
"Aa kenapa ngga kerja?" Tanya Maryam. "Aa ngga sakit, kan?" Gadis itu tampak khawatir.
Jamie Scott tersenyum kepada gadis itu. "Tidak. Aku hanya merasa lelah dan butuh sedikit penyegaran," sahut Jamie Scott masih memperlihatkan sikap kalemnya kepada Maryam.
"Oh ... syukurlah! Neng pikir Aa sakit karena semalam kena gangguan si Kiki. Oh iya, A. Si Rose juga hari ini kelihatan aneh banget, masih kaya semalam. Neng jadi khawatir. Kira-kita ... disekitaran London ada tukang ruqyah ngga ya?" ujar Maryam lagi. Gadis itu tampak berpikir.
"Ruqyah? Makanan macam apa itu?" Tanya Jamie Scott. Ia tidak paham dengan ucapan Maryam. "By the way ... ini aku bawakan camilan untukmu. Sebagai pengganti camilan yang semalam kita habiskan. Bukankah kamu bilang itu punya Rose?" Jamie Scott menyodorkan kantong belanjaan berisi aneka camilan yang segera disambut riang oleh Maryam.
Mendengar hal itu, seketika amarah Charlie Manfred kembali tersulut. "Oh ... pantas tadi temanmu meminta lima puluh poundsterling padaku. Enak saja! Kamu yang makan aku yang harus menggantinya!" Tunjuk aktor tampan itu kepada Jamie Scott.
Melihat kekesalan Charlie Manfred, Maryam merasa tidak enak. Ia lalu menyodorkan kantong belanjaan itu kepada Charlie Manfred. "Ya, sudah. Ini, camilannya buat Aa saja," ucapnya seraya memasang wajah manjanya.
Melihat wajah lugu Maryam yang manis dan manja, tentu saja Charlie Manfred merasa tidak tega. Segera ditangkupnya wajah Maryam dengan lembut. "No, Mary! That's not what i mean," ujar pria itu dengan perasaan tidak tega. "Nanti kubelikan camilan yang lebih banyak lagi untukmu, ya!" Lanjutnya. Ia bersikap seakan Maryam adalah bocah umur lima tahun.
Maryam segera tersenyum dengan lugu. "Boleh juga," serunya riang.
"Come on, Mary. Kita harus segera berangkat ke toko!" Ajak Jamie Scott. Ia mulai terganggu melihat sikap mesra Charlie Manfred kepada Maryam.
"No! Mary akan berangkat ke toko denganku. Dia akan naik mobilku. Silakan keluar karena aku masih ada urusan dengan pacarku yang manis ini!" Usir Charlie Manfred seraya menunjuk pintu yang masih terbuka.
Jamie Scott menghela napas dalam-dalam. Ia kemudian melirik Maryam yang saat itu masih tersenyum manis kepadanya. "Jaga dirimu, Mary!" Pesan pria berambut coklat tembaga itu sebelum ia memutuskan untuk keluar.
"Sampai ketemu di toko, Aa!" Seru Maryam.
Jamie Scott menoleh. Ia pun tersenyum kalem kepada Maryam. Setelah itu, ia lalu keluar. Tanpa ia duga, di luar ternyata ia mendapati Kiki tengah berdiri sambil menimang dan mengelus-elus Jackson, kura-kura kecil kesayangannya.
Jamie Scott pura-pura tidak melihat gadis itu. Ia masih teringat dengan kejadian menakutkan semalam ketika Kiki berkali-kali mengaum dengan sangat mengerikan.
Kiki tersenyum manis sambil terus mengelus Jackson yang sedang ia timang. Sesaat kemudian, Kiki tampak berbisik kepada Jackson, dan kebetulan Jamie Scott sempat mendengarnya.
__ADS_1
"Look, Jacky! That's your papa."
Seketika bulu kuduk Jamie Scott meremang. Ia buru-buru menuruni anak tangga dan keluar dari sana.
Setelah Jamie Scott berlalu, kemudian munculah Maryam dan juga Charlie Manfred. Pandangan Kiki kini tertuju pada aktor tampan yang juga mempercepat langkahnya saat melihat gadis itu.
Sementara Maryam malah tersenyum manis dan menyapa Kiki yang saat itu meletakan Jackson di atas kepalanya. Entah apa maksud Kiki melakukan hal seperti itu, yang pasti ia begitu terpana melihat ketampanan Charlie Manfred, sampai-sampai ia tidak dapat berkata apa-apa dan hanya melongo dengan mulut terbuka.
"Aku takut dengan tetanggamu itu, Mary," bisik Charlie Manfred sambil menuruni anak tangga.
"Tenang saja, A. Neng kira si Kiki sudah di vaksin ko," sahut Maryam sambil masuk ke mobil Charlie Manfred. Mereka lalu berangkat menuju toko mrs. Harlekin.
Setibanya di toko, Maryam segera berpamitan kepada Charlie Manfred. Aktor tampan itu mencium kening Maryam sebanyak tiga kali (sunah ya, tiga kali hehe ....)
Sementara itu, Jamie Scott mengintip dari balik pintu kaca toko itu. Ia baru pergi kembali ke dapur ketika Maryam akan memasuki toko.
"Mrs. Harlekin?" Suara Maryam kembali terdengar, tetapi tidak ada jawaban. Maryam kemudian memutuskan untuk masuk ke dapur. Di sana, ia mendapati Jamie Scott yang baru saja memasukan sesuatu ke dalam oven.
"Eh ... Aa lagi apa?" Tanya Maryam seraya meletakan tas selempang kecil miliknya. Ia juga mulai memasang apron yang biasa ia pakai.
"Aku membuat pie apel," sahut Jamie Scott sambil tersenyum kalem. Ia terlihat sangat memesona dengan apron yang melekat di tubuhnya. "Kamu belum tahu kan jika aku pintar membuat pie?" Ujarnya lagi tanpa melepas senyumannya, dan hal itu tentunya membuat Maryam sangat heran. Ia lalu mendekati Jamie Scott dan berdiri di sebelahnya.
"Aa sehat, kan?" Tanya Maryam dengan polosnya.
"Of course. Why, Mary?" Jamie Scott balik bertanya.
"No. I think you took the wrong medicine. Karena dari kemarin Aa senyum-senyum terus ... atau ... Aa baru dapat arisan odol ya?" Celetuk Maryam lagi membuat Jamie Scott tertawa pelan. Tentu saja hal itu semakin membuat Maryam menjadi terheran-heran.
"No, Mary! Aku hanya sedang merasa bahagia. You know ... i feel somethig different in my heart, and ... i think it has changed my life. You know why, Mary?"
__ADS_1
(Aku merasakan sesuatu yang berbeda dalam hatiku, dan aku pikir itu telah merubah hidupku. Kau tau kenapa, Mary?)
"Why?"
Jamie Scott membalikan badannya sehingga jadi menghadap kepada Maryam. Sedangkan Maryam hanya menoleh kepadanya.
"Because of you, Mary," sahut Jamie Scott dengan suaranya yang berat. Ia terdengar sangat romantis. Suaranya seperti suara seorang dubber yang begitu ikonik dan berkesan bagi Maryam.
"Me?" Tunjuk Maryam pada dirinya sendiri. Jamie Scott tidak menjawab. Ia hanya mengangguk pelan.
Sesaat kemudian, Jamie Scott mulai mendekati Maryam. Ia memberanikan diri untuk menyentuh wajah Maryam dan mendekatkan wajahnya hingga bibir keduanya hampir bersentuhan.
Ya ... hampir, karena saat itu tiba-tiba mrs. Harlekin masuk sambil terus menggerutu. Dengan segera Jamie Scott melepaskan tangannya dari wajah Maryam dan ia pun memberi jarak antara dirinya dan gadis itu. Gadis yang masih terpaku karena merasa tidak percaya, jika ia hampir saja dicium oleh Jamie Scott.
Sementara itu, mrs. Harlekin terus saja mengerutu. Entah apa yang telah membuat wanita itu terlihat kesal.
"What's wrong, Mum?" Tanya Jamie Scott.
"Menyebalkan! Sangat menyebalkan!" Sahut mrs. Harlekin. Ia kemudian tertegun melihat Jamie Scott dengan apron di tubuhnya. Ia lalu melirik Maryam yang masih terdiam.
"Ada apa, Mary?" Tanya mrs. Harlekin.
Maryam tersadar. "Anda menyebalkan, Nyonya! Mengganggu saja!" Jawab Maryam kesal. Ia kemudian berlalu dari dapur menuju ruang depan toko itu.
Mrs. Harlekin terheran-heran. Sesaat kemudian, ia kembali mengalihkan pandangannya kepada Jamie Scott. "Ada apa, Jamie?" Tanyanya.
"Mary benar," sahut pria dua puluh tujuh tahun itu seraya berbalik dan membuka oven. Ia juga terlihat kecewa.
Mrs. Harlekin merasa semakin heran. Ia tampak berpikir. Beberapa saat kemudian, ia lalu berkata, "Aku harap kalian tidak punya pikiran untuk berbuat mesum di dapurku!" Tukasnya.
__ADS_1