Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Say Goodbye to Mrs. Harlekin


__ADS_3

Maryam begitu puas melihat hasil kerjanya. Jemarinya cekatan mengirim hasil karyanya ke akun sosmed miliknya dan Rosmawati.


"Seluruh dunia harus tahu passion gue!" Ujarnya dengan berapi-api. "Mereka harus tahu seberapa besar bakat hebat yang terpendam dalam diri gue! Bakat yang selama ini tersembunyi. Dukung gue ya, Jem!" Ucap Maryam lagi sambil mengepalkan tangannya ke atas dengan penuh semangat.


Darah dan niat kuatnya seketika menggelora, membuatnya merasa yakin atas keputusan yang akan ia ambil selanjutnya.


Rosmawati mengernyitkan keningnya. "Emang lu mau ngapain, Mun?" Tanyanya penasaran. Matanya terus berkedip-kedip karena tidak kuat menahan beban yang begitu berat dari bulu mata anti kepalsuan, yang tadi dipasangkan oleh Maryam.


"Lu kenapa? Kremian lu?" Celetuk Maryam melihat sahabatnya yang terlihat seperti anak kecil yang cacingan.


"Duh ... Mun, gue ngga kuat nih ... bulu matanya bisa lu lepasin ngga, sih?" Rosmawati tampak sangat menderita dengan bulu mata lentik dan tebal itu.


"Eh ... jangan! Cantik itu memang menyiksa, Jem. Tahan ya! Elu kan sekarang kerja di kantoran, dapat jabatan bagus ketimbang kemarin, jadi penampilan lu juga harus sedikit lebih elegan. Jangan gaya OG masih lu bawa juga! Ngga sepadan nanti sama gaji yang bakal lu dapet."


"Iya, Mun. Gue pengen sih keliatan cantik, tapi gue susah melek nih! Bulu mata ini rasanya lebih berat ketimbang biaya hidup di London. Ampun ... Gusti Pangeran ... paringono kuat hamba-Mu ini ...." ujar Rosmawati dengan intensitas berkedip yang jauh lebih sering dari biasanya.


"Udah ah ... gue pamit dulu! Gue masih ada urusan yang urgent banget nih!" Maryam segera melingkarkan tas selempang kesayangannya. Ia juga mulai merapikan rambut dan dressnya.


"Emang lu mau ke mana sore-sore gini? Bukan waktunya ngemis jam segini," Rosmawati membalikan badannya dengan kaku kepada Maryam yang sudah berdiri di dekat pintu. Gadis itu sedikit mendongakkan wajahnya karena penglihatannya sedikit kurang nyaman akibat terlalu sering berkedip.


"Gue mau nemuin camer dulu. Mudah-mudahan gue di sana ketemu sama calon imam gue si ganteng kalem itu," sahut Maryam sambil senyum-senyum saat membayangkan wajah Jamie Scott yang tiba-tiba berkeliaran dengan bebas di dalam ingatannya.


"Laah ... kemarin lu masih patah hati sama si Charlie. Sekarang lu udah senyum-senyum bayangin mr. Eder. Emang dasar lu ngga istikomah!" Cibir Rosmawati.


"Yang sudah berlalu biarlah berlalu, Jem. Gue mau mulai hidup baru. Doain ya, biar gue berhasil! Gue mau pamit sama camer gue. Mau resign dari toko dia," ucap Maryam lagi.


Seketika Rosmawati membelalakkan matanya tanpa sadar. Ia seakan lupa dengan bulu matanya yang terasa berat dan penuh. "Yang bener, lu? Emangnya elu udah dapet kerjaan baru?"


Maryam menggeleng dengan tenang.


"Terus? Gimana sama biaya hidup lu sehari-hari?" Rosmawati mulai merasakan firasat buruk dalam hatinya.

__ADS_1


Maryam saat itu terlihat nyengir. Ia lalu memutar handle dan membuka pintu itu. "Kan sekarang elu dah kerja enak, Jem. Gajinya pasti gede. Jadi ...." belum sempat Maryam melanjutkan kata-katanya, seketika Rosmawati melepas high heels yang masih dipakainya karena habis pemotretan tadi. Ia berniat untuk melemparkan sepatu itu kepada Maryam. Dengan segera Maryam melarikan diri dari amukan sahabat kembar siamnya itu. High heels itu pun hanya berhasil mendarat di pintu yang sudah tertutup.


"Kelewatan lu, Mun! Gue harap ngga ada Mumun yang lain di dunia ini selain elu! Bener-bener lebih meresahkan dari begal, Lu!" Umpat Rosmawati. Akan tetapi, tentu saja Maryam tidak mendengar semua itu, karena Maryam sudah berjalan dengan riangnya sambil bersiul-siul cantik menuju rumah mrs. Harlekin.


Sementara itu, Rosmawati menjinjing high heels-nya ke dalam kamar. Ia ingin segera berganti pakaian. Untuk sesaat, ia menatap wajahnya di cermin. "Rose! Kamu akan dihukum! Alasannya karena kamu terlalu cantik dan membuat semua pria menjadi gila!" Celoteh Rosmawati sambil tertawa cekikikan. Dengan perasaan yang mulai normal kembali gadis itu kemudian membuka lemari pakaiannya.


Seketika tumpukan baju yang saling berjejalan dengan tidak beraturan di dalam lemari itu tumpah ruah berjatuhan di badan Rosmawati.


"Mumuuunn!!" Teriakan nyaringnya membahana ke seluruh area flat, sampai-sampai, burung-burung yang bertengger di atap gedung beterbangan ke segala arah.


Maryam yang berjalan kaki di atas trotoar sembari bersiul, langsung menoleh ke belakang, merasakan bulu kuduknya meremang. "Apa'an itu tadi, ya? Kayak ada yang manggil?" gumamnya.


Namun, beberapa saat kemudian, Maryam hanya mengendikkan bahunya, lalu kembali berjalan.


Membutuhkan waktu setengah jam untuk berjalan kaki menuju rumah Mrs. Harlekin. Waktu sudah menunjukkan pukul delapan malam dan langit sudah mulai gelap. Sekarang sudah hampir memasuki musim gugur, sehingga petang datang lebih awal.


Setelah merapikan rambutnya, Maryam mengetuk pintu rumah yang terlihat asri itu perlahan. Dari dalam, terdengar suara wanita berbincang-bincang dengan seseorang.


"Mary! Berani-beraninya ya kamu bolos kerja untuk ke sekian kalinya! Astaga! Harus kuapakan kamu yang nakal ini," omel Mrs. Harlekin seraya mengusap dahi.


Maryam hanya meringis menanggapinya. "Ijinkan saya masuk, Nyonya. Saya akan menjelaskan semuanya," pintanya memelas.


Rasa sayang Mrs. Harlekin yang mengalahkan rasa amarahnya, membuat wanita itu tak tega memarahi Maryam lebih lama. "Masuklah," ucapnya pelan.


"Terima kasih. Wah, anda hendak bersiap makan malam, ya! Kebetulan saya sedang lapar," celoteh Maryam tak tahu malu.


Dia segera menghampiri Mr. Eder yang sudah duduk bersiap di depan meja makan, lalu menyalami pria tua itu. "Apa kabar, Mr. Eder?" sapanya basa-basi.


"I'm great, Mary. How are you?" balas Mr. Eder ramah.


"Saya juga merasa luar biasa, Sir! Tadi pagi saya mendapat pencerahan," jawab Maryam.

__ADS_1


"Pencerahan apa?" Mrs. Harlekin yang berjalan di belakang Maryam, segera menimpali perkataan gadis itu.


"Saya hari ini sudah menemukan passion saya!" ujar Maryam tegas.


"Oh, ya? Apa itu?" Suara maskulin nan seksi tiba-tiba keluar menyapa telinga Maryam. Secepat kilat, Maryam menoleh dan mendapati Jamie Scott sedang berjalan keluar dari dapur, sambil membawa nampan penuh dengan masakan.


"Aa' ..." mata Maryam membulat melihat penampakan tampan di depannya itu. "Ada di sini?"


"Iya, thanks to you. Ibuku kelelahan menjaga toko dan melayani pengunjung hanya berdua dengan anak buahnya yang lain. Aku tak tega melihatnya pontang-panting memasak makan malam sendirian," keluh Jamie.


"Oh, I'm so sorry, Mrs. Harlekin, Mr. Eder dan Aa' Jamieku yang paling tampan. Ma'af karena sudah merepotkan kalian semua. Aku janji akan memperbaiki semuanya besok," ucap Maryam dengan wajah sendu.


"Sekalian aku membereskan pekerjaanku yang terbengkalai di toko untuk terakhir kalinya," lanjut Maryam.


"Terakhir kalinya?" Ulang keluarga Eder serempak.


"Yes! Seperti yang saya bilang tadi. Saya sudah menemukan passion saya. Oleh karena itu, saya meminta ijin untuk mengundurkan diri dari toko anda, Nyonya," tutur Maryam dengan santainya.


"Apaa!!" kembali keluarga Eder berteriak secara bersamaan.


.


.


.


.


.


Hai, kakak yang sudah memberikan hadiah, maafkan keterlambatan up nya yaa.. Padahal otor sudah bersemangat dan rajin. Eh, ga taunya sistemnya lagi sibuk. Review terus dari tadi malem dan baru berhasil pagi ini.

__ADS_1


Mumun and Ijem mengucapkan very very sorry, ya. Luph u all pull daah.. ❤️❤️❤️


__ADS_2