
Kiki masih terpaku menatap pria pengantar
pizza itu. Adalah seorang pria Asia dengan kulit coklatnya yang ... lebih dari
sekedar sawo matang (bahkan terlalu matang). Pria itu juga menatap balik kepada
Kiki. Kelihatannya ia terpesona dengan produk asli Thailand itu.
“Senorita, this is your pizza! Masih panas dan berasap. Sangat panas ... dan ...
berasap ....” ucap pengantar pizza itu tanpa mengalihkan tatapannya dari wajah
estetik Kiki.
Sementara Kiki sendiri saat itu tidak dapat berkata apa-apa. Ia begitu terpesona dengan pria bertubuh gempal dan berkulit coklat itu. Mungkin dalam tatapan Kiki, saat ini ia sedang berhadapan dengan sebuah pisang coklat dalam ukuran jumbo. Manis, coklat, dan berisi pisang tentunya.
“Lama amat sih lu, Ki!” Sergah Maryam yang
tiba-tiba ada di sana dan membuyarkan nuansa indah penuh kilauan bintang-bintang yang sedang melanda Kiki dan si pengantar pizza.
Dengan segera Maryam merebut kotak berisi pizza itu dari tangan Kiki. Sesaat kemudian, Maryam mengalihkan tatapannya kepada pria bertopi yang masih berdiri di depan pintu
flatnya. Seketika Maryam terbelalak.
“Eh ... elu, Hid? Kemana saja lu?” Maryam
menepuk lengan pria itu.
“Mamar? Kamu tinggal di sini rupanya?’ Si
pengantar pizza rupanya seroang kenalan Maryam juga.
“Iya, Hid. Tapi bentar lagi juga gue sama si
Rose mau pindah ke Birmingham. Ini, kita lagi beres-beres,” Maryam membuka pintu flatnya dengan semakin lebar. Tampaklah kekacauan di dalam ruangan flat sederhana itu. Di sana juga terlihat Rosmawati yang sedang susah payah
memindahkan penanak nasi ke dalam kardusnya.
“Hai, Rose,” sapa pria muda itu.
“Eh ... sempol ayam, apa kabar lu?” Balas Rosmawati tanpa menghentikan pekerjaannya. Sementara Maryam dan Kiki tengah asyik menyantap pizza yang masih panas itu.
“Sini, kebetulan gue lagi butuh bantuan buat
ngangkatin barang ini!” Ucap Rosmawati. Sesekali ia melirik kedua gadis yang tengah asyik menyantap pizza. Kesal, Rosmawati segera meletakan barang-barang yang sedang dibereskannya. Ia lalu menghampiri kedua gadis itu.
“Kaliankelewatan ya! Gue yang bayar, kalian yang makan! Udah gitu, kalian ngga
bantuin kerja lagi!” Omel Rosmawati seraya menggeser kotak pizza itu ke hadapannya. Ia pun segera melahap pizza yang tinggal beberapa potong lagi.
Melihat pekerjaan yang masih banyak, ketiga
gadis itu merasa cemas juga. Mereka bertiga saling pandang. Tiba-tiba Maryam
mendapat ide yang cemerlang. Diliriknya si pengantar pizza yang masih berada di
sana, gadis itu kemudian tersenyum seraya memberi isyarat kepada Rosmawati.
__ADS_1
“Eh ... Sahid! Dari pada elu malah bengong
kaya lagi antre uang santunan, mendingan elu bantuin kita beres-beres lah! Elu ngga mesti delivery lagi, kan?” Seru Rosmawati dengan mulut penuh makanan kepada pria yang ternyata bernama Sahid.
Rupanya pria itu adalah mantan teman kuliahnya Maryam dulu. Konon katanya, ia
juga pernah naksir berat kepada gadis asli sunda itu. Akan tetapi, Maryam tidak
pernah menanggapinya. Alasannya karena Maryam ilfeel kepada Sahid yang sewaktu kuliah sering sekali garuk-garuk pan•tat tanpa alasan.
Sebenarnya sudah tidak memerlukan alasan lagi, karena yang namanya orang garuk-garuk pasti disebabkan oleh rasa gatal. Rupanya itu
hanya alasan Maryam saja untuk menolak cintanya Sahid.
Alasan utamanya tentu saja sudah jelas, karena
Sahid bukanlah seorang bule. Sedangkan mak Odah ingin bermenantukan pria bule
yang bicara bahasa Inggris tentunya, meskipun mak Odah sendiri hanya menguasai
tiga bahasa, yaitu bahasa sunda, bahasa Indonesia, dan bahasa khusus yang
selalu ia pergunakan dengan pak Jaka tentunya.
Sahid melirik Maryam yang saat itu lebih
senang memerhatikan gelembung-gelembung kecil dari minuman yang sedang
dipegangnya. Apalagi, ketiga gadis itu kini tengah asyk bersulang.
“Eh, Sahid napa lu malah bengong? Lu masih
tersipu. "Udah buruan bantuin beres-beres!" Rosmawati kembali memerintah.
Tiba-tiba Kiki beranjak dari duduknya, “Biar
aku yang membantunya. Kalian berdua silakan lanjutkan pestanya,” ucap Kiki
seraya menghampiri Sahid. Maryam dan Rosmawati hanya saling pandang dibuatnya.
Kiki tersenyum manis kepada Sahid yang saat
itu tengah menatapnya. “Hi, my name is Kiki. Just call me Kiki!” Kiki mengenalkan dirinya.
Maryam dan Rosmawati kembali saling pandang. Mereka merasa aneh karena Kiki tidak berubah
menjadi penari ular ataupun siluman harimau. Gadis itu bahkan terlihat sangat normal saat itu. Bahasa tubuh Kiki tampak sangat gemulai bagaikan penari wayang wong.
“Hi, Kiki. My name is Sahid. You can call me
Jackson,” balas Sahid.
Mendengar nama Jackson disebut, seketika wajah
Kiki menjadi ceria. Ditatapnya pria bertubuh gempal itu dengan binar-binar indah yang sangat menyilaukan, bahkan membuat Sahid harus memicingkan kedua matanya.
“Jackson? You are my Jackson?” Kiki tampak tidak percaya. “Aku tahu jika suatu hari
__ADS_1
nanti penantianku pasti akan terlaksana. Lihatlah, Tuhan mengirimkan hasil reinkarnasi dari Jackson padaku! I can’t believe it ....” lirih Kiki dengan diiringi sebuah desa’han manja yang
membuat Sahid amat sangat terpukau.
Belum pernah ia menemukan gadis yang jauh
lebih aneh dari cinta sejatinya yang tak kesampaian, yaitu Mamar alias Maryam.
Akan tetapi, Sahid rupanya memiliki ketertarikan tersendiri kepada produk impor dari Thailand itu.
Hingga Maryam dan Rosmawati menghabiskan sisa
potongan terakhir pizza dan minuman mereka, Kiki dan Sahid masih saling beradu pandang.
Rosmawati kemudian melirik Maryam dengan
pandangan lesu. “Kayaknya mesti kita beresin berdua, Mun,” ucapnya lemas. Sementara Maryam hanya tersenyum geli menyaksikan adegan unfaedah yang tersaji di hadapannya.
"Nggak pedes apa ya matanya? Pelototan begitu?" Gumam Maryam sambil meneguk soft drink-nya hingga tetes terakhir.
"Bodo amat yang penting kenyang," Rosmawati mencondongkan badannya ke belakang, bertumpu pada tangan kanannya, sementara tangan kirinya mengelus perut yang sedikit membuncit. "Bisa punya tenaga untuk lanjut beberes," sambungnya.
Maryam manggut-manggut, kemudian terdiam sesaat karena teringat akan sesuatu. "Eh, itu tadi amplop apaan ya, Jem?" Tanyanya.
"Eh, iya. Dari Memet katanya," Rosmawati segera merogoh kantongnya dan mengeluarkan selembar amplop coklat itu, lalu mengamatinya.
"Jangan-jangan surat cinta?" Tebak Maryam.
"Masa sih, Mun?" Wajah Rosmawati kini bersemu merah dan terlihat begitu senang.
"Buruan buka! Gue juga penasaran, nih!" Seru Maryam seraya mendekatkan wajahnya pada surat yang dipegang Rosmawati.
"Iye ... iye!" Rosmawati buru-buru menyobek amplop dan menarik keluar isinya. Setelah beberapa saat mengamati, barulah Rosmawati menyadari sesuatu. "Emang surat cinta itu pake tanda tangan dan tembusan ya, Mun?" Tanyanya keheranan.
"Ya nggak lah! Yang ada tembusannya biasanya surat pegadaian," celetuknya asal. "Makanya buruan baca!" Desak Maryam.
Rosmawati pun menuruti perintah Maryam dan mulai membaca isi surat itu dengan lantang.
Yang Terhormat Nona Rosmawati Rozi,
Dengan ini kami sampaikan bahwa anda akan menerima fasilitas berupa satu unit flat yang dikhususkan untuk Nona Rosmawati dan pembayaran sewanya akan dipotongkan secara langsung dari gaji pokok pegawai sebesar 10%.
Selamat menikmati fasilitas dari kami.
TTD
Hayder Ali Yasser bin Mehmet Abdullah
Tembusan
Divisi Perlengkapan dan Aset
Selesai membaca, Rosmawati mendadak murung dan melipat kertas itu.
"Kok sedih? Kan harusnya lu seneng, Jem? Dah disediain flat, ga perlu ribet nyari lagi," ujar Maryam. Sangat mengherankan, apa yang ia ucapkan barusan benar-benar masuk akal.
"Nggak gratis, Mun! Bayar!" Sahut Rosmawati ketus. "Tapi bukan itu sih yang bikin gue sedih," ungkapnya.
__ADS_1
"Terus, apa dong?" Tanya Maryam.
"Yaa, kecewa aja. Gue kirain surat cinta," Rosmawati menundukkan kepala sembari cemberut. Berbeda 180 derajat dengan ekspresi Kiki yang berbinar dan dipenuhi dengan bunga-bunga yang bermekaran.