Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Love Is In The Air


__ADS_3

Jamie Scott terus tertawa. Ia baru berhenti ketika akhirnya ia menyadari jika ketiga orang itu tengah memperhatikannya sambil melongo. Jamie Scott pun mendehem pelan dan kembali pada sikap kalemnya.


"What? Is there something wrong?" Tanya Jamie Scott. Ia mencoba menutupi kekonyolannya saat itu.


"No!" Sahut mereka bertiga dengan serempak.


"Oh ... Tuhan, harga diriku!" Gumam Jamie Scott dengan setengah menggerutu di dalam hatinya. Ia pun mengusap-usap keningnya beberapa kali. Ia tidak pernah sekonyol itu di hadapan siapa pun, selain pantulan dirinya di dalam cermin.


Perbincangan hangat pun terus terjadi. Berkali-kali Maryam membuat pasangan suami istri itu tertawa terpingkal-pingkal, bahkan hingga membuat John Eder sampai tersedak.


Saat itu ia baru memasukan bola-bola daging buatan Maryam dan lupa untuk mengunyahnya terlebih dahulu.


Mrs. Harlekin pun terkejut. Dengan sigap ia membantu sang suami, hingga akhirnya bola-bola daging itu dapat dikeluarkan lagi.


"Are you okay, Mr. Eder?" Tanya Maryam cemas.


"Ya, Mary. I'm fine!" Sahut John sambil terengah-engah. "Sebaiknya aku ke kamar saja," ujar John lagi, ia kemudian melirik istrinya.


"Biar kubantu!" Ucap Mrs. Harlekin. Ia pun segera memapah pria botak itu. Sebelum berlalu, Mrs. Harlekin pun berpesan kepada Maryam, "Mary, nanti tolong bereskan meja makannya!"


"Siap, Mrs. Harlekin!" Sahut Maryam sambil berdiri. Setelah itu ia duduk kembali dan menggumam pelan, "Kur gara-gara kaseglong jadi ogoan kitu eta si mister."


(Hanya karena tersedak jadi manja gitu si tuan)


Tanpa berlama-lama, Maryam pun membereskan piring bekas di atas meja makan itu. Ia bahkan mengambil piring milik Jamie Scott yang masih penuh dengan makanan. Tentu saja hal itu membuat Jamie Scott kembali melotot kepadanya.


"Hey, Mary! You are so annoying! Aku baru menyuap tiga sendok makan!" Sentak Jamie Scott.


Namun Maryam tidak mendengar. Ia berlalu begitu saja ke dapur, seperti biasanya tanpa rasa berdosa sama sekali.

__ADS_1


"Jamie, kalau Mary sudah selesai, antar di pulang. Berterima kasihlah padanya karena sudah mengembalikan ceriamu!" Seru Mrs. Harlekin dari dalam kamar.


Jamie Scott hanya bisa menghela napas panjang. "Semoga dia tidak mengajak ke tempat-tempat aneh lagi," batinnya.


Sementara itu di tempat lain, Rosmawati yang baru pulang kerja tengah mencari udara segar sambil berjalan-jalan di tepian sungai Thames, di mana biasanya Mehmet berjualan hotdog.


Akan tetapi, sudah beberapa hari ini Zayn Malik KW 1 itu tidak berjualan. Ia bahkan sudah lama tidak terlihat.


"Kemana sih si Memet? Aku kan kangen hotdognya," gerutu Rosmawati pelan. 


Sekilas senyum Memet terlintas di kepala Rosmawati, namun buru-buru ia tepiskan. "Ngapain sih mikirin dia? Kan jodohku mas Justin," gumamnya lagi sambil menggeleng-gelengkan kepala.


Rosmawati pun duduk sendiri di salah satu bangku yang ada di sana. Sedikit merenungi hidupnya, ia pun merasa rindu akan kebengisan mak Katemi dengan centong ajaibnya. Ia juga rindu pak Rozi yang tampak lebih bahagia di pasar dengan ibu-ibu pembeli, daripada meladeni mak Katemi yang selalu mengeluarkan jurus naga api setiap saat.


"Hi, Ros! What are you doing here?" Terdengar sebuah sapaan dari suara yang amat sangat sudah Rosnawati kenal. Gadis itu pun sontak menoleh.


Justin Blake sudah berdiri tidak jauh darinya. Ia menatap Rosmawati dengan mata abu-abunya yang indah. Sesaat kemudian, ia pun berjalan dan menghampiri Rosmawati. Duduk tepat di sebelah gadis itu, Justin mengarahkan tatapannya pada sungai Thames yang tenang.


"Ya, Tuhan.. Dia duduk di sampingku ...." lonjak gadis itu dalam hati.


"Ya, Tuhann ... tapi aku belum mandi dari pagi," batinnya lagi.


Seketika Rosmawati sangat menyesali kebiasaannya yang malas mandi. Dia teringat pagi tadi, karena terlalu lama bereksperimen dengan skin care, dia sampai melewatkan jadwal mandi yang seharusnya adalah hari ini. Untungnya dia sudah menghabiskan separuh botol parfum untuk menyamarkan bau keteknya.


"It's a beautiful night, isn't it?" Ujar pria dengan rambut pirang kecoklatan itu. Malam ini ia terlihat sangat tampan dengan kemeja putihnya.


"Yes it is, Sir," sahut Rosmawati pelan. Tiba-tiba hatinya bergemuruh seperti suara radio rusak milik pak Rozi dulu.


"Kenapa sendirian di sini, Ros?" Tanya Justin Blake lagi seraya melirik Rismawati yang sudah kegeeran karena pertanyaan itu.

__ADS_1


"Saya ... saya ... saya menunggu uang kaget, Mr. Blake! Surprise money!" Jawab Rosmawati sekenanya. Setelah itu ia memalingkan mukanya dengan ekspresi wajah meringis, ia merasa sedih karena jawaban bodohnya sendiri.


"A what?" Raut muka Justin terlihat bingung.


Rosmawati menepuk jidatnya. Jelas Mr. Blake tak akan paham, di Inggris tidak ada acara televisi yang menampilkan pria berjenggot sambil membawa uang sekoper.


"I'm sorry, Mr. Blake," Rosmawati menutup mulutnya dengan telapak tangannya.


"Call me Justin, by the way!" Pinta Justin Blake, "kita tidak sedang di kantor saat ini," lanjutnya dengan nada bicara yang terdengar sangat merdu di telinga Rosmawati.


"Oh ... um ... saya ... anu ...." Rosmawati menjadi sangat grogi dan mati gaya. Ia tidak tahu harus berbuat apa selain garuk-garuk kepala.


"Kenapa, Ros? Are you okay?" Tanya Justin Blake. Ia merasa heran dengan sikap gadis itu.


"Okay, Mr. Blake ... eh Mas ... eh Justin!" Sahut Rosmawati dengan segera.


Justin terkekeh melihat tingkah Rosmawati. "Hari ini kamu aneh sekali, Rose," ujarnya. "Di kantor tadi kamu juga terlihat murung. Tidak biasanya.." Justin mengusap dagunya, seakan berpikir.


Dada Rosmawati berdebar kencang, "Jadi ... jadi ... A-anda sering memperhatikan saya?" Hidung gadis itu kembang kempis saking bahagianya. Ia sama sekali tak menyangka jika pria pujaannya ternyata memperhatikannya dengan diam-diam.


Tiba-tiba sebuah pikiran terlintas di kepala Rosmawati. "Berarti ramalan madame Jul tepat! Dia bilang laki-laki yang mencintaiku dalam diam. Mas Justin benar jodohku, Ya Tuhaan," Rosmawati bersorak sorai dalam hati.


"Tidak juga, sih! Kamu sering sekali lewat di depanku dan membersihkan ruanganku. Jadi yah ... mau tidak mau aku melihatmu di depan mataku," ucapan Justin membuat hati Rosmawati kembali menciut.


"Baiklah, kalau begitu. See you tomorrow. Jangan lupa, besok datanglah pagi-pagi, ya!" Pesan Justin Blake, "tolong bersihkan ruangan meeting dan buatlah serapi mungkin! Aku akan menggunakannya jam delapan pagi," Justin pun berdiri dan menepuk celananya sebentar sebelum bergegas pergi.


"Apakah besok akan ada tamu penting lagi, Sir?" tanya Rosmawati setengah berteriak, karena jarak Justin dengan dirinya yang semakin menjauh.


Justin segera membalikkan badan ke arah Rosmawati sambil tetap melangkah mundur. "Yeah, besok aku akan menandatangi MoU bersama Sheikh Abu Dhabi," jawabnya. Ia pun berbalik dan melangkah pergi meninggalkan Rosmawati sendirian.

__ADS_1


Rosmawati pun hanya tersenyum. "Semoga berhasil, Beib!" Gumamnya dengan penuh haru.


__ADS_2