
Rosmawati duduk termenung menopang dagu di depan meja dapur, sembari menunggu Mehmet memasak. Suami idamannya itu terlihat menawan dengan apron yang terpasang di badan. "Kamu suka pedas tidak, Rose?" tanya Mehmet sambil menumis sesuatu di atas kompor.
"Aku suka semua makanan, Met. Asal tidak dicampur dengan sianida," jawab Rosmawati asal.
Mehmet yang menyadari gelagat aneh istrinya itu langsung menoleh. "Kenapa lagi, My Love?" diamatinya wajah cemberut istrinya yang menatap kosong ke atas meja.
"Kok kamu masih kaya ya, Met? Padahal katanya bangkrut?" tanya Rosmawati setengah bergumam.
"DIbandingkan dengan kekayaanku dulu sih, aku termasuk bangkrut, Rose. Tapi itu bukan berarti aku jatuh miskin. Aku masih punya cukup harta untuk membeli apartemen ini dan juga penghasilan lainnya. Yang jelas aku bisa menafkahimu dan anak-anak kita nanti, My Love," tutur Mehmet lemah lembut.
Mendengar Mehmet menyebut tentang anak-anak, seketika wajah Rosmawati yang cemberut, berganti dengan raut ceria dan berbinar. "Kamu pengen punya anak berapa, Met?" Rosmawati berdiri, lalu berjalan sambil berputar-putar mengelilingi Mehmet yang masih sibuk di depan kompor. Gerakan eksotis gadis oleng itu berakhir dengan memeluk suaminya dari belakang sambil menyandarkan kepalanya di punggung Mehmet.
"Aku suka anak kecil. Maybe seven kids would be fun (mungkin anak tujuh akan menyenangkan)," jawabnya penuh semangat.
"Ya ampun, Met. Jangan banyak-banyak! Nanti aku nggak sempat sisiran," tolak Rosmawati. "Eh, Met ..." entah apalagi celotehan yang akan terlontar dari bibir gadis itu. "Harusnya aku punya panggilan sayang buat kamu, seperti Mumun sama suaminya. Enaknya aku panggil kamu apa, ya," Rosmawati mulai berpikir keras, tanpa mempedulikan Mehmet yang sedikit kerepotan memasak. Kini, Zayn Malik kw 1 itu sedang sibuk menggoreng ayam untuk lauk.
Sembari berpikir, Rosmawati menyomot sepotong ayam yang baru saja diangkat dari penggorengan. Tak terasa, ayam yang baru saja digoreng itu, telah habis olehnya. Mau tak mau, Mehmet pun menggoreng beberapa potong ayam lagi sampai gorengan kedua sudah hampir matang.
Namun, Rosmawati tak juga selesai berpikir. Merasa was-was, Mehmet segera menggeser nampan berisi ayam yang masih hangat itu agar jauh dari jangkauan istrinya.
Tebakannya benar, tangan Rosmawati sudah meraba-raba meja di samping penggorengan dan akhirnya menoleh saat ayam yang diinginkannya tak dapat diraih. "Ih, Panda. Kok ayamnya ilang?" rengek Rosmawati. Sesaat kemudian, dia tertegun, lalu terbelalak sambil menjentikkan jari. "Aha! Sudah ketemu!" ujarnya.
"Apanya yang ketemu, My Love?" Mehmet tampak keheranan dengan perilaku Rosmawati.
"Nama panggilan kesayangan untuk kamu, tentu saja!" sahut Rosmawati ceria. "Pan-da!" ejanya seraya mencolek dagu Mehmet.
"Mulai sekarang, aku memanggilmu Panda, ya," ujarnya manja.
"Ya, ya, terserah kau saja," Mehmet terkekeh seraya memindahkan nampan berisi ayam goreng ke meja makan. "Sekarang, mari kita makan malam dulu," ajaknya.
Rosmawati dengan penuh semangat menyiapkan peralatan makan untuknya dan Mehmet. Dia juga menyiapkan air minum untuk suaminya.
"Terima kasih, Sayang," ucap Mehmet sambil tersenyum manis pada Rosmawati yang menyodorkan segelas air putih padanya.
Lagi-lagi Rosmawati terpesona oleh senyum menawan sang pujaan hati. "Surga dunia, Ya Tuhan! Mimpi apa aku bisa punya suami seganteng kamu, Panda," pujinya dengan mata berbinar.
"Jangan lupa, Rose. Kamu dulu berkali-kali menolakku," balas Mehmet.
__ADS_1
Seketika, wajah ceria penuh senyuman itu menghilang dan berganti dengan muka cemberut. "Tolong, dong! Jangan diingatkan! Aku sangat menyesal, Panda," ucap Rosmawati pilu.
Melihat sang istri yang mendadak murung, Mehmet segera beranjak dari kursinya dan mendekat pada Rosmawati. "I'm sorry, My Love. Aku tidak bermaksud membuatmu bersedih. Maafkan aku, please. Kalau kamu mau tersenyum sedikit, aku akan memberikanmu kejutan," bujuk Mehmet.
"Kejutan apa?" tanya Rosmawati acuh tak acuh. Dia pura-pura tak peduli, tapi hatinya dipenuhi tanda tanya.
"Aku ingin mengadakan acara resepsi pernikahan untuk kita! Bagaimana?" tawar Mehmet sambil menaikturunkan alisnya.
Sontak Rosmawati membelalakkan mata dan terperangah. "Yang bener, Panda?" serunya tak percaya.
Mehmet mengangguk antusias. "Aku akan meminta Ahmad untuk mencarikan tempat. Terserah kamu, Sayang. Ingin pesta kebun atau di dalam gedung," ujarnya.
"Aku sih senang-senang saja, ya. Tapi, kenapa harus Ahmad yang mencari tempat resepsi?" protes Rosmawati.
"Soalnya dia yang paling berpengalaman melangsungkan pesta pernikahan. Dalam setahun ini saja, dia sudah dua kali menikah," sahut Mehmet.
"Dasar Ahmad tukang kawin!" caci Rosmawati seraya melipat tangannya di dada. "Awas aja ya kalau kamu sampai ketularan dia!" ancam gadis itu pada Mehmet.
Melihat ekspresi Rosmawati yang lucu, Mehmet pun terbahak-bahak. "Astaga, Rose. Kalau mau, sudah dari dulu aku mengoleksi istri. Sayangnya aku tidak tertarik pada siapapun selain dirimu," rayu Mehmet sambil mengedipkan sebelah matanya.
"Gombal!" Rosmawati mencebik dan memalingkan mukanya.
Bagaikan disiram kuah sop panas, kepala Rosmawati mengebul, mengeluarkan asap putih. Demikian juga telinganya. "Apa katamu, Rhomi?" nada suara gadis oleng itu meninggi.
Matanya mulai berkaca-kaca, bibirnya melengkung, lalu menggumam, "Halimah lagi, Halimah lagi." Setelah itu, Rosmawati berlari menuju kamar, meninggalkan makanannya yang belum sempat tersentuh.
"Astaga, I'm sorry, Rose. Aku tak bermaksud apa-apa. Aku hanya sekedar bercerita," sesal Mehmet. Ragu-ragu, dia menyusul Rosmawati ke kamar. Sayangnya, pintu kamar itu telah terkunci dan Mehmet tak bisa masuk.
"Buka pintunya, Rose! I'm sorry. Aku janji tidak akan menyebut namanya lagi di depanmu. My Love? Buka pintunya! Aku ingin masuk," Mehmet berteriak di depan pintu kamar.
Akan tetapi, Rosmawati sama sekali tak mau menyahut. Putus asa, Mehmet bersandar di pintu sambil mengusap dahi. "Kita kan baru saja menikah, Rose. Masa iya, harus bertengkar atas sesuatu yang tidak penting," keluhnya.
Di dalam kamar, Rosmawati mendengar dengan jelas kalimat Mehmet. Sebenarnya, dia juga tidak ingin bertengkar. Namun, entah kenapa setiap mendengar nama Halimah, hatinya serasa dicubit oleh petinju kelas berat.
Terbayang olehnya wajah cantik Halimah disertai ejekan Ahmad tentang dirinya. Memang kalau dilihat-lihat, diraba-raba dan dirasa-rasa, sepertinya tidak mungkin pria setampan dan semenawan Mehmet, bisa jatuh cinta pada Rosmawati.
"Jangan sampai Mehmet nyesel milih elu, Jem!" tiba-tiba terdengar suara Maryam di samping kanannya. Rosmawati menoleh dan melihat miniatur Maryam memakai jubah malaikat.
__ADS_1
"Terusin aja ngambeknya! Siapa tahu bisa bakar lemak di perut elu!" ujar suara lainnya yang berasal dari sebelah kiri. Rosmawati pun menoleh dan mendapati Maryam bertanduk dan berbaju merah, sedang duduk dan menggoyang-goyangkan kakinya di pundak sebelah kiri.
"Kok lu bisa ada di sini sih, Mun?" Rosmawati mengucek-ucek matanya seakan tak percaya.
"Percuma marah-marah sama Memet! Dia kan nggak salah! Kalau lu memang sayang sama dia, tunjukkan kalau lu pantas buat dia!" tutur Maryam versi malaikat.
"Gimana caranya?" tanya Rosmawati ragu.
"Ya, perawatan lah! Facial kek, luluran kek, ke salon! Suntik putih, suntik silikon!" jawab Maryam versi malaikat.
"Iya! Suntik silikon aja! Gedein itu buah pepaya, biar jadi segede nangka!" seru Maryam versi bertanduk tak mau kalah.
Sejenak Rosmawati merenung. Beberapa menit kemudian, matanya terbelalak dan kembali tersenyum ceria. "Pandaa!" gadis oleng itu segera menghambur ke arah pintu dan membukanya.
Mehmet yang masih bersandar di sana, langsung terjengkang dan menubruk Rosmawati, sehingga gadis itu ikut terjatuh. Posisi Mehmet berada di atas istrinya.
Di saat yang sama, Ahmad bersama seorang gadis cantik jelita memasuki apartemen Mehmet tanpa mengetuk pintu. "Astaghfirullah," teriak dua orang itu secara bersamaan.
Mehmet dan Rosmawati yang sempat saling terpana, menoleh ke arah suara.
"Ahmad?"
"Halimah?"
ucap pasangan suami istri itu serempak.
.
.
.
.
.
Api semakin membara, semembara karya keren dari teman otor yang satu ini. Simak bareng-bareng, yuk ❤️
__ADS_1
"