.
“Yes ... you are a beautiful clown,” ujar pria itu lagi.
“Oh ... thank you so much!” Jawab Maryam seraya menyeringai kepada Jamie Scott dan membuat arsitek muda itu kembali tertawa renyah. “Kamu sungguh lucu dan menggemaskan. Seperti Orestes,” ujar Jamie Scott lagi.
“Who is he?” Tanya Maryam dengan penasaran.
__ADS_1
“Hamster peliharaanku,” jawab Jamie Scott dengan entengnya.
Maryam terdiam. Setelah dulu ia disamakan dengan Molly, kucing peliharaan Charlie Manfred, kini ia disamakan dengan Orestes, hamster peliharaan Jamie Scott. Apakah ini karma baginya yang telah menganggap jika Imelda mirip dengan Harlekin yang merupakan anak kambing kesayangannya? Oh ... Maryam harus segera bertaubat karena hal itu.
“My mom looks so sad saat kamu memutuskan untuk resign dari tokonya,” Jamie Scott kembali membuka percakapan di antara mereka berdua.
“Neng juga sedih, A. Tetapi ... mau bagaimana lagi? Neng harus mengambil keputusan. Aa tahu kan jika cita-cita terbesar Neng adalah menjadi seorang designer?”
Jamie Scott mengangguk pelan. Ada gurat kesedihan di wajah tampannya yang sudah melebihi kadar maksimal. Jika dilihat-lihat, tidak ada kemiripan sama sekali antara Jamie Scott dengan kedua orang tuanya. Terkadang Maryam berpikir, mungkin saja sewaktu mengandung Jamie Scott, mrs. Halekin tersalurkan ke dalam kandungannnya.
“Mrs. Harlekin adalah wanita yang sangat baik meskipun sangat cerewet. Dia bahkan terlihat lebih cerewet dari ceu Nining,” ujar Maryam.
“Who is ceu Nining?” Tanya Jamie Scott.
“Tetangga Neng di kampung, A. Saking cerewetnya, sampai-sampai dia harus menikah hingga berkali-kali karena suaminya tidak pernah ada yang tahan dengan semua ocehannya,” tutur Maryam.
“My mom’s not like that, Babe!” Bantah Jamie Scott.
“Ya ... Neng tahu, A ... lagi pula ....” Maryam tidak sempat melanjutkan kata-katanya karena Jamie Scott tiba-tiba menyelanya.
“Kamu ingin tahu sesuatu, Mary?”
Maryam menoleh. “Apa?” Tanyanya.
__ADS_1
Jamie Scott menghabiskan hotdog miliknya. Setelah itu, ia menatap Maryam. “You know, Mary? Aku adalah anak angkat dari keluarga Eder,” ucap pria berambut coklat tembaga itu yang seketika membuat Maryam terbelalak kaget.