Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
About Justin Blake Part Two


__ADS_3

Justin Blake tersenyum kalem seraya terus menatap Rosmawati, yang begitu antusias saat menghadapi semua hidangan di hadapannya. Ia tahu bagaiamana cara memikat hati gadis seperti Rosmawati. Rosmawati adalah tipe gadis yang selalu kelaparan, jadi untuk gadis seperti dia Justin tidak akan mengeluarkan jurus Petik Bunga, melainkan jurus Sapi Gelonggong.


"Ayo, Rose! Habiskan saja!" Ucap Justin Blake seraya tersenyum. Terkadang ia meringis saat melihat cara makan Rosmawati yang sangat barbar.


"Kamu sangat lapar ya, Rose?" Ringis Justin.


"Tidak juga, Sir," sahut Rosmawati sambil memegangi lobster dengan kedua tangannya. "Saya sudah makan cemilan berat tadi dengan Joyce, tapi melihat makanan seenak ini ... mana mungkin saya lewatkan begitu saja. Emak saya selalu bilang jika kita tidak boleh menolak rezeki," tutur gadis itu dengan mulut yang mulai menggelembung seperti balon udara.


"Ya, that's right, Rose," sahut Justin Blake. "Tell me about you!" Pinta pria bermata abu-abu itu. Pandangannya masih tertuju pada Rosmawati yang saat itu seperti tengah kesurupan mbah Jambrong. Gadis itu seakan mampu untuk menghabiskan seluruh makanan yang dipesan oleh Justin Blake siang itu.


"Piringnya jangan dimakan, Rose!" Celetuk Justin Blake membuat Rosmawati seketika tersedak. Ia memegangi lehernya dan terlihat seperti seseorang yang sedang tercekik.


Dengan segera Justin Blake beranjak dari duduknya. Ia lalu menghampiri Rosmawati dan menepuk pundak gadis itu berkali-kali.


"Kamu kenapa, Rose?" Tanya Justin Blake dengan cemas. "Tolonglah, jangan sampai terjadi sesuatu padamu! Jangan sampai aku ... aku ...." Justin Blake mengambil segelas air minum. Ia lalu memberikannya kepada Rosmawati. Gadis itu meneguknya dengan segera.


Rupanya satu gelas air minum tidak cukup bagi Rosmawati. Ia kembali menyodorkan gelas itu dan menyuruh Justin Blake untuk mengisinya lagi.


Justin sudah tidak mempedulikan lagi rasa malu karena menjadi pusat perhatian di sana. Ia segera memanggil pelayan dan memintanya untuk membawakan segelas air.


Beberapa saat kemudian, Rosmawati pun terlihat jauh lebih tenang setelah ia meminum dua gelas air. Ia pun mencoba untuk bernapas dengan tenang.


"Are you okay, Rose?" Tanya Justin dengan khawatir. Rosmawati mengangguk pelan. Wajahnya sedikit pucat.


"Bagaimana kamu bisa ...."


"Saya tersedak capit lobster, Sir," potong Rosmawati sambil meringis kecil.


"Selera makanku jadi hilang," gumam Justin Blake. "Kita pulang saja, ya!" Pintanya.


"Eh, anda belum menghabiskan makanan anda, Sir! Dibungkus bisa tidak?" Tanya Rosmawati dengan polosnya.


"Ya, ya! Terserah kau saja lah," ucap Justin seraya mengangkat tangannya ke atas dan melambai pada pelayan yang stand by berdiri di tiap sudut restoran.


Seorang pelayan datang dengan langkah cepat. "May I help you, Sir?" Tawarnya.

__ADS_1


"Aku ingin membawa makananku pulang. Bungkus yang rapi, ya!" pinta Justin dengan sopan.


Pelayan itu pun mengangguk dan segera melakukan perintah Justin. Justin juga meletakkan kartu kreditnya di buku menu untuk membayar makanan yang dia pesan.


Tidak berselang lama, pelayan tadi datang membawa bungkusan dan kartu kredit beserta nota pembayaran pada Justin.


Pria tampan itu melirik notanya sekilas kemudian memandang Rosmawati dengan senyum simpul. Rosmawati membalas senyuman Justin meskipun dia tak tahu arti senyumannya.


"Kita kembali ke kantor sekarang, ya!" Ajak Justin sembari memberikan kantong makanan itu kepada Rosmawati. Gadis itu membalasnya dengan anggukan penuh semangat. Mereka pun kemudian meninggalkan restoran dengan langkah cepat.


"Terima kasih banyak, Sir! Sudah menraktir saya makan siang. Semoga makin lancar rejekinya. Aamiin," celoteh Maryam yang tidak ditanggapi sedikitpun oleh Justin Blake.


Rupanya pria tampan bermata biru itu sedang awas memandang ke kejauhan. Rosmawati yang mudah sekali penasaran, segera mengikuti arah tatapan Justin. Ternyata, di seberang jalan, tepat di depan gedung, seorang wanita dengan dada yang seakan kelebihan muatan, berdiri dengan sorot tajam bagaikan elang.


Justin melambaikan tangannya pada si jebring (janda hebring) dan berlari menghampirinya. Tinggallah Rosmawati menyeberang jalan seorang diri dengan sebungkus lobster panggang, meskipun tak dapat dipungkiri, hatinya sakit melihat mereka.


"Well, setidaknya aku dapat makan siang gratis. Dobel lagi," gumamnya tak acuh.


Sesampainya di ruang kebersihan, Rosmawati segera meneriakkan nama Joyce. Rekan-rekan kerjanya yang berjumlah belasan orang yang ada di ruangan itu, serempak menoleh dan mengerubungi Rosmawati.


"What happen?"


"Apa kamu pernah meminjam uang padanya dan belum bayar?"


"Wah, apa itu yang ada di tanganmu, Rose?"


Pertanyaan mereka secara bersamaan membuat ricuh seisi ruangan itu, dan tentu saja membuat Rosmawati kewalahan.


"Calm down! Calm down, sisters!" Rosmawati mengangkat tangannya sejajar dada, berusaha menenangkan keadaan. "Justin ... eh ... Mr. Blake, baru saja menraktirku makan siang. Lihat ini," gadis itu segera membuka kantong makanan, mengambil kotak kertas, lalu membukanya.


Sebuah lobster panggang muncul dan bersinar dengan aroma yang menggugah selera. "Ini untuk Joyce, ya! Maaf ya, yang tidak kebagian. Joyce jauh lebih membutuhkan uluran tangan daripada kalian!" Rosmawati memainkan ujung capit lobster, membuatnya seolah-olah melambai pada si Ratu Savana.


Serentak rekan-rekan kerjanya yang lain berseru, "Huuu!" Mereka pun segera membubarkan diri. Kini tinggalah Rosmawati dan si Ratu Savana, Joyce yang tampak sangat antusias melihat hidangan mewah yang Rosmawati bawakan untuknya.


Tanpa Rosmawati ketahui, nun jauh di lantai atas, di ruangan Justin Blake, pria tampan itu berseteru dengan kekasihnya.

__ADS_1


"How can you do this to me?" Lidya mendorong bahu Justin hingga pria itu mundur beberapa langkah.


"What? Aku hanya berterima kasih pada gadis itu karena telah menyelamatkan proyekku," kilah Justin.


"Kau sudah berterima kasih padanya secara spesial saat pesta perusahaan! Apa masih kurang?" Protes Lidya dengan kesal. Bibir tebalnya tampak bergerak-gerak karena menahan emosi.


"Astaga! Aku hanya mentraktirnya makan siang saja, Baby! Padahal seharusnya aku memberinya tips bonus dari proyek. Bukankah makan siang jauh lebih murah dan irit daripada tips?" Kilah Justin Blake lagi. Ia teus membela dirinya.


"Hhh, baiklah!" Lidya pun mengalah. Ditatapnya lembut kekasih brondong yang teramat dicintainya itu. Dia memajukan badannya dan memeluk Justin dengan begitu erat, sampai-sampai pria itu sesak napas. Namun tentu saja bukan karena penyakit asma. Itu adalah sesak napas yang menyenangkan bagi pria dua puluh tujuh tahun itu.


Dalam hatinya Justin Blake terus berpikir, terbuat dari apakah dada wanita itu? Kenapa terasa begitu keras dan kaku seperti kayu? Padat berisi bagaikan kantong semen. Apakah isinya kanebo kering atau kartu uno?


"Justin?" Panggil wanita bohay itu sambil masih bertahan mendekap Justin.


"Hmm?" Sahutnya Justin Blake dengan wajah tampannya.


"Hari ini aku menghubungi Sheikh Abu Dhabi. Aku membicarakan pertemuan dengannya untuk membahas proyek kita yang akan datang. Dia bilang, dia bersedia datang kembali ke kantor kita esok lusa. Kita harus menyambutnya dengan sangat spesial," tutur Lidya panjang lebar.


"Hmm," timpal Justin kemudian. Lidya tidak tahu bahwa Justin tidak mendengarkan kalimat wanita itu sama sekali.


Dalam kepala Justin sudah ada tahapan rencana, yaitu langkah-langkah berikutnya untuk mengajak Rosmawati makan malam romantis di salah satu restoran favoritnya. Setelah itu, Justin akan mengajaknya bersenang-senang di club. Setelah itu dan setelah itu ... mungkin ia akan memulai pada sesi pembukaan tanpa kata sambutan.


"Deal?" Ucap Lidya nyaring hingga membuyarkan lamunan pria bermata biru itu.


"Deal!" Jawab Justin begitu saja tanpa tahu maksud dari ucapan kekasih debronnya.


.


.


.


.


.

__ADS_1


Nih, bonus si ganteng yang meresahkan! Semoga kita semua, selalu dilindungi dari godaan pria-pria ganteng tapi berbahaya like him, yess! Aamiiin.



__ADS_2