Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Gara-gara Ahmad


__ADS_3

Mehmet berkali-kali menghubungi nomor Rosmawati, tapi sayang karena yang menjawab bukanlah Rosmawati melainkan seorang wanita yang mengatakan : “Maaf, wanita yang anda hubungi sudah berada di luar jangkauan anda. Silakan cari wanita lain.”


Oh, tentu bukan seperti itu kata-katanya. Yang pasti, Mehmet tidak dapat menghubungi Rosmawati lagi. Ya, tentu saja karena saat ini Rosmawati telah berada di dalam pesawat. Ia sudah mematikan ponselnya dan duduk tenang dengan seorang wanita setengah baya yang terlihat sebaliknya.


"Mungkin sudag berada di dalam pesawat, Sir," ucap Scott. Pria berdada bidang itu bicara dengan penuh percaya diri. Mungkin karena ia memiliki otot yang jauh lebih kekakr dari Mehmet.


"Oh, iya. Betul, mungkin juga," gumam Mehmet lesu.


"Apa anda mau minum sesuatu, Sir?" tawar Scott.


"Tidak, tidak usah! Aku pulang saja," tolak Mehmet seraya memaksakan untuk terenyum.


"Hati-hati, Sir!" balas Scott penuh perhatian. Perhatian dalam kewajaran tentunya.


Mehmet melirik ke arah Scott, "Terima kasih banyak, Scotty" ucapnya. Ia kemudian berjalan lunglai keluar dari gedung.


Mehmet memasuki mobilnya, tetapi ia tidak segera menyalakan mesin mobil itu. Angannya malah melayang pada kejadian sebulan yang lalu, di mana paman angkatnya tiba-tiba menghubungi Mehmet dan memaksanya untuk menikahi Halimah, putri semata wayang sang paman.


Tentu saja Mehmet menolak, karena cintanya hanya untuk Rosmawati seorang. Akan tetapi, sang paman mengancam kalau Mehmet menolak, maka pamannya akan menuntut seluruh harta warisan yang Mehmet terima. Meskipun secara hukum, Mehmet jauh lebih kuat, tapi hal itu memunculkan ide untuknya.


Mehmet menawarkan separuh harta yang dia miliki untuk sang paman, asalkan pamannya bersedia membatalkan perjodohan. Akhirnya, setelah diskusi yang alot, sang paman menerima syarat dari Mehmet.


Mehmet pun memberikan separuh warisannya pada sang paman. Termasuk East Arab Company, perusahaan yang menjadi salah satu harta yang ia hibahkan.


Kesalahan Mehmet adalah, dia tidak menghubungi Rosmawati sama sekali kala itu, agar Mehmet bisa fokus menyelesaikan segala urusan dan permasalahan administrasi.


Butuh waktu sebulan bagi Mehmet untuk memindahkan separuh kekayaannya secara sah. Dia bahkan juga telah mengundurkan diri dari perusahaan yang memproduksi mobil dengan brand LambeyJono itu.


Keinginan Mehmet hanya satu, yaitu bertemu dengan Rosmawati secepatnya dan melamar gadis pujaannya itu. Akan tetapi, rencananya gagal berantakan. Tak disangka, Rosmawati meninggalkannya begitu saja. Campur tangan Ahmad pun patut untuk dijadikan alasan dalam hal ini. Ciba kalau si tukang kiwin itu tidak bicara yang macam-macam, mungkin Rosmawati juga tidak akan berpikir yang macam-macam.


"Kenapa kau tega melakukan ini, Rose?" Mehmet mengacak-acak rambutnya. Bertambah lagi satu manusia galau di muka bumi ini.


Tiba-tiba ponselnya berbunyi nyaring. Nama Ahmad tertera di layar. Buru-buru Mehmet menjawab panggilannya.

__ADS_1


"Ahmad!"


"Mr. Hayder, anda ada di mana?" tanya Ahmad.


"Di depan flat Rosmawati," jawab Mehmet lirih.


"Astaga! Jadi, dari Dubai, anda langsung menuju flat gadis aneh itu? Padahal saya punya banyak cerita untuk anda lho," cerocos Ahmad,


"Cerita apa?" sahut Mehmet tak bersemangat.


"Eh, sebelum itu. Bagaimana prosesi pernikahan anda?" Ahmad malah memotong kalimat Mehmet dengan sebuah pertanyaan yang membuat Mehmet terbelalak.


"Pernikahan? Pernikahan apa?" Mehmet balik bertanya dengan nada sewot.


"Bukankah anda kembali ke Dubai untuk menikah?" telisik Ahmad.


"Siapa yang bilang begitu?" Mehmet menepuk dahinya kasar.


"Waktu itu anda bercerita kalau paman Malik akan menjodohkan anda dengan Halimah," ujar Ahmad. Dia tak mau dipojokkan.


"Oh, gawat!" gumam Ahmad yang terdengar jelas di telinga Mehmet.


"Gawat kenapa?" perasaannya kini mulai tak enak.


"Sepertinya saya salah paham," ucap Ahmad ragu-ragu.


"Tidak apa-apa, untuk kali ini kau kumaafkan," ujar Mehmet tulus. Dia tak mau menambah beban pikirannya lagi dengan memendam amarah pada sahabatnya itu.


"Eh, tapi masalahnya, Sir ..." Ahmad membiarkan kata-katanya menggantung.


"Kenapa lagi, Ahmad?" Mehmet menggaruk-garuk keningnya yang tidak gatal, demi meredam emosi yang mulai bergejolak terhadap sahabat sejak bayinya itu.


"Masalahnya, saya terlanjur bercerita pada nona Rosmawati jika anda sudah menikah di Dubai," jawab Ahmad enteng, tak ada beban sama sekali.

__ADS_1


"What!" seru Mehmet sekencang-kencangnya. Terjawab sudah teka-teki tentang sikap Rosmawati yang meninggalkan dirinya begitu saja. Ternyata semua gara-gara Ahmad!


Sementara itu, di dalam pesawat, Rosmawati berkali-kali bersin. Kebetulan saat itu ia duduk dengan seorang wanita keturunan Arab. Rosmawati alergi dengan aroma minyak nyongnyong yang dipakai oleh wanita itu.


Diliriknya Maryam dan Jamie Scott yang duduk di kursi sebelahnya. Kedua sejoli itu terlihat asyik bercengkrama. Maryam terus bergelayut manja kepada sang kekasih layaknya seekor anak kucing pada induknya. Namun, Jamie Scott pun tampaknya tidak keberatan dengan hal itu. Pria tampan bermata abu-abu itu justru terlihat senang.


“Aa jangan lupa ya! Nanti di rumah Neng tuh ada emak, namanya mak Odah. Abah Neng namanya abah Jaka. Terus ada kakak Neng, yang pertama namanya Asep, yang kedua namanya Ujang. Aa pasti suka tinggal di rumah Neng, tapi keluarga Neng jarang bahkan ga pernah makan roti. Mereka biasa makan singkong sama ubi. Nanti kita bisa bakar-bakar ikan A,” papar Maryam dengan panjang lebar.


“Waw, it’s very interesting, Honey. Aku pasti akan sangat menyukainya,” ujar Jamie Scott penuh semangat.


“Eh, tapi Neng lupa nanya sama emak. Sekarang di kampung lagi musim apa, ya?”


“Tidak apa-apa, Honey. Aku pasti akan menyesuaikan diri selama di sana. Kau tidak perlu khawatir,” sahut Jamie Scott mencoba untuk menennagkan Maryam.


Maryam menoleh kepada pria tampan itu. Ia begitu terharu. Maryam sudau melipat bibir atasnya ke dalam dan memajukan bibir bawahnya.


“Oh my Got, you’re so cute, Honey!” ujar Jamie Scott dengan gemas. Semenjak dekat dengan Maryam, hilang sudah semua sikap dingin dan kalemnya. Jamie Scott kini selalu terlihat bucin. Kebucinannya tiada tara.


“Mary, apa keluargamu pasti akan menerimaku?” tiba-tiba Jamie Scott merasa khawatir. Mata abu-abunya menatap nanar kepada Maryam.


Gadis berambut panjang itu tersenyum manis. Ia mengangguk dengan yakin. Digenggamnya jemari Jamie Scott dengan erat.


“Emak selalu ingin punya mantu orang bule, makanya dia setuju Neng lanjutin kuliah di luar negeri,” jelas Maryam.


Jamie Scott mengernyitkan keningnya. “Memangnya kenapa, Honey?” tanyanya tidak mengerti.


“Katanya biar bisa memperbaiki keturunan. Biar cucunya entar hidungnya bangir ngga mbelesek kaya hidung lokal. Terus emak pengen punya mantu yang ngga bisa Bahasa Sunda,” terang Maryam lagi.


“Kenapa lagi itu?”


“Biar ngga ngerti kalo waktu diomelin,, jadi mantunya ngga akan sakit hati,” celoteh Maryam seraya mengikik pelan.


Jamie Scott semakin tidak mengerti. Ia mengacak-acak rambutnya sesaat. “Apa orang tuamu galak, Honey?” tanyanya lagi dengan cemas.

__ADS_1


“Nggak, A. Mereka justru sangat baik. Hanya saja, keluarga Neng tuh rame. Semuanya suka ngomong. Neng jamin Aa ngga akan merasa kesepian di sana,” ujar Maryam lagi seraya kembali meletakan kepalanya di pundak Jamie Scott.


__ADS_2