Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Welcome Birmingham


__ADS_3

Jamie Scott terlihat mengerucutkan bibirnya. Baru saja dia merasakan kebahagiaan karena Maryam telah menerima cintanya, tiba-tiba malah seperti ini yang terjadi.


"Kau akan mengikuti Ros, Mary?" Tanyanya murung.


"Iya, A. Gimana lagi, Neng nggak bisa jauh dari Ijem," sahut Maryam sambil bergelayut manja di lengan Rosmawati.


"Tetapi kau bisa jauh dari aku?" Protes Jamie Scott kecewa.


"Sebenarnya nggak bisa jauh juga sih, A. Cuma kan Neng belum kerja, jadi harus numpang sama Ijem dulu," jawab Maryam tanpa rasa berdosa.


"Wah ... beneran ni anak minta dicekek!" Gerutu Rosmawati jengkel.


"Mr. Eder! Buruan nafkahin si Mary! Biar dia nggak numpang terus sama saya," ujar Rosmawati pada Jamie Scott.


Jamie Scott tertegun mendengar ide itu. "Benar juga, ya! Tapi apakah Mary mau?" Gumamnya.


"Ya, pasti mau lah! Siapa juga yang nolak dinafkahin laki-laki seganteng Anda. Semua wanita pasti mau, kecuali saya. Karena saya udah naksir si Memet, tak ada yang lain lagi," ujar Rosmawati tersipu sembari cekikikan.


"Kalau begitu ...." Jamie Scott maju mendekati Maryam dan menggenggam kedua tangan gadis oleng itu, "tunggu aku, ya! Beri aku waktu untuk mempersiapkan semuanya! Aku akan memperbaiki hidupku supaya cukup untuk menghidupimu," ujarnya dengan mata berbinar.


Maryam sampai hampir tersedak ludahnya sendiri saking terkejutnya. Ia tidak menyangka semudah itu Jamie Scott berniat untuk mengikatnya.


Apalagi Rosmawati, dia begitu bahagia mendengar pernyataan Jamie Scott. Dia berpikir bahwa Maryam tidak akan menyusahkan dirinya lagi, karena Jamie Scott sudah bersedia untuk disusahkan dan menggantikan posisi Rosmawati. Namun, nyatanya ....


"Tapi, seperti yang kubilang, beri aku waktu! Itu artinya ... biarlah Mary ikut denganmu sementara ya, Ros! Sementara aku akan menyiapkan segala hal," ucap Jamie Scott yang seketika membuat bunga-bunga yang bermekaran di sekeliling Rosmawati menjadi lusuh, layu tak berbentuk lagi.


"Yaelah!" Rosmawati mendengus kesal sambil menendang koper besarnya.


"Jadi, aku boleh ikut ke Birmingham nih, A?" Tanya Maryam dengan begitu polosnya.


"Boleh!"


"Nggak!"


Sahut Jamie Scott dan Rosmawati secara bersamaan.


"Haduuh!" Rosmawati menepuk jidatnya keras-keras.


"Tenang, Jem! Kita akan menaklukkan Birmingham bersama-sama, okee!" Maryam mengepalkan tangannya ke udara. "Nanti gue bantuin elu make over setiap hari! Gue dandanin, gue masakin, gue belanjain, tapi duitnya dari elu," celotehnya Maryam semakin membuat Rosmawati bersungut-sungut.

__ADS_1


"Ya udah ... ya udah ... ya udah! Sekarang bantuin gue packing! Barang apa aja yang harus kita bawa!" Balas Rosmawati dengan nada tinggi. Dia kini mulai pasrah. Mungkin sudah takdirnya untuk merawat hamster kecil berbentuk manusia itu.


"Thank you so much, Rose. Aku titipkan Mary sementara padamu, ya!" ucap Jamie Scott seraya menyalami Rosmawati.


"Terserah lo deh," sahut Rosmawati kesal.


"Horee!" Maryam bersorak sambil melompat seperti anak TK. "Gue bantuin beres-beres sekarang ya, Jem!" Seru Maryam penuh semangat.


Setelah mengecup pipi Jamie Scott yang berpamitan pulang, Maryam antusias mengeluarkan baju-bajunya dari dalam lemari. Dia juga heboh mencari-cari kardus untuk menaruh barang pecah belah miliknya.


Ketika Maryam bekerja, dia tidak bisa bekerja dalam tenang. Selalu ada suara ribut yang mengiringi. Entah itu, barang jatuh, vas tersenggol, atau dia yang tak sengaja tersandung kakinya sendiri.


Hal itu membuat Kiki merasa terganggu sekaligus penasaran. Suara berisik dan berdebum dari flat duo gadis oleng itu terdengar sampai ke kamarnya.


Kiki menghentikan ritualnya, yaitu mengelus-elus punggung kura-kura peliharaannya. Ia bergegas mengintip fenomena gaib yang mungkin saja terjadi di flat tetangganya itu.


Tak biasanya, pintu flat Rosmawati dan Maryam terbuka lebar, sehingga dia bisa melihat dengan jelas penampakan di dalamnya yang porak poranda bagaikan kapal pecah. "What are you guys doing?" Tanyanya sambil melongokkan kepala.


"Eh kebetulan, ada siluman ular. Bantuin, yuk!" Paksa Rosmawati. "Sebagai tanda perayaan kalau kamu nggak akan kami ganggu lagi," lanjutnya.


"What do you mean?" Kiki menggaruk-garuk kepalanya yang tidak gatal. Rambutnya terlihat sangat kaku bagaikan sapu ijuk.


"Hah! Ka-kalian mau pindah?"


Ekspresi Kiki begitu jauh dari dugaan Maryam dan Rosmawati. Mereka mengira bahwa Kiki akan bahagia dengan kepindahan mereka. Akan tetapi, raut yang ditampakkan gadis eksotik dari Thailand itu malah sebaliknya.


"Jadi, kalian akan meninggalkanku sendirian di sini?" Tanya Kiki lirih.


"Lho, bukannya kamu senang kalau jauh dari kami?" Rosmawati terheran-heran.


"Senang dan sedih," jawab Kiki pelan. "Senang karena pada akhirnya hidupku tidak berisik lagi. Sedih karena aku akan kehilangan kalian."


Kiki mulai terisak. Maryam dan Rosmawati saling pandang dan terbengong-bengong. Entah Kiki sedang bersandiwara, ataukah sedang jujur dengan perasaannya.


"Aku nggak tahu mesti ngomong apa, Ki. Aku jadi terharu melihat kamu yang sedih begini," Maryam menepuk-nepuk pundak Kiki pelan.


Untuk beberapa saat mereka terdiam, sebelum sebuah ide brilian muncul di benak Maryam.


"Aha! Kita adain pesta aja, Jem!" Seru Maryam dengan girang.

__ADS_1


"Pesta apa?" Keringat dingin mulai mengucur dari pori-pori kulit Rosmawati. Perasaannya menjadi tidak enak.


Gue pesenin pizza sama soft drink, yak!" Tanpa menunggu persetujuan Rosmawati, Maryam segera memencet layanan pesan antar dan memesan berbagai jenis makanan beserta keripik seenaknya. Tak lupa, Maryam memesan berkaleng-kaleng softdrink atas nama Rosmawati tentunya.


"Keterlaluan lu, Mun! Gue utang 10 poundsterling aja belum dibayar. Nah ini mau ditambahin lagi," keluh Rosmawati.


"Semakin banyak sedekah, semakin banyak rejeki elu, Jem! Lu ngasi makan kita-kita sama juga sedekah, loh," bujuk Maryam sembari menepuk-nepuk pundak Rosmawati.


"Tau ah!" Gadis itu mendengus kesal, lalu kembali sibuk menata barang-barang yang akan dia bawa ke Birmingham.


"Here! Let me help!" Mengejutkan! Kiki tiba-tiba turun tangan membantu Rosmawati memasukkan barang-barangnya pada koper. Sesuatu yang tak pernah terjadi sepanjang sejarah Kerajaan Inggris.


Maryam sampai terbengong-bengong. "Kamu lagi nggak kena penyakit mematikan kan, Ki?" celetuknya. Sebab tingkah Kiki sekarang ini sungguh di luar nalar, seperti orang yang ingin menjalani sisa-sisa hidupnya dengan penuh kebajikan.


Beberapa menit berlalu, tiga orang gadis aneh itu saling bahu membahu membereskan flat yang akan ditinggalkan itu. Hingga suara ketukan pelan di pintu, menghentikan kegiatan mereka.


"Biar aku yang membuka pintunya!" Seru Kiki penuh semangat. Ia mengira bahwa pesnan pizzanya sudah datang. Namun, ternyata yang berdiri di balik pintu itu adalah seorang laki-laki super tampan, dengan jenggot rapi dan memesona.


Segera saja Kiki berpose sensual, menempel di daun pintu layaknya kertas reklame yang menempel di tiang listrik. Sesekali Kiki menggoyang-goyangkan bahu sembari mengedipkan sebelah matanya. "Hai, apa kau pengantar pizza? Ganteng sekali," puji Kiki dengan suara mendesah.


"Ah, bukan! Saya utusan Sheikh, ehm, maksud saya, Mr. Hayder. Beliau menyuruh saya untuk memberikan surat ini pada Nona Rosmawati," ujarnya seraya menyerahkan amplop coklat persegi pada Kiki.


"Masukhh duluhhhh," Kiki mendesah lagi, suaranya ia buat seserak mungkin.


Seketika pria itu beringsut mundur. "Ti-tidak, terima kasih. Saya sudah bertobat," ucapnya ketakutan, lalu membalikkan badan.


Saat berlari, sayup-sayup terdengar laki-laki itu berujar, "Ya, Tuhan. Ampuni hamba. Saya berjanji tidak akan melirik wanita yang tidak halal untuk saya, asalkan tidak kau berikan penampakan seperti itu, Ya Tuhan!"


Kiki mendengus kesal, ia kemudian menutup pintu.


"Mana pizzanya?" Tanya Rosmawati ketika melihat tangan Kiki tidak membawa apapun kecuali selembar amplop. "Apa itu?" Tunjuk Rosmawati pada benda yang dipegang oleh Kiki.


"Oh, ini. Surat dari Mr. Hayder," Kiki menyerahkan amplop itu pada Rosmawati. Belum sempat gadis antik itu membukanya, terdengar kembali suara ketukan di pintu.


"Eh, si ganteng pasti datang lagi!" Kiki buru-buru kembali berbalik ke arah pintu dan membukanya.


Kali ini, seorang pengantar pizza dan minuman ringan lah yang datang. "Hai, apa benar kalian memesan pizza dan softdrink?" Tanya pria itu ramah.


Kiki sama sekali tak menjawab. Dia malah mengamati pemuda itu dari ujung kepala hingga kaki.

__ADS_1


__ADS_2