Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Fight For Love!


__ADS_3

Sore yang melelahkan. Berkali-kali Rosmawati meregangkan ototnya di kursi taman sambil menunggu kedatangan Maryam yang berjanji akan menjemputnya pulang, walaupun sebenarnya Rosmawati tahu alasan Maryam menjemputnya hanya untuk bertemu dengan Jamie Scott, seorang arsitek yang bekerja di perusahaan Justin Blake.


Adalah sebuah ritual wajib setiap sore, di kala jam kerja sudah berakhir bagi kedua gadis antik yang terkadang meresahkan orang-orang sekitar mereka.


Ya, tentu saja, apalagi jika bukan melakukan peregangan di tepi sungai Thames sambil menikmati udara segar dengan pemandangan indah dan ... cowok-cowok bule yang lewat tentunya. Terkadang, Maryam dan Rosmawati pun hanya menelan ludah sendiri jika menyaksikan orang pacaran di sana (sudah jadi rahasia umum tentang status mereka saat ini).


Untuk sesaat Rosmawati melirik tempat biasa gerobak hotdog milik Mehmet mangkal. Sudah sekian hari, Zayn Malik kw 1 itu menghilang tanpa kabar. Rosmawati bahkan sempat berfikir jika mungkin saja jika Mehmet telah di culik alien dan dibawa ke planet antah berantah. Ia bahkan sempat membayangkan Mehmet dengan kepala besar yang dilengkapi dengan antena seperti remote control.


"Gue heran, Mun ...." Rosmawati memulai percakapan diantara mereka berdua, sambil duduk pada salah satu bangku di sana, "si Memet dah lama banget ngga keliatan. Kira-kira lu tau ngga ke mana tuh anak?"


Maryam yang saat itu tengah sibuk menjilati es krimnya seperti anak kecil, hanya menanggapi pertanyaan sahabat kembar siamnya dengan kata "hoh". Baginya es krim pemberian dari Mrs. Harlekin, calon mertuanya di masa depan jauh lebih asik daripada membahas pria bernama Mehmet.


"Lama-lama gue kangen juga sama tuh anak, Mun! Sayang kan penggemar gue ilang satu," keluh Rosmawati pada akhir kalimatnya.


"Bukannya cuma si Memet penggemar lu? Emang siapa lagi? Gue ga pernah tau tuh?" Sahut Maryam seenaknya. Tiba-tiba ia tertegun dan melirik ke arah Rosnawati dengan ekspresi anehnya. "Jangan bilang kalo elu melakukan ritual sesat, terus elu kawin diam-diam sama roh halus tanpa sepengetahuan gue!" Tukas Maryam sambil melirik sesaat kepada Rosmawati. Setelah itu, ia kembali menjilati es krimnya tanpa rasa bersalah sedikitipun karena sudah suudzon kepada sahabatnya sendiri.


Seketika Rosmawati menepuk lengan Maryam hingga es krim yang tengah dinikmati gadis itu langsung terjatuh. Maryam pun melirik Rosmawati dengan wajah memelas.


"Sukurin! Itu balasan buat orang yang suka suudzon!" Ujar Rosmawati dengan puas. "Lagian lu ada-ada ajah. Di Inggris kagak ada yang jualan menyan sama kembang tujuh rupa!" Ujar gadis itu lagi, kali ini dengan nada jengkel.


"Yang jualan es krim banyak. Sana gantiin es krim gue!" Maryam tidak terima es krimnya jatuh.


"Enak aja lu! Bukannya elu tuh yang sering bilang, 'kata aa, kita itu ga boleh suudzon ... harus selalu husnudzon'. Buktinya tiap hari kerjaan lu suudzon mulu," gerutu Rosmawati.


"Yeee! Itu kan kata aa, bukan kata gue! Gue cuma nyampein pesan dia ke elu, Ijem!" Kilah Maryam.


Kedua gadis itu terus cekcok, hingga akhirnya keduanya sama-sama terdiam ketika ada dua sejoli yang datang dan duduk di salah satu bangku yang berada tidak jauh dari tempat duduk mereka berdua.


"Jem! Perasaan pernah liat tuh orang, tapi di mana, ya?" Bisik Maryam sambil menunjuk pada dua sejoli yang sedang duduk mesra bagaikan abege baru jadian, yang biasa memanggil pasangannya dengan sebutan "papa-mama, abi-umi", cium tangan, cium kening, tapi pas putus saling menghujat di status efbeh (oh my God! Tentunya itu bukan othor ya).


Rosmawati mengikuti arah telunjuk Maryam. Seketika ia pun membelalakkan matanya. "Gawat! Itu cewek yang tadi gue tabrak di toko kue Mrs. Harlekin, Mun!" Sahut Rosmawati. "Kita kabur aja, yuk!" Ajak Rosmawati. Ia segera berdiri dan menarik tangan Maryam, mengajak gadis berambut coklat bergelombang itu untuk segera pergi dari sana.


Akan tetapi, baru saja mereka akan pergi tiba-tiba terdengar sebuah seruan dari suara yang sudah sangat mereka kenal.


"Hai, Ros!"

__ADS_1


Kedua gadis antik itu pun tertegun dan serempak menoleh. Mehmet terlihat melambaikan tangannya sambil berjalan melewati dua sejoli itu.


"Ros!" Panggilnya lagi, membuat dua sejoli itu ikut menoleh pada kedua gadis itu.


"Parah, Mun!" Guman Rosmawati ketika ia melihat wanita yang bentuk tubuhnya sebelas duabelas dengan Lidya Rodriguez itu melotot tajam sambil menunjuk ke arahnya.


Dengan keringat dingin, Rosmawati berpura-pura tak mengenali wanita itu. Dia bergaya cuek sembari berjalan mendekati Mehmet yang juga melangkah ke arahnya.


"Memeet, darimana aja? Ya ampuun ... sedih tauu, beberapa hari ini nggak ketemu kamu. Penggemarku jadi berkurang satu deh!" Ujar Rosmawati dalam bahasa Indonesia, karena Rosmawati memang berniat pamer pada wanita yang sempat berseteru dengannya pagi tadi.


Rosmawati bergelayut manja di lengan Mehmet sambil berkali-kali mencolek dagunya. Zayn Malik KW 1 itu hanya bisa meringis, malu bercampur bahagia, sebab tak biasanya Rosmawati bersikap baik dan hangat kepadanya.


"Aku sakit, Rose. Untuk beberapa hari, aku berdiam diri di rumah, tidak bisa kemana-mana," terang Mehmet seraya menggaruk tengkuk kepalanya.


Sementara itu, Maryam hanya bisa manyun sambil memeluk tiang lampu. Hanya dia seorang yang tak berpasangan. Sekilas matanya melirik ke arah wanita berpakaian seksi yang sedari tadi memelototi Rosmawati.


"Waah, nggak nyangka ya ketemu sama perusuh di sini," seru wanita itu. Ia lalu berdiri dan menunjuk pada Rosmawati.


"Je, udah, Je! Malu dilihat orang," bujuk pasangannya yang masih setia duduk di sebelahnya seraya menarik lengan wanita cantik itu.


"Namanya juga nggak sengaja, mbak," sahut Rosmawati tanpa rasa bersalah.


"Gampang banget ya, kamu bilang nggak sengaja! Buat apa ada penjara, kalau semua pakai alasan nggak sengaja!" Hardik wanita itu.


"Waduh, pakai bawa-bawa penjara dia, Met!" Rosmawati mulai terpancing emosi. Maryam yang melihat ada aroma keributan, segera bersemangat mendekat. Jiwa kesempatan dalam kesempitannya pun muncul.


"Mas, siapa sih nama istrinya?" Tanya Rosmawati pada pasangan wanita itu dengan nada tinggi.


"Jessica, biasa dipanggil Jeje," sahut pria itu yang segera dibalas dengan pukulan ringan di lengannya oleh sang istri.


"Jangan dijawab! Kenapa dijawab, sih?" Omel wanita yang ternyata bernama Jessica itu.


"Oh, itu nama asli apa nama samaran?" Ledek Rosmawati.


"Emangnya buronan pake nama samaran!" Emosi Jessica makin meninggi. Dia mengikat rambut panjangnya, lalu melepaskan sepatunya dan menghampiri Rosmawati dengan tangan terkepal.

__ADS_1


"Eh ... eh ... mbaknya mau apa? Jangan macam-macam, ya! Mbak tahu siapa yang bangun London Bridge?" Rosmawati pun ikut maju sambil menyingsingkan lengan.


"Nggak tau! Emang siapa?"


"Yang jelas bukan bapak saya! Mbak tau juga nggak siapa yang ngalirin air di sungai Thames!" Tanya Rosmawati lagi.


"Apa hubungannya, sih? Siapa coba?" Sahut Jessica malas sekaligus penasaran.


"Ya Tuhan Yang Maha Esa lah, masa gitu aja nggak tahu!" Rosmawati menjulurkan lidahnya.


Jessica sudah tak mampu menahan amarahnya, hingga dia terus maju dan menjambak rambut panjang Rosmawati.


"Aduuh!" Pekik Rosmawati.


"Ayo, Jem! Lawan! Jangan diem aja!" Teriak Maryam mengompori. Sementara dua laki-laki di sekitar mereka hanya bisa melongo.


Rosmawati pun balas menjambak wanita seksi itu sampai beberapa helai rambutnya rontok di genggaman.


"Aww, dasar oleeng!" Jerit Jessica. Mereka pun beradu fisik dengan saling jambak dan saling cubit.


Mehmet yang tak pernah tahu sisi liar Rosmawati, berdecak kagum dan bertepuk tangan. Rasa-rasanya dia makin jatuh cinta pada gadis antik itu.


"Mau taruhan nggak, Met?" Bisik Maryam yang tiba-tiba sudah berdiri di samping pria itu sambil meletakan tangannya di pundak Mehmet. Sedikit terkejut, Memet menoleh dan mengernyit heran. "Kamu pilih Rose atau cewek itu?" Tanya Maryam lagi.


"Of course, I vote for Rose!" Jawabnya tegas dan riang. Mehmet semakin tertarik mengikuti jalannya pertandingan dua wanita beringas di depannya.


Maryam kemudian menghampiri pasangan wanita yang sekarang sedang bergumul dengan Rosmawati. "Mas, mau taruhan nggak?" Tawar Maryam pada suami wanita bernama Jessica itu.


"Boleh," sahut pria itu penuh semangat.


"20 poundsterling saja, Gentlemen! Kumpulkan uangnya di sini," ujar Maryam seraya membuka kedua telapak tangannya.


Note.


Ingin tahu ada insiden apa yang menyebabkan pertarungan gaya bebas antara Rosmawati dan Jessica? Cari tau jawabannya di novel "Jerat Cinta Jessica"

__ADS_1



__ADS_2