Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Cross Paths


__ADS_3

Hari ini, Rosmawati resmi berhenti dari perusahaan Mehmet. Lega sekaligus sedih, itulah yang ia rasakan. Langkahnya ringan menuju flat. Ia lalu membuka pintu flatnya. Tampaklah Maryam yan sedang sibuk mengemasi barang-barangnya, yang akan ia bawa mudik ke Indonesia.  Tentu saja dengan dibantu oleh Jamie Scott. Pria itu begitu setia dan sabar dalam menghadapi manusia aneh macam Maryam.


"Jem, buruan! Bawa barang-barang lu yang mau dibawa! Jangan banyak-banyak, ya! Seperlunya aja! Ntar bagasinya nggak cukup, mahal bayarnya!" titah Maryam begitu Rosmawati berdiri di depannya. “Wig lu ngga usah dibawa, lagian ngga akan kepake juga di sana!” celoteh Maryam tanpa melihat ke arah Rosmawati. Ia lebih suka beradu pandang dengan pria tampan yang sedari tadi membantunya berkemas. Maryam bahkan tak henti-hentinya tersenyum dan tersipu malu, karena lirikan nakal Jamie Scott terhadapnya.


 “Eh, ta-tapi, gue belum pesen tiket," balas Rosmawati ragu. Wajahnya terlihat resah.


 "Udah, tenang aja! Dah dibeliin sama Ayank," berubah lagi nama panggilan Maryam untuk Jamie Scott. Kapan hari gadis itu sempat memanggil tunangannya dengan sebutan mbeb dan kakang prabu.


"Tapi ...." Rosmawati masih terlihat ragu.


"Paspor juga siap, semua siap. Surat-surat udah lengkap. Lu tinggal berangkat! Sebaiknya lu bilang terima kasih sama bebeb gue. Selain ganteng dia juga baiknya sampai ke ubun-ubun," potong Maryam sebelum Rosmawati sempat melanjutkan kata-katanya.


"Emang kita mau berangkat kapan gitu?" tanya Rosmawati lagi.


"Ntar malem, jam sembilan. Kita naik penerbangan paling akhir," jawab Maryam lugas.


Sementara Rosmawati Si Gadis Galau, hanya terbengong-bengong mendengarnya.


"Buruan!" sentak Maryam membuat Rosmawati kembali ke alam sadar.


"Oh, oke, oke!" Rosmawati buru-buru memasuki kamarnya dan mulai menyiapkan koper beroda kesayangannya. Ia mulai memisahkan mana yang akan ia bawa nanti malam, dan mana yang akan ia kirim ke Indonesia menggunakan jasa kargo.


Ya, Rosmawati memang berniat kembali ke Indonesia untuk selamanya. Dia sudah lelah hidup di negeri orang. Lebih baik ia bersusah payah dan menangis darah di kampung sendiri. Apalagi, pujaan hatinya sudah pergi menikahi gadis lain.


Sejenak, Rosmawati termenung. "Emang kayak gimana ya muka istrinya? Cakep banget pastinya. Kayak bintang film India. Yang jelas nggak kayak gue, yang mirip figuran aktris kuntilanak membalas dendam," gumamnya rendah diri.


"Pasti cakep, Memet kan ganteng. Mana mau dia sama yang jelek-jelek. Eh ... buktinya dia dulu naksir sama gue ya," lanjutnya lagi. Merasa tak mendapat jawaban dari keruwetan pikirannya, Rosmawati kembali mengemasi pakaian dan barang-barang yang akan ia bawa, hingga tanpa terasa waktu sudah menunjukkan pukul 6 sore.

__ADS_1


"Jem! Udah belum? Kita udah harus berangkat secepat mungkin. Lu mandi duluan, gih!" seru Maryam yang segera ditolak oleh Rosmawati.


"Gue udah mandi tadi pagi," balas Rosmawati dari dalam kamar, dengan berseru pula.


"Tapi kan lu abis keliling, Jem! Entar lu ga bakalan duduk deket gue masalahnya. Gue kan mau duduk deketan sama kakang cayang gue. Kasian gue sama yang bakalan duduk deket sama elu. Kalo gue sih sudah kebal, tapi orang lain belum tentu tahan," seru Maryam lagi dari luar kamar Rosmawati.


"Enak aja! Lu pikir gue kantong sampah? Keringat gue wangi aroma terapi, Munaroh!" balas Rosmawati  sambil terus membereskan kopernya.


"Iya deh, iya! Buruan ganti baju sana!" seru Maryam lagi seraya berlalu dari depan kamar Rosmawati dengan pintunya yang masih tertutup rapat.


Rosmawati mendesah pelan sebelum memilih baju yang akan ia pakai. Saat mengambil sepotong sweater, sebuah foto polaroid terjatuh di antara tumpukan baju. Itu merupakan foto yang ia ambil bersama Mehmet, saat mereka kencan ganda bersama Maryam dan Jamie Scott di pasar malam beberapa waktu silam di kota London.


Mehmet tampak begitu ceria, berpose dengan wajah yang berdekatan dengan Maryam, Setitik air mata kembali menetes di pipinya. Kenangan yang begitu indah. Dalam hati ia berharap seandainya waktu dapat berputar kembali.


Rosmawati kembali mendesah. Malas-malasan, ia mengganti baju, kemudian melepas rok spannya dan memakai celana jeans belel kesayangan. Terakhir, sweater manis yang ia pilih juga ia kenakan di tubuhnya.


Rosmawati pun keluar dari kamar sambil menyeret koper. Di ruang tamu, Jamie Scott dan Maryam sudah siap dan tampil rapi.


"Eh, emangnya kita cuma bertiga aja, nih?" tanya Rosmawati keheranan.


"Iya, Jem. Camer gue baru bisa berangkat besok. Mr. Eder masih ada urusan," terang Maryam.


"Oh, ya udah deh kalo gitu. Yuk," Rosmawati segera membuka pintu flatnya lebar-lebar, membiarkan Jamie Scott dan Maryam keluar terlebih dahulu, sebelum ia mengunci pintunya. Rencana kunci flat itu akan ia titipkan pada Scott Westwood, seorang pria muda lajang super duper ganteng yang menjadi penjaga sekaligus pengelola gedung apartemennya.


Biasanya duo gadis oleng itu akan langsung bersinar ceria melihat penampakan makhluk tampan. Akan tetapi, kini mereka telah berubah. Maryam hanya setia pada sang tunangan. Matanya tak pernah lepas dari wajah tampan Jamie Scott.


Sedangkan Rosmawati, saking patah hatinya, sampai-sampai ia tidak bisa melihat wajah lain selain wajah Zayn Mlik kw 1 itu. Kemanapun Rosmawati memandang, di situ selalu ada wajah Mehmet.

__ADS_1


Singkat cerita, setelah Rosmawati menyerahkan kunci pada Scott, dia pun mengikuti Maryam yang sudah duduk manis di kursi penumpang di samping kemudi. Jamie Scott sendiri yang akan menyetir mobilnya. Tentu saja Rosmawati duduk di belakang dan menjadi obat nyamuk untuk kedua sejoli yang sedang kasmaran itu.


"Sudah siap, semuanya?" tanya Jamie sekedar memastikan.


"Siaap!" jawab Maryam penuh semangat.


"Siap," sahut Rosmawati dengan versi lesu.


"Bye-bye, Britain. Bye-bye, Memet, hiks," gumam Rosmawati seraya mengusap air mata yang jatuh di pipi.


Tanpa mereka bertiga sadari, beberapa detik setelah kendaraan Jamie Scott melaju meninggalkan gedung flat dua sahabat kembar siam itu, sebuah mobil lain berhenti di depan gedung. Pengemudinya buru-buru turun dari mobil dan setengah berlari memasuki lobi. "Scott!" sapa pria itu pada si penjaga gedung.


"Hey, Mr. Hayder! Apa kabar? Bagaimana liburanmu?" balas Scott ramah.


"Aku baik, Scott. Aku ingin bertemu Rose. Dia pasti sudah pulang kerja, kan?" tanya pria yang tak lain adalah Mehmet itu.


"Ah, anda belum tahu, ya?" tebak Scott dengan mengacungkan telunjuknya. Entah apa maksudnya.


"Kenapa, Scott?" tanya Mehmet dengan mimik khawatir.


"Nona Rosmawati berpamitan pada saya sekitar beberapa menit yang lalu. Dia bilang kalau dia akan pulang ke Indonesia untuk waktu yang lama," jawab Scott.


"Apa?" Mehmet begitu terkejut sampai-sampai tenggorokannya terasa tercekat.


"Iya, Nona Rosmawati juga bilang bahwa dia sudah resmi berhenti dari perusahaan anda," papar Scott dengan entengnya.


Scott sama sekali tak mengetahui bahwa hati pria di depannya itu remuk redam.

__ADS_1


Mehmet menunduk, merogoh sesuatu dari saku jasnya. Sebuah kotak beludru berisi cincin berlian yang rencananya akan ia persembahkan untuk Rosmawati. Mehmet berniat hendak melamar Rosmawati malam ini. Namun sepertinya, niatannya itu telah gagal terlaksana, atau mungkin tertunda.


 


__ADS_2