
Mary masih asyik berceloteh meskipun Jamie hanya memandanginya dengan tatapan jenuh. Pria itu hanya berharap agar waktu bisa cepat-cepat berlalu dan ia akan segera terbebas dari radio rusak itu.
"Aa ... Aa, tau nggak kalau Aa tuh mirip aktor idola Neng?" Kerling Maryam dengan manjanya.
"I don't know and I don't want to know!" Tegas Jamie Scott. Ia bahkan tidak melirik Maryam sedikit pun.
(aku tidak tahu dan tidak mau tahu!)
"Aa tuh mirip sama aktor Jamie Dornan. Itu loh, pemeran Mr. Grey di Fifty Shades of Grey," ujar Maryam tanpa menghiraukan kalimat yang bernada ketus dari Jamie Scott.
"Hhh ... i don't care, Mary!" Jamie Scott menghela napas panjang. Tiba-tiba saja hidupnya terasa berat. Jauh lebih berat dibandingkan saat ditinggalkan oleh calon istrinya dulu. Berada di dekat Maryam, rasanya lebih memusingkan jika dibandingkan dengan pekerjaannya sebagai seorang arsitek.
"Ya ampun ... you look so cute, Aa," ujar Maryam dengan mata berbinar. Ia pun menggerak-gerakan tubuhnya seperti anak kecil.
"Is that it?" Jamie Scott mengernyitkan keningnya.
(Hanya itu?)
"Hmm?" Maryam menggeleng tak mengerti dengan arah pertanyaan Jamie Scott.
"Apakah hanya itu yang kamu lihat dari aku? Sekedar ketampanan?" Tuding Jamie.
"Well, Aa juga baik ..." sahut Maryam yang tadinya antusias menjadi agak ragu. Kedua bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan.
"Darimana kamu tahu kalau aku baik? Bukankah selama ini aku selalu bersikap ketus padamu?" Cecar Jamie Scott. Pandangannya begitu tajam menembus jantung Maryam yang mulai berdetak tak karuan.
"Aa baik. Aa bersedia mengantarkan ibunya ke dokter. Aa juga mau membelikan obat untuk beliau," jawab Maryam seraya meringis. Ia baru sadar jika jawabannya terlalu receh.
Jamie Scott menggeleng-gelengkan kepalanya sambil tersenyum sinis. "Unbelievable! Ternyata semua wanita itu sama!" Sindirnya kecewa.
"Hah? Sama dengan siapa, A?" Tanya Maryam dengan mata terbelalak. "Memang sih ... banyak yang bilang kalau aku mirip Emma Store," ucap Maryam bangga.
"Kalian semua sama! Menilai segala sesuatu hanya dari permukaannya saja! Begitu mudahnya kalian tertarik pada paras tampan namun tanpa berniat mengenal sisi lainnya dengan lebih dalam," tandas Jamie Scott. Ia lalu terdiam untuk sejenak.
"Kalian mudah sekali jatuh cinta, tapi juga mudah meninggalkan!" Keluh Jamie Scott lagi. Ia kemudian berjalan menjauh dan meninggalkan Maryam begitu saja. Sementara Maryam hanya bengong mendengar ucapan Jamie Scott yang sama sekali tidak ia mengerti.
"E ...eh ... Aa! Tunggu!" Maryam segera berlari mengejar pria tampan itu.
__ADS_1
"You know what?" Jamie Scott tiba-tiba berhenti berjalan dan berbalik ke arah Maryam.
"Jangan dekati aku lagi! Aku sudah muak! Tipe gadis sepertimu hanyalah tipe gadis yang histeris di awal dan gampang bosan di akhir!" Tunjuk Jamie Scott lagi sambil terus berjalan mundur.
"Kau hanya akan meninggalkan luka! Jadi sebelum semuanya terlambat, please ... stay away from me!" Pinta Jamie dengan nada tinggi.
Maryam terkesiap. Bulir-bulir air mata sudah ancang-ancang untuk meluncur di pipinya. "Aa ... kok gitu?" Gumam gadis itu dengan lirih. Ia semakin tidak mengerti dengan sikap Jamie kepadanya. Akan tetapi, Jamie sama sekali tak menanggapi. Dia hanya menggeleng kuat seraya berlalu.
Maryam berdiri mematung. Kalau saja itu adalah film India, maka saat itu juga pasti akan langsung turun hujan.
"Ya Tuhan, apakah ini hukuman karena sudah bikin taruhan dan ngembat duitnya?" Gumam Maryam. Ia menyesali kelakuannya sendiri, untuk malam ini. Esok mungkin akan lain cerita.
......................
Rosmawati berkali-kali menendang daun yang terlihat berguguran di sekitar trotoar. Sebal dan marah, itulah yang dia rasakan pada Maryam.
Sahabat kembar siamnya itu lebih memilih berduaan dengan gebetannya, dibandingkan menemani dirinya yang kesakitan akibat pertandingan gulat gaya bebas yang baru saja ia jalani.
Saking emosinya, hingga tanpa ia sadari jika yang ia tendang bukanlah dedaunan lagi. Ia justru menendang tiang lampu yang menerangi trotoar.
"What's the matter, Rose?" Tanya Mehmet lembut. Sedari tadi pria jangkung nan tampan itu sedang asyik mengetik sesuatu di ponselnya.
"Nothing. I'm fine!" Rosmawati nyengir dan melanjutkan jalannya yang sedikit pincang, akibat mencoba olah kanuragan dengan tiang lampu.
Mehmet memperhatikan cara jalan Rosmawati yang sedikit aneh. Ia pun terkekeh geli. "Kau pasti lapar kan setelah menguras energimu sore tadi?" Tanya pria itu sembari tersenyum dengan begitu manis.
"Ah, tidak!" Sahut Rosmawati bersamaan dengan bunyi aneh yang berasal dari perutnya.
Kruyuukkk ....
Rosmawati pun segera memegangi perutnya sambil nyengir.
Mehmet menutup mulutnya menahan tawa. "Ayo, kutraktir! Kebetulan hari ini aku sedang sangat bahagia," ucapnya ceria.
"Bahagia kenapa?" Tanya Rosmawati. Jiwa keponya mulai mencuat ke permukaan.
Mehmet membuka mulutnya, tapi tidak mengucapkan apapun. Dia pun menutup mulutnya kembali.
__ADS_1
Rosmawati mengangkat satu alisnya. "Kenapa sih ni anak? Aneh bener?" Gumamnya pelan.
Sebenarnya Mehmet ingin mengatakan bahwa dia sangat bahagia ketika Rosmawati menyambutnya dengan sorot mata gembira. Mehmet bisa menangkap sorot kerinduan dari Rosmawati saat dirinya muncul dan menyapa gadis itu. Akan tetapi, Mehmet memilih untuk tidak mengatakan apapun juga.
"Kamu ingin makan malam dimana?" Tanya Mehmet pada akhirnya.
"Actually, I miss your hotdog," jawab Rosmawati.
"My hotdog?" Ulang Mehmet.
"Iya, sudah berapa hari aku tidak makan hotdog buatanmu. Aku rindu kamu berjualan hotdog, Met! Ups!" Rosmawati menutup mulutnya. Dia selalu saja kelepasan bicara. Tipe mulutnya adalah tipe mulut tanpa saringan. Segala sesuatu keluar begitu saja dari bibirnya tanpa sensor.
Mehmet tertawa hingga matanya menyipit, membuat Rosmawati sedikit tersihir melihatnya. Akan tetapi, dia segera menepisnya dengan menempatkan bayangan Justin Blake di kepalanya.
"Nggak boleh, nggak boleh, nggak boleh!" Batin Rosmawati sambil menjambak rambutnya sendiri. Untunglah Mehmet pengertian dan sedikit banyak memahami tingkah absurd dari gadis antik ini. Seandainya orang lain yang melihatnya begini, pastilah orang itu sudah berlari pergi karena menganggapnya gila.
"Baiklah, kalau kau mau hotdogku. Aku punya banyak stoknya di rumah. Akan kumasakkan hotdog spesial khusus untuk Rose. Kita makan malam di rumahku, ya!" Ajak Mehmet seraya menggandeng tangan Rosmawati tanpa permisi.
Anehnya, Rosmawati sama sekali tidak protes. Entah kenapa dia menyukai genggaman tangan Mehmet yang hangat dan nyaman.
Petang menjelang malam (matahari terbenam pukul sepuluh malam saat musim panas di Inggris, sehingga malam hari di sana masih begitu cerah layaknya sore hari), Rosmawati tiba di kediaman Mehmet di pinggiran kota London. Sebuah rumah kecil sederhana, namun terlihat asri. Temboknya tebal, tersusun dari batu bata dengan pilar-pilar pintu dan jendela yang berwarna putih. Tanaman bunga merambat tampak tumbuh dengan cantiknya di pot bunga di bawah jendela.
"Come in, Rose!" Mehmet membukakan pintu kayu yang dicat warna biru Navy untuk Rosmawati.
Gadis itu pun melangkah masuk diiringi dengan decak kagum dari bibirnya. Ruang tamunya tak seberapa luas, merangkap sebagai ruang televisi. Ruangan itu tertata begitu apik dan rapi, sehingga menimbulkan kesan sedikit lebar. Sementara di bagian belakang rumah, terdapat dapur yang berukuran lebih luas jika dibandingkan dengan ruang tamunya.
"Aku suka memasak, Rose. Makanya aku membangun dapur yang lebar," jelas Mehmet.
Dengan sigap, dia memakai apron dan membuka freezer yang terletak di samping kulkas. Terlihat sosis dan roti beku berjejer rapi di dalam freezer.
"Kamu pesan berapa hotdog?" Tanya Mehmet seraya menoleh pada Rosmawati yang berdiri di sampingnya.
"Lima!" Jawab gadis itu tegas dan mantap.
Kembali Mehmet menahan tawa. Umumnya gadis-gadis lain akan menjaga image dan citra sempurna di depan lelaki itu. Akan tetapi, Rose berbeda, dia selalu bersikap cuek dan apa adanya. "Lapar atau doyan, Rose?" Kekeh Mehmet.
"Dua-duanya," Rosmawati mengacungkan dua jari membentuk huruf V sambil menggoyang-goyangkannya. Mungkin dia terinspirasi oleh lagu Goyang Dua Jari.
__ADS_1