
Heboh Mart, adalah sebuah mini market dengan pemilik bernama Astuti. Dia merupakan seorang WNI yang kebetulan menikah dengan orang sana. Karena sudah sering belanja di mini market itu, maka kedua gadis itupun sudah cukup akrab dengan wanita berusia setengah abad itu.
Malam itu, suasana di dalam mini market tidak terlalu ramai. Kedua gadis antik itupun masuk setelah melepas wig mereka tentunya. Tampak bu Astuti tengah berdiri di meja kasir dan mengawasi beberapa pengunjung yang lalu lalang diantara barang-barang yang dijual di sana. Mata wanita berambut jagung itu, tampak lebih tajam daripada sebuah kamera cctv.
Maryam dan Rosmawati pun mengambil keranjang dan segera menuju tempat di mana terdapat aneka snack dan minuman ringan. Mereka pun memilih beberapa cemilan kesukaan mereka.
"Gue ga bisa jajan banyak-banyak, Jem! Dompet gue udah kritis," keluh Maryam pelan.
"Elu ga ngebon lagi sama mrs. Harlekin? Bukannya dia emaknya si Jamie?" Lirik Rosmawati sambil memasukan beberpa bungkus keripik kentang.
"Hooh, Jem!" Sahut Maryam yang tiba-tiba tertawa cekikikan. "Beliau merupakan calon ibu mertua gue di masa depan," celotehnya.
"Mary?" Terdengar sapaan dari suara yang sudah sangat Maryam kenal.
Maryam tertegun dan tampak berfikir. "Rasanya gue kenal suara itu ...." Maryam meletakan ujung jari telunjuk pada permukaan bibirnya. Ia pun terus berfikir. "Suara siapa, ya?" Gumamnya tanpa menoleh kepada yang menyapanya.
"Mary! It's me Imelda!" Sahut seorang wanita yang dengan segera membuat Maryam tersentak. Ia pun segera menoleh.
"Mrs. Harlekin?" Sapa Maryam sambil nyengir. Ia pun terlihat malu. Untuk sejenak, Maryam kembali tertegun.
"Untung tadi kita ngomongin dia pake bahasa kita, Jem," bisik Maryam kepada Rosmawati.
"Kalo ada apa-apa, jangan sebut nama gue, ya!" Balas Rosmawati seraya kembali pada aneka snack yang sedang dipilihnya.
"Mrs. Harlekin ... how are you?" Sapa Maryam dengan agak malu-malu.
"I feel so bad!" Jawab Imelda dengan wajah yang terlihat jengkel.
"Where have you been, Mary? Kamu itu seenaknya saja tidak masuk kerja tanpa ada kabar sama sekali!" Omel wanita keturunan Jerman itu.
"I'm so sorry, Mrs. Harlekin. Im not feeling well," sahut Maryam dengan wajah memelas. "Kemarin perutku sakit dan aku terkena diare," ungkap Maryam mencari alasan.
"Jika Anda tidak percaya ... maka Anda boleh bertanya kepada sahabat saya ini ...." Maryam menepuk kepala seseorang yang tengah berdiri di sebelahnya, tanpa melihatnya sama sekali.
"Hey! Excuse me!?" Terdengar suara seseorang yang asing bagi Maryam. Gadis itupun segera menoleh dan seketika terbelalak.
"Oh my, God!" Maryam menutup mulutnya karena terkejut. "I'm sorry. Saya fikir Anda teman saya," kilah Maryam. Ia merasa tidak enak kepada wanita paruh baya yang barusan ia tepuk kepalanya dengan cukup keras.
__ADS_1
Wanita itupun segera beranjak dari hadapan Maryam dengan wajah yang tidak bersahabat. Sementara Maryam sibuk mengedarkan pandangannya dan mencari keberadaan Rosmawati.
Ternyata gadis itu sudah berdiri di depan meja kasir. Ia akan segera membayar belanjaan mereka berdua.
Sesaat kemudian, Maryam kembali mengalihkan tatapannya kepada Imelda. "I'm sorry Mrs. Harlekin, I have to go. Saya janji besok saya akan masuk! Bye ...." Maryam segera berlalu meninggalkan Imelda dan menghampiri Rosmawati. Dengan kesal ia memukul pan°tat gadis itu hingga membuat Rosmawati terkejut.
"Apaan sih, Lu?" Rosmawati terlihat kesal.
"Elu tuh ... pergi ga bilang-bilang!" Jawab Maryam tak kalah kesal.
"Gue dari tadi di sini, Mun," balas Rosmawati seraya membayar belanjaannya.
Maryam pun mengalihkan pandangannya kepada wanita paruh baya di belakang meja kasir itu. Wanita dengan riasan yang terbilang menor dan pakaiannya yang cukup menggoda.
"Hai, Bu As ...." Sapa Maryam dengan akrab kepada wanita bernama Astuti itu. Sementara wanita itu justru membalasnya dengan ekspresi yang kurang bersahabat.
"Call me Mrs. Castello!" Sergahnya.
"Oh ... I'm sorry, Mrs. Castello. Aku lupa!" sahut Maryam seperti biasa sambil nyengir dan memasang wajah tanpa dosa.
Mendengar nada ketus dari wanita itu, nyatanya tidak membuat Maryam sakit hati. Ia justru malah tertawa cekikikan. Sementara Rosmawati sibuk membuka minuman dingin di dalam botol.
Sesaat kemudian, Astuti pun melirik kepada Maryam dengan tatapan judesnya.
"Heh, Mary!" Panggilnya pelan, "gimana itu sudah selesai belum desain gaun malam yang saya minta? Katanya satu minggu, ini sudah mau sepuluh hari!" Tanya Astuti masih dengan wajah yang ketus.
Maryam pun terperanjat mendengar pertanyaan wanita itu. Kedua bola matanya bergerak ke kiri dan ke kanan seakan-akan ia tengah berfikir untuk mencari alasan.
"Oh my God ... maaf aku benar-benar sibuk kemarin, Mrs. Castello," benar saja. Gadis itu mulai berkilah, karena kenyataannya dia lupa untuk mengerjakan desain gaun malam yang diminta oleh Astuti.
"Ya ampun, Mary! Bagaimana mungkin?" Astuti melotot sempurna kepada Mary yang lagi-lagi hanya cengar-cengir tanpa rasa bersalah sedikitpun.
"Dengar ya, ongol-ongol!" Astuti tampak gemas dengan sikap Maryam yang meresahkan itu, "pestanya tinggal dua seminggu lagi! Saya akan segera menyerahkan rancanganmu itu kepada penjahit langganan saya. Kalau rancangannya belum jadi ... haduuuuh ... Mary! Dasar kamu itu klepon ubi!" Omel Astuti dengan gemasnya.
Maryam meringis ketika melihat kekesalan Astuti. Namun, tidak berselang lama gadis itu kembali tersenyum.
"Don't worry, Mrs. Castello! Saya akan mengerjakannya malam ini. Saya janji rancangannya akan selesai besok dan langsung saya serahkan kepada Anda," rayu Maryam sambil tersenyum manis dan disertai nada bicara yang sangat meyakinkan.
__ADS_1
Astuti pun terdiam untuk sejenak. Setelah itu ia kembali berbisik kepada Maryam, "Jangan lupa, bagian depannya alias bagian dadanya itu turunin sedikit ya dari yang sudah kita sepakati kemarin!"
Maryam melirik wanita yang kini tengah senyum-senyum kepadanya, sambil mengerutkan keningnya. "Apa tidak terlalu ...." Maryam tidak sempat melanjutkan kata-katanya, karena dengan segera Astuti menyelanya.
"You know kan, Mary! I kemarin-kemarin baru pulang dari Brazil. Nih liat hasilnya!" Astuti membusungkan dadanya dengan bangga.
"Wah ... itu ukuran berapa, Bu Tut?" Rosmawati yang sejak tadi hanya menyimak pun ikut berkomentar ketika melihat ukuran dada Astuti yang jauh lebih besar dari sebelumnya.
"Ish kamu lagi ya! Call me Mrs. Castello!" Sergah Astuti kepada Rosmawati yang tidak percaya dengan apa yang dilihatnya.
"Menurut kalian para junior, saat nanti my honey bunny sweety Enrique ku yang imut-imut kembali dari Emewrika ... kira-kira apa yang akan dia katakan?" Tanya Astuti meminta pendapat kedua gadis itu.
Enrique adalah suaminya yang baru berumur 22 tahun. Sementara Astuti sudah berumur 48 tahun. Jadi, ia terus berusaha semaksimal mungkin untuk tetap terlihat kencang.
"Kami rasa ... Mr. Castello akan mengatakan ...." Maryam dan Rosmawati saling pandang. Setelah itu mereka kembali mengalihkan pandangannya kepada Astuti dan menjawab dengan serempak, "Arrrgghhhh ... miauuuuwww!" Kedua gadis itu membuat gerakan seperti kucing yang akan mencakar.
"Kupegang janjimu, Mary! Besok kau harus masuk kerja!" tiba-tiba saja Mrs. Harlekin sudah berdiri di antara kedua gadis itu. Sontak mereka terperanjat.
"Tuhan, aku kaget," gumam Rosmawati sambil mengelus dada.
"Kasih tahu temanmu ini, ya! Jangan boleh dia membuat alasan diare lagi," semprot Mrs. Harlekin.
"Siap, Nyonya! Maryam memang lemah. Masa diare bercampur patah hati sedikit saja sudah goyah," cerocos Rosmawati.
"Patah hati? Dia patah hati?" wanita paruh baya itu menunjuk tepat di hidung Maryam.
"Sedikit, tapi sekarang sudah sembuh," jawab Rosmawati seraya meringis.
"Hatinya lembut juga ternyata, ya! Persis seperti Jamie," ujar Mrs. Harlekin.
Telinga Maryam seketika berdiri. Pendengaran dan penciumannya meningkat tajam. "M-maksud anda?" tanya Maryam, nadanya sedikit bergetar.
"Jamieku memiliki hati yang lembut, meskipun di luar dia tampak dingin dan cuek. Itu karena dulu dia pernah patah hati parah.." Mrs. Harlekin tak melanjutkan ceritanya karena BuAs sudah memberikan kode dengan menjulingkan matanya. Menandakan bahwa Mrs. Harlekin harus segera membayar supaya antrian di belakang mereka bertiga tidak semakin memanjang.
"Okay, girls! Kalau sudah bayar, cepat pergi dari sini. Udara di sekitarku jadi panas kalau ada kalian," usir Bu Astuti, alias Bu Tut, alias Mrs. Castello.
Rosmawati dan Maryam berdecak bersamaan. "Emang dikira kita setan apa?" gerutu Rosmawati sembari berlalu dari hadapan duo wanita setrong itu. Sementara Maryam setengah berat melangkahkan kaki keluar dari Heboh Mart. Dalam hati dia sangat penasaran dengan kelanjutan cerita tentang Aa' Jamie Scott, idola barunya.
__ADS_1