
Sst.. Memet gi bobok..
*
*
*
Dini hari itu terlihat kesibukan yang berbeda di aparteman Rose dan Mehmet. Gadis oleng yang satu itu tengah asyik mendekorasi ruang langit-langit ruangan tamu. Balon-balon aneka warna dan pita-pita sudah tertempel cantik di tiap sudut dinding.
Tak dirasakannya kantuk yang masih melanda, karena biasanya Rosmawati suka bangun siang sejak menikah dengan Mehmet. Sejenak kemudian, dia mengusap peluhnya. Padahal cuaca di luar sana begitu dingin, karena sudah mulai masuk musim dingin.
"Kenapa, ya? Pertanda apakah ini?" gumam Rosmawati pada dirinya sendiri.
Setengah bergidik, dia berlari ke dapur dan mengambil segelas air. Diteguknya air itu hingga habis. Akan tetapi, hawa panas masih terasa menyengat. Rosmawati sampai membau keteknya sendiri.
"Ini panas dari mana, sih?" gadis itu segera berlari membuka jendela. Namun, ternyata udara luar sangatlah dingin, sehingga dia menutup jendelanya kembali.
"Masa sih, mau ada penampakan? Kok hawanya nggak enak?" gumamnya. "Padahal kerjaan belum selesai," Rosmawati memandang acara mendekorasinya yang baru tuntas separuh. Ragu-ragu, antara terus melanjutkan acaranya atau tidak, dia akhirnya memutuskan untuk berbalik ke kamar dan bersembunyi di bawah selimut.
Mehmet yang awalnya tertidur nyenyak, terlonjak kaget akibat Rosmawati yang tiba-tiba melompat ke sampingnya dan bergelung, menelusupkan kepalanya di ketiak Mehmet.
"Ada apa, My Love?" Mehmet meraup mukanya yang masih setengah mengantuk.
"Sepertinya bakal ada penampakan deh, Panda," bisik Rosmawati sembari menengadahkan kepalanya, menatap wajah tampan Mehmet penuh ketakutan.
"Di sini tidak akan ada penampakan seperti di rumahmu, My Love," celetuk Mehmet sambil menggosok-gosok matanya.
__ADS_1
"Kok bisa? Yang namanya kuntilanak kan nggak perlu tiket pesawat kalau mau ke Inggris. Tinggal terbang aja," sanggah Rosmawati.
"Tapi kuntilanak di tempatmu tidak bisa bahasa Inggris, Rose. Nanti dia akan kesulitan beradaptasi kalau memaksa terbang kemari," Mehmet tak mau kalah.
"Maksa banget, sih. Kuntilanak itu nggak perlu ngomong, Panda! Cukup dengan ketawa," sungut Rosmawati.
Di tengah hangatnya perdebatan itu, tiba-tiba terdengar pintu flat mewah mereka diketuk oleh seseorang. Saking takutnya, Rosmawati sampai menjerit. "Jangan dibuka, Panda! Pliiss, di sini aja! Kamu pura-pura nggak denger! Percaya deh, sama aku," bujuknya.
"Siapa tahu memang ada orang yang sedang membutuhkan, My Love. Lihatlah, masih jam tiga pagi, tapi orang itu sudah berani mengetuk pintu. Pasti siapapun dia, dia sedang dalam keadaan genting atau terdesak," tutur Mehmet lembut. Dia mengusap-usap punggung tangan Rosmawati sebelum beranjak turun dari ranjang.
Awalnya, Rosmawati tak mau menuruti langkah suaminya. Namun, karena dia akan sendirian di kamar, maka dia memutuskan untuk mengikuti dan bersembunyi di balik tubuh Mehmet.
"Begitu dibuka, langsung mengucap Astaghfirullah ya, Panda," ujar Rosmawati pada suaminya yang ganteng.
Sementara Mehmet tak menanggapi ucapan istrinya. Dia hanya mengintip di lubang pintu, kemudian tersenyum lebar.
"Ya, ampun. Malah ketawa. Kenapa? Kuntilanaknya cantik, ya?" Rosmawati mendengus kesal.
"Wait!" sergah gadis itu lagi. "Mana ada orang bertamu jam tiga pagi?"
Mehmet tak menghiraukan celetohan istrinya. Dengan santai, dia membuka pintu dan tersenyum lebar menyambut tamunya.
"Hai Jamie and Mary. Apa kabar?" sapanya.
Mendengar nama Maryam disebut, Rosmawati segera melongok dan terbelalak melihat 'penampakan' di depan matanya. "Mumun? Ngapain lu di sini?" serunya seraya mengamati sahabat kembar siamnya itu dari pucuk kepala hingga kaki.
Maryam saat itu hanya meringis tanpa bersuara. Masing-masing tangannya tampak memegang koper berukuran sedang. Jamie Scott yang berdiri sedikit di belakang Maryam juga ikut meringis. "Hai, Mr. Hayder. Maaf mengganggu kalian pagi-pagi begini," ucapnya.
"Oh, tidak apa-apa. Silakan masuk," sambut Mehmet seraya membuka pintunya lebar-lebar.
__ADS_1
Rosmawati menatap Maryam penuh curiga. Sedangkan Maryam malah melayangkan pandangan ke langit-langit ruang tamu. "Wah, kalian habis ngadain pesta, ya?" celetuknya.
Seketika Rosmawati panik. Rencana kejutan untuk suaminya gagal sudah. Ia melotot dan memberi isyarat kepada Maryam agar tak banyak bicara, tetapi Mehmet sudah terlanjur mengikuti arah tatapan Maryam. "Wah, ada apa ini, My Love?" tanyanya. Ia yang nyawanya belum terkumpul semua, tiba-tiba langsung sumringah bagaikan ponsel yang baru dicas.
"Elu sih, Mun. Gagal deh surprise gue buat yayang Panda," gerutu Rosmawati dengan agak jengkel.
"Laah, elu sok romantis banget, Jem! Nih, gue udah bkin kue buat laki lu. Kerja keras banget gue bikin kue ini," Maryam meraih kotak berwarna merah yang tengah Jamie Scott pegang. Ia lalu meletakan kotak itu di atas meja. "Udah, sini buruan kumpul!" ajaknya seraya membuka penutup kotak itu. Mereka yang sejak tadi berdiri di dekat pintu pun kemudian menghampiri Maryam yang saat itu menunjukan sebuah kue tart cantik dengan toping cokelat green tea.
"Lah, Mun! Perasaan gue pesen red velvet deh, ko jadi green tea?" protes Rosmawati.
"Gue ngga suka red velvet, Jem," jawab Maryam dengan entengnya.
"Idih, apa masalahnya sama elu? Itu kue buat Panda gue," protes Rosmawati lagi semakin jengkel. "Pantas ya dari tadi gue udah ngerasain hawa aneh, taunya ini yang jadi alasan," dengusnya. Sedangkan Maryam masih terlihat tenang. Ia seakan tak peduli dengan rasa jengkel Rosmawati yang sudah sampai ke ubun-ubun.
"Begini ya, Jem. Kalau gue bikin dengan toping red velvet, entar gue ngga bisa ikut makan dong. Percuma gue bela-belain bkin kue ini, tapi ngga bisa ikut nyicipin. Lagian, aa Jamie juga sukanya sama green tea," celoteh Maryam membuat Rosmawati ingin meledakan balon di depan wajah sahabat kembar siamnya tersebut agar sadar.
"Ya, Tuhan! Tabahkan hatiku. Kalau bukan temen, udah gue jual lu di pasar gelap,"gerutu Rosmawati lagi.
"Sudahlah, My Love," Mehmet mencoba menenangkan sang istri. "Tak apa. Aku suka rasa green tea," ujarnya dengan lembut.
"Bukan begitu, Panda," rengek Rosmawati sok manja sambil gelendotan di lengan sang suami. "Masalahnya adalah karena aku ngga suka green tea, aku sukanya red velvet. Kalau begini ceritanya, maka aku ngga bisa ikut makan kue," Rosmawati memonyongkan bibirnya.
"Oh, begitu. Jangan khawatir, nanti kubelikan kue dengan toping red velvet seperti yang kamu mau," rayu Mehmet lembut. Sesaat kemudian, tatapan pria berbulu mata lentik itu tertuju pada koper yang terletak di sebelah sofa yang diduduki Jamie Scott. "Apa kau dan istrimu akan pergi, Mr. Edder?" tanya Mehmet penasaran. Ia memperhatikan Jamie Scott yang baru disuapi kue tart oleh Maryam.
"Iya. Aku harus pergi ke Liverpool selama tiga hari, karena itu aku ingin menitipkan istriku di sini. Kondisinya tak memungkinkanku untuk membawa Mary melakukan perjalanan jauh," jelas Jamie Scott yang seketika membuat Rosmawati dan Mehmet saling pandang. Terlebih Rosmawati. Ia seakan tak terima dengan penjelasan dari Jamie Scott.
"Kenapa tidak diajak saja, Tuan Edder," ujar Rosmawati. Dari nada bicaranya, terdengar jika ia merasa agak keberatan dengan keputusan sepihak dari pasangan suami istri itu. Sedangkan Maryam tak peduli. Ia masih asyik memakan kue buatannya, padahal kue itu sengaja ia buat untuk kejutan ulang tahun Mehmet.
"Aku ingin membawa Mary bersamaku, tapi kondisinya tak memungkinkan untuk melakukan perjalanan jauh, karena itu aku menitipkannya di sini saja. Daripada nanti terjadi apa-apa," ujar Jamie Scott lagi seraya tersenyum manis kepada Maryam.
__ADS_1
"Memangnya kenapa?" tanya Rosmawati lagi penasaran.
"Karena gue lagi hamil, Jem," sahut Maryam membuat Rosmawati dan Mehmet seketika saling pandang.