Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Kegalauan Charlie


__ADS_3

Quen Mary's Garden, menjadi tempat tujuan Maryam dan Charlie Manfred siang itu. Adalah tempat yang sangat terkenal dengan taman bunganya yang indah dan merupakan bagian dari Regent's Park yang tidak boleh dilewatkan, jika kita berkunjung ke kota London.


Diawali dengan melewati sebuah pintu gerbang tinggi berwarna hitam dengan ukiran warna gold di bagian atasnya yang tampak sangat elegan, kita akan disuguhkan suasana indah nan romantis di dalam taman bunga itu. Lautan bunga mawar aneka warna, menghiasi taman itu dan sangat memanjakan mata.


Tidak terkecuali bagi Maryam. Gadis itu terlihat sangat antusias ketika Charlie Manfred mengajaknya untuk berfoto, di atas sebuah jembatan melengkung yang dipenuhi oleh tumbuhan yang cantik.


Segera, Maryam bergaya dengan pose terbaiknya, meskipun dari beberapa foto yang diambil, ternyata hasilnya sama saja. Agak mengecewakan memang, tapi ya sudahlah! Itu memang kenyataannya.


Setelah puas berfoto ria di atas jembatan, Maryam kemudian mengajak Charlie Manfred menuju sebuah danau buatan dengan air yang terlihat sangat bersih. Di sekeliling danau itu, terdapat banyak tumbuhan yang menambah suasana menjadi semakin syahdu. Maryam dan Charlie Manfred kembali berfoto ria di sana, bahkan ada salah satu foto di mana ketika Charlie Manfred tengah mencium pipi Maryam.


Namun, satu hal yang tiba-tiba membuat Maryam tertarik ialah, seorang pria yang tengah berdiri dengan gaya super kalem seraya menatap air danau yang tenang. Pria itu tampak sedang melamunkan sesuatu.


Pria keturunan Timur Tengah, Zayn Malik KW 1 yang saat itu memakai T Shirt lengan pendek berwarna hitam. Mehmet, ya siapa lagi jika bukan Mehmet. Always about Mehmet.


Spontan, Maryam memanggil pria itu dengan nyaring. "Met! Woiiiii ...." serunya, membuat Mehmet yang hanya berdiri dengan jarak sekitar lima langkah saja dari Maryam segera menoleh.


"Mary? Hai," sapa Mehmet dengan sikapnya yang lembut, yang seketika membuat dada Charlie Manfred yang cemburuan menjadi bergemuruh. Terlebih ketika Maryam menghampiri pria itu dan menyapanya dengan sangat akrab.


"Ke mana saja, Met? Aku dan Rose sering nyariin kamu. Kamu ngga jualan lagi ya?" Tanya Maryam seraya meletakan lengannya di pundak Mehmet, seperti kebiasaannya.


"Iya, Mary. Aku sedang tidak mood untuk berjualan. Kamu sendiri tidak kerja?" Mehmet bertanya balik.


"Yee, kalo aku kerja ngga mungkin aku ada di sini. Ngaco lu, Met!" Jawab Maryam seenaknya.


Seketika Mehmet tersenyum dan menunjukan deretan giginya yang rapi, putih, bersih, tanpa karang gigi sedikitpun. Mehmet pasti rajin melakukan perawatan gigi, karena giginya terlihat sangat sempurna, jauh sekali dengan gigi kang Dayat, tetangga Maryam di kampungnya.


Konon menurut cerita istrinya yang bernama ceu Enur, kang Dayat hanya akan menyikat gigi jika sebelum mandi sudah disiapkan terlebih dahulu oleh sang istri. Jika ceu Enur lupa menambahkan odol, maka kang Dayat akan menggosok gigi tanpa memakai odol.

__ADS_1


Pernah suatu hari, kang Dayat mengira jika yang ia pencet dan ia letakan isinya di atas sikat giginya adalah odol. Seketika ia muntah-muntah, karena ternyata itu adalah pembersih wajah milik putrinya yang bernama Titin.


(Oke, lupakan tentang kang Dayat. Kita kembali ke Mehmet dan Maryam)


"Mary, bagaimana hubunganmu dengan mr. Eder?" Tanya Mehmet yang belum menyadari keberadaan Charlie Manfred di sana.


Seketika Maryam melotot kepada Mehmet. Ia meletakan telunjuk pada bibir pinky rose-nya. Dengan lirikan matanya, Maryam menunjuk ke arah Charlie Manfred berdiri.


Mehmet tersentak. Ia baru menyadari keberadaan pria tinggi besar itu. Entah Mehmet menganggap Charlie Manfred sebagai batang pohon mungkin, karena kebetulan pria itu memakai T Shirt panjang berwarna coklat, dan Charlie Manfred sendiri berdiri di dekat pohon.


"Ow ... sorry," bisik Mehmet.


Maryam kemudian menoleh kepada Charlie Manfred yang terus melayangkan tatapan intens kepadanya. Kedua daun telinga pria itu terlihat sudah memerah, akibat menahan rasa cemburu yang berlebihan.


Maryam tersenyum. "Aa, ayo kemari!" Ajak Maryam.


Charlie Manfred kemudian menghampiri Maryam dan Mehmet.


Mehmet segera mengulurkan tangannya dan mengajak aktor tampan itu untuk bersalaman.


"Apa kita pernah bertemu?" Tanya Charlie Manfred. Ia tampak mengingat-ingat sesuatu.


"Ya. Di depan flat Mary," jawab Mehmet seraya tersenyum.


Charlie Manfred mengangguk pelan. Ia teringat akan perselisihannya dengan Jamie Scott malam itu. "Oh ... iya, aku ingat. Anda pacarnya sahabat Mary, kan?" Tanya Charlie Manfred dengan tiba-tiba membuat Mehmet tersipu.


"Eh ... kebetulan, Met! Aku baru inget sesuatu!" Seru Maryam membuat kedua pria kalem itu seketika terkejut dan melonjak kaget. Akan tetapi, Maryam tampak biasa saja.

__ADS_1


"Met, kamu tau ngga kalo si Rose udah resign dari perusahaan tempat dia kerja? Pagi ini aku liat dia lagi bkin surat pengunduran diri," terang Maryam.


Mehmet mengernyitkan keningnya dan menatap Maryam. "Really? Why?" Tanyanya.


Maryam hanya mengangkat kedua bahunya. "Semalam tuh, ya ... dia keliatan kacau banget, lebih kacau dari gelandangan yang biasa tidur di depan toko mrs. Harlekin. Pas aku tanya kenapa? Dia malah sibuk baca puisi. Aku rasa ... saat ini, si Rose jiwanya lagi terguncang, Met! Ngga tau deh apa alasannya. Biasanya dia baru cerita kalo masalah hidup dia dah kelar. Jadi, apa gunanya aku sebagai sahabat dia, coba?"


"But ... aku rasa itu jauh lebih baik. Jadi aku ngga usah ikut mikirin masalah orang. Masalah aku aja udah seabreg. Belum lagi ya, Met ... bulan ini aku punya hutang sama si Rose yang udah tiga bulan belum aku lunasi. Terus bulan depan gajiku pasti dipotong sama mrs. Harlekin, karena aku dah sering bolos, duh ... Met! Kira-kira aku mesti ngepet di mana?" Maryam mulai memasang wajah sendu dengan bibir yang sudah bergetar menahan haru. Sementara kedua pria itu hanya melongo dan diakhiri dengan saling pandang. Mereka tidak mengerti apa yang sedang Maryam ceritakan saat itu.


"Terus Met, ini nih yang paling seru. Semalam Si Ros ngigau. Dia panggil-panggil nama kamu, lho!" Beber Maryam antusias.


"Memet ... Memet ... I'm sorry.. Forgive me, baby!" Ujar Maryam menirukan gaya Rosmawati. Tentu saja dia menambah-nambahi bagian Forgive me baby-nya.


"Dia ngomong begitu sambil peluk-peluk guling, Met. Abis dipeluk, dibanting deh tuh gulingnya," celoteh Maryam. "Aku rasa ya, Met ... si Rose tuh kayaknya lagi brokern heart, deh!" imbuh Maryam lagi. Omongannya semakin ke sana-kemari.


"Masa sih, Mary?" Terlihat pipi Mehmet bersemu merah mendengarkan cerita Maryam. "Apa ada hubungannya dengan kejadian malam kemarin lusa, ya?" Telisik Mehmet dengan setengah bergumam.


"Kejadian apa?" Maryam membulatkan matanya.


"Waktu itu ... Rose hendak dianiaya orang tidak dikenal. Untunglah aku cepat datang," jawab Mehmet enteng.


"Wah, nggak mungkin! Nggak ada yang berani menganiaya si Ijem! Yang ada tuh, malah dia yang menganiaya," sanggah Maryam dengan nada berapi-api. "Kalopun iya ... waduh ... Met! Jangan-jangan otak warasnya kepukul terlalu keras sama yang nyerang dia?" Maryam tampak bergidik ngeri.


"I swear, Mary! Aku ada di sana. Aku mengikuti Rose sejak sore dan aku melihat beberapa orang pria berbadan tegap mengikutinya. Lalu ...." Mehmet tak melanjutkan ceritanya. Tiba-tiba saja, bayangan wajah sedih Rosmawati berkelebat di benaknya.


"Maaf, aku harus pergi. Bye bye, everyone!" Mehmet bergegas pergi meninggalkan Maryam yang masih terbengong-bengong.


"Eh ... dasar endog kacingcalang, nte puguh alang ujurna!" Umpat Maryam.

__ADS_1


(Ga usah ditranslate. Bagi yang mengerti saja. Ok!)


Sementara Charlie Manfred kini raut wajahnya berubah 180 derajat, dari ceria menjadi murung. Seperti ada sesuatu yang berat, yang pria itu pikirkan.


__ADS_2