
Satu minggu telah berlalu. Kedua orang tua Jamie Scott telah kembali ke Inggris. Mereka berdua kesulitan untuk beradaptasi di tempat Maryam yang sangat jauh berbeda dengan kediaman mereka di London. Terlebih Mr. Edder. Pria yang memang mempunyai hobi memancing itu, merasa tidak nyaman dengan segala kebiasaan di sana.
Rencananya, hari ini Maryam dan Jamie Scott akan berangkat ke Mojokerto bersama Rosmawati. Setelah dari Mojokerto, mereka akan langsung terbang ke Inggris tanpa kembali lagi ke Bandung. Kesedihan pun menghampiri Mak Odah saat itu. Wanita paruh baya tersebut menangis sesegukan ketika Maryam, Jamie Scott dan Rosmawati telah berangkat menuju stasiun. Rencananya, mereka bertiga akan pergi ke Mojokerto dengan menggunakan kereta api.
“Abah, Abaaaaaaaaaahhh ....” Mak Odah belum juga berhenti menangis. Ia menghambur ke dalam pelukan Abah Jaka yang saat itu merasa bingung, karena sang istri tiba-tiba bersikap seperti seorang abege tua.
“Mak, eling Mak! Inget umur! Tong sok imut, sok manja kitu lah! Geuleuh Abah ninggalnage,” sergah Abah Jaka. (Mak, sadar Mak! Ingat umur! Jangan sok imut, sok manja lah! Jijik Abah liatnya)
“Iya, ih. Emak kaya abege karatan,” timpal Asep yang merupakan kakak Maryam.
“Abaaaaah ... si neng teh anak perempuan kita satu-satunya. Dia lama ngga pulang. Sekarang dia pergi lagi,” isak Mak Odah. “Mun kieu carana, Emak hayang anak awewe deui, Bah! (Kalo begini caranya, Emak mau anak perempuan lagi, Bah)” tegas Mak Odah membuat Asep dan Abah Jaka saling pandang.
“Asep pulang dulu lah, Bah. Asep ngga mau ikut campur sama urusan rumah tangga orang lain,” ujar Asep seraya berlalu begitu saja meninggalkan Abah Jaka yang tampak kebingungan. Abah Jaka mengela napas dalam-dalam seraya menggulung sarungnya di perut. “Tenang mak. Sebentar lagi, si Veronica pan mau lahiran,” celetuk Abah Jaka membuat Mak Odah seketika berhenti menangis. Sedangkan Abah Jaka hanya tertawa geli. Veronica merupakan nama kambing betina peliharaan Abah Jaka yang memang akan segera melahirkan.
Sementara itu, Rosmawati, Maryam, dan juga Jamie Scott kini telah berada di dalam kereta. Mereka akan menempuh perjalanan yang panjang untuk bisa sampai ke Mojokerto.
Sepanjang perjalanan, Maryam tak henti-hentinya bergelayut manja di lengan suami bule-nya. Jamie Scott pun tampaknya tidak keberatan dengan hal itu. Ia berkali-kali tersenyum kalem seraya mengecup kening Maryam.
Rosmawati yang saat itu duduk berhadapan dengan mereka hanya dapat memalingkan mukanya. Hatinya semakin panas. Keinginannya untuk segera bertemu dengan Mehmet terasa semakin menggebu. “Apaan sih kalian? Norak banget tahu!” sergah Rosmawati yang menanggapi tingkah sepasang pengantin baru itu dengan jengkel.
“Kalo ga suka, mendingan elu tidur saja sana! Tutup mata dan pura-pura ngga liat!” sahut Maryam dengan seenaknya. “Lagian ya, bentar lagi juga elu bakalan ketemu sama onta arab. Puas-puasin lu sama dia!” lanjut Maryam tanpa melepaskan tangannya dari lengan berotot Jamie Scott. “Oiya, Honey. Aku mau ke toilet dulu,” Maryam melepaskan tangannya dari lengan sang suami. Ia lalu berdiri.
“Apa perlu kutemani, Honey?” goda Jamie Scott.
“Ish, jangan dong A! Entar keretanya mogok,” sahut Maryam seraya mengedipkan sebelah matanya dengan genit.
“Iyalah, kaya ngga ada tempat lain buat mesum!” celoteh Rosmawati yang sudah tidak tahan melihat kemesraan pengantin baru itu.
“Sirik saja lu, Ijem!” cibir Maryam. Kali ini ia benar-benar berlalu menuju toilet kereta.
Kini, tinggallah Rosmawati berdua dengan Jamie Scott. Pria bermata abu-abu itu menatap Rosmawati untuk sesaat. “Jadi, Mr. Hayder ada di Mojokerto?” tanya Jamie Scott berbasa-basi.
__ADS_1
Rosmawati mengangguk. ”Sejak kalian menikah. Dia menungguku datang. Semoga saja dia ngga ngajak Ahmad, si tukang kawin itu," harap Rosmawati.
"Hebat juga dia, ya! Pantang menyerah mengejar kamu," puji Jamie Scott.
"Yah, begitulah," ujar Rosmawati bangga sambil menghentikan petugas kereta yang mendorong troli berisikan berbagai jenis makanan. Dia membeli satu porsi ayam geprek beserta nasi, lalu makan dengan lahapnya.
"Bukankah kau sudah makan tadi sebelum berangkat?" tanya Jamie Scott sembari mengernyitkan dahi keheranan.
"Itu kan tadi," jawab Rosmawati enteng.
"Jangan kaget, A. Perut si Ijem itu kayak tong sampah. Penuh, buang, penuh, buang," sahut Maryam yang baru saja kembali dari toilet.
"Sirik aja, lu!" balas Rosmawati sambil mengunyah.
Tak terasa, 8 jam mereka lewati dengan lancar. Pasangan pengantin baru itu tampak menikmati pemandangan selama perjalanan, meskipun sebagian besar pemandangan itu adalah Rosmawati yang bermain ponsel sambil menggiling makanan tanpa henti.
"Mumun heran, A. Ke mana semua larinya makanan si Ijem, ya? Kok badannya masih kurus-kurus aja, nggak melar sama sekali," gumam Maryam.
"Oh, semacam makhluk astral gitu ya, A?"cerocos Maryam.
"Heh di mana-mana kalau ghibah itu ngomongnya di belakang orang yang dighibahin! Lah, ini malah ngomongnya di depan muka langsung!" protes Rosmawati yang seketika menghentikan omelannya saat terdengar petugas kereta mengumumkan bahwa kereta yang mereka naiki sudah tiba di tujuan.
"Ya, ampun! Udah nyampe! Ayo, buruan! Memet udah nunggu di peron!" Rosmawati panik, meraih seluruh barang bawaan, lalu menyeretnya keluar dari gerbong.
"Eh, yang bener, Jem! Kok dia bisa tahu letak stasiun sini?" dengan langkah kecil, Maryam berlari menyusul Rosmawati, sementara Jamie Scott ia tinggalkan begitu saja. Padahal pria itu sedang kerepotan membawa koper dan barang-barang Maryam. Bahkan gadis itu juga membawa alat jahit portabel mini miliknya.
"Yaelah, Mun. Apa gunanya GPS, share lokasi, nanya orang lewat? Lu, sih, bucinnya kebangetan sampe lupa permasalahan dunia," omel Rosmawati sambil menenteng koper menuruni tangga kereta.
"Jadi, si Memet nunggu di mana sekarang?" tanya Maryam yang masih terus mengejar sahabat kembar siamnya itu. Ia masih juga tidak menoleh kepada suaminya yang kerepotan sendiri.
Rosmawati tak menjawab. Dia berhenti mendadak, sehingga hidung mungil Maryam menabrak belakang kepala Rosmawati.
__ADS_1
Beberapa meter di depannya, seorang pemuda tampan berhidung mancung menatap Rosmawati dengan pandangan bahagia. Dengan kaus putih yang sedikit ketat, celana jeans berwarna biru navy yang sedikit sobek di bagian lutut dan tas ransel hitam besar tergantung di pundaknya yang lebar, pemuda itu tersenyum ceria.
"Memet?" desis Rosmawati dengan mata terbelalak. Sungguh jauh berbeda penampilan Mehmet kini dibandingkan ketika ia duduk di kantor mewahnya di Birmingham.
"Memet?" Maryam yang awalnya melotot ke arah Rosmawati, kini ikut mengikuti pandangannya pada Mehmet. "Boleh juga gayanya, tapi lakik gue lebih cakep ke mana-mana," bisiknya bangga.
Mehmet mengulurkan tangan yang segera disambut oleh Rosmawati yang merentangkan tangannya. Gadis itu bersiap untuk menghambur ke pelukan pujaan hatinya.
Akan tetapi, sosok Rosmawati tergeser oleh Jamie Scott yang langsung berjabat tangan dengan Mehmet. Gadis itu hanya terpana dengan posisi badan yang tidak berubah.
"How are you, Mr. Hayder?" sapa Jamie Scott dengan hangat.
"I'm doing great. Selamat atas pernikahanmu Mr. Edder," balas Mehmet ramah sembari menepuk lengan Jamie Scott.
"Sabar. Jem! Main nyosor aja. Malu sendiri, kan? Sukurin! Emang enak?" Maryam menjulurkan lidahnya. Dia segera menghampiri Jamie Scott, lalu membisikkan sesuatu kepada suaminya. Jamie Scott mengangguk dan berjalan lebih dulu sambil merengkuh mesra pundak Maryam.
Kini, tinggal lah Rosmawati yang berdiri kikuk di depan Mehmet. Pria itu sama kikuknya. Berkali-kali Mehmet menggaruk tengkuknya sambil mencuri-curi pandang pada Rosmawati.
"Apa kabar, Met?" tanya Rosmawati dengan suara yang sedikit bergetar.
"Never been better, My Love," ucap Mehmet yang cukup membuat Rosmawati serasa melayang ke lapisan atmosfer terluar. Rosmawati bahkan lupa, jika saat itu mereka masih berada di stasiun.
.
.
.
.
Haloo, sobat oleng sekalian.. Selamat hari senin.. Mumun dan Ijem datang lagi sambil mengabarkan pada kalian salah satu karya keren dari teman otor yang luar biasa.. Yuk, mampir..
__ADS_1