Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Lovely Raccoon


__ADS_3

Malam itu, Maryam tidak bisa tidur. Ia tidak sabar menantikan esok hari, karena esok Charlie Manfred mengatakan akan mengajaknya ke suatu tempat yang selama ini ingin Maryam kunjungi.


Menghela napas panjang, Maryam pun meraih ponselnya. Tiba-tiba ia teringat kepada mak Odah. Maryam sudah terbiasa selalu izin dan mohon doa restu dahulu kepada mak Odah dan pak  aka setiap kali akan pergi dengan teman-temannya yang belum kedua orang tuanya kenal.


Semua itu ia lakukan hanya untuk berjaga-jaga. Andai saja terjadi sesuatu yang buruk kepadanya, maka orang tuanya tahu harus meminta tangung jawab kepada siapa.


"Hallo ... mak! Damang?" Sapa Maryam sambil melambaikan tangannya. Mak Odah tampak menguap panjang. Di Indonesia saat itu barulah pukul lima subuh.


(Hallo ... mak, sehat?)


"Naon atuh, neng? Subuh-subuh geus nelepon. Lain mah assalamualaikum, kalah bilang hallow!" Sahut mak Odah sambil membetulkan gulungan rambutnya.


(Apa dong, neng? Subuh-subuh sudah nelpon. Bukannya assalamualaikum, malah bilang hallow)


"Wios atuh, mak! Emak ge ti saprak ayeuna kedah diajar bahasa inggris, bisi ke neng cios nyandak bule ka lembur. Ke kumaha emak moal tiasa ngobrol sareng calon minantu emak," sahut Maryam lagi dengan bahasanya yang sangat sopan.


(Ngga apa-apa, mak. Emak juga harus belajar bahasa inggris mulai dari sekarang, karena siapa tau nanti neng bawa bule ke kampung. Nanti gimana emak ngga bisa ngobrol sama calon menantunya)


"Euleuh, nya neng bener pisan. Sok atuh ajarkeun emak saeutik-saeutik, meh ke emak teu palahak polohok teuing jiga nu cacingeun!"


(Oh iya betul sekali, neng. Ayo ajarin emak sedikit-sedikit, biar nanti emak ngga planga-plongo kaya orang cacingan)


"Nah ... mak. Upami ke si aa bule naros kieu, 'how are you?' cik emak walerna kumaha?"


(Nah ... mak, jika nanti si aa bule tanya gini, 'how are you?' coba emak jawabnya gimana)


"Laaah, gampang eta mah, neng," jawab mak Odah dengan penuh percaya diri.


(Laah mudah itu mah neng)


"Cik sok!" Tantang Maryam.


(Coba)


"Hallo mister. My body is  ...." mak Odah terdiam sejenak. Ia pun kemudian segera menghampiri Asep, anak sulungnya yang sedang menyemir sepatunya karena pagi ini ia harus mengajar.


"Sep, ari bahasa inggrisna ngeunah teh naon?" Bisik mak Odah.


(Sep, kalo bahasa inggrisnya enak apa?)


"Delicious, Mak," jawab Asep tanpa menoleh. Ia sedang sibuk dengan semir sepatunya.


Mak Odah kembali pada perbincangannya dengan Maryam. "Neng, cik ulangi pertanyaana!" Pinta mak Odah.


(Neng coba ulangi pertanyaannya)


"Hallo, how are you?" Maryam mengulangi pertanyaannya.

__ADS_1


"Hallo, mister. My body is not delicious," jawab mak Odah membuat Maryam seketika terbelalak.


"Kacau emak gue!" Gumam Maryam sambil menepuk jidatnya.


"Ya sudah, mak! Emak buruan masak nasi dulu sana! Nanti  bapak keburu berangkat ke sawah, kasihan kan kalo ngga sarapan dulu."


"Nya, neng. Sok atuh, sing sehatnya. Emak kakara ngajual pare kamari. Aya babagean keur neng," ucap mak Odah.


(Iya, neng. Yang sehat ya. Emak baru ngejual padi kemarin. Ada jatah buat neng)


"Muhun, mak. Nuhun. Neng tunggu kirimannya. Satu lagi, mak ...." Maryam terdiam untuk sejenak. Setelah itu, ia kembali melanjutkan kata-katanya,  "besok neng diajak pergi sama cowok mak. Neng mau minta izin dulu sama emak. Kalo emak izinin, neng akan pergi. Kalo emak ngga ngizinin ... neng tetep akan pergi hehehe ...." Maryam cekikikan sendiri.


"Dasar kacau, budak teh!" Gumam mak Odah sambil geleng-geleng kepala.


"Psst ... psstt ... psst ...."


Maryam segera mematikan ponselnya saat mendengar suara aneh dari luar pintunya. Dia segera beranjak keluar kamar. Ternyata Rosmawati lah pelakunya.


"Ngapain sih lu, Jem? Jam segini baru pulang! Darimana aja?" Maryam memberondong Rosmawati dengan pertanyaannya.


"Makan malam sama Memet," sahut Rosmawati setengah berbisik.


"Ciiee ... udah pindah haluan sekarang? Nggak jadi sama si pria emas ya, Jem?" Ledek Maryam.


"Masih tetap laah, Mun! Orang ini cuma makan malam biasa, kok!" Seru Rosmawati. Dia kemudian menyadari bahwa suaranya terlalu keras, sehingga ia kembali berbisik pelan, "Jangan ribut! Bisa nggak sih, Mun?"


"Yee, kan elu yang teriak-teriak, Kentang Arab! Emang ada apaan, sih? Si Kiki bikin ulah lagi, ya?" Maryam pun ikut berbisik.


"Siapa? Emang Memet nggak nganterin lu pulang?" Tanya Maryam.


"Dianterin naik skuter matic dia sampai depan flat," Rosmawati masih berbisik.


"Lah, terus?"


"Pas Memet balik ... gue kan buka pintu lobby, trus gue ngerasa ada angin gitu di bawah kaki gue, Mun! Pas kuintip, nggak ada siapa-siapa. Padahal gue ngerasa ada yang lewat," tutur Rosmawati.


"Ih, bulu-bulu gue berdiri nih, Jem. Ngeri banget! Lu yakin? Lu nggak lagi nge halu, kan?" Ringis Maryam.


"Yakin 47 persen, Mun!" Tegas Rosmawati.


"Yang 53 persen?"


"Yang 53 persen rada oleng, ketabok hotdog tujuh biji. Kekenyangan gue, Mun! Hotdog Memet enak banget," ujar Rosmawati dengan mata membulat. "Lu udah masak nasi kan, Mun?" Tanyanya kemudian.


"Lah, katanya udah makan malam sama Memet? Kok masih nyari nasi?" Maryam makin tak mengerti dengan jalan pikiran gadis antik di depannya ini.


"Gue kan abis ketakutan, jadi energi gue terkuras. Lagian tadi cuma makan hotdog, belum makan nasi," terang Rosmawati.

__ADS_1


Begitulah perut khas Indonesia, tidak akan kenyang sebelum nasi menerjang. Bahkan umumnya orang Indonesia menganggap bahwa kegiatan makan itu ketika mereka sudah mengonsumsi nasi. Jika hanya memakan makanan lain, seperti lontong kari, bubur ayam, kupat tahu ... selama tidak berbentuk bulir-bulir nasi, maka itu termasuk kategori cemilan. Sungguh sangat membagongkan sekali.


BRAK! PRAANGG!!


Tiba-tiba suara nyaring memekakkan telinga keduanua. Suara yang terdengar dari arah dapur. Dua sahabat kembar siam itu sontak menjerit dan saling berpelukan. Bahkan Rosmawati sampai melompat dan menggelayut di badan Maryam. Dengan sigap, Maryam pun menangkap tubuh sahabatnya.


"Tuh kan, Mun! Beneran hantu! Hantunya ngikutin gue, Mun! Apa diriku ini terlalu cantik?" Pekik Rosmawati sambil menyembunyikan wajahnya di pundak Maryam.


"Lu saking cantiknya, Jem! Sampai-sampai cuma makhluk astral yang bisa ngelihat kecantikan elu!" Sahut Maryam yang juga gemetar ketakutan.


Rosmawati tak bisa berdiam diri. Dia harus melakukan sesuatu. Maka dia segera melompat turun dari gendongan Maryam. Ia lalu mengambil benda pusaka yang selama ini disimpan di atas rak buku yang terletak di sudut ruang tamu. Benda yang tiada lain adalah sebuah tongkat baseball.


"Ayo, Mun! Kita hajar bareng-bareng hantunya!" Ajak Rosmawati dengan semangat menggelora.


"Emang bisa ngusir hantu pakai tongkat baseball?" Maryam tak yakin.


"Yang penting yakin! Buruan!" Rosmawati mulai tak sabar.


"Gue bawa senjata apa?"


"Nih!" Rosmawati pun bergegas menuju laci di dekat sofa dan meraih sebuah penggaris plastik lalu memberikannya pada Maryam.


"Kok penggaris?" Maryam meringis pilu.


"Seadanya, deh Mun. Ayo!" Rosmawati menyeret lengan Maryam. Dengan wajah tegang dan waspada, mereka mengendap-endap menuju dapur. Mata mereka fokus ke depan, hingga tak sadar bahwa sedari tadi pintu flat mereka masih terbuka, menampakkan sesosok kepala yang menyembul dan melongok masuk ke dalam flat.


"Hei!" Sosok kepala itu menyapa. Rosmawati dan Maryam kembali memekik. Rosmawati sudah hampir memukulkan tongkat baseballnya ketika ia sadar bahwa kepala itu adalah milik Kiki.


"Monyoong! Si Kikii!" Umpat Rosmawati, sementara Maryam yang juga gemas, menggesekkan penggaris plastiknya pada lengan Kiki.


"Aaw ... kalian sudah gila, ya?" Hardik Kiki emosi.


"Si Kiki dijadiin tumbal aja, Jem! Kasih ke hantunya biar nggak gangguin kita," cetus Maryam.


"Boleh juga idenya," Rosmawati dan Maryam saling pandang kemudian mengangguk bersamaan. Tanpa aba-aba, mereka mengapit lengan Kiki dari sisi kiri dan kanan sehingga Kiki tak bisa bergerak.


"Hei, apa-apaan? Lepas!" Kiki meronta sekuat tenaga, namun tentu saja masih kalah dengan tenaga gadis yang menghabiskan tujuh buah hotdog dalam sekejap. Kekuatan Maryam pun tak bisa diremehkan, Dia sudah terbiasa menonjok dan memukul adonan roti Mrs. Harlekin.


Akhirnya Kiki hanya bisa pasrah mengikuti kemauan mereka. Setengah terseret, Kiki ikut memasuki dapur yang cukup sempit untuk mereka bertiga. Bokong Kiki yang berukuran besar, sempat menabrak sandaran kursi meja makan.


Lalu, kegaduhan itu berhenti. Tiga manusia ajaib itu membeku melihat pemandangan yang tersaji di depan mereka.


"Itu kucing apa anjing, ya?" Tanya Rosmawati ragu.


"Sepertinya ... tikus," sahut Kiki pelan.


"Tikus kok segede itu?" Timpal Maryam lirih. Sorot matanya tak lepas dari seekor hewan lucu yang nangkring di atas meja dapur dan asyik memakan sesuatu dari dalam piring.

__ADS_1


Beberapa menit adalah waktu yang dibutuhkan oleh otak Maryam untuk berpikir dan kini dia sudah menemukan jawabannya. "Girls, itu rakun!" tunjuknya pada hewan yang masih asyik mengunyah itu.


"Imut, ya! Mirip Memet," celetuk Rosmawati, membuat Kiki dan Maryam serempak menoleh heran ke arahnya.


__ADS_2