
"Kamu senang sekali mempermainkan perasaanku ya, Rose," raut ceria Mehmet sirna sudah, berganti menjadi wajah murung dengan sorot sedih.
"Selalu saja seperti itu. Kau menyanjungku setinggi langit, lalu menghempaskanku begitu saja," keluhnya.
Mehmet membalikkan badan, membelakangi Rosmawati yang masih berada di dalam kamar sambil menghadap jendela.
Zayn Malik kw 1 itu lebih memilih bersandar di di tembok samping jendela. Dia menarik napas dalam-dalam dan menghembuskannya pelan. "Apa maumu sekarang, Rose?" lirih suara Mehmet.
"Harusnya aku yang tanya, Met. Apa maumu? Bukannya kamu yang keberatan menikah denganku?" protes Rosmawati dengan separuh badan di luar jendela, sedangkan separuh lainnya masih berada di dalam kamar. Butuh keseimbangan yang ekstra kalau tidak ingin gadis itu terjatuh.
Benar saja, beberapa detik kemudian badan Rosmawati terjatuh. Kepalanya lebih dulu mendarat ke tanah, tepat di samping kaki Mehmet berpijak.
"Aduuh," Rosmawati meringis kesakitan. Mehmet pun spontan menolongnya berdiri. "Hati-hati, Rose," dengan telaten, Mehmet mengusap kepala Rosmawati dan membersihkan rambutnya dari tanah yang menempel.
"Kamu jahat, Met. Bilang aja kalau bosan," tanpa permisi, Rosmawati segera melingkarkan tangannya di badan Mehmet, lalu memeluk pria rupawan itu erat-erat. Diciuminya dada Mehmet berkali-kali. 'Kesempatan', pikirnya.
"Darimana pikiran seperti itu, Rose? Bagaimana kau bisa menyimpulkan kalau aku bosan?" cecar Mehmet sambil mengurai pelukan Rosmawati dan memundurkan badannya, agar bisa melihat wajah gadis oleng itu dengan jelas. Dia sepertinya tidak terima dituduh demikian.
"Kamu menolak waktu kuajak nikah buru-buru. Apa itu namanya kalau nggak bosan?" balas Rosmawati.
"Astaga, Rose. Jelek sekali pikiranmu. Tidak pernah sekalipun terlintas dalam bayanganku kata-kata bosan. Tidak sama sekali," tegas Mehmet. "Aku hanya ingin kita berpikir matang-matang dalam melangsungkan pernikahan. Segala sesuatu yang terburu-buru itu tidak akan maksimal hasilnya," tutur Mehmet lagi.
Rosmawati begitu terpana mendengar penjelasan Mehmet. "Ja-jadi, kamu nggak bosan sama aku?" tanyanya.
"Dengarkan aku, Rose. Aku tidak bosan dan tidak akan pernah bosan padamu," Mehmet mendekatkan wajahnya sembari mencolek hidung mungil Rosmawati.
Mata Rosmawati kini kembali berbinar. Bunga-bunga bahagia yang tadinya sempat menguncup, kini mekar kembali. "Makasih ya, Met," ucapnya penuh haru.
"Aku juga terima kasih karena kamu telah bersedia menungguku, Rose," Mehmet semakin mendekatkan wajahnya pada Rosmawati, sedikit lagi bibir kedua anak manusia itu akan menempel.
"Astaghfirullah al aadziim!" teriak seseorang, demikian nyaringnya membuat Rosmawati dan Mehmet terkejut.
"Pak, Buk! Dirabekno saiki ae anake sampeyan, timbangane diarak keliling kampung! (dinikahkan sekarang saja anaknya, daripada diarak keliling kampung)" semprot pria berpakaian seragam safari berwarna coklat. Dia menutup kedua matanya dengan tangan, tapi sesekali merenggangkan jarinya agar matanya bisa mengintip.
"Ada apa sih, Mas! Bikin kaget saja!" omel pak Rozi dan mak Katemi yang tergopoh-gopoh berjalan di belakang pria berseragam itu.
"Anake sampeyan ngene-ngene ambek arek ngganteng iki (anak sampeyan begini-begini sama cowok ganteng ini)," pria itu mengisyaratkan ciuman dengan kedua tangannya.
"Wah, wes, ketepakan, pak! Dirabekno saiki ae wes (kebetulan pak! dinikahkan sekarang aja!)," ujar mak Katemi penuh semangat.
__ADS_1
"Iyo wes, pak! Iki surat-surate yo wes siap! (iya deh, pak! Ini surat-suratnya juga sudah siap)" pria berseragam itu menunjukkan map coklat di tangannya.
"Wak mudin e yo opo? Saksi-saksine ga onok (penghulunya gimana? saksi-saksi juga belum ada)," pak Rozi kebingungan dan heboh sendiri. Sementara Mehmet dan Rosmawati hanya terbengong-bengong, tak mengerti apa yang mereka bicarakan.
"Begini saja, Bu! Sampeyan siapkan suguhan, biar saya yang nyari penghulu. Bapak Rozi bagian menyeret saksi. Bagaimana?" saran pegawai kelurahan itu.
"Oke!" teriak suami istri itu serempak, lalu mereka bertiga bubar ke arah berbeda. Tinggal lah Mehmet dan Rosmawati yang terheran-heran.
"What are they going to do?" bisik Mehmet.
"Kayaknya kita mau diarak deh, Met!" jawab Rosmawati dengan wajah tersipu malu.
"What?" belum habis rasa keheranan Mehmet, datanglah adik ajaib dengan riangnya. Dia berjalan sambil melompat-lompat ke arah Rosmawati.
"Mbak! Aku bagian dekorasi!" serunya sambil mengacungkan jari.
Maryam yang tengah bobo siang di bahu suaminya, mendengar kericuhan itu, lalu segera bangun dari ranjang. Dia membuka jendela kamar lebar-lebar dan melihat Nining yang tampak sangat antusias.
"Kalian ngapain, sih? Berisik amat!" omel Maryam dengan suara nyaring.
"Mbak Ros mau dinikahkan sekarang juga, kak! Karena ketahuan mesum, kata Mak!" sahut Nining tak kalah nyaringnya.
Maryam segera meraih tas make up nya dan koper berisi kostum-kostum miliknya. Dia seret barang-barang itu menuju ke ruang tamu dan menatanya berjajar di atas meja.
"Sini, Jem!" Maryam kemudian menyeret tangan Rosmawati dan mendudukkannya di sofa.
"Kamu mandi dulu sana, Met! Badan kamu banyak debunya," titah Maryam.
Berhubung itu merupakan pernikahan dadakan, jadi segala sesuatunya juga pasti belum dipersiapkan secara matang, baik itu dari make up ataupun baju pengantin. Karena itu, Maryam hanya memakai make up seadanya. “Begini ya, Jem. Berhubung ini kan hari spesial, jd kata orang tua tuh kita mesti tampil manglingi,” ujar Maryam sambil mengeluarkan pisau cukur alis.
“Eh, mau ngapain, lu?” protes Rosmawati. Gadis itu memundurkan wajahnya. Ia berusaha untuk menghindari Maryam dengan pisau cukur alis di tangannya
“Diem ngga lu! Kalo ngga diem juga, entar gue cukur abis deh alis lu, biar botak dan elu ngga punya alis lagi. Dengan begitu, elu jadi bisa liat makhluk halus,” ujar Maryam seraya menahan kepala Rosmawati agar tidak bergerak ke mana-mana.
"Makhluk halus?" gumam Rosmawati. "Apakah semacam ...." Rosmawati teringat pada cerita Nining tentang Melisa.
“Semacam debu dan plankton!" sela Maryam. "Kata orang tua, nyukur alis itu merupakan syarat sahnya pernikahan loh,” ujarnya lagi
“Orang tua lu yang bilang gitu?” tanya Rosmawati ragu.
__ADS_1
“Tukang rias yang bilang. Orang tua gue ngga suka sama cewek yang alisnya kecil kaya Cukang Sirotolmustakim. Kata emak gue, entar di dalam kubur alisnya diganti sama ulat bulu,” Maryam bergidik ngeri.
“Terus artinya alis lu ngga dicukur dong, Mun?” tanya Rosmawati dengan polosnya.
"Ya ... tetep dicukur, Jem tapi cuma dikit," sahut Maryam sambil cekikikan. Sesaat kemudian, Maryam terdiam sebentar. Ia lalu berdiri tegak dan sedikit menjauh dari sahabat kembar siamnya itu. Maryam sepertinya tengah mengamati make up yang ia aplikasikan pada wajah sahabatnya.
Istri dari Jamie Scott itu, menggeleng-gelengkan kepala. “Tidak benar ini,” gumamnya seraya mengela napas pelan.
“Apanya yang ngga bener, Mun? Hidup lu? Semua orang juga sudah tahu kali, Mun,” celoteh Rosmawati seenaknya.
“Diem, lu! Jangan macem-macem atau gue abisin sekalian alis lu itu!” ancam Maryam lagi. Ia melanjutkan tugasnya untuk mendandani Rosmawati. Gadis itu pasrah saja ketika Maryam membolak-balikan kepalanya, miring kiri miring kanan, bahkan ketika Maryam menyasak rambutnya. Rosmawati hanya bisa memiringkan kepala ke arah Maryam menarik rambutnya sambil sesekali meringis.
Dengan cekatan Maryam mendandani wajah Rosmawati seperti tempo hari, saat gadis itu untuk pertama kalinya akan bekerja di perusahaan milik Mehmet. Namun, kali ini Maryam memoleskan make up yang sedikit lebih tebal dari waktu itu. "Namanya pengantin itu harus menor, Jem," ucap Maryam. sambil terus membubuhkan bedak tebal di wajah Rosmawati.
"Ya, tapi pake aturan juga kali, Mun. Awas ya, jangan sampe lu bikin muka gue jadi kaya barongsai!"
"Tenang aja, Jem. Ngga sampe segitunya ko, paling mirip dikit." sahut Maryam dengan entengnya. Ia kembali melanjutkan proses make up ke tahap berikutnya.
“Lu kejam banget jadi MUA,” protes Rosmawati sambil terus meringis.
“Banyak protes, lu! Diem napa, yang penting entar hasilnya oke,” sahut Maryam seraya menyanggul rambut panjang sahabatnya, sehingga membuat tubuh Rosmawati sampai harus tertarik ke belakang. Yang pasti, saat itu adalah dua jam yang sangat menyiksa bagi Rosmawati.
Setelah selesai dengan riasan wajah. Kini tinggalah memakaikan kebaya pengantin. Hari itu, Rosmawati akan memakai kebaya legendaris yang dipakai Mak Katemi pada waktu dipersunting Pak Rozi. Kebaya itu memang sudah ketinggalan zaman dengan aroma khas lemari yang sangat kuat. Mungkin saja karena terlalu kebaya itu terlalu lama disimpan di dalam sana.
“Lu ko bau mayat, Jem,” celetuk Maryam sambil mengendus-endus tubuh Rosmawati. Calon pengantin itu mengangkat lengan dan mengendus bagian ketiaknya.
“Waduh!” seru Rosmawati cemas. “Gue minta parfume Bvdarli punya lu, boleh ya?” rengek Rosmawati.
“Yee, enak aja, lu! Itu parfume mahal. Aa Jamie yang beliin. Dia bela-belain nitip sama temannya yang pergi ke Perancis. Elu minta itu sama si Memet!” cibir Maryam.
“Ya, tapi masa ada pengantin bau kapur barus?” Rosmawati terlihat semakin resah.
Maryam terdiam untuk sejenak. Karena tidak tega melihat wajah Rosmawati yang memelas, akhirnya Maryam pun dengan terpaksa pergi ke kamarnya untuk mengambil parfume bermerk tersebut. Akan tetapi, ketika masuk kamar Maryam melihat Jamie Scott tengah mengenakan kemejanya saat itu. Seketika Maryam menutup pintu rapat-rapat dan menghambur ke dalam pelukan suami bulenya. Ia juga lupa jika Rosmawati tengah menunggunya untuk membawakan parfume Bvdarli.
.
.
Hai, sobat.. Sambil menunggu riasan Ijem selesai, baca dulu karya keren dari temen otor satu ini, ya..
__ADS_1