Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Patah Hati Berjamaah


__ADS_3

Charlie Manfred masih diam seribu bahasa, bahkan ketika mereka berdua memutuskan untuk pulang. Seperti ada beban yang sangat berat yang tengah ia pikul di pundaknya. Entah apa yang tengah mengganggu pikirannya. Akan tetapi, aktor tampan asal Amerika itu terlihat begitu gelisah.


Hari sudah menjelang senja, ketika Charlie Manfred mengajak Maryam untuk makan steak dan kentang goreng di sebuah kedai yang sudah ternama. Mereka duduk saling berhadapan.


Charlie Manfred terus menatap Maryam dengan intens. Ada perasaan aneh yang tengah menyelimutinya kini. Sementara gadis itu asyik menyantap kentang goreng tanpa rasa bersalah sama sekali.


"Aa kenapa ngga makan?" Tanya Maryam dengan heran, karena sedari tadi Charlie Manfred hanya terdiam.


"Aku tidak lapar," jawab Charlie Manfred datar.


"Aa ngga masuk angin, kan? Neng tau obatnya A yang paling mujarab. Dulu Neng beli di tokonya ... toko siapa ya?" Maryam berpikir sambil terus mengunyah kentang gorengnya. Tanpa sadar ia juga mencomoti kentang goreng milik Charlie Manfred. "Nanti lah, Neng tanyain dulu sama si Rose! Aa pertahankan dulu ya anginnya, sampai Neng inget!" Celoteh Maryam dengan polosnya.


"What are you talking about?" Charlie Manfred mengernyitkan keningnya. Ia bermaksud untuk mengambil kentang goreng miliknya. Akan tetapi, sayangnya sudah kosong karena dilahap habis tanpa sadar oleh Maryam, yang saat itu masih tampak berpikir.


Charlie Manfred kemudian menopang keningnya seraya menggelengkan kepalanya perlahan. Entah kenapa ia bisa terjebak dengan seorang gadis seperti Maryam.


"Mary, let's talk seriously!"


Seketika Maryam yang saat itu hendak memotong steak-nya ... ah tidak! Itu steak milik Charlie Manfred, karena steak milik Maryam sudah ia lahap habis tadi. Ia bahkan sudah menggeser piring kosong miliknya ke samping.


"Oh ... i'm sorry. This is yours," Maryam menggeser kembali piring steak itu ke hadapan Charlie Manfred.


"Tidak apa-apa. Makan saja!" Ujar Charlie Manfred. Selera makannya sudah hilang sama sekali. "Bisakah kita bicara sebentar dengan serius?" Charlie Manfred kembali mengulangi kata-katanya.


"Of course, A! Tetapi, jangan lamar Neng dulu ya, A! Neng belum siap nikah. Neng masih ingin menggapai cita-cita yang belum terlaksana," ujar Maryam denga penuh percaya diri.


"No, tentu saja aku belum berpikir ke arah sana dan bahkan tidak sama sekali," balas Charlie Manfred yang seketika membuat Maryam menatapnya dengan rasa heran.


"Maksud Aa?" Maryam mulai terlihat galau.


"Entahlah Mary, tapi aku merasa jika selama ini kamu sangat sulit untuk diajak serius. Kamu juga sepertinya tidak menganggapku spesial. You treat all men the same. Lalu, apa bedanya denganku? Tidak ada hal yang membuatku merasa spesial di matamu," keluh aktor tampan itu.


Maryam makin terlihat sendu. Bibirnya sudah bergetar dan dalam mode standby otewe menangis. Tangannya ia letakan di bawah dan terus memainkan dressnya.

__ADS_1


"Kenapa Aa berkata seperti itu? Neng hanya ingat pesan emak, kalau Neng harus selalu ramah terhadap semua orang. Senyum itu ibadah. Sedekah gratis, Aa ...." Maryam mulai terisak.


"Sejujurnya aku sangat kecewa. Lagi pula ada satu hal yang sangat penting," ucap Charlie Manfred lagi.


"Kegiatan syuting-ku di sini sudah selesai. Aku akan melanjutkan proses syuting di Afrika. Ada jadwal pembuatan video clip di sana. Entah kapan aku dapat meluangkan waktu untuk kembali ke Inggris. Kita akan semakin sulit untuk bertemu," tutur Charlie Manfred lagi dengan berat.


"Apa Aa tidak bisa meluangkan sedikit waktu saja buat Neng?" Pinta Maryam dengan penuh harap.


Charlie Manfred tidak segera menjawab. Ia hanya menatap Maryam dengan penuh kegalauan. Sesaat kemudian, pria itu menggeleng pelan. "I can't. Aku tidak bisa tenang jika melihat sikapmu yang seperti itu, Mary!" Tolak Charlie Manfred.


"Iya, tapi ... Neng ... Aa ... kenapa? Kenapa Aa tidak menetap saja London jadi kita bisa selalu dekat!" Pinta Maryam lagi dengan bibir yang sudah lebih dari bergetar.


"No, Mary! I love my job. Aku sudah berjuang dengan sangat keras untuk dapat berada di posisiku saat ini. Bagaimana kamu bisa berpikir jika aku akan melepaskannya dengan begitu mudah? Jangan ngaco!" Sergah Charlie Manfred dengan tegas dan membuat Maryam akhirnya menangis.


"Jadi ... jadi ... Aa lebih mencintai karier dibanding Neng?"


"Kamu juga tidak menganggapku terlalu berharga!"


"Jadi, mau Aa apa?" Tanya Maryam lagi.


"Kita putus. Kamu bebas melakukan apapun yang kamu mau! Silakan berteman dengan pria sebanyak yang kamu butuhkan. Aku tidak akan mencampuri hidupmu lagi," tutup Charlie Manfred seraya beranjak dari duduknya.


Akan tetapi, baru saja Charlie Manfed berjalan beberapa langkah, terdengar Maryam kembali memanggilnya. Charlie Manfred kemudian menoleh. "Bayar dulu bill-nya!" Ucap Maryam sambil berdiri dan menatap pria itu.


Dengan lunglai, Charlie berbalik ke mejanya dan menyelipkan beberapa uang poundsterling ke dalam buku menu. "Goodbye, Mary! Semoga kamu menemukan apa yang kamu cari," ujar pria jangkung itu sembari melangkah pergi.


......................


Hari sudah mulai gelap ketika Maryam menyusuri trotoar jalanan kota London sendirian. Charlie Manfred tidak mengantarkannya pulang. Maryam juga merasa sayang dengan isi dompetnya jika hanya digunakan untuk membayar ongkos taksi. Berjalan kaki, tentu saja menjadi alternatif yang sangat tepat, meskipun itu akan membuat betisnya menjadi sedikit kekar.


Beberapa meter lagi, Maryam akan sampai di flat sewaannya. Namun, seketika ia dibuat tertegun. Dari kejauhan Maryam melihat penampakan yang aneh. Maryam pun mempercepat langkahnya.


"Lagi ngapain, lu?" Tanya Maryam kepada Rosmawati yang saat itu tengah berdiri sambil memeluk sebuah tiang lampu, yang ada di depan bagunan flat sewaan mereka.

__ADS_1


"Mun," Rosmawati menoleh dengan raut sendu. Matanya terlihat sembab seperti habis menangis. "Memet ngilang. Dia nggak ada dimana-mana. Udah nggak jualan hot dog juga," ujarnya pilu.


"Lah ... terus gimana, dong? Bos lu gimana?" Maryam terlihat iba. Dia pun mendekati sahabat kembar siamnya itu.


"Orang gila dia, mah! Dia cuman ngerjain gue aja! Bodohnya gue percaya!" Rosmawati terisak. Awalnya pelan, namun makin lama tangisnya makin kencang. Tak kuat berdiri, Rosmawati duduk merana di atas trotoar. Kakinya ia selonjorkan ke aspal, sambil sesekali menghentak-hentakkannya.


Maryam yang melihat kejadian memilukan itu, ikut terenyuh dan duduk di samping Rosmawati. Dia juga menirukan gerakan Rosmawati sama persis. "Gue juga diputusin sama Aa' Charlie, Jem! Kata aa, gue nggak ngaggep dia spesial. Ya mana mungkin bisa lah, dia kan bukan martabak telor," cerocosnya sambil menangis.


Seketika tangis Rosmawati terhenti. "Yah, kalau itu sih emang derita elu, Mun! Lagian, dah tau punya cowok, elu malah masih mesra-mesraan sama Mr. Eder!" Omelnya.


"Ya gimana, ya! Kapan lagi ada kesempatan kayak gini. Mumpung belum nikah kan, Jem! Sortir dan seleksi dulu sebanyak-banyaknya," dalih Maryam.


Rosmawati mendengus kesal. "Dasar! Udah, ah! Gue mau masuk! Lapar!" Rosmawati berdiri dan berniat meninggalkan Maryam di tepi trotoar sebelum ada orang lewat dan melemparinya koin, sebab kondisi mereka berdua kini persis seperti gepeng (gelandangan dan pengemis).


Baru beberapa langkah menuju gedung, terdengar seseorang memanggil namanya. "Nona Rosmawati Rozi!" Serunya.


Rosmawati menoleh lalu mengamati seorang pria yang berdiri gagah dengan setelan jas hitam serta berkacamata hitam pula. "Aneh bener. Malam-malam pakai kacamata. Ada masalah hidup apa sih dia sebenarnya?" Gumamnya.


"Apa ada yang bisa saya bantu?" Tanya Rosmawati sekedar menjaga norma kesopanan. Langkahnya pelan mendekati pria itu sambil mengamatinya lekat-lekat.


"Anda benar, Nona Rosmawati Rozi?" Ulang pria itu.


"Iya, dia Rosmawati. Yakin, pak! Nggak tahu lagi kalau nanti dia kesurupan arwah nyai Pantura. Kalau lagi hilang akal, dia kadang bisa berubah jadi Dedi tukang yang suka jualan bacang dan cangcimen di terminal," potong Maryam yang buru-buru ikut berdiri sambil mengibas-ngibaskan roknya.


Pria itu menoleh pada Maryam dan menarik turun kacamatanya sebatas hidung. "Anda siapa?"


"Saya Maryam, sahabatnya, Pak. Kami saling bertukar cerita. Malah kami juga sering bertukar celana dal ...."


"Stop!" Cegah Rosmawati sambil mendelik pada Maryam, lalu ia kembali fokus pada pria asing itu dan bertanya, "Ada perlu apa anda mencari saya? Perasaan saya tidak punya hutang pinjaman online?"


"Saya hanya menyampaikan pesan dari pimpinan saya. Anda diminta hadir besok pagi ke alamat ini untuk melakukan wawancara," ujar pria itu sambil menyerahkan kartu nama.


Rosmawati menerima kartu nama itu kemudian membacanya pelan, "Hayder Ali Yasser? Kingstreet Building? East Arab Company?"

__ADS_1


__ADS_2