
"Hah? Mahal amat, Mbak? Gak jadi, deh!" Protes pria itu dengan wajah tidak percaya.
"Heleh ... Mas ini sayang duit apa sayang istri sih? Harga segitu ngga sebanding sama biaya operasi plastik istrinya, Mas!" Bujuk Maryam.
"Chop ... chop ... hurry up sebelum pertandingan berakhir!" Maryam memberikan kode agar pria itu segera memberikan uang yang dia minta sebagai bahan taruhan.
"Nggaak, deh! Ini konyol! Kemahalan! Mana sekarang poundsterling lagi naik, lagi!" Tolak pria itu dengan tegas.
"Kayaknya anda ini pengusaha, ya! Kebanyakan mikir untung rugi!" gerutu Maryam. Lalu tanpa pikir panjang, Maryam pun berseru dengan sangat lantang, "Woii ... Mbak yang lagi bertarung sama Rose! Suami Mbak lebih sayang 20 poundsterling ketimbang sama Mbak! Sepulang dari sini, mending Mbak buruan cari suami baru deh!"
Seketika pertandingan pun terjeda. Wanita itu menoleh dan melotot tajam kepada suaminya. Ia tidak terima dengan ucapan Maryam barusan.
Takut akan kemarahan sang istri, pria itu segera memberi kode kepada wanita itu. Ia pun dengan terpaksa merogoh saku belakang celana jeansnya dan mengambil dompetnya. Setelah itu, ia lalu memberikan sejumlah uang yang diminta oleh Maryam.
"Nah ... gitu dong, Mas!" Ucap Maryam sambil nyengir dan menggerak-gerakan alisnya. "Sayang istri ... sayang istri! Lanjutkan Rose!" Seru Maryam lagi sambil menepuk-tepukan uang itu ke telapak tangannya. Gayanya sudah sangat mirip dengan seorang kondektur bus profesional.
Maryam kembali menghampiri Mehmet yang terlihat asik bercampur gemas saat menonton acara tarung bebas itu. Sesekali pria Timur Tengah itu mengepalkan tangan dan berlagak seperti seorang petinju. Tak jarang, ia juga menggerakan kakinya saking gemasnya.
"Kenapa, Met?" Tanya Maryam yang merasa aneh dengan sikap Mehmet.
"Aku gemas, Mary!" Sahut Mehmet dengan nada bicaranya yang sedikit berapi-api dan masih terus menggerakan kaki dan tangannya.
"Yaudah sana, kamu lawan tuh suaminya yang lagi nganggur! Kebetulan dia juga sepertinya lagi gemas kaya kamu deh," celetuk Maryam dengan seenaknya.
Seketika Mehmet mendelik kepada Maryam. Sementara gadis itu hanya cengar-cengar dan seperti biasanya, tanpa rasa bersalah sama sekali.
"Kurang seru nih! Si Ijem payah ah!" Keluh Maryam.
"Woii ... Jem! Keluarin jurus andalan lu, dong! Kita dah bayar mahal-mahal nih!" Seru Maryam sambil terus menepukan uang itu di telapak tangannya.
"Kita?" Cibir pria itu sambil membuang mukanya dengan kesal. Entah mimpi apa pasangan itu semalam karena mereka harus bertemu dengan duo antik itu di sana. "Ya Tuhan! Aku kangen Indonesia!" Terdengar ratapan pilu dari pria itu sambil memegangi keningnya.
Maryam yang saat itu tengah asik menonton jalannya pertadingan, secara tak sengaja melihat kehadiran si ganteng kalem nan rupawan Jamie Scott yang tengah menuju ke sana. Dengan segera ia berlari menghampiri pria jangkung itu.
__ADS_1
"Aa!" Panggil Maryam dengan nyaring.
Jamie Scott pun menoleh dan melambai dengan ragu. "Dia lagi!" Gumamnya pelan. Ia ingin berbalik tapi sayangnya terlambat. Maryam sudah berada di hadapannya.
"Baru pulang ya, A?" Tanya Maryam basa-basi.
"Ya," jawab Jamie Scott dengan singkat. Niatnya untuk melepas lelah dan menikmati angin segar di tepi sungai Thames seketika pudar. Bayangan indah ketenangan yang sejak tadi ia khayalkan seketika sirna setelah bertemu dengan gadis aneh itu.
Akan tetapi, perhatian Jamie Scott pun langsung teralihkan pada keributan yang berjarak tidak jauh dari tempatnya berdiri. Ia seketika mengernyitkan keningnya melihat dua orang perempuan yang tengah saling mengadu ilmu kanuragan.
"Ada apa itu?" Tanya Jamie Scott dengan penasaran.
"Ah ... sudahlah! Abaikan saja, mereka hanya imigran gelap," celetuk Maryam lagi. Sesaat kemudian ia pun segera meraih tangan Jamie Scott dan mengajaknya menjauh dari sana.
"Aa pasti capek kan baru pulang kerja? Ayo, Neng traktir beli es krim! Kebetulan hari ini Neng dapat uang kaget" Ucapnya sambil terus menyeret pria jangkung itu hingga mau tidak mau, Jamie Scott pun mengikutinya.
Kembali ke arena tarung bebas.
Rosmawati dan Jessica terduduk di paving samping sungai Thames. Mereka berdua sama-sama kelelahan setelah mengeluarkan banyak energi untuk saling berteriak dan saling jambak. Hasil akhir dari pertarungan itu adalah seri. Rambut Rosmawati kini seperti singa. Begitu juga dengan penampilan Jessica. Kesan cantik dari seksi pun tak terlihat lagi dari tampilannya saat itu.
"Sini gue lelepin sekalian di sungai! Kali aja lu hanyut sampe ke Indonesia!" Sungut Rosmawati.
"Ihhh ... amit-amit Gusti Pangeran! Paringono kuat, paringono sabar!" Sahut Jessica sambil bergidik ngeri.
"Here you go, Rose," Mehmet tiba-tiba sudah berjongkok di depan Rosmawati sambil menyodorkan sebotol air mineral.
"Makasih ya, Met!" Sahut Rosmawati sumringah. Dia senang, akhirnya penggemarnya kembali. Masalah pilihan hidup, dia tetap berpaku pada Justin Blake.
"Biar kurapikan rambutmu, ya," tawar Mehmet. Tanpa menunggu persetujuan Rosmawati, Mehmet menyisir rambut gadis itu dengan menggunakan tangannya.
"Sekalian pijit pundak ya, Met!" Pinta Rosmawati tak tahu malu dengan napasnya yang masih terengah-engah.
"Ngelunjak, lu!" Cibir Jessica yang sedari tadi melihat adegan di sampingnya itu.
__ADS_1
"Kok sampeyan sing bingung? Memet lho ga bingung!" Balas Rosmawati pada lawan tandingnya dengan ketus.
"Aku lek nduwe pacar koyok awakmu, wes tak kintirno kali!" Damprat wanita seksi itu. Ia lalu melirik Mehmet yang saat itu hanya tersenyum kalem.
(Aku kalau punya pacar kayak kamu, udah kuhanyutin di sungai)
"Mangkane ojok pacaran ambek arek wedok!" Balas Rosmawati asal.
(Mangkanya jangan pacaran sama cewek!)
"Dih, dasar oleng! Awas ya kalo kita ketemu lagi nanti di Indonesia!" Ancam Jessica yang kemudian beranjak dari duduknya. Ia lalu menghampiri sang suami yang ternyata tengah asyik mengobrol dengan seorang pria bule.
Rosmawati hanya membalas kata-kata wanita itu dengan sebuah cibiran. Ia pun melirik ke samping kanannya di mana Mehmet berada.
"Ganteng juga si Memet dari samping," pikir Rosmawati dalam hati. Namun ia segera menepiskan fikiran itu. Ia masih mengarahkan sasaran tembaknya kepada sang bos tampan, yaitu Justin Blake.
"Eh, Met! Kamu sakit apa?" Entah kenapa tiba-tiba Rosmawati menjadi peduli pada pria Timur Tengah itu.
"Biasa, Ros! Panas dingin. Awalnya aku dikasih makanan sama tetangga di dekat tempat tinggalku. Tiba-tiba aku kena diare. Setelah itu malah berlanjut jadi panas dingin, Ros," tutur Mehmet. Wajahnya memang masih tampak sedikit pucat.
"Yaah ... kasian amat kamu, Met? Selama sakit siapa yang ngurusin?" Tanya Rosmawati lagi.
Mehmet terlihat tidak suka dengan pembahasan itu. Akan tetapi, ia tetap menjawab pertanyaan dari Rosmawati.
"Ada tetangga yang perhatian sama aku, Ros," jawab pria Timur Tengah itu.
"Oh ... sukur deh! Aku fikir kamu balik ke Arab, Met. Aku sama si Mary kangen sama hotdog kamu," ujar Rosmawati. Sesaat kemudian, ia pun tertegun. "Eh ... kamu liat si Mary ngga? Ke mana tuh anak?"
Tanpa menjawab, Mehmet menunjuk pada dua sejoli yang tengah asik duduk berdua sambil menikmati es krim. Terlihat Maryam tertawa riang saat itu. Ia terlihat sangat bahagia.
Seketika emosi Rosmawati yang sudah mereda pun kembali muncul. Ubun-ubunnya kembali panas melihat kelakuan menyebalkan dari sahabat kembar siamnya itu.
"Bener-bener tuh anak! Temen lagi susah dia malah asik pacaran. Pake acara makan-makan es krim segala!" Gerutu Rosmawati.
__ADS_1
"Semoga es krim yang dia beli bukan dari hasil taruhan tadi, Ros," celoteh Mehmet membuat Rosmawati kian ingin meledak.