
Hari perpisahan pun tiba. Kiki melambai-lambaikan sapu tangan putihnya di depan gedung flat penuh kenangan bersamanya dan Maryam serta Rosmawati. Meskipun kebanyakan kenangan buruk, namun Kiki tetap merasa kehilangan. Ditemani Syahid yang setia berdiri di sampingnya, Kiki mulai menyanyikan tembang pengisi film Titanic yang legendaris itu.
"Baik-baik di sini ya, Ki. Jangan nakal, jangan lupa nyalain lampu kalau malem, biar nggak dikira kandang gorila," begitu nasihat Rosmawati sebelum memasuki mobil milik Jamie Scott.
Ya, Jamie Scott sang arsitek lah yang telah berbaik hati mengangkut duo gadis oleng itu menuju Birmingham. Sementara barang-barang mereka yang luar biasa banyak namun sedikit yang berfaedah, mereka angkut menggunakan jasa ekspedisi.
Berbagai bayangan mendebarkan sekaligus menyenangkan, sudah terlintas di benak Rosmawati, terutama bayangan tentang Mehmet, idola dan pujaan hatinya kini.
"Mun, ntar di sana lu bisa coba-coba ngelamar kerja. Siapa tahu ada rejeki," tutur Rosmawati yang mulai sebal melihat sahabat kembar siamnya yang tak henti-hentinya menganggu Jamie yang sedang asyik menyetir. Berkali-kali gadis itu kedapatan mencolek-colek dagu belah Jamie Scott, membuat Rosmawati begitu risih melihatnya.
"Mun!" teriaknya saat Maryam tak menggubris sama sekali.
Rosmawati meraup wajahnya kasar sembari melirik pada Jamie Scott yang sama sekali tak terlihat keberatan atas perlakuan aneh kekasihnya itu.
"Ya, Allah Gusti. Paringono sabar," gumam Rosmawati. Masih dua jam perjalanan lagi dan dia harus kuat menghadapi kenyataan ini.
Tiba-tiba terdengar bunyi mendenging yang cukup nyaring, mengganggu pendengaran Maryam yang sedang khusyuk memandang wajah Jamie. "Eh, nyamuk siapa tuh?" tanya Maryam seraya mengejar arah suara.
Rosmawati yang ikut bingung mencari asal suara, akhirnya tersadar bahwa bunyi itu berasal dari dering ponselnya. "Oh, iya. Ponsel gue ternyata yang bunyi," ujarnya sambil meringis.
Dengan segera, ia meraih ponsel yang tersimpan rapi di saku jaket jeansnya. Matanya membelalak lebar ketika melihat nama yang tertera di layar. "Memet!" serunya ceria.
"Haloo!" Rosmawati buru-buru mengangkat panggilannya.
"Iyaa, Met? Eh, maksud saya, Mr. Hayder?"
"Saya masih dalam perjalanan, sekitar dua jam lagi, Sir!"
"Apa? Oh, saya naik mobil! Soalnya kalau jalan kaki suka nggak kuat, takut encok linu," celotehnya seraya terkekeh.
"Ya, ampun, Met! Eh, Mr. Hayder, terima kasih banyak, yaa," ucap Rosmawati.
"Baik, Sir! Baik. Siap! Saya besok tidak akan terlambat," tutupnya, kemudian mengakhiri panggilan. Tak disadarinya Maryam yang memandangnya keheranan.
"Kaku banget ngobrol sama Memet?" selidik Maryam.
"Iya, Mun! Gue udah nggak boleh lagi manggil dia Memet. Soalnya dia sekarang udah jadi atasan gue," jelas Rosmawati.
Maryam menanggapinya dengan membulatkan bibir sambil manggut-manggut.
"Masih lama ya perjalanannya, Mr. Eder?" Rosmawati mulai dilanda gelisah.
"Lumayan, dua jam kurang. Why, Rose?" tanya Jamie Scott ramah, yang menurut penerawangan Rosmawati, itu adalah hal yang aneh, sebab selama ini Jamie Scott terkenal dingin dan menakutkan.
"Anu, itu ... . Memet, eh, Mr. Hayder sudah nungguin saya di depan flat yang baru," ujarnya malu-malu.
__ADS_1
"Dia masih belagak cuek ya, Jem?" tanya Maryam sambil mengunyah keripik kentang. Entah darimana dia mendapatkan cemilan itu, Rosmawati sendiri tidak begitu memperhatikan.
Namun, setelah beberapa saat, Rosmawati baru menyadari bahwa itu adalah keripik kentang miliknya, buru-buru dia merebut makanan itu dari tangan Maryam.
"Ih, pelit! Gue sumpahin si Memet nyuekin elu selamanya," kutuk Maryam.
"Nggak apa-apa kalau Memet yang nyuekin, asal bukan Mr. Hayder," timpal Rosmawati.
"Yee, sama ajaa!" Maryam tidak terima.
"Nggak sama, dong! Nama dia di KTP nggak ada Memetnya," sangkal Rosmawati.
"Emang elu udah pernah liat KTPnya?" Maryam memicingkan matanya tak percaya.
"Udah, doong!" bohong Rosmawati sembari menjulurkan lidahnya, hanya karena tak mau kalah.
"Mr. Eder? Masih lama, ya?" lagi-lagi Rosmawati bertanya hal yang sama, membuat Jamie Scott memijat pelipisnya yang entah kenapa tiba-tiba terserang migrain.
Akhirnya, setelah pertanyaan 'Masih lama, ya?' diulang untuk yang ke-102 kali, sampailah mereka ke alamat yang dituju.
Mobil Jamie Scott berhenti tepat di depan gedung flat di daerah pusat kota Birmingham yang terlihat jauh lebih mewah dibanding flat lama mereka di London. Truk kontainer milik jasa ekspedisi yang disewa oleh Rosmawati juga telah sampai dan parkir di seberang jalan.
"Sudah sampai, Rose! Finally, Thank God! Hampir saja aku sengaja menabrak tiang supaya kamu diam. Akhirnya sampai juga," keluh pria tampan itu.
Tidak sabar bertemu pujaan hati, Rosmawati segera membuka pintu mobil dan melompat keluar. Namun sayang, karena tidak hati-hati, kakinya tersandung tepian trotoar, sehingga ia jatuh tersungkur. Mukanya mendarat lebih dulu di paving block.
"Saya tidak apa-apa! Saya tidak apa-apa!" Rosmawati sigap berdiri dan mengangkat kedua tangannya, sebelum orang-orang di sekitarnya menanyakan keadaannya.
"Astaga, Jem! Lu yang jatoh, gue yang malu!" desisnya.
Tanpa memedulikan Jamie Scott dan Maryam yang terbengong-bengong melihat tingkahnya, Rosmawati bergegas maju dan menghampiri Mehmet yang terlihat sangat khawatir. "Apa kabar, Mr. Hayder?" ucapnya sambil meringis.
"Astaga, Rose! Kamu tidak apa-apa?" tanya Mehmet cemas.
"Oh, tidak apa-apa, Sir! Saya kuat," bersamaan dengan itu, menetes lah darah dari lubang hidung Rosmawati.
Buru-buru Mehmet mengambil sapu tangan miliknya dari kantong, lalu ia usapkan pada ujung hidung minimalis gadis itu. Minimalis tapi mancung. Hmm..
"Eh, tidak usah, Sir! Saya bisa sendiri," Rosmawati merebut sapu tangan berwarna hitam itu lalu ia gunakan untuk mengelap hidung sekaligus ingus, kemudian ia kembalikan sapu tangan itu pada Mehmet. Tentu saja, Mehmet langsung mundur dan bergidik ngeri.
"Eh, jangan dikembalikan, Rose! Ambil saja sapu tangan itu. Untuk kamu," ujarnya.
Mata Rosmawati berbinar-binar. Apakah ini salah satu pertanda bahwa Mehmet sudah mema'afkannya dan kembali menjadi Mehmet yang seperti sediakala?
"Benarkah? Terima kasih banyak, Sir! Saya akan menyimpan sapu tangan ini sebaik-baiknya, karena ini adalah hadiah yang paling berharga," ucap Rosmawati tulus sembari mengusap-usapkan sapu tangan itu ke pipinya dan memejamkan mata.
__ADS_1
Ahmad tak kuasa melihat pemandangan di depannya itu. Dia pun membuang muka menahan mual.
"Jadi, kamar kami sebelah mana, Met?" suara cempreng Maryam menghentikan adegan aneh Rosmawati.
"Mary? Kamu juga ikut?" Mehmet yang baru menyadari kehadiran Maryam dan Jamie di sana, sedikit tertegun, lalu menyalami keduanya dengan ramah.
"Iyalah, Met! Mumun harus ikut! Ijem kemana-mana harus ditemani pawangnya," terang Mumun sambil menepuk dada.
"Oh, baiklah kalau begitu," Mehmet berdehem, kemudian menggaruk tengkuk.
Sikap serba salah mulai ditunjukkan oleh Zayn Malik KW 1 itu. "Baguslah ada kamu, Mary dan Mr. Eder tentunya. Sebentar lagi, anak buahku akan datang dan membantu petugas ekspedisi untuk memindahkan barang-barang kalian. Aku permisi dulu," Mehmet beranjak pergi,diikuti oleh Ahmad, tanpa menoleh lagi pada Rosmawati.
Meninggalkan tiga orang yang keheranan, kemudian saling pandang.
"Si Memet kenapa, ya?" gumam Maryam.
"Kayaknya dia nggak suka deh liat elu di sini," celetuk Rosmawati.
"Sepertinya, Mehmet masih bimbang padamu, Rose," pendapat Jamie Scott yang lain dari yang lain, sontak menarik perhatian Maryam dan Rosmawati.
"Mehmet mungkin sudah mema'afkanmu, tapi dia tidak begitu saja melupakan kesalahanmu dengan mudah," lanjut Jamie Scott. Seakan tidak mengucapkan apa-apa, Jamie Scott mulai beranjak menuju truk ekspedisi dan membantu memindahkan barang.
Sesampainya di depan pintu gedung, Jamie Scott yang membawa tumpukan kardus, susah payah menoleh pada Rosmawati. "Hey, Rose! Kamarmu nomor berapa? Kuncinya mana?"
"O'oo ..." keringat dingin mulai mengucur di dahi Rosmawati. Mungkin tebakan Jamie Scott benar, Mehmet masih belum sepenuhnya melupakan kesalahan Rosmawati. Buktinya, Mehmet menyewakan flat tanpa memberitahu nomor dan tidak menyerahkan kuncinya.
__ADS_1