
Rosmawati begitu terharu. Akhirnya setelah bertahun-tahun, dia berhasil menjejakkan kakinya lagi di negara tercinta. Cuaca yang hangat,orang-orangnya yang ramah, begitu membekas di hatinya. Rosmawati mendadak mellow. Bahagia bercampur sedih. Sedih, karena dia tak akan bisa bertemu dengan Mehmet lagi.
Lain halnya dengan Maryam, gadis itu tampak begitu sumringah. Siapapun yang lewat didepannya, pasti akan ia sapa, sambil tak lupa tangannya menggelayut manja di lengan Jamie Scott. Maryam seakan memamerkan tunangannya itu pada setiap orang.
"Apakah jarak bandara dengan rumahmu masih jauh, Sayang?" tanya Jamie Scott seraya menyeka keringat. Mereka kini sudah berada di terminal kedatangan di bandara.
Maryam belum sempat menjawab, seorang pria berambut klimis dan berkumis, melompat-lompat di pagar terminal kedatangan sambil membawa papan tulisan yang berbunyi : Nu namina Maryam, cobi kadieu. Tuturkeun simkuring!
"Eh, kang Dayat! Itu Kang Dayat!" teriak Maryam kegirangan.
"Who is Kang Dayat?" Jamie Scott keheranan.
"Tetangga Neng, A'. Dia pasti datang menjemput kita. Yuk!" Maryam segera menyeret lengan tunangan tampannya itu dan menghampiri Kang Dayat. Tak lupa pula, Rosmawati mengikuti dari belakang.
Setelah berbasa-basi sejenak, (meskipun basa-basi antara Jamie Scott dan Kang Dayat sama sekali tidak nyambung, karena yang satu ngomong bahasa Inggris, satunya lagi bicara bahasa Sunda), mereka pun segera menuju parkiran.
Sebelum memasuki mobil, Kang Dayat sempat mengalungkan karangan bunga pada Jamie Scott, Maryam dan Rosmawati.
"Berasa kayak mau dijadiin persembahan gue, Mun," celetuk rosmawati setengah berbisik.
"Udah nggak apa-apa, terima aja," saran Maryam.
__ADS_1
Akhirnya, dia hanya bisa pasrah dan bergegas menaiki mobil.
Setelah menempuh perjalanan yang amat sangat panjang sekali, akhirnya mereka tiba di daerah Kabupaten Bandung. Tepat di sebuah perkampungan yang indah dan asri yang tidak perlu disebutkan namanya, yang pasti ada di peta pulau Jawa, terutama propinsi Jawa Barat. Wajah-wajah lelah terlihat dengan sangat jelas, terutama wajah Jamie Scott yang terlihat memerah, terlebih karena suhu yang terbilang panas untuknya yang terbiasa dengan iklim di negara Inggris.
Kampung itu sangat indah. Meskipun tidak seindah perkampungan di Swiss, tapi suasana di sana terasa sangat damai. Sawah, kolam, menjadi pelengkap suasana syahdu yang tidak mungkin di dapatkan di Inggris. Jamie Scott pun tampak begitu terpukau dengan pemandangan di sana. “Apa isi kolam itu, Honey?” tanya Jamie Scott seraya terus menggeret kopernya.
“Yang pasti bukan putri duyung, A,” jawab Maryam dengan seenaknya, membuat pria jangkung itu hanya mampu mengela napas pelan. Sementara Rosmawati tertawa geli dengan ucapan sahabat kembar siamnya.
Maryam tersenyum lebar. Pada akhirnya ia dapat kembali menginjakan kakinya di kampung halaman yang telah sekian lama ia tinggalkan. Berbeda dengan Rosmawati. Rambut dan wajahnya terlihat lusuh. Patah hati telah membuatnya patah semangat. Dengan lesu, ia menggeret kopernya melewati gang kecil hingga akhirnya mereka tiba di sebuah rumah sederhana milik orang tua Maryam.
“Aku tidak menyangka jika kau tinggal di daerah antah berantah, Sweetie,” keluh Jamie Scott setelah mereka memasuki halaman rumah Maryam. Meski lelah, tetapi ia masih terlihat semangat apalagi karena ia akan bertemu dengan calon mertuanya. Semua impian Jamie Scott terwujud sudah, ketika seorang wanita dengan sanggul kecil, memakai kaos singlet dan celana kolor, membukakan pintu untuk mereka. Dengan wajah sumringah, wanita itu segera menghambur ke dalam pelukan ... Jamie Scott.
Jamie Scott tersenyum risih. Ia melirik Maryam yang saat itu tampak merengut karena Mak Odah lebih memilih untuk memeluk Jamie Sscott terlebih dahulu ketimbang drinya. “Mak teu sono ka Neng?” Maryam hampir menangis andai saja Jamie Scott tidak segera menenangkannya. (Mak ngga kangen sama Neng?)
Mak Odah baru sadar. Wanita berusia enam puluh tahun itu kemudian terkikik seraya langsung memeluk dan mencium kening putri bungsunya. “Aih, Neng. Komo we atuh Mak sono pisan. Neng lama tinggal di Inggris jadi tambah geulis wae. Persis pisan jiga Mak keur ngora,” ucap Mak Odah seraya menghentikan aksi ciuman seribu bayangan yang ia layangkan kepada Maryam. (Aih, Neng. Tentu saja Mak kangen banget. Lama tinggal di Inggris Neng jadi makin cantik. Persis banget sama Emak waktu masih muda)
Maryam tersenyum manis. Setelah itu, ia mengalihkan pandangannya kepada Rosmawati. “Buruan lu cium tangan sama emak gue, biar berkah hidup lu!” suruh Maryam. Rosmawati menurut saja. Gadis itu meraih tangan Mak Odah dan mencium tangannya. “Perkenalkan Mak, saya Rosmawati panggil saja Rose. Saya teman seperjuangan Mary di London. Saya juga tempat Mary berkeluh kesah dan ATM berjalan buat dia,” ujar Rosmawati seraya tersenyum lebar dan memerlihatkan deretan giginya.
“Si Rose orang Jawa Mak, dia ngga bisa ngomong Bahasa Sunda,” timpal Maryam, membuat Mak Odah manggut-manggut.
“Ya sudah, ayo masuk! Kalian pasti cape, kan?” ajak Mak Odah. Ia membuka pintu rumahnya lebar-lebar. “Eh, buat calon mantu Emak, sudah Emak siapkan kamar spesial. Sepreinya masih baru, kemarin Emak sengaja beli dari Ceu Eha,” ujar Mak Odah seraya melirik ke arah Jamie Scott yang tidak mengerti dengan apa yang diucapkan oleh Mak Odah.
__ADS_1
“Ibumu bilang apa, Sweetie?” bisik Jamie Scott.
“Katanya Aa beruntung bisa dapetin cewek seperti Neng,” jawab Maryam diiringi tawa renyah. Setelah itu, ia memersilakan Jamie Scott untuk masuk ke kamar yang sudah disiapkan untuknya.
“Of course ... yes, Honey!” sahut pria dengan bola mata berwarna abu-abu itu. Ia bermaksud untuk mencium Maryam, tetapi gadis itu segera menahannya.
“No, Aa! Di sini ngga boleh cium-cium! Haram, kita belum sah. Bisa-bisa Neng dicoret dari ahli waris Abah Jaka,” celoteh Maryam membuat Jamie Scott tertawa geli.
“Sampaikan pada ibumu jika orang tuaku akan sampai dalam beberapa hari lagi. Siapkan juga kamar untuk mereka,” pesan pria tampan itu dengan senyuman yang tak kunjung lepas dari wajahnya.
Maryam mengangguk pelan. Setelah itu, ia pamit untuk kembali kepada sahabat kembar siamnya yang ia biarkan menunggu di ruang tamu bersama Mak Odah. Rupanya, mereka sedang berbincang akrab. Entah apa yang tengah mereka bahas.
“Hei, Jem! Ayo, gue antar ke kamar lu. Elu pasti cape dan pengen segera rebahan, kan?”
“Iya, Mun. Punggung gue rasanya misah sama kepala, nih,” celoteh Rosmawati, “tapi gue lagi ngbrol seru sama emak lu. Ya ampun, emak lu seru banget ya, berjiwa muda. Gue jadi lupa sama si Memet untuk sesaat,” ujar Rosmawati. Ia terus mengikuti Maryam menuju kamar yang disediakan untuknya.
“Udah lah, Jem! Di sini ngga boleh ada yang sedih-sedih! Lu lupain dulu itu si Onta Arab berbulu lentik! Entar gue kenalin lu sama si Darto. Eh, gue ada temen yang lain yang masih single, entar gue kasih akun sosmednya buat lu,” cerocos Maryam. “Ini, kamar lu deketan sama kamar gue. Dulu ini kamar kakak gue sebelum dia nikah,” jelas Maryam.
Rosmawati memasuki kamar dengan ukuran yang tidak terlalu luas itu. Kamar dengan dinding berhiaskan poster-poster pemain sepak bola dan pegulat legendaris yang bernama Hulk Hogan. Gadis itupun duduk di atas dipan kecil dan meletakan tas ransel kesayangannya.
“Udah lu istirahat dulu. Gue mau kangen-kangenan dulu sama emak tersayang. Ngga tahan pengen ghibah gue sama beliau. Elu kalo mau tidur, ya tidur aja. Entar kalo sudah waktunya makan, gue bangunin!” ucap Maryam lagi seraya keluar dari kamar itu.
__ADS_1