Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Balada Ibu Hamil


__ADS_3

Rosmawati yang asyik menonton siaran televisi, sewot ketika Maryam tiba-tiba duduk di sebelahnya, lalu sengaja menaruh kaki di atas pangkuannya. "Pijitin!" perintah Maryam seenaknya.


"Angkat nggak kaki lu! Udah betis segede pohon nangka gini, seenaknya ditaruh di paha gue," hardik Rosmawati seraya mendorong kaki Maryam agar menjauh dari pangkuannya.


"Lu nggak inget kalau gue lagi hamil?" balas Maryam dengan santainya sambil berkali-kali menyomot keripik kentang dari dalam toples yang sedari tadi dibawa gadis itu ke sana kemari.


"Alesan lu aja itu, mah! Aslinya emang manja!" sungut Rosmawati, kemudian berdiri meninggalkan Maryam sendiri di sofa. Dia berjalan menuju dapur sambil sesekali mengawasi sahabat kembar siamnya yang tak berhenti mengunyah itu.


"Duh, padahal baru sehari dia di sini, rasanya udah kayak setahun," keluh Rosmawati sembari mengusap dahi. Dia pun mengambil air dari dispenser dan meneguknya perlahan.


"Ambilin gue minum juga, yak!" tepukan keras di punggung Rosmawati yang tengah asyik minum, membuatnya tersedak dan terbatuk.


"Ya, Allah Gusti. Ampuun!" seru Rosmawati seraya mengelus dada. "Nih, ya, Tuan Putri. Ini dispenser, itu gelas. Jaraknya cuma 50 senti dari tempat lu berdiri, tinggal angkat kaki kanan, luruskan tangan, nyampe deh itu gelas!" omelnya dengan nada tinggi.


"Lu lupa lagi, ya, kalau gue lagi hamil," Maryam menyeringai lucu sambil memutar-mutar telunjuknya tepat ke arah wajah Rosmawati.


"Denger ya, Mumun! Bodo amat mau lu hamil kek, mau nungging, mau ajeb-ajeb, gue nggak peduli! Karena apa? Karena elu nyusahin! Emak gue aja dulu hamil berapa kali, masih tetep dia ngayuh becak. Buktinya, anak-anaknya pada sehat dan bahagia semua! Tiap tahun brojol malah," cerocos Rosmawati.


"Yee, itu kan duluu! Kalau sekarang mah beda. Bumi udah semakin tua, Jem," tutur Maryam polos seakan tanpa dosa.

__ADS_1


"Apa hubungannya sih, Mun? Aduh, pusing gue. Mana Panda lembur lagi," Rosmawati mulai merengek. Dia sengaja memutari tiap sudut ruang apartemen untuk menghindari Maryam yang selalu mengikutinya, tapi tak berhasil. Gadis oleng itu terus mengikuti langkahnya.


“Jem, kenapa sih ga diem aja? Cape gue ngikutin elu, gue kan lagi hamil. Kata aa Jamie, gue ngga boleh cape dan harus selalu menjaga asupan makanan, jangan sampai si utun inyi dalam perut gue ini sampe kelaparan,” ujar Maryam seraya mengelus-elus perutnya yang belum terlalu besar.


"Siapa suruh elu ngikutin gue? Diem aja di pojokan napa?" Rosmawati mendengus kesal. Bibirnya terlihat bergerak-gerak seperti rok tertiup angin.


“Elu tuh ya, hamil ngga hamil nyebelinnya sama. Astagfirullah, dosa apa gue harus ketemu sama orang macam gini,” keluhnya sambil terus mengelus dada. Akan tetapi, Maryam malah senyam-senyum sambil melanjutkan acara ngemil cantiknya demi si jabang bayi di dalam perut.


“Sini deh gue injek jempol kaki lu, biar elu bisa cepet hamil kaya gue. Kalo kita hamil barengan, entar kita bisa lahiran barengan juga. Anak kita nantinya jadi sahabat baik bagaikan Spongebob dan Patrick,” celoteh Maryam seraya duduk selonjor di atas sofa. “Eh, jem. Ambilin gue bantal dong, pegel nih punggung gue. Aduh, ternyata gini ya rasanya hamil,” ujarnya lagi. Ia tak henti-hentinya membuat Rosmawati merasa dongkol.


Akan tetapi, bukannya menuruti perintah dari Maryam, Rosmawati justru malah duduk di kursi dekat sofa panjang tempat Maryam berada. “Eh, Mun. Elu bisa hamil kaya gitu setelah berapa kali proses penggorengan?” tanya Rosmawati penasaran. “Pake gaya level berapa?” tanyanya lagi polos.


“Sebenernya elu inget ngga sih, Mun?” nada bicara Rosmawati mulai meninggi karena kesal dengan tingkah ibu hamil itu.


Maryam menoleh dan tersenyum polos. Seperti biasa ia menunjukan wajah lugunya yang tanpa dosa dan tampak menggemaskan seperti si Molly. Sesaat kemudian, Maryam pun menggeleng . “Elu kan tahu kalo gue pelupa, apalagi dalam keadaan hamil gini. Otak gue ngga kuat kalo dipaksa harus berpikir keras. Kata aa Jamie, gue harus banyak istirahat dan rebahan. Gue juga ….”


Rosmawati beranjak dari duduknya dengan jengkel. Ia bahkan mendengus kesal sambil menendang bagian bawah sofa. Nyonya Hayder itu berlalu ke kamarnya sambil menggerutu. “Kapan mr. Edder balik dari Liverpool? Eneg gue lama-lama!” Rosmawati membanting pintu kamarnya.


Sedangkan Maryam kembali menikmati keripik kentang sambil sesekali mengusap-usap perutnya. , “Dengerin mommy ya, nak. Jangan sampai nanti kamu jadi pemarah kaya Ijem. Orang yang suka marah-marah jodohnya jelek,” ujar Maryam. “Eh, tapi … Ijem ko jodohnya cakep ya? Oh, mungkin Ijem dapat pengecualian.” Maryam terkikik sendiri.

__ADS_1


Rosmawati benar-benar stress. Padahal dulu ia menghabiskan waktu yang lama tinggal bersama Maryam. Namun, entah kenapa saat ini sahabat kembar siamnya itu dirasa semakin menyebalkan dan menyusahkan. “Mun, Mun. Ngga dulu, ngga sekarang, elu masih aja bikin kepala gue nyut-nyutan,” keluh Rosmawati seraya merebahkan dirinya di atas kasur sambil menatap langit-langit kamar. Angannya mulai melayang tak karuan.


"Gimana ya, rasanya hamil?" Rosmawati mulai mengusap-usap perutnya yang rata. "Nanti anak gue mirip siapa, ya? Mudah-mudahan ganteng banget kayak Panda," gumamnya lagi.


"Aduh, Panda. Kok nggak pulang-pulang, sih?" gadis oleng itu mulai kalut. Rosmawati lalu berdiri dan memutuskan untuk keluar kamar. Dilihatnya Maryam yang sudah tertidur di sofa sambil memeluk toples camilan, sementara mulutnya penuh remahan. Posisinya yang telentang mengingatkan Rosmawati pada kucing piaraan Nining, adiknya. Kucing itu juga memiliki kebiasaan tidur yang sama dengan Maryam saat kekenyangan.


Tak berapa lama, pintu apartemen tiba-tiba terbuka. Mehmet masuk dengan wajah ceria, meskipun kemeja yang dikenakannya sedikit acak-acakan. "Assalamualaikum, yaa Azizaa (sayangku)," sapanya mesra.


"Pandaa!" Rosmawati segera menghambur ke pelukan suaminya. Direngkuhnya tubuh atletis itu erat-erat, sampai Mehmet kesulitan bernapas.


"My love, ada apa?" tanya Mehmet sambil berusaha melepaskan tangan Rosmawati yang melingkar di tubuhnya.


Rosmawati yang awalnya menempelkan wajahnya di dada bidang Mehmet, kini mendongak dan menatap suaminya lekat-lekat. "Panda," panggilnya lirih. Sorot matanya berubah sendu.


"Kenapa lagi, Sayangku? Kau bertengkar dengan Mary?" tebak Mehmet.


Rosmawati menggeleng kuat-kuat. "Panda," rengeknya lagi.


"Iyaa," sahut Mehmet penuh kesabaran. Entah berapa banyak stok sabar yang dimiliki Zayn Malik kw 1 itu.

__ADS_1


"Hamili aku," bisik Rosmawati lirih, namun cukup untuk membuat bulu kuduk Mehmet meremang.


__ADS_2