Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Perseteruan The Next Level


__ADS_3

Sementara Rosmawati tengah sibuk bergelut dengan lobster, sahabat olengnya Maryam tengah disibukan dengan beberapa pelanggan.


Hari ini, toko mrs. Harlekin kedatangan pembeli yang jauh lebih ramai dari biasanya dan membuat Maryam sedikit kewalahan.


"Need help?" Terdengar suara maskulin yang sudah tidak asing lagi di telinga Maryam. Gadis itu menoleh dan tersenyum.


Jamie Scott sudah berdiri di sebelah Maryam dengan T Shirt biru navy dan celana jeans. Sebuah kaca mata hitam menggantung pada leherĀ  kaos polos yang ia kenakan hari itu.


"Aa ngga kerja?" Tanya Maryam dengan nada bicaranya yang polos dan tanpa dosa. Ia seakan sudah lupa dengan adegan panas kemarin malam antara Jamie Scott dan Charlie Manfred yang bagaikan dalam sebuah telenovela.


"Tidak. Hari ini aku sedikit tidak enak badan," jawab Jamie Scott. Seperti biasanya, pria itu selalu irit dalam berbicara.


"Oh ...." hanya kata itu yang meluncur dari bibir mungil Maryam. Bibir yang kini sudah kehilangan label gresnya, karena ulah nakal Charlie Manfred.


Tanpa adanya banyak obrolan, Jamie Scott membantu Maryam melayani para pelanggan. Semua yang datang ke sana yang rata-rata adalah kaum hawa, tentu saja merasa senang. Mereka lebih memilih kepada Jamie Scott dan membiarkan Maryam.


Tentu saja hal itu membuat Jamie Scott menjadi kewalahan. Sementara Maryam tidak ambil pusing, gadis itu justru malah asyik bermain ponsel dan menjawab panggilan telepon yang tentu saja berasal dari Charlie Manfred.


"Iya, sedang di toko. Kenapa a?" Tanya Maryam dengan gaya bicaranya yang manja. Sesekali Jamie Scott meliriknya sambil terus melayani para emak yang tersenyum nakal kepadanya.


"Ah ... tidak! Neng tidak sibuk a. Neng sedang santai. Aa sendiri sedang apa?" Maryam terlihat begitu asyik berbincang di telepon dan mengabaikan Jamie Scott yang sudah mulai merasa jengkel, apa lagi ketika ia mengetahui jika Maryam tengah berbicara dengan pria yang hampir bersitegang dengannya semalam.


"Oh ... kapan? Sore ini ya, sehabis Neng dari toko. Aa jemput saja kemari!" Pinta Maryam lagi. Entah ia akan ke mana lagi dengan aktor tampan itu. Yang pasti perbincangan itu telah membuat telinga Jamie Scott, semakin bergemuruh saat mendengarnya.


"Ih ... tidak bisa, a! Neng kasihan dengan mrs. Harlekin. Encok dan tekanan darahnya akan kambuh kalo dia kelelahan. Sepulang dari toko saja, ya!" Ujar Maryam lagi seraya tertawa riang. Gadis itu begitu asyik berbicara di telepon dan melupakan tugasnya yang diambil alih oleh Jamie Scott.


Beberapa saat kemudian, ketika semua pembeli itu telah pergi maka Jamie Scott pun berlalu dari sana dengan jengkelnya. Ia masuk ke dapur dan menyapa mrs. Harlekin yang saat itu tampak ketiduran sambil duduk di atas kursi kayu di sana.

__ADS_1


"Oh my God! Ada apa dengan toko ini?" Gumam Jamie Scott seraya mengernyitkan keningnya. Rupanya ia salah dengan datang ke toko hari itu. Kedua wanita di sana begitu santai, sedangkan malah dirinya yang kerepotan. Jamie Scott pun memutuskan untuk keluar dari dapur. Akan tetapi, langkahnya seketika terhenti karena tiba-tiba mrs. Harlekin terbangun.


"Honey, my strawberry cake ... sejak kapan kamu di sini?" Tanya wanita berambut pirang itu. Ia menguap seraya mengucek-kucek matanya perlahan. Ia lalu bangkit dari duduknya.


"Ah ... rasanya menyegarkan sekali sudah tidur meskipun hanya beberapa menit," ujar mrs. Harlekin dengan wajah yang mulai berseri.


"Sebentar, Sayang! Aku harus memastikan dulu apakah Mary masih ada di tempatnya atau tidak. Jangan sampai gadis itu pergi tanpa sepengetahuanku!" Ucap mrs. Harlekin. Ia bermaksud untuk keluar dari dapur.


"Dia masih ada di tempatnya, Bu. Mary sedang asyik berbicara di telepon dengan kekasihnya yang berwajah mesum itu," ucap Jamie Scott dengan sedikit rasa kesal dalam nada bicaranya.


Mrs. Harlekin tertegun. Ia kemudian menoleh kepada putra kesayangannya. "Oh ... my apple juice ...." mrs. Harlekin menghampiri Jamie Scott dan menangkup wajah tampan arsitek muda itu.


"Please, Mom! Jangan berlebihan!" Jamie Scott melepaskan tangan sang ibu dari wajahnya. Ia merasa risih karena mrs. Harlekin selalu memperlakukannya seperti seorang balita.


Radar mrs. Harlekin sebagai seorang ibu, dapat menangkap gelombang-gelombang aneh yang muncul dari bahasa tubuh Jamie Scott saat itu. Ia tahu jika putra kesayangannya sedang tidak baik-baik saja. Ia pun mengajak Jamie Scott untuk duduk.


Setelah terdiam beberapa saat lamanya, akhirnya Jamie Scott pun bicara, "I don't know, Mom. I just feel weird. Aku tidak tahu kenapa bisa begini?" Jamie Scott tampak resah.


Mrs. Harlekin tersenyum lembut. Ia kemudian menyentuh wajah rupawan putra kesayangannya dengan penuh kasih sayang. "Apakah ini karena gadis yang ada di depan itu?" Pancing mrs. Harlekin.


Jamie Scott tertegun seraya menatap sang ibu. "Mary?" Ia lalu mengernyitkan keningnya.


Mrs. Harlekin mengangguk pelan. "Kamu punya perasaan lebih kepadanya tanpa kamu sadari, seperti itukah?" Pancing mrs. Harlekin lagi.


Jamie Scott kembali terdiam. Ia terlihat memikirkan apa yang diucapkan mrs. Harlekin barusan. "Geez, I don't know, Mom! Tiap kali aku membayangkan wajah Mary, aku selalu gemas sendiri dan ingin menggigitnya," gerutu Jamie kemudian. "But ...."


"But ...." Potong Mrs. Harlekin dengan nada penuh pertanyaan.

__ADS_1


"Aku merasa ada sesuatu yang kurang kalau tidak melihat dia sehari saja," gumam Jamie Scott. "Rasanya seperti pertandingan basket tanpa pemandu sorak," lanjut Jamie Scott. Ia mulai berbicara dengan antusias.


"Fix! Kamu sudah jatuh cinta!" Seru wanita paruh baya itu dengan penuh semangat. "Selamat ya, anakku! Aku ikut berbahagia," ucapnya sambil memeluk Jamie dan mencium pipinya berkali-kali.


"Mom! Apa-apaan ini? Aku hanya jatuh cinta, bukan mau menikah!" protes Jamie Scott seraya menjauhkan wajahnya dari serangan Mrs. Harlekin.


"Eleuh ... eleuh ... lucunya kalian berdua! Aduh ... Neng jadi kangen sama emak. Boleh ikut berpelukan tidak?" Kepala Maryam tiba-tiba sudah menyembul dari balik pintu. Ia lalu merentangkan tangannya meminta berpelukan juga.


"No!" Tolak mrs. Harlekin dan Jamie Scott secara bersamaan.


"Nanti saja kalau kalian sudah resmi berpaca ... hmmphh ...." kalimat mrs. Harlekin terpotong karena Jamie membungkam mulut ibunya.


Sementara Mary memandang mereka dengan raut keheranan. "Well, ya sudah, kalau begitu," Mary mengangkat bahunya dan berbalik ke arah pintu. Sebelum sempat keluar ruangan, ponselnya kembali berdering. Mary mengangkatnya, "Hello, aa Charlie!"


Jamie Scott memutar bola matanya mendengar suara genit Maryam.


"Apa? Aa sudah di depan?" Ujar gadis itu. Ia lalu bergegas ke bagian depan toko. Spontan Jamie dan mrs. Harlekin mengikuti langkah Maryam.


Di sana sudah berdiri laki-laki jangkung dan gagah yang sudah dalam posisi siap memeluk Mary. Gadis oleng itu pun menyambut pelukan Charlie dengan hangat. Dia bahkan mengusap-usapkan wajahnya di dada bidang Charlie.


"Hei, ini toko kue! Bukan tempat pacaran!" Hardik Jamie Scott. Baru kali ini ia tidak bisa menahan dirinya.


"Oh ... hei! Kamu lagi ... si pria kutu buku," ujar Charlie sinis.


Telinga Jamie Scott semakin panas mendengarnya. Dia sudah hendak melangkah maju menghampiri Charlie dengan tangan yang sudah terkepal sempurna. Ia berniat untuk memberi aktor tampan itu pelajaran. Akan tetapi, dengan segera mrs. Harlekin mencegahnya.


"No, Honey! Jangan bertindak bodoh dan mempermalukan dirimu! Keep calm and stay here!" Bisik mrs. Harlekin.

__ADS_1


Jamie Scott menuruti perintah sang ibu. Ia mengurungkan niatnya untuk menghampiri Charlie Manfred. Namun kini ia harus di buat melongo ketika ia melihat mrs. Harlekin yang justru menghampiri aktor itu dan memukuli lengan Charlie Manfred dengan sejuta umpatan mematikan. "You alien man! Go away! Far away! Back to youre planet! Go to hell! Stay away from Mary!"


__ADS_2