
Dengan perasaan cemas, Mehmet menelepon Rose untuk yang ke sekian kali. Akan tetapi, masih juga tidak diangkat. Mehmet pun mengakhiri panggilan teleponnya sambil menunduk lesu. Dia menyandarkan punggung tegapnya pada dinding luar gedung flat. "Rose, kemana dirimu? Kenapa perasaanku tidak enak?" Gumamnya pelan.
Agak lama Mehmet bersandar di tempat itu, sampai beberapa kali gadis-gadis muda lewat dan mengerling nakal kepadanya. Sebuah godaan yang sama sekali tidak dipedulikan oleh Mehmet. Bahkan ada salah seorang gadis yang melemparkan secarik kertas dan ternyata bertuliskan nomor telepon beserta namanya. Mehmet hanya meremas kertas itu dan membuangnya ke tempat sampah.
Hal itu bukanlah pertama kalinya bagi Mehmet. Mendapat godaan dari gadis-gadis muda, maupun emak-emak genit yang berusaha menarik perhatiannya saat ia menjuali hotdog. Tapi Mehmet sama sekali tidak tertarik. Fokusnya dari dulu hingga sekarang adalah Rosmawati seorang.
Tidak berselang lama, akhirnya yang ditunggu-tunggu telah datang. Dengan senyum ceria, Rosmawati turun dari sebuah mobil mewah, bersama seorang pria yang Mehmet ketahui sebagai atasan dari Rosmawati.
Mehmet terdiam dan terus mengawasi. Dia melihat Rosmawati melambai ke arah pria tampan bermata abu-abu itu dan dibalas dengan ciuman dari jarak jauh.
Mehmet mendecih pelan. "Dasar playboy!" Cibirnya. Dia semakin merasa sebal kala melihat Rosmawati berjingkrak-jingkrak senang saat mendapat cium jauh itu.
Tidak tahan, Mehmet menghampiri Rosmawati dan mencolek lengannya, "Darimana, Rose?" Tanyanya.
Rosmawati terkejut dan menoleh. "Eh, Memet! Sedang apa di sini?" Tanyanya masih dengan mode ceria.
"Mencarimu sejak sore tadi," jawab Mehmet dengan nada kesal.
"Eh, kenapa?" Rosmawati keheranan. Perasaan dia tidak meminjam apapun dari Mehmet.
Memang, beberapa hari lalu dia berniat untuk berhutang kepada Mehmet. Namun segera dia urungkan karena gengsi. Selain itu, Rosmawati takut jika pada akhirnya dia tidak sanggup membayar hutang, lalu Mehmet memaksanya membayar dengan cara lain, seperti yang banyak Rosmawati baca di buku-buku novel romantis yang dipenuhi dengan kebucinan tiada tara.
"Aku khawatir saat tidak melihatmu keluar dari kantor," ungkap Mehmet.
Seketika pipi Rosmawati merona. Dia merasa bangga karena diperhatikan oleh Zayn Malik KW itu. "Ya ampun, Met! Makasih ya sudah peduli sama aku. Emak aku aja kadang-kadang lupa kalau punya aku," sesalnya penuh haru.
"Pernah nih, ya! Emak ke pasar mengajak serta aku dan dua adikku. Pas pulang, emak cuma bawa adik-adikku. Sedangkan aku ditinggal di tempat penimbangan beras. Mungkin waktu itu emak punya pikiran untuk menukar aku dengan sembako," celoteh Rosmawati.
"Kamu dari mana sih, Rose?" Tanya Mehmet sambil menahan senyumnya.
"Makan malam sama mas Justin," bisik Rosmawati seraya mendekatkan wajahnya pada Mehmet. "Tahu aja si bos kalau aku doyan makan," lanjutnya sambil cekikikan.
Wajah Mehmet mendadak merah padam. Bukan karena tersipu, melainkan karena cemburu. "Aku peringatkan padamu, Ros. Berhati-hatilah terhadap Justin Blake," ujarnya penuh penekanan.
__ADS_1
"Ih ... kenapa?" Balas Rosmawati dengan nada tinggi.
"Justin Blake tidak sebaik yang kamu pikirkan," jawab Mehmet.
"Ah ... jangan sok tahu kamu, Met!" Protes Rosmawati. Ia tidak suka dengan pendapat Mehmet tentang Justin Blake.
"Dengar ya, Met! Dia adalah bos yang paling baik se kota London. Udah gitu gantengnya ngga ketulungan. Dari luar aja udah keliatan bagus gitu, apa lagi dari dalam. Pasti tidak akan mengecewakan," celoteh Rosmawati dengan penuh percaya diri. Ia tidak sadar jika ucapannya telah amat sangat menyakiti perasaan Mehmet yang lembut dan melankolis bagaikan putri salju.
"Aku hanya mencoba untuk peduli padamu, Ros," ucap Mehmet lagi. Pembawaan pria Timur Tengah itu memang selalu tenang, bagaikan suasana anak sekolah yang sedang ujian.
Rosmawati menoleh sejenak kepada pria dengan bola mata berwarna hazel itu. Ah ... sebenarnya Mehmet adalah pria yang sangat menarik. Dilihat dari sebelah kiri, kanan, atas, bawah, depan, belakang ... dia terlihat begitu perfecto. Akan tetapi, sayangnya kali ini Rosmawati sudah benar-benar tersihir oleh pesona Justin Blake. Pria meresahkan, dengan tingkat keanuan yang sangat tinggi.
"Met, boleh tanya sesuatu ngga?" Tanya Rosmawati lagi tanpa mengalihkan tatapannya dari paras rupawan itu.
Mehmet melirik kepada Rosmawati. Ia kemudian tersenyum kalem seraya mengangguk dengan penuh wibawa. "Iya, Rose. Kamu mau bertanya tentang apa?" Suara dan gaya bicara Mehmet terdengar begitu lembut dan syahdu.
Ada kedamaian yang dirasakan Rosmawati jika ia sedang berbincang dengan Zayn Malik KW 1 itu. Mungkin karena pembawaan Mehmet yang bertolak belakang dengan karakternya.
Mehmet mendehem beberapa kali. Ia tampak tengah memikirkan jawaban yang sesuai dan dirasa aman.
"Aku ... aku tidak punya pacar, Rose," jawab Mehmet pelan.
"Ah ... yang bener!" Ujar Rosmawati seraya menepuk lengan Mehmet.
"Iya, Rose. Aku serius. Aku tidak punya pacar. Memangnya kenapa, Rose? Kamu mau jadi pacarku?" Canda Mehmet seraya tertawa pelan. Padahal dalam hati ia sangat berharap agar Rosmawati mengatakan "iya".
"Ih ... apaan sih kamu, Met? Aku kan jadi geer," ujar Rosmawati seraya tersipu malu. Sementara Mehmet hanya tertawa pelan.
"Sejujurnya, aku sangat mengkhawatirkanmu Rose. Aku harap kamu bisa menjaga dirimu dan lebih waspada. Jangan sampai lengah dan mudah menyerah dengan godaan sesaat," Mehmet memulai ceramahnya.
"Maksud kamu apa, Met?" Tanya Rosmawati dengan tidak mengerti.
Mehmet kembali menoleh kepada gadis dengan rambut ekor kuda yang masih berdiri di sampingnya. Ia kembali tersenyum dengan lembut kepada gadis itu.
__ADS_1
"Seperti yang aku katakan tadi, Rose. Aku harap kamu tidak terlalu dekat dengan bosmu. Aku melihat sesuatu yang agak janggal dari sikapnya," jelas Mehmet.
Seketika Rosmawati mendelik kepada pria keturunan Timur Tengah itu. Lagi-lagi ia merasa tidak terima saat Mehmet berprasangka jelek tentang pujaan hatinya si pria emas, Justin Blake.
"Sudahlah, Met! Aku ngga suka kamu terus menerus bicara seperti itu tentang mas Justin. Kamu bicara seperti itu, karena kamu tidak mampu seperti dia. Iya, kan?" Rosmawati menjadi sangat jengkel dibuatnya.
"Jangan marah, Rose! Aku hanya mencoba peduli padamu," Mehmet meyakinkan Rosmawati yang saat itu mulai beranjak ke arah pintu masuk bangunan flat yang ditempatinya.
"Sudahlah! Pusing aku bicara sama kamu! Makanya, cari pacar biar nggak ngusilin aku melulu, " Rosmawati kembali membalikan badannya dan melangkah meninggalkan Mehmet yang masih berdiri menatapnya.
Entah punya keberanian dari mana, Mehmet kemudian mengikuti gadis itu. "Rose, jangan salah paham dulu!" Pintanya.
"Sana, Met! Sebaiknya kamu pulang!" Usir Rosmawati seraya berniat untuk masuk.
"Rose jangan begitu!" Mehmet segera meraih lengan Rosmawati dan menariknya, membuat tubuh Rosmawati seketika berbalik kepadanya. Dengan cepat, Mehmet memegangi kedua lengan Rosmawati dan membuat gadis itu terdiam ketika ia mulai mencium bibir Rosmawati dengan sangat lembut.
Rosmawati mendadak kaku seperti kanebo kering. Seumur-umur, dia tidak pernah diperlakukan seperti ini. Meskipun dulu dia memiliki banyak mantan di desa, namun tak satupun dari para mantannya yang berani menyentuhnya. Jangankan mencium, memegang tangan Rosmawati saja mereka tidak berani.
Pernah suatu ketika, mantan Rosmawati yang bernama Sapto, nekad berusaha mengggenggam tangan gadis antik itu dan harus berakhir dengan sakit encok, karena Rosmawati refleks membantingnya dengan begitu keras menggunakan jurus karate yang baru dia pelajari.
Niat Rosmawati berpacaran dulu hanyalah supaya ibunya tidak mencurigainya sebagai penyuka sesama jenis karena kelakuan Rosmawati yang memang sedikit tomboy.
Akan tetapi kini, Zayn Malik kw 1 itu dengan berani mendaratkan bibirnya pada bibir Rosmawati. Marahkah gadis itu? Entah. Pikirannya mendadak kosong. Dia seperti ponsel yang baru terjatuh di air, blank!
"Rose, are you okay? Ma'af aku sudah berbuat kurang ajar padamu," sesal Mehmet.
Rosmawati tidak menjawab. Dia hanya menatap datar ke arah Mehmet. "Rasa mint," gumamnya pelan.
"Apa?" Tanya Mehmet.
"Oh, tidak apa-apa," sahut Rosmawati. Dia membalikkan badan dan berniat masuk ke gedung flat. Akan tetapi, tanpa sadar dia malah melangkah memutari gedung.
"Hei, Rose! Where are you going?" Seru Mehmet panik seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1