
Dengan gunting dan beberapa lembar kertas serta jarum pentul, Maryam mulai memerlihatkan kelihaiannya dalam mengolah kain panjang kali lebar itu menjadi sebuah pola baju yang cantik.
Rona bahagia terus terpancar dari wajahnya yang imut bagaikan Orestes, si hamster kecil peliharaan Jamie Scott. Sungguh aneh, padahal Orestes itu adalah hamster jantan. Namun, entah kenapa ia menyamakannya dengan Maryam.
Dengan berbekal mesin jahit portable berwarna
putih yang merupakan pemberian dari Jamie Scott, sebagai hadiah dan tanda bahwa
kini mereka telah resmi menjadi sepasang kekasih yang cocok dan serasi, menurut mereka berdua tentunya.
Alasannya, karena ada sebagian orang yang mungkin bingung, kenapa seorang Jamie Scott yang tingkat kerupawanannya sudah mencapai level maksimal dan tidak perlu diupgrade lagi, bisa jatuh cinta pada seorang gadis dengan karakter dan tingkah aneh seperti Maryam.
Jamie Scott adalah seorang arsitek. Ia memikirkan sesuatu yang tidak terpikirkan oleh orang lain.
Ada banyak ide gila dan luar biasa di dalam kepalanya. Ia merasa jika semua ide gilanya selalu
meluncur dengan deras setiap kali ia memikirkan Maryam. Ya, singkat kata Maryam adalah inspirasi yang luar biasa gilanya bagi seorang Jamie Scott.
Siang itu, Maryam terlihat begitu khusyuk
mengerjakan sesuatu yang ia sebut sebagai passion yang sudah lama terkubur di
dapur mrs. Harlekin. Ia memang suka kue, tapi ia lebih suka baju.
Orang bisa tidak makan kue, tapi orang tidak tidak akan bisa hidup tanpa baju. Kecuali
kalau ingin menjadi Tarzan dan kawan-kawannya, mungkin bisa saja.
Maryam sendiri membeli beberapa meter kain
dari hasil tabungannya selama ini. Pertanyaannya, bagaimana ia bisa menabung?
Oh ... tentu saja bisa, karena selama ini kan Maryam selalu numpang jajan dan makan kepada Rosmawati. Jadi, semua penghasilan yang ia terima perbulannya bisa ia simpan dengan utuh. Tidak kacoceng sedikitpun.
Maryam mulai menyambungkan setiap bagian dari
pola yang sudah ia bentuk dengan sedemikian rupa. Diiringi alunan tembang Bangbung Hideung yang ia lantunkan sendiri, Maryam tampak begitu bersemangat saat itu. Tentunya ia melakukan semua itu dengan penuh hati-hati dan konsentrasi tingkat tinggi. Jangan sampai ia salah menyambung bagian, atau seperti dulu saat ia lupa memberi lubang pada baju buatannya.
Berbekal keahliannya yang dulu memang pernah
menjadi asisten designer yang sudah
cukup kondang (tanpa akhiran ‘an’), Maryam yakin jika dirinya mampu membuat sebuah mahakarya luar biasa.
Untuk sesaat, diliriknya jendela kaca flat
yang terbuka lebar. Angin berembus masuk dengan cukup kencang. Maryam kemudian
beranjak untuk menutupnya. Akan tetapi, sebelum ia sempat menutup jendela itu, ia harus dibuat terkejut karena melihat seseoarng yang telah membuat mood-nya naik makin drastis seperti
harga bawang dan cabe rawit di pasaran.
__ADS_1
“Aa!” seru Maryam dengan antusias. Senyum
lebar merekah indah di wajahnya yang manis meskipun ia belum mandi sejak kemarin. Apalagi cuasa terasa cukup dingin berhubung tidak lama lagi akan memasuki musim gugur.
Pria tampan berambut coklat tembaga itu
tersenyum seraya melambaikan tangannya. Ia juga memberikan cium jauh dari bawah
sana. Maryam segera membalasnya sambil memoncongkan bibirnya dengan sempurna.
Tidak berselang lama, Jamie Scott kemudian beranjak naik menuju flat yang
dihuni Mayam.
Tanpa perlu dikomando, Maryam segera membukakan pintu untuk sang kekasih impian yang ia harap tidak pernah sadar
dari kekeliruannya. Jamie Scott sudah berdiri di balik pintu dengan satu tangan
di dalam saku celana jeansnya. Sementara tangan yang lain menenteng jaket levis yang tidak ia kenakan.
“Hi, Sweetie,” sapa Jamie Scott dengan mesranya.
“Hi. Hotie,” balas Maryam seraya tersipu malu.
“Boleh masuk?” tanya Jamie Scott lalu
menggigit bibir bawahnya. Saat itu ia terlihat sangat menggoda, bagaikan semangkuk baso urat dari Mang Entis. Maryam tertegun. Hatinya galau
“Inget, Neng! Tong mawa lalaki ka jero mun nte aya batur. Komo mun lalakina nte kasep
mah, tong daek!"
(Ingat, Neng! Jangan bawa laki-laki ke dalam kalo
gada orang. Apalagi kalo laki-lakinya ngga cakep, jangan mau!)
Sesaat kemudian Maryam tersenyum. “Aa Jamie kan cakepnya pakai banget-banget, itu artinya boleh dong,” pikir Maryam. Ia pun membuka pintu
lebar-lebar. “Silakan masuk, Aa!” sambut Maryam dengan gayanya yang manja bagaikan seekor kucing saat melihat majikannya pulang.
Tanpa harus permisi terlebih dahulu, Jamie
Scott kemudian mengecup kening Maryam dengan lembut. “Aku senang karena bisa
mengunjungimu tanpa rasa takut sekarang, meskipun aku harus menempuh dua setengah jam perjalanan. Oh iya, ibuku menitip salam untukmu. Dia ingin agar kapan-kapan kamu datang ke London dan menemuinya,” ucap Jamie Scott seraya mengikuti Maryam duduk di sofa.
“Bagaimana kabar mrs. Harlekin? Neng sangat
merindukannya. Eh, Aa mau minum apa? Kopi, teh, susu, soft drink, milkshake?” tawar maryam.
“Kemarin ibuku harus kembali mengunjungi
__ADS_1
dokter langananya, tapi hari ini ia sudah jauh lebih baik. Oh iya, apapun yang kamu suguhkan pasti aku minum, asal jangan air selokan,” canda Jamie Scott membuat Maryam tertawa cekikikan.
“Rupanya sekarang Aa sudah pinter ngelawak.
Ya, sudah tunggu sebentar, ya! Neng ke dapur dulu,” Maryam beranjak dari duduknya dan meninggalkan Jamie Scott sendirian. Pria itupun duduk santai sambil melepas lelah setelah menjalani perjalanan London-Birmingham.
Tidak berselang lama, Maryam datang dengan
membawa nampan berisi cangkir. Jamie Scott tersenyum lebar. Bayangan kopi panas
atau mungkin teh hangat di sore hari pada cuaca yang cukup dingin, sudah menari-nari di pelupuk matanya. Akan tetapi, senyum lebar itu seketika pudar ketika ia melihat isi dari cangkir itu.
“Maaf ya, A. Di sini cuma ada air putih. Neng
sama si Rose belum sempat belanja. Kami belum terlalu mengenal wilayah, jadi belum berani berkeliaran terlalu jauh. Takut ada yang nyulik,” celoteh Maryam, seperti biasa tanpa rasa bersalah sedikitpun.
Jamie Scott memaksakan dirinya untuk
tersenyum. “It’s okay, Sweetie. Aku
juga tidak akan rela kehilangan kamu, karena kamu the one and only, limited edition di bumi ini. Ngga tahu kalo di Mars sana,” canda Jamie Scott lagi.
“Ih ... anak siapa sih, ko lucu banget ....”
Maryam mencubit pinggang Jamie Scott dengan manja dan membuat pria bermata
abu-abu itu tersenyum lebar. Jamie Scott kemudian meneguk air putih tawar yang disuguhkan untuknya.
Sesaat kemudian, pria dengan tinggi 180cm itu
melirik tumpukan kain di dekat mesin jahit pemberiannya. “Kamu sedang membuat
apa, Mary?’ tanyanya.
“Neng lagi bikin dress formal A. Kebetulan
Neng dibawain kain batik sama emak dari kampung, jadi Neng coba mix sama bahan
yang tersedia di sini. Neng bikin buat promosi dulu, siapa tahu ada yang minat,” terang Maryam.
Sesaat kemudian, ia menyerahkan secarik kertas bergambar hasil rancangannya. “Coba deh Aa liat? Menurut Aa seorang wanita akan keliatan
cantik dan anggun ngga kalau pakai baju kaya begitu ke kantor?”
Jamie Scott memerhatikan hasil rancangan
Maryam. “Sebenarnya aku kurang paham dengan mode, karena aku lebih suka melihat
wanita tanpa ini ... um ... maksudku ... ini sangat bagus, Mary,” jamie Scott terlihat gugup karena ia keceplosan bicara seperti itu di depan Maryam yang masih lugu.
“Terlebih jika kamu yang memakainya, pasti akan jauh lebih cantik,” lanjut Jamie Scott dengan segera mengalihkan pikiran negatif gadis itu.
__ADS_1