
Suasana pesta begitu meriah. Justin Blake bahkan menyewa seorang DJ yang cukup terkenal, yaitu DJ Candy Marshmallow untuk semakin menghangatkan pesta yang ia adakan.
Hentakan musik jedug-jedug pun terdengar dengan jelas dan membuat suasana pesta semakin meriah. Joyce bahkan terlalu larut dalam suasana, hingga dia berdiri di samping sang DJ.
Awalnya dia hanya berjoged, namun lama kelamaan dia ikut memencet-mencet alat musik elektronik. Sang DJ yang keder dengan lengan Joyce yang besar, tak berani melarangnya dan hanya bisa pasrah melihat peralatan musik mahalnya dijadikan mainan oleh ratu savana itu.
Sebenarnya, Rosmawati tak terlalu nyaman dengan keramaian seperti itu. Seumur hidupnya, dia belum pernah memasuki club malam atau pub, maupun diskotik. Jadi, dia hanya bisa berdiri canggung di depan meja prasmanan dan tentu saja menghadapi banyak makanan enak. Rasa canggung itu menghilang saat ia mencoba mencicipi sebuah kue coklat berbagai macam bentuk dari pinggan stainless. Satu buah tak memuaskan lidahnya, hingga ia mengambil dua, tiga dan seterusnya, sampai tak tersisa satu buah kue pun di atas pinggan bulat itu.
Padahal beberapa saat yang lalu, dia sudah gila-gilaan lomba makan bersama Joyce. Berbagai macam lauk yang tersedia di atas meja hidangan, ia taruh di atas piringnya satu persatu, lalu ia santap dengan lahapnya. Chelsea sampai berpindah tempat makan karena tak sanggup melihat cara Rosmawati melahap makanan itu dengan rakusnya.
Kini, Rosmawati bingung karena kue coklat itu habis tak tersisa karena ulah dirinya. Pinggan stainless itu kosong dan sangat bersih, sampai-sampai ia bisa berkaca di sana.
Sesaat kemudian, ekor mata Rosmawati menangkap puding orange yang tampak berkilauan. Rosmawati pun segera mengikuti arah matanya yang sudah berbinar indah saat membidik puding yang terlihat melambai kepadanya dan mulai menggodanya.
Gadis antik itu membuka mulutnya lebar-lebar, siap menelan puding susu yang lezat, saat namanya dipanggil oleh seseorang melalui pengeras suara. "Rosmawati, naiklah ke panggung! Hurry!" Seru suara seksi yang ternyata adalah milik Justin Blake.
Rosmawati yang masih dalam posisi mulut menganga, seketika tertegun untuk beberapa saat. Ia kemudian segera meletakkan puding itu dan mengelap mulutnya. Sembari mengusap telapak tangannya di baju, dia melangkah ragu-ragu mendekati Justin Blake yang bertepuk tangan di atas panggung.
Rosmawati nyengir sambil melambaikan tangan pada semua orang yang ada di ruangan. Sesekali dia melakukan cium jauh, entah apa maksudnya. Lagaknya sudah bak seorang gadis dalam kontes kecantikan.
"Aku ingin berterima kasih secara khusus kepada Rosmawati. Berkat dia, proyek besar kita terlaksana dengan baik. Pembangunan gedung pencakar langit dengan material kaca di ujung gedungnya, sudah dalam pengerjaan."
"Mr. D'Angelo selaku klien kita yang paling setia, benar-benar puas, sampai-sampai dia merekomendasikan perusahaan kita pada Sheikh Abu Dhabi, hingga terjalin MoU* dan investasi besar-besaran oleh Sheikh," tutur Justin Blake panjang lebar sembari meraih tangan Rosmawati dan menggenggamnya erat.
Gadis antik yang masih memakai seragam kebersihannya itu hanya bisa ternganga. Bagaikan mimpi, jemarinya digenggam oleh tangan halus dan kekar milik Justin Blake! Tidak hanya menggenggam, Justin Blake kini melingkarkan lengannya pada pinggang Rosmawati.
__ADS_1
Gadis itu hanya terdiam mematung. Dia merasakan otot-otot kuat dan keras di balik kemeja panjang Justin Blake. Dalam hati, Rosmawati berpikir, mungkin Justin Blake gemar angkat berat, seperti angkat besi, angkat galon, angkat jemuran atau angkat beras 25 kiloan seperti kuli panggul.
"Secara pribadi, aku mengucapkan terima kasih, Rose," ujar Justin Blake tulus. Wajahnya mendekat pada Rosmawati, membuyarkan bayangan gadis itu tentang Justin Blake yang sedang memanggul karung beras.
"Ah ... eh ... anu ... saya sedang anu ...." Rosmawati tergagap, namun ia tetap tak bisa menyembunyikan kebahagiaannya.
"Give us some speech," bisik Justin tepat di telinganya.
(Ucapkanlah sepatah dua patah kata)
Rosmawati berdehem. Dia begitu grogi. Selain karena tangan kekar Justin Blake yang masih nangkring di pinggang rampingnya, dia juga mendapat tatapan membunuh dari si janda hebring, Lidya Rodriguez. Akan tetapi wajah Joyce rekan seperjuangannya, membuatnya sedikit bernapas lega.
Joyce pun sama-sama terkejut dan ternganga persis seperti dirinya. Wanita keturunan Afrika itu bahkan tak sadar telah merangkul seraya menepuk-nepuk pundak kurus sang DJ.
"Hai, everyone," ucap Rosmawati sebagai kalimat pembuka. Sementara semua mata tertuju kepadanya.
"Saya sebenarnya adalah sarjana fisika, jadi tahu sedikit banyak tentang ilmu fisik dan material. Kebetulan, saat itu Mr. Blake sedang kebingungan dan saya sedang berada di ruangannya. Jadi ... saya berniat sedikit membantu Mr. Blake mengatasi kebingungannya. Eh ... ternyata saran saya diterima," lanjut Rosmawati sambil kembali nyengir.
"Pesan dan kesan yang ingin saya sampaikan adalah ...." Rosmawati mengusap dagunya sambil berpikir. "Saya tidak memiliki pesan, karena jarang ada yang mengirim chat pada saya ... selain Maryam, Memet, Joyce dan grup kantor. Itupun pesan-pesan unfaedah," ujarnya kemudian sambil menggaruk-garuk kepala, membuat gaduh seisi ruangan karena ucapan Rosmawati yang menganggap grup kantor tidak berfaedah.
"Eh ... maaf! Saya koreksi! Grup chat kantor tentunya sangat bermanfaat karena saya bisa cepat mengetahui kondisi situasi ghibah terkini," Ralat Rosmawati yang beberapa saat kemudian diiringi oleh tepuk tangan semua orang.
"Satu hal yang ingin saya sampaikan. Apapun yang anda kerjakan, kerjakanlah dengan hati! Meskipun kadang apa yang anda lakukan sekarang tidak sesuai dengan mimpi anda, namun tetaplah bekerja sebaik dan setulus mungkin. Bisa jadi, apa yang anda lakukan sekarang akan dapat menuntun anda pada cita-cita anda yang sebenarnya!" Tutup Rosmawati sambil mengangguk-angguk.
Tepuk tangan meriah kembali diberikan untuk Rosmawati. Tak terkecuali Justin Blake. Pria tampan itu memandangnya dengan penuh kekaguman.
__ADS_1
"Terima kasih, semuanya! Terima kasih!" Rosmawati mengangkat tangan dan melambaikannya. Dia bersikap layaknya seorang artis yang sedang mengadakan jumpa fans. Hal itu semakin membuat panas hati Lidya. Tatapannya semakin tajam ke arah Rosmawati, seperti singa yang hendak memangsa buruannya. Apalagi saat ia melihat Justin yang mendekatkan bibirnya pada telinga Rosmawati.
"Ternyata kamu cantik juga jika dilihat dari dekat, Rose," bisik Justin Blake yang membuat bulu kuduk Rosmawati meremang. Matanya membelalak, menatap mata biru bosnya. Dia sama sekali tak percaya jika bosnya baru saja memujinya secara terang-terangan. Apalagi kini Justin Blake sedang tersenyum nakal ke arahnya.
"Oke, sudah cukup!" Lidya tak tahan melihat adegan itu. Ia bergegas menaiki panggung dan menarik Rosmawati dari Justin. "Waktumu sudah selesai! Sekarang turunlah dan mulai bekerja kembali!" Perintah janda hebring itu seenaknya kepada Rosmawati.
Gadis antik itu tak punya pilihan lain selain menurut. Diapun menuruni panggung dengan hati yang berdebar dan bahagia, karena terngiang-ngiang atas pujian dan senyuman Justin Blake untuk dirinya.
"Ya, ampun! Seperti mimpi," gumam Rosmawati. Kakinya terasa melayang. Bahkan panggilan Joyce pun tak didengarnya. Sampai saat ia melangkah melewati Jamie Scott, ponselnya berdering nyaring.
Spontan Rosmawati merogoh ponsel dari dalam sakunya dan melihat nama Maryam tertera di layar. "Halo!" seru Rosmawati. Dia menekan loud speaker supaya bisa mendengar suara sahabat kembar siamnya itu dengan jelas di tengah hiruk pikuk pesta kantor.
"Jem!" Seru Maryam dari seberang sana.
"What happen, Mun?" Tanya Rosmawati sedikit penasaran.
"I'm going to be home late!" Sahut Maryam.
(Aku akan pulang telat!)
"Kena why, Mun?"
"Aku sedang kencan dan makan malam romantis bersama Aa Manfred," teriak Maryam kencang.
Posisi Rosmawati yang berada tepat di depan Jamie Scott, membuat pria tampan dan dingin namun tidak kejam itu mendengar dengan jelas percakapan duo gadis oleng.
__ADS_1
"Mary, is on a date?" Ulang Jamie dengan kesal.
(Mary sedang kencan?)