Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Girl's Business


__ADS_3

Selepas Ahmad dan Halimah pulang dalam keadaan marah-marah, suasana apartemen Mehmet kembali tenang dan damai. Tak ada aura kemarahan maupun suhu udara yang semakin meninggi akibat emosi Rosmawati yang mampu mengganggu prediksi BMKG tentang cuaca.


"Gile banget, Jem! Sumpah itu cewek cantik banget! Kok bisa sih si Memet nggak kesengsem sama dia?" Maryam keheranan, namun tangannya tak berhenti membuka kulit kacang, lalu memakan isinya. Sekilas Mehmet melirik sahabat istrinya itu. Sikap Maryam mengingatkannya pada seekor monyet yang doyan melahap kacang.


"Plis, deh, Mun! Jangan sebut nama itu di depanku!" hardik Rosmawati. Beberapa saat kemudian, dia memutar posisinya sehingga membelakangi Maryam. "Nah, sekarang lu boleh sebut nama dia, kan lu udah nggak ada di depanku," lanjutnya.


"Ih, aneh banget!" gerutu Maryam. Kacang kulit yang awalnya penuh dalam satu plastik kemasan, kini hanya tersisa separuh. Spontan Rosmawati merebut plastik kacang itu, kemudian melipat dan menjauhkannya dari jangkauan Maryam.


"Pelit amat, sih! Kirain dah tobat!" protes Maryam.


"Gue pelitnya cuma sama elu!" ketus Rosmawati, lalu berpindah tempat duduknya Awalnya dia ada di meja makan yang berbentuk persegi bersama Maryam. Akan tetapi, setelah gadis oleng itu melihat suaminya sedang berbincang akrab itu, dia pun bergegas menghampiri Mehmet dan duduk di sanpingnya di sofa.


.


"Kalian lagi bergosip apa?" tanya Rosmawati dengan wajah manis yang dibuat-buat. Tanpa berdosa, dia duduk di samping Mehmet lalu menggelayut manja. Persis seperti Orestes yang sedang manja pada tuannya.


"Jamie Scott menawarkan kerja sama denganku, My Love. Tentu aku tidak akan menolak karena semuanya ide bagus," tutur Mehmet ceria.


"Kerja sama apa?" Rosmawati langsung mendudukkan dirinya di samping Mehmet.


"Jamie Scott berencana keluar dari perusahaan Justin Blake dan mendirikan perusahaan arsitektur sendiri. Nanti aku akan mencoba memberi dukungan ekuangan," jawab Mehmet.


"Wah, keren!" Rosmawati bertepuk tangan sedemikian kencang. "Aku mau dong, jadi sekretaris. Dari dulu cita-citaku ingin jadi sekretaris," rayunya pada Mehmet.


"Well," Mehmet tampak berpikir sebentar. Dia tak tega menolak tapi juga tak ingin istrinya berinteraksi terlalu banyak dengan pria lain selain dirinya. Mungkin itulah bentuk kecemburuan Mehmet.


Maryam yang diam-diam memunguti kacang yang sudah disembunyikan oleh Rosmawati, segera berdiri sambil berkacak pinggang. Dia tak terima dengan permintaan Rosmawati. "Heh, Ijem! Daripada lu ngintilin laki gue, mending kita bisnis bareng. Biarin cowok sama cowok," tukasnya.


"Ogah, ah! Bisnis sama elu! Yang ada gue dikerjain mulu, disuruh ini itu. Elunya yang kipas-kipas," tolak Rosmawati.


"Yee, nggak boleh su'udzon begitu, Ijem! Sini deh, gue kasi tahu ide gue," ujar Maryam seraya menarik tangan Rosmawati kembali ke ruang makan.

__ADS_1


"Jadi gini," Maryam setengah berbisik, membuat Rosmawati menajamkan pendengaran sembari mendekatkan telinganya pada sahabat kembar siamnya itu.


"Gimana kalau kita bikin brand?" suara Maryam semakin mengecil.


"Brand apa?" Rosmawati membuka mulut tanpa mengeluarkan suara, mirip ikan koi.


"Brand fashion," jawab Maryam, tapi makin tidak terdengar. Dia seperti dukun yang komat-kamit.


"Udah gue capek, Mun! Ngomong layaknya orang normal aja," protes Rosmawati. "Fashion apa?"


"Gue kan pinter jahit, lu pinter ngerayu orang. Jadi gue yang bikin baju, lu yang nawarin ke orang-orang," tutur Maryam penuh semangat.


"Maksudnya gue dijadiin sales keliling, gitu?" Rosmawati mulai sewot dengan sikap semena-mena Maryam.


"Namanya orang bisnis, nggak boleh gengsian," nasihat Maryam.


"Bukan masalah gengsiannya! Gue udah bayangin keliling kota panas-panasan. Bukannya makin cantik, ntar gue tambah dekil. Si Halimah makin merajalela. Ntar lu yang gue salahin, kalau sampai Memet berpaling, ya!" omel Rosmawati.


"Ya, udah!" dengan santainya Maryam menghampiri suaminya yang asyik berdiskusi dengan Mehmet.


"Aa'! Pulang, yuk! Si Ijem lagi ngambek, tuh! Nggak asyik," gerutu Maryam.


Jamie Scott tentu saja tak mampu menolak keinginan istri tercintanya itu. Dia segera menutup obrolannya dengan Mehmet, lalu berpamitan.


Sepulang dari apartemen milik Mehmet dan Rosmawati, Jamie Scott kemudian mengajak Maryam untuk mampir sebentar ke toko kue milik Mrs. Harlekin. Toko kue yang menyimpan banyak sekali kenangan bagi Maryam. Saking banyaknya, sampai-sampai Maryam tak bisa mengingatnya satu per satu.


"Mommy!" seru Jamie Scott seraya membuka pintu toko itu lebar-lebar. Ia lalu masuk dan diikuti oleh Maryam.


Dari dalam dapur, tampak Mrs. Harlekin terburu-buru menghampiri mereka. Dengan segera ia menghambur ke dalam pelukan putra kesayangannya. "Oh, my sweeety cupcake. Aku senang akhirnya kau kembali ke Inggris. Aku dan ayahmu sangat merindukanmu," ucap wanita berdarah Jerman tersebut seraya menciumi pipi Jamie Scott dengan bertubi-tubi, membuat pria jangkung bermata abu-abu itu merasa risih.


"Honey, tolong katakan pada ibuku jika sekarang aku sudah menikah!" Jamie Scott tampak kewalahan menghadapi serangan kasih sayang dari Mrs. Harlekin. Sementara Maryam hanya cengar-cengir melihatnya. Ia justru sibuk bermain dengan anak asuhnya, yaitu Orestes yang selalu ia bawa ke manapun.

__ADS_1


Beberapa saat kemudian, Mrs. Harlekin menyuguhkan minuman untuk anak dan menantunya. "Mary, jika kau tidak ada pekerjaan, kenapa tidak kembali saja ke toko?" tawar Mrs. Harlekin. "Semenjak kau memutuskan untuk berhenti dari sini, aku sudah hampir dua puluh kali mengganti karyawan," tutur Mrs. Harlekin.


"Memangnya kenapa, Mommy?" tanya Maryam yang kini telah percaya diri memanggil mertuanya dengan sebutan "Mommy".


"Ah, Mary. Kau tidak tahu jika sulit sekali mencari pegawai yang tidak banyak mikir sepertimu. Meskipun kau kerap membuatku pusing dan jengkel, tapi kau tidak banyak trlalu banyak tingkah," jelas Mrs. Harlekin dengan lesu.


"Aduh, Mommy. Sebenarnya aku ingin sekali kembali ke toko ini, tapi gimana ya? Sekarang aku harus mencurahkan perhatianku sama si mungil Orestes. Kasian dia kesepian dan terabaikan. Si Rahul kemarin ngurus dia ngga bener, malah sibuk mainin ular sanca," ujar Maryam dengan polosnya.


"Mengerikan sekali, ya!" Mrs. Harlekin bergidik membayangkan ular raksasa. Dia sama sekali tak membayangkan jika ular sanca yang dimaksud adalah sejenis ular lain yang tidak termasuk ke dalam golongan binatang melata.


Sesaat kemudian, bunyi lonceng di atas pintu masuk berbunyi. Seorang gadis cantik jelita bertubuh semampai, memasuki toko dengan anggunnya. "Good evening, Mrs. Edder. Apa kabarmu?" sapa gadis itu.


Semua mata menoleh kepadanya. Apalagi Mrs. Harlekin yang tampak sangat terkejut atas kehadiran gadis itu. "Madison?" gumamnya.


Demikian Jamie Scott yang hanya bisa melotot melihat penampakan seseorang yang tidak lain adalah mantan tunangannya. "Sedang apa kau di sini?" tanyanya ketus.


"Aku hanya ingin mampir. Memangnya tidak boleh?" jawabnya sambil mengerling nakal.


"Siapa sih dia, A'? Ganjen bener!" sungut Maryam.


Sebelum Jamie Scott sempat menjawab, gadis itu mengulurkan tangannya pada Maryam. "I'm Madison. Cinta pertama dan terakhir Jamie Scott!" sahutnya penuh percaya diri.


.


.


.


.


Datang lagi saingan baru. Makin panas. Ngeri-ngeri sedap. Untuk mendinginkan suasana, mampir dulu yuk, kakak-kakak semua di karya keren temen otor yang satu ini. Dijamin ketagihan bacanya. Cekidot.

__ADS_1



__ADS_2