
"Ros! Itu bukan pintu masuk ke gedung flat!" Mehmet memperingatkan Rosmawati yang berjalan lurus menuju gudang kosong di belakang bangunan apartemen.
"Oh ... iya!" Rosmawati sedikit tersentak dan mulai tersadar. Dia menoleh ke arah Mehmet dan kembali mengingat apa yang telah dilakukan Zayn Malik kw 1 itu padanya. Pikirannya kembali kosong, sesaat setelah membayangkan adegan tidak terduga itu. Rosmawati pun melewati Mehmet dengan langkah kaku, kemudian berbelok masuk ke pintu lobby.
Mehmet hanya terpaku melihat sikap Rosmawati. Dadanya terasa nyeri dengan perlakuan gadis oleng itu yang menurutnya seperti sebuah penolakan. Mehmet pada akhirnya memutuskan untuk pulang.
Sementara Rosmawati, masih seperti orang kesurupan. Tatapan matanya kosong sembari menaiki tangga dengan langkah teratur. Di lantai flatnya, terlihat Kiki yang menggeliat di depan pintunya, berusaha mencari perhatian Jamie Scott. Akan tetapi, sayang sekali Jamie Scott tak menghiraukannya. Pria tampan itu malah asyik mengobrol dengan Maryam.
Tepat saat Rosmawati lewat di depan Kiki, gadis eksotik Thailand itu mendesis kencang, "Ssshh... Ambil saja pangeran Arabmu! Anak panahku sekarang berganti haluan." ucapnya sesekali menyeringai kepada Rosmawati.
Rosmawati menoleh dan menatap Kiki tanpa ekspresi. Ia lalu kembali berjalan menuju flatnya, membuat bulu kuduk Kiki jadi meremang.
Demikian pula saat ia melewati Maryam dan Jamie Scott, Rosmawati menoleh dan menyapa mereka berdua dengan pandangan kosong.
"Kenapa lagi dia?" Gumam Jamie Scott.
"Biarlah, A! Mungkin Ijem kekenyangan," Sahut Maryam acuh tak acuh. Perhatiannya kini tercurah pada Jamie Scott sepenuhnya. Bagaikan mukjizat, pria yang berdiri di depannya itu tidak lagi menampakkan sikap ketus. Jamie Scott malah bersikap begitu manis dan hangat. Bagi Maryam, ini adalah kesempatan langka dan tidak akan ia sia-siakan.
PRANG!
Terdengar suara kencang seperti benda jatuh yang berasal dari dalam flatnya.
"Jem!" Sontak Maryam teringat pada sahabatnya kembar siamnya. Dia menghambur masuk, diikuti oleh Jamie Scott. Dilihatnya Rosmawati sedang berdiri termenung sambil mengusap keningnya. "Apa yang pecah?" Tanya Maryam khawatir.
"Gelas," jawab Rosmawati singkat.
"Kok bisa pecah?" Maryam terlihat heran.
Rosmawati hanya mengangkat kedua bahunya, lalu berkata, "Pas mau minum, keinget sama sesuatu. Akhirnya nggak jadi minum." jawabnya datar.
"Hah?" Maryam semakin tidak mengerti akan tingkah aneh Rosmawati.
"Aku pecahkan saja gelasnya, biar ramai ...." Rosmawati berpuisi, kemudian berjalan ke kamar dan membuka pintunya. Setelah pintu terbuka, Rosmawati bergegas masuk tanpa menutupnya kembali. Sehingga Maryam dan Jamie Scott bisa melihat dengan jelas saat gadis itu meraih selimut dan berbaring meringkuk.
__ADS_1
"Masa sih dia kesurupan arwah Nyai Pantura?" Gumam Maryam.
"Who?" Jamie Scott mengernyitkan keningnya mendengar kata asing yang diucapkan Maryam.
"Eh ... nothing," Sahut Maryam sambil meringis. Dia kemudian menyadari akan sesuatu. "Eh ... Aa Jamie masuk ke flatku. Oh My God. Sini duduk dulu A! Mumpung Aa sudah di dalam."
Setengah memaksa, Maryam mendudukkan Jamie di sofa ruang tamu yang juga berfungsi sebagai ruang televisi. Dengan tergesa-gesa, dia berlari menuju kabinet yang terpasang di dinding dapur dan mengeluarkan semua snack dan camilan milik Rosmawati dan ia suguhkan kepada Jamie Scott.
"Habiskan semuanya, A! Lagian bukan Neng yang beli," ujar Maryam asal.
Dari dalam kamar, Rosmawati mendengar itu semua. Akan tetapi dia memilih untuk tidak menanggapinya. Padahal, biasanya Rosmawati akan murka jika siapapun menyentuh harta karun yang ia simpan.
Entah kenapa, malam itu ia merasa tubuhnya menggigil dan perutnya terasa aneh, seperti ada yang menggelitiki dari dalam. Hal itu berlangsung hingga pagi. Otomatis Rosmawati tidak memejamkan matanya sama sekali.
Bahkan sebelum alarm berbunyi, Rosmawati sudah lebih dulu bangun. Dia duduk dan meraih alarm digital di nakas, lalu ia dekatkan ke wajahnya. "Tiiitt! Tiiitt! Tiiiiitt!" Serunya pada jam tak berdosa itu.
Maryam yang berada di kamarnya, langsung terlonjak bangun dan menghampiri Rosmawati. "Kenapa, Jem?" Tanyanya khawatir.
"Bangunin alarm, gantian. Biasanya dia yang bangunin gue," jawab Rosmawati datar seraya bergegas ke kamar mandi.
"Saya tidak apa-apa, Nyonya," timpal Rosmawati kemudian menutup pintu kamar mandi pelan.
"Tuh, kan! Aneh banget," Maryam bergidik ngeri. Dia membayangkan bahwa sosok Rosmawati yang ada di depannya itu bukanlah sosok yang sebenarnya. Bisa jadi gadis itu adalah siluman jadi-jadian. Mungkin saja, arwah yang biasa merasuki Kiki kini berpindah kepada Rosmawati.
Tidak sampai sepuluh menit, Rosmawati keluar dari kamar mandi dan masuk kembali ke dalam kamar. Lima menit kemudian, gadis oleng itu sudah siap dengan seragam kerjanya.
Sementara Maryam masih setia memerhatikan gerak-gerik sahabat kembar siamnya itu sambil melongo, sampai tubuh semampai itu hilang di balik pintu flat.
Rosmawati menutup pintu flatnya pelan, kemudian membalikkan badannya menuju tangga. Dia terkejut setengah mati ketika ada sosok yang tiba-tiba sudah berdiri di hadapannya membawa sebuket bunga mawar yang begitu besar. Saking besarnya, sampai-sampai menutupi wajah sosok pembawa bunga itu.
Dalam hati, Rosmawati berharap bahwa itu adalah Mehmet. Namun saat sosok itu memperlihatkan wajahnya yang membuat Rosmawati seketika kecewa.
"Hai, apa Maryam ada?" Tanya sosok yang tak lain dan tak bukan adalah Charlie Manfred.
__ADS_1
"Ada," jawabnya dingin dan singkat.
"Boleh kau panggilkan?" Pinta Charlie.
"Panggil saja sendiri!" Jawab Rosmawati seraya melengos. Dia sudah hendak melangkahkan kakinya, ketika Rosmawati teringat akan sesuatu.
"Oh, ya! Give me 50 poundsterling!" Rosmawati mengulurkan telapak tangannya dan mengarahkannya pada wajah Charlie.
"For what?" Tanya Charlie keheranan.
"Pacarmu sudah menghabiskan jatah camilanku selama sebulan," Rosmawati menatap Charlie tajam.
Charlie Manfred terpaksa menuruti permintaan Rosmawati. Pelan-pelan dia membuka dompetnya dan mengeluarkan lembaran poundsterling.
Rosmawati yang tak sabar melihatnya, segera merebut uang itu dan memasukkan ke kantong seragamnya. "Okay, have a good day. Maryam ada di dalam. Probably, sedang konsentrasi mengeluarkan tenaga dalam. Ketuk saja pintunya," cerocosnya sembari berjalan meninggalkan Charlie Manfred yang terbengong-bengong sendirian.
Rosmawati mengira jika perasaan aneh yang dia rasakan setelah dicium Mehmet akan hilang setelah dia sampai di kantor dan bertemu Justin Blake.
Akan tetapi, perkiraannya salah. Perasaan tidak nyaman itu tetap ada, meskipun ia bertemu Justin Blake di lobby dan pria itu tersenyum manis padanya.
Bahkan ketika pria itu menghampirinya saat makan siang dan mengajaknya makan malam berdua lagi dan lagi, perasaan membagongkan itu masih jua tak mau pergi.
"Seharusnya kau tegas menolaknya!" Tegas Joyce, sesaat setelah Justin berlalu dari ruangannya.
"Kata emak, dilarang menolak rejeki," kilah Rosmawati.
"Itu bukan rejeki, Ros! Justin Blake sengaja menggodamu. Setelah dia bosan, pasti dia tak segan-segan akan membuangmu," Joyce berusaha mengingatkan.
"Mana mungkin begitu! Mas Justin orang yang baik," bela Rosmawati dengan nada suara yang sedikit tinggi.
"Kalau dia benar-benar baik, dia tidak akan mengkhianati kekasihnya dengan makan malam berdua bersamamu," kata-kata Joyce begitu menohok ulu hati Rosmawati. Bayangkan, hanya kata-kata Joyce saja yang menohok, tapi Rosmawati sudah bisa merasakan sakitnya. Apalagi kalo Ratu Savana itu menohok dengan lengan kekarnya. Rosmawati meringis membayangkannya.
"Hanya makan malam biasa saja, kok," dalihnya kemudian.
__ADS_1
"Hmm, terserah kau saja lah, Rose! Sebagai teman, aku hanya mengingatkan. Segala sesuatu yang diawali dengan pengkhianatan dan ketidakjujuran, pasti akan berakhir menyakitkan."
Nasihat Joyce lagi-lagi seakan menamparnya. Diam-diam, Rosmawati jadi meragukan ramalan si wanita gipsy itu tentangnya.