Gadis Oleng Mencari Cinta

Gadis Oleng Mencari Cinta
Pelakor Solehah Part Two


__ADS_3

Sesi ramah tamah, canda tawa dan makan-makan sepuasnya sudah terlewati. Kini saatnya mak Odah menyampaikan sesuatu yang sepertinya penting. Terlihat dari gayanya yang tiba-tiba duduk tegak dan membetulkan letak kerudung yang tampak sedikit miring. Sementara abah Jaka merapikan kerah kemeja batiknya.


Mak Odah memulai pidatonya dengan sebuah deheman seksi. Setelah itu, dia meminum teh dan melahap dua biji kelengkeng. Semua mata pun tertuju ke arahnya, menunggu kalimat apa yang akan keluar dari mulutnya.


"Selamat siang, Tuan dan Nyonya Eder. Selamat siang untuk para tetangga, handai taulan yang saya cintai. Untuk anak saya yang juga saya cintai. Ya iyalah, masa iya anak sendiri nggak dicintai," tutur Mak Odah seraya terkekeh sendiri, sementara yang lain masih terdiam memerhatikannya. Satu-satunya yang menanggapi sikap konyol Mak Odah hanyalah seekor jangkrik. Krrrik ... krrrik ....


"Di siang hari yang cerah ini, izinkan saya menyampaikan bahwa Abah Jaka akan memberi pidato sambutan. Tepuk tangan yang meriah," Mak Odah mengangkat kedua tangannya dan bertepuk tangan. Beberapa orang mengela napas panjang, kemudian ikut bertepuk tangan dengan malas-malasan.


Pria paruh baya itu berdiri, lalu menepuk-nepuk kemeja batiknya. Ia kemudian memasang kaca mata dan mengeluarkan secarik kertas dari saku batik yang dikenakannya. Untuk sesaat Abah Jaka tertegun saat melihat tulisan yang ada di dalam secarik kertas tersebut. Pria itu berkali-kali mengernyitkan keningnya.


"Good afternoon, Mr. and Mrs. Eder. I am Maryam's father and this is her mother," ujarnya dengan bangga. Raut wajahnya tampak sangat serius, atau mungkin lebih tepatnya ia terlihat tegang.


"Saya ucapkan selamat datang di kampung kami yang sederhana ini," lanjutnya. "Memang panas, tapi tidak sepanas hati yang terluka oleh cinta." Abah Jaka kembali melanjutkan kata-kata sambutannya.


Rosmawati terbatuk-batuk merasakan ulu hatinya seperti tertohok. Ia lalu melirik Maryam. Rosmawati tahu, pasti dia lah yang telah membuat naskah pidato yang dibacakan oleh Abah Jaka saat itu, karena untaian kata abah Jaka seakan menyindirnya, membuat Rosmawati gelisah dalam duduknya.


"Jadi, tanpa berbasa-basi lagi, saya selaku wali dari Maryam, mengucapkan selamat datang untuk calon besan kami dari Inggris," tutupnya seraya menangkupkan kedua tangan di depan dada. Ia juga melipat kertas itu dan memasukannya kembali ke dalam saku bajunya.


"Eh, tunggu! Ada yang kurang!" seru Mak Odah. Dia segera berdiri dan menggeser tempat suaminya. Abah Jaka sendiri tak mau mengalah. Ia tetap bergeming sehingga Mak Odah terpaksa mendorongnya hingga hampir jatuh tersungkur.


"Sedikit tambahan dari saya, yah. Ti saprak Maryam ngawartosan yen kabogohna tos niat bade ngajak nikah, diideu simkuring atos persiapan sagala rupina," jelas Mak Odah.


(Sejak maryam mengabari kalau pacarnya berniat menikahi dia, saya sudah menghubungi penghulu dan mengurus surat segala macamnya.)


"Jadi, saya sudah berniat, kalau anak saya si neng sampai sini sama pacarnya, mau saya nikahkan langsung. Sekalian kan, mumpung di sini. Dari pada bolak-balik, ya kan? Lagian si Otong sering banget nyosorin si neng. Mak takutnya rem si Otong blong. Kan ngeri?" lanjutnya seraya tertawa dan menutupi mulutnya dengan telapak tangan. Dengan malu-malu, Maryam bertugas mengartikan tiap kalimat ibunya pada keluarga Jamie Scott.


Mrs. Harlekin terpana pada awalnya. Namun, pada akhirnya suami istri itu menyetujui ide unik dari Mak Odah. Maryam pun menyampaikan kepada mak dan abahnya bahwa orang tua Jamie Scott telah setuju.


"Alhamdulillah," abah Jaka tampak begitu bahagia sampai-sampai melakukan sujud syukur di depan para tamu. Setelah itu, dia berdiri dan heboh memanggil penghulu yang sudah ia undang sejak pagi.


"Beneran ini, Mun? Lu langsung dikawinin?" Rosmawati masih tak percaya dengan kejadian aneh ini.


"Dilarang membuang-buang waktu, Jem! Sekalian, mumpung pada ngumpul semua," Maryam tampak malu-malu. "Untung gue udah dandan ini tadi. Udah firasat kayaknya, hihi," ujarnya sambil tersenyum bahagia.

__ADS_1


"Kalo lu bahagia, gue juga ikut bahagia, Mun," sahut Rosmawati penuh haru.


"Maryam, Jeco, ayo!" panggil sang abah yang ternyata sudah menyiapkan sebuah meja kecil yang didekorasi sedemikian rupa hingga tampak indah dan manis. Hiasan bunga berwarna putih terangkai di tepiannya, ditambah taplak meja sutra dengan warna senada.


"Kok Jeco, sih?" protes Rosmawati.


"Biasa, panggilan kesayangan," bisik Maryam.


Seorang penghulu yang berusia paruh baya sudah siap duduk di meja tersebut. Wajahnya terlihat ceria. Berkali-kali pria itu melemparkan senyum, seakan-akan dia yang akan menikah.


"Pegangin hp gue, Jem!" Maryam begitu saja melempar ponselnya di pangkuan Rosmawati, kemudian menarik Jamie Scott agar ikut duduk berhadapan dengan penghulu.


"Please, hold my phone, too!" Jamie Scott juga meletakkan ponselnya di pangkuan Rosmawati.


Abah Jaka beserta dua orang saksi juga sudah siap duduk mengitari meja. Sementara mak Odah terlihat duduk di samping Mrs. Harlekin sambil mengusap ingus dan air matanya.


Sebelum melakukan akad, penghulu lebih dulu memberikan nasihat-nasihat pernikahan. Semua orang tampak serius mendengarkan, tak terkecuali Kang Dayat yang terlihat begitu antusias. Mungkin dia ada niatan untuk menambah surga dunianya.


'Mr. Hayder calling'


Rosmawati tampak begitu panik. Dia menoleh ke arah Maryam yang sedang khusyuk mendengarkan nasihat pak penghulu. Demikian pula Jamie Scott, meskipun pria ganteng itu sama sekali tidak mengerti apa yang dibicarakan.


"Sst! Ssst!" Rosmawati mulai mendesis, berharap salah satu dari dua sejoli itu menoleh padanya. Akan tetapi gagal.


"Hoeei! Mun! Jeco!" panggil Rosmawati dengan suara tertahan. Dia juga memanggil Jamie Scott seperti panggilan yang diberikan oleh abah Jaka.


Pasangan ajaib itu masih juga tak menoleh ke arah Rosmawati.


"Sah!" teriak Rosmawati sekencang-kencangnya. Dia melakukan itu agar Jamie Scott dan Maryam melihat kepadanya.


Sontak semua mata melotot, tak terkecuali Jamie Scott. Kesempatan emas bagi Rosmawati. Dia mengangkat ponsel Jamie Scott dan menunjuk-nunjuk layarnya. "Boleh aku angkat nggak telponnya?" tanya Rosmawati.


Beruntung, Jamie Scott mengizinkan meskipun sedikit sebal. Akan tetapi, Rosmawati tak peduli. Segera saja dia memencet tombol hijau dan menyapa Mehmet dengan suara semerdu mungkin.

__ADS_1


"Halo, Memet. Apa kabar? Aku Rose. Jamie sedang sibuk. Dia lagi menjalankan prosesi akad nikah sama Maryam," cerocos Rosmawati dengan dada berdebar.


Tak ada jawaban dari Mehmet selama beberapa saat, membuat Rosmawati ingin menangis. Namun, dia tak mau putus asa.


"Jadikan aku yang kedua, Met. Aku rela, walaupun istri pertamamu tidak rela. Aku janji akan jadi istri kedua yang solehah," cerocosnya lagi.


"Kenapa harus jadi yang kedua jika bisa jadi yang pertama?" jawab Mehmet kemudian.


Jantung Rosmawati seakan berhenti berdetak. "Yang bener, Met?" serunya sambil berdiri. Tanpa sadar suaranya membahana saat Jamie Scott bersiap melakukan ijab dan sedang bersalaman dengan abah Jaka.


Lagi-lagi semua mata melotot sebal ke arahnya. Rosmawati meringis dan kembali duduk. Seraya berbisik, dia bertanya pada Mehmet. "Memangnya istri pertamamu tidak masalah kalau kamu ceraikan demi aku?"


"Tidak masalah, Rose. Tidak ada istri pertama karena aku belum punya istri," jawab Mehmet.


Rosmawati seketika terbelalak. "Tapi ... tapi si Ahmad bilang ..."


"Nanti saja aku ceritakan semuanya. Sekarang katakan kau dimana? Aku ingin bertemu," potong Mehmet.


Lidah Rosmawati mendadak kelu. Untuk sejenak dia berpikir dan mencerna kembali setiap kalimat yang telah diucapkan oleh Mehmet.


"Rose?" panggil Mehmet kembali.


"I-iya? Aku di sini!" jawab Rosmawati.


"Di sini itu dimana?" tanya Mehmet lagi dengan penuh kesabaran.


"Sebentar, aku kirim lokasinya, ya. Eh, tapi kamu di mana?" Rosmawati balik bertanya.


"Aku ada di Mojokerto, di depan alamat rumahmu yang lama," jawab Mehmet lugas.


"Apaa!" seru Rosmawati, tepat pada saat para saksi dan semua yang hadir selesai mengucapkan kata 'sah'.


Sebentar lagi sepatu Maryam akan melayang ke jidat sahabat kembar siamnya itu.

__ADS_1


__ADS_2