
Pria ganteng nan rupawan, bermata biru, berbadan atletis dan jangkung itu lahir di kota Salisbury yang terletak di selatan Inggris, 27 tahun yang lalu. Ayahnya seorang pengacara kenamaan, sedangkan ibunya seorang sosialita lokal yang memiliki bisnis jual beli emas. Bisa emas bekas, baru, batangan, maupun mas-mas yang lain. Tidak termasuk mas Paijo tentunya, ya. Beda server. Lagipula mas Paijo mudah berkarat.
Justin Blake hidup dalam kungkungan. Segala tentang dirinya benar-benar mendapat pengawasan yang detil dan menyeluruh dari kedua orang tuanya. Apa yang dia pakai, apa yang dia makan, di mana dia harus sekolah, mutlak adalah keputusan orang tuanya.
Justin Blake tidak memiliki kebebasan sama sekali untuk menentukan pilihan. Dia bagaikan robot yang terus menerus diatur oleh ayah dan ibunya. Hal itu tak lepas dari obsesi ayahnya yang sangat mengidamkan kehidupan bangsawan a la Inggris. Sampai-sampai ia menyekolahkan anaknya di sekolah asrama elite khusus untuk kaum menengah ke atas.
Justin Blake tak pernah bisa menolak keinginan orang tuanya, atau dia akan menerima hukuman yang berat dari mereka, seperti membersihkan cerobong asap, menyingkirkan salju, atau memberi makan reptil koleksi sang ayah, padahal Justin begitu takut akan hewan melata itu.
Begitulah, kisah hidup pria tampan tapi malang itu terasa menyayat hati. Dia seperti tak pernah merasakan kasih sayang sesungguhnya dari dua manusia yang ia sebut sebagai orang tua.
Justin sudah terbiasa hidup dalam sebuah aturan yang ketat, karena itu ketika ia beranjak dewasa dan lepas dari cengkeraman orang tuanya, ia bagaikan seekor burung yang terlepas dari sangkarnya. Bebas dan melakukan melakukan apapun yang ia inginkan. Salah satunya adalah, sesuatu yang tidak pernah ia lakukan yaitu bersenang-senang.
Dengan bermodalkan paras yang rupawan, Justin mulai melancarkan aksinya. Ia bagaikan seekor kera yang melompat dari satu dahan ke dahan yang lainnya. Entah ia pernah menabrak batang pohon atau tidak, tapi yang pasti kini ia selalu bertabrakan dengan seorang janda bohay yang tentu saja tidak akan membuat dirinya merasa sakit meskipun harus terus-menerus bertabrakan dengannya.
Ya, Lidya Rodriguez adalah segalanya bagi Justin. Meskipun ia seorang janda yang pastinya sudah bolong, tapi itu bukan masalah besar bagi Justin Blake. Lidya adalah tambang emas yang berharga baginya. Ia akan mengabaikan semua gadis cantik dan seksi yang meliriknya demi janda hebring tersebut (ya ... meskipun sesekali Justin masih sempat menggoda para gadis lugu, salah satunya adalah Rosmawati).
Justin Blake tidak akan melakukan sesuatu tanpa rencana dan alasan yang jelas. Selalu ada udang di balik batu, selalu ada tujuan tertentu dari semua hal yang dilakukan Justin Blake. Ia tidak akan melakukan sesuatu, yang ia anggap tidak akan mendatangkan keuntungan yang besar bagi dirinya.
Oh ... Justin Blake. Dia tampan tapi meresahkan dan juga membahayakan. Ia seperti sebuah tanaman karnovira, indah dipandang namun jika kita mendekat maka bersiaplah untuk dimangsa.
__ADS_1
Rosmawati adalah salah satunya. Mangsa yang sudah dibidik oleh Justin Blake. Entah apa niat pria bermata biru itu di balik semuanya, masih menjadi abu-abu.
Bagi Justin, Rosmawati adalah gadis naif dan idealis. Semangatnya dalam menjalani hidup begitu tinggi, membuat Justin Blake sedikit terinspirasi. Menurut Justin, tak ada salahnya dia sedikit bermain-main dengan gadis antik itu. Hitung-hitung sebagai penyegaran.
"Hai, Ros! Mau makan siang bersamaku?" Ajak Justin tiba-tiba di suatu siang yang tidak begitu cerah, saat Rosmawati bersantai dengan Joyce di kursi lobby.
Joyce yang awalnya bersandar di sandaran kursi sembari menguap, amat terkejut sampai-sampai dia mencondongkan badannya ke depan, menatap bosnya dan terperangah. "A-anda mengajak dia?" Tanyanya dengan raut terpana. Telunjuknya mengarah pada Rosmawati di sampingnya.
"Ya, kenapa memangnya?" Justin mengerutkan alisnya kepada Joyce.
"Oh, tidak apa-apa. Saya lupa kalau anda sultan. Jadi anda tidak perlu kaget kalau- kalau tagihan anda membengkak karena menraktir dia makan," sahut Joyce.
"Come on, Rose!" Ajak Justin dengan nada agak keras pada Rosmawati yang masih terbengong-bengong.
"Makan siang dimana, Sir?" Rosmawati sigap berdiri. Sorot matanya berbinar mendengar kata 'traktir'!
"Di restoran favoritku, come!" Justin Blake segera menarik tangan Rosmawati dan menggenggam jemarinya.
Sontak adegan itu membuat heboh seisi lobby. Semua mata memandang keheranan ke arah mereka. Tak terkecuali Joyce. "Oh, no!" Gumamnya seraya menggeleng-gelengkan kepalanya.
__ADS_1
Joyce juga berharap agar suatu saat nanti ada bos besar yang akan mengajaknya makan bersama. Tidak apa-apa meskipun dia adalah bos mafia yang kejam, karena Joyce punya otot yang kuat dan dia sudah terbiasa menghadapi singa liar. Joyce bahkan pernah akan dikejar cheetah sewaktu dia bekerja sebagai pemandu wisata di negaranya, Afrika.
Rosmawati yang tersihir dengan sikap Justin Blake, tentu saja menerima perlakuan itu dengan gembira. Dia sudah melupakan betapa dag dig dug hatinya saat bersitatap dengan Mehmet di flatnya kemarin malam. Dia sudah melupakan bulu mata lentik dan senyum manis menghangatkan itu. Kini sepenuhnya hanya ada Justin Blake di dalam kepalanya.
"Kamu suka lobster?" Tanya Justin tanpa menoleh pada Rosmawati. Tatapannya lurus ke depan, sambil berjalan cepat menyeberang jalan, menuju restoran favoritnya yang terletak tepat di seberang gedung kantor. Tangannya tak juga berhenti menggenggam tangan Rosmawati.
"Suka semuanya, Sir! Saya sudah biasa makan udang, kepiting, keong, dan kawan-kawannya. Apa lagi jika itu gratis," jawab Rosmawati dengan jujur seraya meringis.
"Okay," sambut Justin ceria. Dengan semangat, pria tampan itu membuka pintu restoran dan membawa Rosmawati duduk di salah satu meja yang menjadi tempat favoritnya. Setelah itu, ia kemudian memanggil seorang pelayan yang dengan sehega menghampiri mereka dengan dua buah buku menu.
Rosmawati langsung terbelalak melihat daftar harga pada menu itu. Jiwa emperannya seketika meronta dan seakan ingin berteriak dengan sangat kencang. Harga satu porsi makanan di restoran itu, setara dengan jatah makannya selama satu minggu.
Dalam hati, Rosmawati begitu terharu. Inikah pria emas yang diramalkan madame Jul untuknya? Jika iya, maka pengembaraannya di kota London tidaklah sia-sia.
"Ayo, Rose! Mungkin kamu ingin makan yang lain? Silakan pilih saja!" Tawar Justin Blake.
Rosmawati tidak menjawab. Ia masih berkutat dalam rasa haru di hatinya. Mak Katemi dan Pak Rozi pasti akan langsung jadi juragan jika ia berhasil membawa Justin Blake ke sana, ke kampung halamannya di Mojokerto.
"Baik, Sir!" Jawab Rosmawati dengan antusias tinggi.
__ADS_1