
Sebulan lamanya, keluarga besar mak Katemi mengurus paspor di kantor imigrasi. Setelah selesai, barulah mak Katemi menghubungi Rosmawati dan Mehmet. Tanpa menunggu lama, Mehmet segera memesankan mertua beserta seluruh adik-adik iparnya tiket pesawat menuju London. Pak Rozi yang belum pernah naik burung besi, merasa sangat gugup, sampai-sampai tidak bisa tidur semalaman. "Buk, kalau naik pesawat, turunnya di mana?" tanyanya pada sang istri sesaat setelah mereka berhasil check in di bandara dengan segala dramanya.
"Ya, di bawah lah, Pak. Masa di awang-awang," jawab mak Katemi sambil lalu, karena sibuk menjinakkan bocil-bocilnya. Wanita paruh baya itu terpaksa mengikat anak-anaknya dengan tali rafia agar tak tersesat hingga masuk ke dalam pesawat. Dibantu oleh Nining, anak-anak kecil itu mendapat tempat duduknya masing-masing.
"Ingat, ya! Tidak boleh berisik! Kalau berisik, nanti mbak lempar kalian keluar satu-satu!" ancam Nining.
"Iya, mbaak!" jawab bocil-bocil itu serempak.
"Bagus! Sekarang merem semua!" titah Nining. Bocah-bocah kecil beringus itu lagi-lagi serempak menutup mata. Namun, ada satu anak yang diam-diam membuka matanya. Dialah Joni. Joni lebih tertarik mengamati pramugari yang berjalan ke arahnya sambil membawa troli makanan.
"Snacks?" tawar pramugari cantik itu padanya.
Seketika Joni melotot dan memalingkan muka. Dia pura-pura tidur sampai pramugari itu pergi dari hadapannya. Pelan-pelan, Joni membuka matanya lagi, lalu mencolek saudaranya. "Hei, masa aku ditawarin ular," bisiknya.
Lain halnya dengan pak Rozi, dia terlihat gelisah di tempat duduknya. Berkali-kali pria paruh baya itu mengganti posisi.
"Kenapa sih, Pak? Kok nggak bisa diem? Tidur sana!" tegur mak Katemi.
"Eh, jangan tidur! Yo opo se sampeyan iki, Buk? Sampeyan kalau ketiduran, nanti bisa kebablasan," timpal pak Rozi.
"Kebablasan gimana sih, Pak? Mati, maksudnya?" sahut mak Katemi sewot.
"Bukan! Maksudku, jangan tidur. Kita kan mau turun di mana tadi? London? Nanti kalau kelewatan gimana?" cetus pak Rozi.
"Ya, tinggal minta putar balik, Pak. Kok repot," jawab mak Katemi dongkol. "Sudah, jangan ribut. Aku jadi nggak bisa tidur ini," keluhnya lagi.
Akan tetapi, tak sampai lima menit kemudian, sudah terdengar ngoroknya mak Katemi ke seluruh penjuru kabin pesawat terbang.
Dua puluh satu jam harus pak Rozi lalui dengan lantunan ayat-ayat cinta mak Katemi. Tak hanya dia, penumpang di depan merekapun terganggu. Sampai-sampai saat pesawat mendarat dengan mulus di bandara Heathrow, London, semua penumpang bersyukur. Bukan karena perjalanan mereka lancar dan tak ada halangan, melainkan karena pada akhirnya mereka terbebas dari godaan ngorok mak Katemi.
Penuh kewaspadaan, Pak Rozi dan sang istri, mengarahkan pasukannya turun dari tangga pesawat dengan hati. Sesampainya di terminal kedatangan, ternyata Mehmet sudah menunggu di sana. "Halo, mantuku sing ngganteng dewe," sapa mak Katemi sok akrab.
__ADS_1
"Hello, Mak," Mehmet membungkuk, lalu mencium tangan mak Katemi dan pak Rozi dengan penuh hormat.
"Mana mbak Ros?" tanya Nining yang celingukan seraya memegang erat tali rafia yang mengikat empat adik-adiknya.
"Ros sedang perawatan, untuk persiapan resepsi besok," jawab Mehmet dalam bahasa Indonesia yang terdengar kaku. "Mari saya antar ke hotel," ajak Zayn Malik kw 1 itu. Wajah tampannya terlihat sangat ceria saat mengarahkan keluarga besar Rosmawati menuju mobilnya di area parkir.
"Ayo, masuk," Mehmet membuka pintu mobil dan mempersilakan kedua mertuanya. Setelah semua duduk nyaman di dalam kendaraan, barulah Mehmet menjalankan mobilnya dengan kecepatan pelan.
Pak Rozi dan mak Katemi yang baru pertama kalinya pergi ke luar negeri, sangat takjub melihat keindahan kota London. Demikian pula pasukan bocil mereka serta Nining.
"Jalanannya bersih yo, Pak. Apa nggak ada yang buang sampah sembarangan?" celetuk mak Katemi.
"Nggak ada yang jual cilok ya, Bu," sahut pak Rozi.
"Pak! Lihat, Pak! Jam dindingnya gede banget!" kini giliran Nining yang heboh melihat menara jam yang terkenal di London, yaitu Big Ben.
"Ya, Allah. Gede banget, Pak! Itu baterai jamnya sebesar apa, ya," ujar mak Katemi yang memandang takjub ke arah Big Ben.
"Cara mengganti baterainya gimana, ya?" timpal pak Rozi dengan raut keheranan.
Mehmet yang sedari tadi mendengarkan celotehan keluarga mertuanya hanya bisa tertawa geli. Sedikit banyak dia mengerti apa yang dibicarakan oleh keluarga oleng tersebut.
"Sudah sampai, Pak, Bu," mobil yang disetiri Mehmet berhenti di depan sebuah gedung bertingkat yang terlihat mewah.
"Waahh," ketujuh orang itu segera melongok keluar jendela. Mereka terkagum-kagum melihat indahnya bangunan di depan mereka.
"Ini rumah nak Memet?" tanya mak Katemi.
"Bukan, ini hotel. Nanti kita menginap di sini. Besok acara resepsinya diadakan di ballroom hotel, di lantai teratas," terang Mehmet.
"Ooo," ucap ketujuh orang itu secara serempak.
__ADS_1
"Ayo, turun," ajak Mehmet ketika seorang petugas valet menghampirinya. Petugas itu membawa beberapa temannya yang hendak membantu membawakan barang-barang keluarga bapak Rozi.
"Eh, eh, mau dibawa ke mana koper saya!" pak Rozi panik sambil berusaha merebut koper besarnya yang sudah berada di genggaman petugas hotel. Alhasil, dua orang itu saling tarik menarik, berebut koper.
"Bapak, tenang, dia hanya membantu membawakan koper ke kamar yang akan bapak tempati nanti," jelas Mehmet dengan sabarnya.
"Ooo," lagi-lagi keluarga oleng itu melakukan paduan suara serempak.
"Ya, sudah, kalau begitu saya titip bawakan ini juga," pak Rozi buru-buru melepas sepatu sandal dan menyodorkannya pada si petugas hotel yang kebingungan.
"Loh, kok dilepas?" mak Katemi makin pusing melihat ulah suaminya.
"Sampeyan apa nggak lihat, Bu. Lantainya kinclong begini. Lihat! Mengkilap kayak begini," pak Rozi menapakkan kakinya yang tak beralas ke lantai hotel yang terbuat dari marmer putih.
"Tidak usah dilepas, Pak. Pakai saja. Ini hotel, bukan masjid," Mehmet tertawa geli melihat tingkah mertuanya yang sedikit absurd.
"Aneh-aneh pancen sampeyan, Pak," gerutu mak Katemi sambil berlalu mengikuti langkah Mehmet menuju ke arah lift.
Lift tersebut terus membawa mereka ke lantai kamar yang akan ditempati. Di sana, mereka juga bertemu dengan Rosmawati yang baru saja selesai melakukan perawatan di spa hotel.
"Pak, Mak, Nining, Joni, Brandon, Mahmud, Toni!" seru Rosmawati seraya menghambur ke arah keluarga besarnya.
"Ayune kamu, Nduk," mak Katemi membalas pelukan anaknya sambil tersenyum haru.
"Perawatan aku, Mak. Mangkane ketok ayu. Nanti semuanya juga aku ajak perawatan sama nyobain seragam resepsi buat besok," tutur Rosmawati.
"Oh, sudah ada seragamnya, toh?" tanya mak Katemi.
"Ya, ada dong, Mak. Ros sudah menyiapkan baju resepsi untuk kalian semua," jawab Rosmawati bangga.
"Oalah, mbak. Mak terlanjur bawa seragam tahlil, hihi," sela Nining.
__ADS_1
"Ya, sudah. Kalau begitu, kita lanjutkan ngobrolnya di dalam," potong Mehmet. Dia lalu mengarahkan keluarga besar itu untuk masuk ke ruangan suite super besar yang sudah dia sewa.