Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Hot Hot Night


__ADS_3

Mehmet dan Rosmawati masih asyik mengintip pertikaian di bawah, saat pintu flatnya tiba-tiba diketuk oleh seseorang. “Ada tamu, Rose,” ucap Mehmet dengan mata yang tak lepas dari adegan telenovela di bawah flat gadis oleng itu.


“Sebentar! Lagi seru!” Sahut Rosmawati sambil menggigiti jari. Hal itu dikarenakan dia tidak mempersiapkan camilan sebagai teman nonton sebelumnya.


Tok! Tok! Tok!


Ketukan makin kencang, membuat gadis itu terpaksa meninggalkan tontonan seru. “Siapa, sih? Gangguin aja!” Gerutunya. Dengan malas, Rosmawati membuka pintunya lebar-lebar. Tampaklah Kiki menyeringai ke arahnya.


“Apa?” Tanya Rosmawati dengan ketus.


“Aku mau meminta nasi,” jawab Kiki. Kedua tangannya sudah siap menyodorkan piring kosong kepada Rosmawati.


“Hhh!” Rosmawati mendengus kesal dan membalikkan badan. “Come in!” Ajaknya.


Gadis eksotis limited edition keluaran Thailand itu bersemangat mengikuti langkah Rosmawati menuju dapur. Dia berjalan melenggak-lenggok sembari sesekali memutar badan. Matanya jelalatan melotot ke arah Mehmet yang tengah serius memandang ke bawah jendela. “Who is he?” Bisik Kiki saat Rosmawati membuka magic com dan memindahkan nasi ke piring Kiki hingga terisi penuh.


Rosmawati terdiam sebentar. Lama dia menatap wajah Kiki sambil berpikir. Seandainya dia menjawab bahwa Mehmet hanya sekedar teman, pastilah Kiki akan berusaha mendekati Zayn Malik kw 1 itu dengan sekuat tenaga. Rosmawati tidak mau itu sampai terjadi. Dia tak ingin Mehmet diganggu oleh siapapun. Pria Timur Tengah itu adalah aset berharga, karena hanya Mehmet penggemar berat dirinya yang pertama dan satu-satunya.


“Pacarku!” Jawab Rosmawati dengan setengah berbisik. Dia tak ingin Mehmet mendengarnya, atau pria itu akan keGRan.


“Huh, impossible! Dia pasti rabun dekat dan jauh kalo sampai-sampai bisa menjadikanmu pacarnya!” Cibir Kiki sambil merebut kasar piring penuh nasi dari tangan Rosmawati. Dia pun akhirnya melengos meninggalkan dapur dan bergegas keluar flat.


“Yee! Dasar, pantat teko!” Umpat Rosmawati. Ia lalu kembali berdiri di samping Mehmet.


Tak sampai lima menit, kembali terdengar ketukan kencang di pintu.


“Ya, Tuhaan!” Gerutu Rosmawati jengkel. Ia lalu berjalan lunglai ke arah pintu dan membukanya.


Lagi-lagi wajah Kiki yang terlihat. Dia tersenyum ceria dengan bibir berwarna merah marun. Sepertinya dia baru saja memolesnya dengan lipstick.


“Apalagiii, siluman ular sawah?” Damprat Rosmawati sewot. “Mana bibirnya merah begitu, kayak abis nyedot darah ayam,” cerocosnya.


“Aku mau pinjam sendok,” ucapnya manja sambil sesekali mengelus pipinya yang tembem dengan punggung tangannya.


“Nggak ada!” Bentak Rosmawati sembari membanting pintu. Beberapa detik kemudian, dia membukanya lagi dan berkata sewot pada Kiki, “Meskipun kamu gedor-gedor pintuku, nggak akan aku bukain lagi!”

__ADS_1


Rosmawati menutup pintu flat dan menguncinya. Dia kembali berdiri di samping Mehmet dan melihat Mary di bawah sana yang tampak sedih dan kalut.


Sayup-sayup terdengar perang kata antara Charlie Manfred dengan Jamie Scott.


“Kamu tidak kenal siapa aku?” Tanya Charlie jumawa.


“Memang apa pentingnya mengenalmu?” Sahut Jamie Scott dengan ketus.


“Kamu pasti pria kesepian dan kutu buku. Hanya berkutat dengan pekerjaan tanpa sekalipun pergi bersenang-senang, sampai-sampai kau tidak mengenal aktor terkenal seperti aku,” ledek Charlie Manfred semakin menyombongkan dirinya.


“Kalau aku tidak mengenalmu ... itu artinya kau tidak seterkenal itu,” balas Jamie Scott dengan telunjuk lurus tertuju kepada pria itu. Tatapannya pun tajam ia layangkan kepada Charlie Manfred. Begitu pula Charlie Menfred yang juga memandang sinis kepada Jamie.


Sementara Maryam yang berdiri di antara mereka hanya mampu memandang dua makhluk tampan itu secara bergantian. Bibirnya sudah mulai melengkung. Air mata sudah menggenang, tinggal menunggu waktu yang pas untuk menetes. Ia merasa terharu karena kedua pria itu bersitegang karena dirinya. Maryam merasa jadi primadona saat itu, dan ia harus memberitahukan hal ini kepada mak Odah.


“Hey, it’s okay, Mary! Jangan pedulikan dia!” Charlie Manfred yang menyadari perubahan ekspresi Maryam segera memeluk bahu mungil itu dan menenangkannya.


“Get your hands off her!” Tampik Jamie Scott seraya menepiskan tangan Charlie Manfred dari bahu Maryam.


(Singkirkan tanganmu dari dia)


Seketika pria itu terdiam. Dia memang tak memiliki hubungan apapun dengan Mary. Lalu, kenapa dia harus marah?


Batin Jamie Scott mulai berkecamuk sendiri. Menyadari kesalahannya, Jamie Scott mundur perlahan. “You’re right! Aku memang tidak memiliki hubungan apapun dengan Mary,” jawabnya sendu. Jamie Scott akhirnya membalikkan badan menuju kendaraan. Memasuki mobilnya, ia lalu menyalakan mesinnya. Dia meninggalkan Maryam dan Charlie berdua dengan hati galau.


Adegan telenovela pun berakhir saat itu dengan rasa kecewa dari para penonton di balik jendela. Mereka sebenarnya mengharapkan ada adegan yang lebih panas.


"Yaa ... aku pikir mereka akan saling tonjok," gumam Rosmawati dengan kecewa.


......................


Malam itu, Jamie Scott memutuskan untuk tidak pulang ke apartemennya. Ia lebih memilih untuk pulang ke rumah orang tuanya.


Duduk dengan setengah membungkuk pada tepian tempat tidurnya, Jamie Scott termenung seorang diri. Ia memikirkan apa yang dilihatnya malam ini.


Kenapa ia harus peduli ketika melihat Maryam dicium pria itu? Apa masalahnya? Ia sendiri tidak mengerti dengan hal itu.

__ADS_1


"Honey? Are you sleeping?" Terdengar suara mrs. Harlekin dari balik pintu kamar Jamie Scott. Pria berambut coklat tembaga itu kemudian bangkit dari duduknya dan berjalan menuju pintu. Ia lalu membukakan pintu itu untuk sang ibu tercinta.


Mrs. Harlekin tersenyum manis dengan segelas susu vanilla di tangannya. "Milk time ...." ucap wanita paruh baya itu seraya mengangkat gelas yang dipegangnya.


Inilah yang membuat Jamie Scott terkadang malas untuk pulang. Mrs. Harlekin selalu memperlakukan dirinya seperti seorang anak kecil.


Jamie Scott membuka pintu kamarnya dengan lebar, sebagai tanda ia mempersilakan wanita berambut pirang itu untuk masuk. Mrs. Harlekin pun segera masuk ke kamar putra semata wayangnya.


Jamie Scott menutup pintu kamarnya. Setelah itu, ia kembali duduk di tepian tempat tidurnya dan kembali termenung.


"Ada apa, Sayang? My Little Cupcake ...." mrs. Harlekin mengelus-elus punggung Jamie Scott, membuat pria dua puluh tujuh tahun itu menjadi sedikit risih.


"Nothing, Mom. I'm just tired," sahut Jamie Scott pelan. Ia kemudian menggosok-gosokan kedua telapak tangannya. Biasanya ia melakukan hal itu ketika dirinya sedang merasa resah, gelisah, galau, dan merana.


Mrs. Harlekin dapat melihat hal itu dengan jelas. Ia pun mencoba untuk menghibur putra kesayangannya. "Aku juga sangat lelah hari ini. Mary benar-benar keterlaluan! Gadis itu selalu bersikap seenaknya," keluh mrs. Harlekin.


Bukannya terhibur, Jamie Scott justru malah semakin merana ketika mendengar nama Maryam disebut oleh mrs. Harlekin. Ia pun memilih untuk tidak menanggapi ucapan mrs. Harlekin.


"Entah ke mana gadis itu seharian ini? Dia pergi dari toko begitu saja setelah mendapat telepon dari ...." mrs. Harlekin tidak melanjutkan kata-katanya karena dengan segera Jamie Scott menyelanya. Pria bermata abu-abu itu berdiri dan berbicara dengan begitu berapi-api.


"Mary pergi berkencan dengan seorang pria yang berwajah mesum! Dia bahkan tidak jauh lebih tampan dariku! Akan tetapi, Mary lebih menyukai pria seperti itu dan bahkan aku melihat mereka berci ...." kini giliran Jamie Scott yang tidak kuasa untuk melanjutkan kata-katanya. Ia melirik sang ibu yang saat itu tengah menatapnya dengan wajah keheranan.


"Are you okay, Honey?" Tanya mrs. Harlekin. Ia merasa cemas melihat sikap Jamie Scott yang tampak tidak stabil.


Jamie Scott menjadi gelagapan karenanya. Ia kembali duduk di sebelah sang ibu dan menggaruk keningnya.


"Aku hanya ... i just want to go to the toilet," sahut Jamie Scott dengan lesu.


"Tell me, my sweet cookies! Ada apa? Apa yang sedang mengganggumu, Sayang?" Tanya mrs. Harlekin dengan penuh rasa khawatir.


"Apakah ada hubungannya dengan Mary? Ada apa dengan gadis itu? Apa dia masih mengganggu ketenanganmu? Jika iya, biar nanti aku yang menasihati gadis itu agar tidak mengganggumu lagi, meskipun sebenarnya ... aku merasa jika dia adalah gadis yang sangat ceria dan sangat menghibur. Akan tetapi ... kamu berpikiran lain tentangnya. Jadi ...." mrs. Harlekin menarik napas panjang setelah dia berbicara tanpa jeda. Ia pun tampak terengah-engah. Setelah itu, ia meneguk habis susu yang tadinya ia bawa untuk Jamie Scott.


"Ah ... enak sekali susu ini ...." ucap mrs. Harlekin dengan tanpa sadar. Ia pun kemudian mengelap mulut dengan punggung tangannya.


"Keep calm, Mom!" Jamie Scott melirik sang ibu untuk sejenak. Terlalu sering bergaul dengan Maryam, membuat wanita keturunan Jerman itu sangat mudah tertular virus oleng dari gadis itu.

__ADS_1


__ADS_2