Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Pelakor Solehah


__ADS_3

Sudah dua hari ini Rosmawati makan, tidur dan ngemil di kampung halaman Maryam yang indah. Selama itu pula, dia masih belum bisa menghilangkan kegalauan akibat bayang-bayang Mehmet. Rosmawati bahkan sempat berpikir untuk melamar menjadi istri kedua Mehmet.


Di sela-sela kegiatan melamunnya membayangkan si bulu mata lentik, Maryam mengendap-endap masuk ke kamar Maryam yang kini ditempati oleh Rosmawati. Dia berniat mengagetkan sahabat kembar siamnya itu. Jari jemarinya sudah siap menggelitik pinggangnya, namun sebelum niat itu terlaksana, Rosmawati tiba-tiba membalikkan badan dan menghambur ke arah Maryam.


"Iya, deh! Nggak apa-apa jadi istri kedua. Jadi pelakor solehah juga nggak masalah, asalkan sama kamu, Met," Rosmawati dengan mata terpejam, memeluk Maryam dan mencium pipinya berkali-kali.


"Astaga, Jem! Nyebut, Jem!" Maryam mendorong tubuh Rosmawati hingga terjungkal dari atas ranjang.


Rosmawati meringis kesakitan sambil memegangi pinggang. "Apa-apaan sih lu, Mun! Sakit tau!" protesnya.


"Lah, elu maen nyosor-nyosor aja! Asal lu tau ya, yang boleh nyosorin gue sekarang cuman Aa Jamie. Selain dia, dilarang!" omelnya.


"Dih, siapa yang nyosor?" elak Rosmawati seraya berdiri.


"Elu barusan ngigau ya, Jem? Kok bisa nggak ingat kalau abis peluk-peluk sama cium-ciumin gue?" tanya Maryam penasaran.


"Masa, sih?" gumam Rosmawati dengan raut tak berdosa. "Gue laper, Mun. Mak Odah masak apa?" tanyanya kemudian sambil menggaruk-garuk kepalanya.


"Masak banyak banget! Kan hari ini ortunya si Aa mau dateng. Elu habis sarapan harus bantuin gue beres-beres dan menyambut Mrs. Harlekin sama Mr. Eder, okeh!" titah Maryam.


Rosmawati mengangguk kencang. Tidak masalah baginya untuk mengerjakan pekerjaan apapun, asalkan dia bisa makan sepuasnya.


Dua gadis oleng itu segera bergegas ke meja makan. Segala hidangan beraneka rupa, sudah tertata rapi di sana. Tanpa malu-malu dan tanpa basa-basi, Rosmawati segera melahap apa yang ada di depannya.


"Kalau makan jangan lupa napas, ya," nasihat mak Odah yang sedang asyik menata piring dan peralatan makan lainnya.


"Beres, mak!" sahut Rosmawati dengan mulut penuh.


Tak membutuhkan waktu lama bagi Rosmawati untuk menghabiskan dua piring nasi beserta lauk pauknya. Dia bersandar di kursi sambil membelai lembut perutnya yang sedikit membuncit.


"Udah, makannya? Sekarang bantuin gue!" Maryam meletakkan piringnya di bak pencuci piring, diikuti oleh Rosmawati.


"Eh, nggak dicuci dulu nih, piringnya?" tanya Rosmawati.

__ADS_1


"Ya udah, deh! Cuciin punya gue sekalian," sahut Maryam dengan entengnya, membuat Rosmawati mendengus kesal. Namun, ia tak bisa menolak perintah sahabat kembar siamnya itu.


Selesai mencuci piring, Rosmawati bersiap membantu Maryam untuk mendekorasi rumah. Menempelkan hiasan bunga-bunga kertas di tiap sudut rumah. Memasang taplak dan vas bunga di meja ruang tamu, juga menyapu dan mengepel lantai, kemudian memasang permadani berwarna marun di ruang tamu dan ruang keluarga.


Rosmawati menyeka keringat di dahi ketika semua pekerjaannya sudah beres. "Cowok lu mana sih, Mun? Kok nggak ikut bantu-bantu?" sungutnya.


"Lagi ngadem di kamar tamu. Berpose cakep di bawah AC. Jangan ngintip, ya! Cukup gue aja yang ngintipin dia," tegas Maryam.


"Dih, nggak tertarik gue," cibir Rosmawati.


Maryam hendak membalas sohib ajaibnya itu ketika ponselnya berbunyi nyaring. Nama Mrs. Harlekin tertera di layarnya. "Wah, pesawatnya dah mendarat nih kayaknya!" serunya.


Dengan panik, dia berlarian ke sana kemari, mencari Kang Dayat. Ternyata, Kang Dayat sedang asyik duduk di pojok teras sambil merangkai kalung bunga yang nanti akan ia persembahkan pada tamu-tamu bulenya.


"Kang! Buruan jemput camer Neng! Ditunggu sekarang juga!" seru Maryam tepat di hadapan Kang Dayat.


Sontak pria itu terkejut hingga hampir jatuh terjengkang ke belakang. "Siaap!" jawab Kang Dayat.


Kini, giliran pria itu yang panik mencari kunci mobilnya. Setelah menemukannya, dia bergegas memasuki mobil dan menyalakannya. "Izin ngebut ya, Neng!" serunya sembari ngepot, seperti adegan di film balapan mobil yang sering Maryam tonton di televisi.


Dua jam kemudian, dua gadis antik itu sudah tampil rapi dan berdiri siaga di teras rumah. Maryam sudah siap untuk menyambut kedatangan calon mertuanya dari Inggris. Ia memakai kebaya lengan pendek yang dipadukan  dengan rok lilit dari batik, yang membuat tampilannya tidak terlalu formal. Gadis itu juga menyanggul rambutnya, meski hanya berupa sanggul biasa saja. Sementara si tampan Jamie Scott, yang sudah puas mendinginkan diri di kamar ber AC, tampil sangat menawan dengan baju batik lengan panjang yang bermotif senada dengan rok lilit yang dikenakan Maryam.


Rosmawati tidak ingin terlalu ribet dengan penampilannya. Ia hanya memakai loose dress bermotif asimetris. Dress dengan lengan tiga perempat sebatas lutut. Seperti biasa, ia mengikat rambutnya dengan gaya ekor kuda.


Tampak juga ibu-ibu berseragam loreng hijau dan hitam, yang siap menabuh rebana demi menyambut calon besan Mak Odah. Mak Odah tetap bersikukuh ingin berbagi kebahagiaan dengan geng Band Cabok-nya, meskipun Maryam sudah melarangnya.


Beberapa saat kemudian, mobil yang dikemudikan oleh Kang Dayat, telah sampai di halaman rumah Maryam yang luas. Pria berusia 40 tahun itu turun dari kendaraan. Ia lalu membuka pintu penumpang. Karangan bunga yang ia siapkan tadi kini bertengger sempurna di leher Tuan dan Nyonya Eder.


Mak Odah memberikan isyarat kepada kelompok rebana dari Majlis Taklim yang biasa ia ikuti, untuk menabuh alat musik mereka. Alunan lagu menghentak penuh semangat dan syahdu, semakin menyemarakkan suasana siang itu. Meskipun bising, Mrs. Harlekin dan Mr. Eder tak henti-hentinya menyunggingkan senyum bahagia.


Semarak suasana siang itu, berbanding terbalik dengan suasana hening di sebuah rumah sederhana yang terletak di desa terpencil di daerah Mojokerto.


Seorang pria rupawan berhidung mancung dengan bulu mata lentiknya tampak mengamati rumah di depannya itu.

__ADS_1


Dia memberanikan diri untuk mengetuk pintu itu. Ia menunggu hingga seseorang membukakan pintu untuknya.


Beberapa menit berlalu, tak seorang pun yang keluar dari rumah sederhana itu. Kembali ia mengetuk pintunya lebih keras. Tak terdengar juga jawaban dari dalam.


Hingga beberapa kali pria tampan itu mengetuk pintu, sampai-sampai jarinya terasa ngilu, pintu rumah itu tak jua terbuka.


"Madosi sinten, le? (Cari siapa, Nak?)" Seorang wanita paruh baya tiba-tiba berdiri di samping pria rupawan itu. Dia menatap makhluk tampan di depannya dengan raut terpana. Disentuhnya rambut yang sedikit ikal itu, lalu ditariknya. Pria tampan itu meringis kesakitan.


"Oalah, sampean uwong tibake. Tak pikir malaikat. Kok cek ngganteng e (Oalah, ternyata anda manusia. Saya malaikat. Kok ganteng sekali)," ujar wanita itu penuh kekaguman.


"I'm sorry, I don't understand," sahut si pria tampan.


"Oalah, begitu to. Sampean ini ngomong apa? Saya ndak ngerti," wanita itu menggaruk-garuk kepalanya yang ditutupi jilbab berwarna kuning.


"I'm Mehmet. I'm looking for the owner of the house," pria itu mengarahkan telunjuknya ke rumah di depannya.


Wanita itu melongo, kemudian berteriak-teriak memanggil nama seseorang, dengan tatapan mata yang tak lepas dari Mehmet.


"Pak! Pak! Celukno Titik! Onok Londo kesasar iki lho! Jangan-jangan tero•ris, Pak! (Panggilkan Titik! Ini ada bule kesasar)," seru wanita berjilbab kuning itu.


Tergopoh-gopoh, seorang pria datang kepada mereka berdua. Pria itu sempat memandang Mehmet sekejap kemudian berlari masuk ke dalam rumah. Tak berapa lama, seorang gadis bohay keluar dari dalam rumah beserta pria paruh baya tadi.


"Ono opo, Bu?" tanya gadis itu kalem.


"Iki lho, Tik! Wong iki rai ne koyok Arab, tapi ngomong e bahasa inggris. Ibuk mumet ngerasakno (Ini lho, ada orang wajah Arab, tapi ngomongnya bahasa Inggris. Ibu pusing)," keluh wanita itu.


Titik mengalihkan pandangannya pada pria itu. "Hai," sapanya lembut.


"Hai," balas Mehmet dengan senyum kikuk.


"Can I help you, Mister?" tanya gadis itu lagi.


"Yes, I want to meet the owner of this house," jawab Mehmet.

__ADS_1


"Oh, this house is empty. The owner has moved, faar awaay," jelas Titik sambil membetulkan baju hijau polkadot yang dikenakannya.


"Moved? To where?" mimik Mehmet mendadak pias. Sorot kekecewaan bercampur kesedihan tampak jelas di matanya.


__ADS_2