Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Balada Malam Pertama


__ADS_3

Malam telah datang. Sisa-sisa kemeriahan pesta pernikahan dadakan antara Maryam dan Jamie Scott tadi siang, sudah tak terasa lagi. Semuanya telah terlelap karena kelelahan. Terlebih, malam itu hujan turun dengan sangat deras.


Di kamar sebelah, Rosmawati tengah sibuk berbalas pesan dengan pangeran impiannya Mehmet, yang masih berada di salah satu hotel di kota Mojokerto. Rosmawati mengatakan jika dirinya akan segera pulang, setelah Maryam selesai dengan segala urusan pernikahannya. Ia tidak sabar untuk bertemu dengan onta arab berbulu lentik kesayangannya.


Sementara itu, di kamar yang lain. Jamie Scott dan Maryam duduk berdua di atas tempat tidur yang sama. Tidak biasanya Maryam menjadi sangat malu-malu seperti saat itu. Sedangkan Jamie Scott merasa bingung harus memulainya dari mana.


"Apa kau sudah mengantuk, Darling?" tanya Jamie Scott seraya melirik Maryam yang kini telah resmi menjadi istrinya. Rasanya seperti mimpi, karena ia bisa menikahi seorang gadis dengan karakter unik dan langka seperti itu. Tentu saja, Maryam sangat jauh berbeda dengan mantan-mantan pacarnya terdahulu yang anggun dan aduhai dengan kaki jenjangnya.


Salah satu dari deretan mantan terindah Jamie Scott adalah Madison. Gadis cantik berambut pirang, yang wajahnya kerap menghiasi sampul majalah ternama di kota London. Namun, entah apa yang memengaruhi Jamie Scott sehingga berubah haluan dengan drastis. Entah apa pula yang membuatnya tertarik dengan Maryam.


"Belum, A," jawab Maryam dengan malu-malu. "Aa sendiri?" Maryam balik bertanya.


Jamie Scott menggumam pelan. Ia kemudian beringsut ke dekat Maryam dan merengkuh pundak sang istri, membuat Maryam segera menyenderkan kepalanya di pundak pria itu. "Hujannya sangat deras," ucap Jamie Scott.


"Iya, A. Deras banget, dingin lagi," timpal Maryam. Ia seakan memberi lampu hijau kepada sang suami.


"Jadi?" Jamie Scott melirik Maryam yang masih bergelayut manja dalam dekapannya.


"Jadi apanya, A? Ya, jadilah. Masa nggak?" celoteh Maryam.


"Maksudku, apa yang akan kita lakukan sekarang?" tanya Jamie Scott.


"Neng sih nerima aja. Terserah mau diapain juga," jawab Maryam seraya cekikikan pelan.


Jamie Scott kembali menggumam pelan. Sesaat kemudian, ia menyentuh dagu Maryam dan mengangkatnya perlahan. Tanpa membuang waktu, pria bermata abu-abu itu mendaratkan sebuah ciuman lembut di bibir Maryam. Perlahan ia merebahkan tubuh Maryam di atas bantal.


Maryam tersenyum canggung. Ia kemudian memejamkan matanya sambil mengusap keningnya yang basah. "A, ko sampai netes segala. Aa beneran udah ngga tahan, ya? " celetuk Maryam.


"Apanya?" tanya Jamie Scott heran.

__ADS_1


"Basah," jawab Maryam tertawa pelan tanpa membuka matanya. Sementara Jamie Scott hanya mengernyitkan keningnya.


"Aku belum melakukan apapun padamu, Darling. Bagaimana kau bisa basah secepat itu?" gumam Jamie Scott tak mengerti.


"Aduh, Aa! Netes lagi," ucap Maryam seraya menyentuh bibirnya, membuat Jamie Scott segera mendongakkan wajahnya ke langit-langit kamar. Di sana tampak sebuah lingkaran dengan warna berbeda dari warna cat-nya yang putih.


"Ya, ampun! Kamarnya bocor!" seru Jamie Scott yang bersamaan dengan suara nyaring Mak Odah di ruang tamu.


"Aduh, abah! Buru geroan si Dayat! Balong limpas, laukna paralid!" (Aduh, abah! Cepat panggil si Dayat! Kolam penuh, ikannya pada hanyut). Mak Odah terus mondar-mandir seraya menyanggul rambut panjangnya.


"Aya naon, Emak? Gandeng ah, karunya si neng kaganggu!" (Ada apa, Emak? Berisik ah, kasihan si neng keganggu) tanya Abah Jaka yang baru keluar dari kamar.  Sesekali ia menggaruk dagunya yang dipenuhi janggut tipis. Janggut yang sudah mulai bercampur dengan warna putih


"Emak tos ti luar. Eta balong limpas. Lauk gurame keur beukeuleun mitoha si neng ka Inggris paralid, Bah," (Emak habis dari luar. Itu kolam penuh. Ikan gurame yang buat bekal mertua si neng ke Inggris pada hanyut, Bah) Mak Odah tampak resah dan gelisah.


"Waduh!" Abah Jaka menepuk keningnya sendiri, karena ia tidak akan berani jika harus menepuk kening Mak Odah. Abah Jaka segera membetulkan sarung yang dipakainya. Ia menggulung sarung itu di bagian perutnya dan bergegas ke luar. "Dayaaaaaaaaaaaaaaat!" serunya dengan sangat lantang. Abah Jaka lupa jika saat itu sudah pukul sepuluh malam.


Kang Dayat yang saat itu baru saja akan memejamkan matanya, karena baru selesai dikerok oleh Ceu Enur, langsung terperanjat kaget. Suara Abah Jaka terdengar begitu nyaring dan mengalahkan suara derasnya hujan malam itu.


Tak puas hanya melihat tulisannya, Rosmawati segera memencet tombol video call. Tak membutuhkan waktu lama bagi Mehmet untuk mengangkatnya, karena kini wajah tampannya sudah memenuhi layar ponsel Rosmawati.


"Astaghfirullah," ucapnya. Gadis oleng itu terbelalak saat menatap wajah yang menurutnya makin ganteng dan kinclong itu. Buru-buru ia memejamkan mata rapat-rapat.


"Kenapa, Ros?" tanya Mehmet keheranan.


"Nggak apa-apa. Takut khilaf," jawab Rosmawati sekenanya.


"Come on, Rose. Open your eyes," pinta Mehmet dengan suaranya yang selalu terdengar lembut.


"It's okay, Met. Kamu ngomong aja. Aku dengerin," sahut Rosmawati sambil terus memejamkan mata.

__ADS_1


"Kalau kamu tidak membuka matamu, aku tidak akan bercerita tentang proses perjodohanku," ancam Mehmet yang seketika membuat Rosmawati terbelalak.


Tak hanya terbelalak, gadis itu juga langsung mengambil posisi duduk dan melotot. Persis seperti seseorang yang menahan keinginan untuk membuang hajat. "Aku melek, Met! Aku melek!" serunya.


Mehmet terbahak-bahak hingga matanya menyipit. Cukup lama dia tertawa sampai berhenti, lalu mengecup layar ponselnya. Cup!


Tak terbayang betapa meronanya pipi Rosmawati yang hingga sekarang masih mengingat aroma wangi yang menguar dari mulut Mehmet.


"I miss you, Ros," ucap Mehmet pelan.


"I miss you, too," balas Rosmawati malu-malu sambil meraih bantal dan menutup mukanya. Seandainya Maryam ada di sana, mungkin gadis itu akan menimpuk kepala Rosmawati. 'Sok imut', pasti Maryam akan meledeknya seperti itu.


"Apakah kau mau mendengarkan ceritaku?" Mehmet mulai mengalihkan pembicaraan karena saat itu pipinya juga memerah. Dia tak mau Rosmawati melihatnya.


"I'm listening, Met," Rosmawati membuang bantal itu begitu saja, kemudian memajukan wajahnya hingga hampir menempel di layar.


"Jadi, ayah angkatku memiliki saudara sepupu jauh ..."


"Oh, aku mengerti. Sama kayak mak Katemi punya bapak, bapak mak katemi punya tetangga. Nah, ternyata tetangga bapaknya mak Katemi masih saudara. Dia itu adiknya sepupu pamannya yang punya ipar ..." celoteh Rosmawati yang memotong cerita Mehmet begitu saja.


"Ros, dengarkan aku dulu," sela Mehmet. "Saudara sepupu ayah angkatku berniat menjodohkanku dengan putrinya yang bernama Halimah," tuturnya.


Seketika Rosmawati terdiam. Detik itu juga, dia mulai tak menyukai siapapun yang bernama 'Halimah'. Wajahnya berubah gelisah dan terlihat sangat tidak nyaman.


"Aku tak bisa menolak lewat telepon, karena menurutku itu tidak sopan. Jadi, aku terbang ke Dubai dan menemuinya secara langsung," lanjut Mehmet.


"Terus? Pasti kamu sempat terpesona melihat Halimah, ya? Makanya kamu nggak balik-balik ke Inggris," tuduh Rosmawati dengan muka ditekuk. "Aku tuh suka lihat-lihat di sosmed. Cewek-cewek Arab nggak ada yang jelek, cantik-cantik dan mancung semuanya. Apalagi yang anak sultan, kinclongnya kelihatan sampai ke puncak menara Big Ben," cerocosnya.


"Bukan begitu, Ros," sanggah Mehmet. Dia begitu sabar menghadapi Rosmawati. Entah pelet dari mana yang membuatnya selalu luluh pada gadis oleng itu. "Aku tinggal di sana lebih lama karena aku harus menyelesaikan masalah harta. Aku harus membagi dua harta peninggalan ayah angkatku, agar paman membatalkan perjodohan," sambungnya.

__ADS_1


Lagi-lagi Rosmawati terbelalak. Dia tak menyangka jika Mehmet dapat bertindak sejauh itu. "Terus?" cecar Rosmawati.


"Lanjutannya nanti, setelah kita bertemu secara langsung," tegas Mehmet. "Kapan kau pulang? Aku ingin segera bertemu dengan kedua orang tuamu dan melamarmu!"


__ADS_2