
Sudah empat hari sejak Mehmet dan Rosmawati sah menjadi suami istri. Kini sepasang pengantin baru itu, bersama Maryam dan Jamie Scott tentunya, sudah tiba di bandara Heathrow, London. Sebetulnya Rosmawati masih betah tinggal di kampung halamannya. Akan tetapi, keadaan Jamie Scott yang tidak memungkinkan untuk menginap lebih lama, terpaksa membuat mereka buru-buru kembali ke London. Selama di Mojokerto, dia diserbu nyamuk-nyamuk betina, sehingga kulit putih mulusnya sedikit ternoda.
"Ibuku pasti akan kebakaran jenggot jika melihat keadaanku seperti ini," keluh Jamie Scott dengan wajah yang dihiasi tanda merah, seperti anak yang terkena cacar.
"Emangnya Mommy Edder punya jenggot, A?" tanggapan yang tidak penting dari Maryam.
Mak Katemi saat itu juga tampak sangat bahagia mengantarkan kepergian Rosmawati ke negeri Ratu Elizabeth, bahkan ketika di bandara, dia masih sempat-sempatnya berpesan pajang lebar pada Mehmet untuk mulai mencari usaha sampingan, karena menghidupi Rosmawati jelas membutuhkan biaya ekstra.
"Oh, London, finally!" seru Jamie Scott sembari sujud syukur. Sementara, Maryam yang berdiri di sampingnya, menampakkan wajah murung.
"Jadi, inilah terakhir kalinya kita bersama-sama, Jem. Gue sebentar lagi ikut Aa Cayang gue ke apartemennya. Gue pindah ke sana sekarang, Jem," ujar Maryam pelan.
"Alhamdulillah ya, Mun. Akhirnya aku terbebas," sahut Rosmawati tanpa memandang wajah sahabat kembar siamnya itu. Dia sedang sibuk menyandarkan kepalanya di pundak Mehmet. Padahal posisinya saat itu sedang berjalan kaki. Tangannya terlingkar di lengan Mehmet dan tak sedikitpun mau melepasnya.
"Ih, kok gitu, sih, Jem!" protes Maryam dengan bibir cemberut. "Nanti kita sering-sering jalan bareng ya," ajak Maryam tanpa putus asa.
"Gampang," jawab Maryam acuh tak acuh sembari membantu Mehmet mengambil barang-barang bawaan mereka di conveyor belt.
"Jangan lupa telepon ya, Jem!" teriak Maryam saat Mehmet dan Rosmawati lebih dulu meninggalkan mereka di lobby bandara. Maryam terpaksa menunggu Jamie Scott yang sudah berkali-kali keluar masuk toilet, akibat mencicipi pecel lele bikinan mak Katemi sebelum berangkat.
Taksi pesanan Mehmet sudah siap menunggu pengantin baru itu. Sopirnya terlihat sangat ramah menyapa mereka sembari membukakan pintu penumpang. Mehmet dan Rosmawati bergegas masuk dengan senyuman yang tak lepas dari wajah mereka.
"Langsung ke alamat yang dituju, Sir?" tanya sopir taksi keturunan India itu. Ketika berbicara, ia tak henti-hentinya menggelengkan kepala.
"Yes, thank you," jawab Mehmet ramah.
"Kita pulang ke mana, Met?" Rosmawati mulai penasaran akan tujuan Mehmet membawanya. Sementara Mehmet tak segera menjawab. Dia malah tersenyum simpul sambil menunjukkan wajah penuh teka-teki. "Nanti juga kamu tahu," jawabnya.
"Iya, deh. Lagian aku nggak peduli. Mau kamu bawa aku ke mana pun, aku rela, Met," rayu Rosmawati. "Eh, Met. nanti malam lagi, kan?" bisik gadis oleng itu di tepat di telinga Mehmet sambil terkikik geli.
__ADS_1
"Paling-paling kamu tidur duluan nanti malam,"ejek Mehmet. Dicoleknya dagu lancip alami milik istirnya itu. Dua sejoli itu tak henti-hentinya berdebat dan bercanda, sampai tak sadar jika mereka sudah tiba di tempat tujuan.
"Sudah sampai, Sir," ujar si sopir taksi. Dia menangkupkan tangannya di dada dan tak lupa menggeleng-gelengkan kepalanya.
"Oh, ya, terima kasih," Mehmet memberikan ongkos kepada sopir taksi itu sebelum turun dari kendaraan. Setelah si sopir menerima uangnya, dengan cekatan ia membantu menurunkan barang-barang Mehmet dan Rosmawati dari bagasi.
"Eh, kita turun di mana ini? Alamat siapa ini, Met?" tanya Rosmawati keheranan. Dia melihat ke sekeliling dan menyadari bahwa daerah ini terletak kawasan Covent garden yang satu kompleks dengan taman tempatnya mengamen dulu.
"Ayo masuk, Rose. Nanti saja bengongnya," ajak Mehmet seraya menarik pelan tangan Rosmawati yang masih terpana ketika memasuki gedung apartemen yang terbilang cukup mewah itu. Kedatangan mereka bahkan disambut oleh penjaga apartemen yang sigap membawakan barang-barang mereka ke lantai tempat ruang apartemen Mehmet berada.
"Met, kita nggak salah alamat, kan? Ini bukan alamat palsu, kan?" Rosmawati tak berhenti berceloteh sampai Mehmet harus membungkamnya dengan ciuman.
"Tenang saja, My Love. Ini rumahmu sekarang," Mehmet dengan santainya memutar kunci dan membuka pintunya lebar-lebar. Dia merentangkan tangannya seraya tersenyum lebar pada Rosmawati. "Tadaa," serunya.
Rosmawati melangkah masuk ke dalam apartemen dengan mulut menganga. Ruangan apartemen ini jauh lebih luas dan lebih indah daripada apartemen yang sempat dia tinggali selama di Birmingham. Dia manggut-manggut mengagumi keindahan dan kemewahan interior serta perabot-perabot mahal yang berada di ruangan itu. "Ini pertama kalinya aku lihat yang begini, Met," ucapnya.
"It's all yours, My Love," Mehmet merengkuh tubuh Rosmawati dan memeluknya erat. Tentu saja, Rosmawati menyambut pelukan hangat Mehmet dengan suka cita. Bahkan tangannya sudah menjalar kemana-mana.
Tampak Ahmad tengah merangkul dua orang perempuan cantik. Dia berdiri di tengah-tengah dan meringis bahagia. "Kenalkan istri baruku, Sir," ujarnya bangga.
"Istri yang lama ke mana?" tanya Rosmawati ketus.
"Ada, di kamar, sedang perawatan," jawab Ahmad tak kalah ketus.
Rosmawati mencebikkan mulutnya, "Kok kamu di sini sih, Mat? Nganggur, ya?"
"Kenapa memangnya kalau aku di sini?" timpal Ahmad tak mau kalah.
"Dia adalah tetangga kita, My Love. Tempatnya persis di sebelah apartemen kita," terang Mehmet.
__ADS_1
"What?" Rosmawati terbelalak, tak menyangka jika Ahmad akan menjadi tetangganya.
"Kenapa Anda membawa crazy girl itu kemari sih, Sir? Padahal saya mau mengajak Anda keluar," keluh Ahmad sambil menempelkan kepala di pundak salah satu istrinya. Dua wanita itu pun tertawa menanggapi tingkah Ahmad.
"Mulai sekarang, jaga bicaramu, Ahmad. Rosmawati kini sudah sah menjadi istriku. Dia berhak tinggal di sini," sahut Mehmet. Sontak Ahmad terkejut setengah mati. Dia gemetaran mengarahkan telunjuknya pada Rosmawati.
"Ba-bagaimana bisa, Mr. Hayder? Anda membuang Halimah demi manusia ini?" Ahmad seakan tak percaya dan tak terima dengan kenyataan yang ada di depannya.
"Berisik lu, Mat! Halimah lagi, Halimah lagi! Emang secantik apa sih dia?" Rosmawati sudah tak bisa mengontrol emosinya melihat Ahmad.
"Sudahlah, My Love," Mehmet berusaha menengahi seraya mengangkat tangannya di depan dada.
Akan tetapi, Ahmad sepertinya juga tak mau kalah. Dia buru-buru merogoh kantong gamisnya yang berwarna putih dan mengambil ponselnya. Dia pencet-pencet layar itu, lalu ia sodorkan ponselnya pada Rosmawati. "Ini Halimah!" tunjuknya dengan bangga.
Rosmawati mengamati foto seorang wanita super cantik berkerudung hitam dan sedang tersenyum itu. Seketika badannya menjadi panas dingin. Tak disangka, wanita yang akan dijodohkan pada Mehmet ternyata secantik dan seglowing itu. Diam-diam dia memerhatikan wajah Mehmet setelah cukup lama memelototi gambar di ponsel Ahmad. Lalu, dia kembali lagi mengamati foto wanita itu, kemudian beralih memandang Mehmet. Hal itu dia lakukan berkali-kali.
Lama-lama mata Rosmawati berkaca-kaca. Dirinya tak pernah merasa seinsekyur seperti yang ia rasakan sekarang ini.
.
.
.
.
.
Selamat malam sobat oleng. Kali ini Mumun dan Ijem hadir membawakan karya luar biasa dari salah satu teman otor. Cekidot.
__ADS_1