
Maryam dan Jamie Scott baru kembali dari lari pagi. Semenjak menikah dengan pria bermata abu-abu itu, Maryam selalu bangun pagi dan melakukan olahraga sederhana, salah satunya adalah lari pagi di sekitar apartemen yang mereka tempati.
Sepertinya, kedua sejoli itu sudah kembali rujuk setelah insiden yang diakibatkan oleh munculnya Madison Blaire kemarin-kemarin, karena pada hari itu Jamie Scott dan Maryam sudah terlihat mesra kembali bagaikan kerbau dan burung jalak.
"Hai, Jamie! Good morning," sapa Rahul yang sudah terlihat rapi dengan kemeja kotak-kotaknya. Rambut pria asli India itu begitu rapi tersisir ke sebelah kanan. Entah berapa banyak minyak rambut yang ia habiskan, sehingga rambutnya tampak begitu berkilau dan seakan tak akan tergoyahkan bahkan oleh badai Katrina sekalipun, yang memiliki kecepatan rata-rata hingga mencapai 140 km/jam dengan tinggi 918 milibar.
"Hai, Rahul. Good Morning. Mau pergi, ya?" balas Jamie Scott ramah.
"Iya. Aku sedang menunggu pacarku. Katanya dia mau datang kemari, karena itulah aku sudah mandi dari jam empat pagi," sahut pria berkulit gelap mengkilap itu seraya tersenyum lebar, sehingga memperlihatkan deretan giginya yang rapi dan tampak sangat kontras dengan warna kulitnya.
Jamie Scott dan Maryam saling pandang. Saat itu sudah hampir pukul delapan. Sesaat kemudian, Maryam mendekat ke arah Rahul dan mengendusnya perlahan. "Masih bau sabun," gumamnya.
"Ya, tentu saja. Aku baru selesai mandi sekitar lima belas menit yang lalu," sahut Rahul seraya beringsut menjauh dari Maryam. "Jamie, istrimu seperti si Maldonado, ya?" bisiknya dengan diam-diam dan membuat Jamie Scott seketika mendelik kepadanya. Sementara Rahul hanya cengar-cengir.
"Enak saja kau samakan Mary dengan Maldonado!" protes Jamie Scott.
"Memangnya siapa itu Maldonado?" sela Maryam yang mendengar kasak-kusuk kedua pria beda ras lain negara itu.
"Anjing pelacak milik Sherif Hamilton," jawab Jamie Scott dan Rahul dengan bersamaan. Seketika bibir Maryam pun melengkung seratus persen. Sesaat lagi tangisnya akan segera pecah. Jamie Scott yang sudah dapat mendeteksi hal itu, sigap bertindak. Dengan cepat ia merangkul sang istri. Baru saja kemarin ia harus bekerja keras untuk menenangkan sikap manja Maryam, kini Jamie Scott harus kembali mengulanginya.
"Honey, jangan menangis! Rahul memang sedikit menyebalkan. Sepertinya hari ini ia memakai sikat gigi milik Nyonya Khan, karena itu mulutnya jadi sangat menyebalkan," ujar Jamie Scott.
__ADS_1
"Hey, Jamie! Beraninya kau mengejek ibuku ... meskipun kata-katamu memang benar," ucap Rahul pada akhirnya. Ia tidak jadi ptotes. "Ibuku memang pedas ucapannya. Dulu ia tidak menyetujui hubunganku dengan kekasihku yang sekarang. Dia berkomentar sangat pedas tentang gadis pilihanku itu. Untunglah kekasihku itu bermental baja dan tebal muka, sehingga ia tidak peduli dengan semua ocehan ibuku. Syukurlah, saat ini ibuku sudah merestui kami berdua," tutur Rahul.
"Wah, aku ngga bisa bayangin kalo jadi pacar kamu, Hul," gumam Maryam yang tidak jadi menangis.
"Ya, untunglah kamu jadi istriku. Lagi pula, aku juga tidak akan rela jika Lebah Kecilku bersarang di tempat lain selain hatiku," rayu Jamie Scott membuat Maryam seketika meleleh. Segera dirangkulnya pundak Jamie Scott dengan mesra.
"Ya, amplop ... Aa tuh, biar belum mandi dan keringetan gini masih tetep cakep dan menawan. Aromanya sangat menggoda dan menggairahkan. Beda banget sama si Rahul, biar mandi kembang sehari semalam ngabisin tiga botol sabun kok ngga kinclong-kinclong, ya? Cuma giginya aja yang putih," sindir Maryam. Puas hatinya telah membalas ejekan Rahul yang menyamakannya dengan Maldonado.
"Hey, Rahul. Aku kasih tau ya sama kamu. Sebaiknya kamu jangan pacaran di tempat gelap," ujar Maryam lagi.
"Memangnya kenapa, Mary?" tanya Rahul dengan mimik muka yang tampak sangat serius.
"Karena, nanti pacar kamu dikira pacaran sama gigi doang hi ... hi ... hi ...." Maryam terkikik sendiri. Sementara Jamie Scott dan Rahul hanya saling pandang karena tidak mengerti dengan maksud dari candaan Maryam. "Udah ah, kalian ngga asyik! Aku mau masuk aja, mau mandi," gerutu Maryam kesal.
Maryam segera menoleh kepada gadis yang saat itu tengah berjalan ke arah mereka bertiga. Seketika, matanya melotot dengan sempurna. "Kiki?" seru Maryam dengan rona tidak percaya.
Ya, gadis yang disapa dengan sebutan Tigress oleh Rahul itu memang tiada lain adalah Kiki, tetangga Maryam dulu saat masih tinggal bersama Rosmawati. Kiki pun sama terkejutnya dengan Maryam. Sementara Jamie Scott buru-buru masuk. Ia masih merasa trauma dengan sikap aneh gadis itu.
"Oh my God, Mary!" Kiki memegangi kedua pipinya yang bulat. "Kau di sini? Sejak kapan?" tanyanya.
"Sejak beberapa hari yang lalu. Gue udah nikah sama Aa Jamie ...." Maryam melihat ke kiri dan ke kanannya, mencari keberadaan sang suami yang tiba-tiba menghilang. Suami gue hilang, Ki!" seru Maryam pelan dengan wajah yang terlihat cemas. Akan tetapi, sesaat kemudian tiba-tiba Maryam kembali bersikap biasa saja. "Udahlah, biarin. Entar juga ketemu lagi kalo dia lagi butuh," ujarnya tak acuh.
__ADS_1
"Eh, Ki! Jadi elu pacaran sama si Rahul? Amboi, amboi, serasi sekali kalian," ujar Maryam seraya berdecak tidak percaya.
"Iya, Mary. Sebentar lagi kami akan menikah, tapi kami masih bingung mau mengusung tema apa untuk pesta pernikahan kami nanti," terang Kiki dengan sikapnya yang terlihat berbeda. Hal itu membuat Maryam merasa aneh.
"Ki, elu ko keliatan beda, ya?"
"Apanya yang beda, Mary? Jangan bilang kalo aku keliatan jauh lebih cantik. Oh, itu pasti. Semenjak aku putus sama Sahid dan pacaran dengan Rahul, aku berusaha untuk menjadi wanita seutuhnya yang berkepribadian indah dan elegant. Mungkin sebaiknya kau juga segera mengubah dirimu, Mary. Ingat, ada banyak wanita di luaran sana yang siap menjadi perebut pasangan kita!"
Seketika Maryam terpaku mendengar ucapan Kiki. Ingatannya kembali pada Madison Blaire yang cantik jelita dengan tubuh aduhai. Dengan segera, Maryam berlari masuk ke apartemennya. Hal itu membuat Rahul dan Kiki saling pandang. "Kenapa lagi dia?" gumam Rahul.
"Sudahlah. Dia memang aneh, Kon-dii. Lupakan. Ayo, masuk. Aku sudah tidak tahan ingin memamerkan kawat gigiku yang baru sama calon ibu mertua. Aku juga punya legging baru dengan motif macan tutul. Calon ibu mertua pasti suka," ujar Kiki seraya menggandeng lengan Rahul dan mengajaknya masuk.
Beberapa saat berlalu. Maryam sudah mandi dan berganti pakaian. Ia terdiam di sofa sambil mengelus lembut bulu Orestes. Ucapan Kiki telah sangat menyentil hatinya. Dilihatnya Jamie Scott yang begitu tampan dengan T Shirt biru navy yang begitu cocok dengan warna kulitnya. Pria itu begitu tampan dan memesona dilihat dari sudut manapun. "Ya, ampun! Neng ngga rela kalo Aa direbut sama siapa pun juga. Pokoknya Neng ngga rela!" seru Maryam dengan tiba-tiba, sehingga menjadikan Jamie Scott yang saat itu tengah sibuk membuat gambar rancangan sebuah bangunan menjadi sangat terkejut. Garis lurus yang tengah ia buat pun menjadi berbelok-belok dan berliku-liku seperti cintanya Manis Manja Grup kepada Buyung.
.
.
.
Sambil dengerin Manis Manja Grup, sekalian sambil baca karya keren yang satu ini, yuk. Buruan mampir.
__ADS_1