
Hari ini mak Katemi dan pak Rozi terlihat begitu sibuk. Mereka terburu-buru mengurus surat-surat yang dibutuhkan untuk pernikahan Rosmawati dan Mehmet. Selain karena desakan mak Katemi, mereka juga risih mendengar gadis oleng itu merengek berkali-kali. "Pokoknya Ros mau kawin sekarang!" begitu serunya.
Entah setan apa yang merasuki anak keduanya itu. Beruntungnya, Mehmet begitu sabar dan terlihat sangat menyayangi Rosmawati. "Mungkin itu karena pengaruh peletnya, Mak," ujar pak Rozi berburuk sangka.
"Nanti kalau peletnya ilang gimana ya, Pak?" tanya mak Katemi was-was.
"Makanya buru-buru kita nikahkan saja. Biar mereka cepet-cepet sah jadi suami istri. Nah, kalau peletnya ilang, itu ya derita si Memet. Ros sudah jadi tanggung jawab dia. Terserah mau diapain itu anak satu. Sing penting kita sudah bebas, Mak. Beban kita berkurang satu," celoteh pak Rozi sambil tertawa geli.
"Mudah-mudahan cepat selesai ini urusan surat menyuratnya," harap mak Katemi dengan wajah gelisah.
"Anda ingin cepat?" sahut pegawai kelurahan yang sedari tadi mendengarkan percakapan pasangan suami istri itu. Mak Katemi dan pak Rozi segera mengangguk bersamaan.
"Gampang caranya. Cukup dengan isikan pulsa. Saya minta pulsa," ujar pegawai kelurahan itu. "Saya tadi mau nge vlog, ternyata kuota saya habis. Nanti kalau saya ngetop jadi konten creator, kalian bakal saya undang ke podcast saya," cerocos pria berseragam safari itu dengan entengnya.
Mak Katemi dan pak Rozi yang sama sekali tidak mengerti maksudnya, hanya manggut-manggut saja. Segera pria paruh baya itu mengeluarkan beberapa lembar uang berwarna merah dan memberikannya pada si pegawai.
"Lho, saya minta pulsa, bukan minta uang," tolaknya.
"Halah, gampang. Itu uangnya, sampeyan beli saja sendiri nanti, yang penting urusan surat-surat anak saya cepat beres. Kalau perlu hari ini langsung jadi. Terus, tolong kerjakan dengan teliti. Calon mantu kami itu orang Timur Tengah. Nama dia panjang ngga kaya nama orang-orang desa sini," desak pak Rozi.
Pria itu tampak termenung sejenak, untuk kemudian menyetujui permintaan pak Rozi. "Nggih, sampun! Beres kalau begitu. Satu jam lagi selesai!" ujarnya penuh keyakinan. Mak Katemi pun bersyukur dalam hati. Sebentar lagi, berkurang satu beban hidupnya.
Sementara itu, di rumah Rosmawati, gadis itu tampak merenung sedih menatap ke luar jendela kamarnya. Dilihatnya Mehmet yang asyik bermain bersama keempat adik-adiknya. Tak terlihat wajah risih dan canggung saat Zayn Malik kw 1 itu bercanda dengan bocil-bocil beringus hijau itu. Mehmet bahkan berkali-kali membetulkan pakaian mereka yang kalau dalam istilah sunda itu disebut ngalèklèk.
"Kenapa lu, Jem? Muka ditekuk begitu! Harusnya lu seneng, kan sebentar lagi lu bakalan kawin?" Maryam tiba-tiba menepuk punggung Rosmawati dengak cukup keras, hingga gadis itu tersentak dan membalikkan badan.
"Bikin kaget aja lu, Mun!" omelnya, lalu kembali ke posisi semula.
"Kenapa, sih?" Maryam mulai penasaran lalu duduk menjajari Rosmawati.
Rosmawati menarik napas panjang dan membuangnya sebelum menjawab pertanyaan dari sahabat kembar siamnya itu. "Si Memet kayaknya udah mulai bosen sama gue, Mun," keluhnya.
"Kok bisa lu mikir begitu? Kalian kan baru ketemu kemarin," Maryam mengerutkan dahi sambil menopang dagu, bergaya bak detektif.
"Buktinya, gue ajak kawin cepet-cepet, dia ogah-ogahan," jawab Rosmawati sambil menunduk.
__ADS_1
"Nah, itulah letak kesalahan Anda, Nona Ijem!" Maryam menjentikkan jari, kemudian berdiri dan memegang pundak Rosmawati.
"Kok bisa gue yang salah?" Rosmawati tak terima.
"Iya lah! Sebagai seorang wanita, kita harus jual mahal, Jem! Jangan terlalu banyak merengek-rengek. Lu harus menunjukkan kalau lu pura-pura ga mau, padahal doyan!" saran Maryam.
"Gimana sih, Mun? Makin pusing gue!" Rosmawati mengacak-acak rambutnya sendiri, lalu kembali mengamati Mehmet. "Kenapa ya, nggak dari dulu aja gue naksir dia. Kenapa gitu mesti kepincut dulu sama si Justin," sesalnya.
"Semua itu ada waktunya, Jem. Nggak bisa dipaksa. Kalau memang begini alurnya, jalani aja. Gue juga sebelum sama aa Jamie tersesat dulu sama si Charlie Manfred. Kalau Memet nolak kawin sekarang, ya terima dengan lapang dada. Ingat, Jem. Pasir yang digenggam terlalu erat, dia bakal ngacir lewat sela-sela jari," tuturnya dengan bijaksana. "Jadi sekali lagi, jangan dipaksa!" imbuhnya penuh penekanan. "Kaya kentut, Jem. Makin lo tahan biar ngga bunyi, eh suaranya malah makin sering dan ngga habis-habis," lanjut Maryam.
"Tumben lu waras," celetuk Rosmawati keheranan.
"Yee, bilang terima kasih, kek!" protes Maryam. "Setelah nikah sama aa Jamie, gue dapat banyak pencerahan," lanjutnya.
"Terima kasih, Bu Maria Angkuh," timpal Rosmawati sambil cekikikan.
Setelah itu, mereka saling terdiam dan kembali memandang ke luar jendela, mengamati Mehmet yang merangkak dengan dua anak kecil di punggungnya. Sejenak, mereka berdua terpesona melihat Mehmet yang begitu sabar meladeni bocil-bocil tak berakhlak itu. Sementara Jamie Scott hanya duduk termangu sambil menopang dagu di ruang tamu. Ia ingin segera pulang ke Inggris.
"Mbak!" tiba-tiba sebuah kepala menyembul dari bawah jendela dengan wajah yang menyeringai. Sontak Maryam dan Rosmawati menjerit ketakutan.
"Minta Memet aja! Dia lagi banyak duit, kayaknya," tunjuk Rosmawati.
"Tadi aku udah minta, Mbak. Dikasih seratus ribu," ujar Nining.
"Lah, terus kok minta lagi sama Mbak?" sewot Rosmawati.
"Uang seratus ribu nggak ada kembaliannya, Mbak! Harus uang pas!" kilah Nining.
Sambil mendengus kesal, Rosmawati merogoh kantongnya dan mengeluarkan dua lembar uang puluhan ribu, "Nyoh! Yang seratus ribu sini kasih sama Mbak!" pinta Rosmawati membuat Nining merengut.
"Eh, Mbak kalo mau kenapa ngga langsung minta sama Mas Memet? Apa perlu aku yang mintain?"
"Ngga usah. Udah sana! Ganggu keheningan aja kamu!" usir Rosmawati.
"Suwun, Mbak! Melissa juga ikut berterima kasih!" ucap Nining riang sambil berlari pergi yang spontan membuat Maryam bergidik ngeri.
__ADS_1
"Adik lu aneh, Jem. Sumpah," bisiknya. "Gue nemenin Aa di kamar aja, deh! Kayaknya jauh lebih aman di sana," ujar Maryam yang saat itu melihat Jamie Scott berlalu masuk. Maryam pun meninggalkan Rosmawati.
Kini, tinggallah Rosmawati seorang diri. Kembali terngiang-ngiang kalimat Maryam di telinganya. "Berarti nggak boleh maksa si Memet, ya? Baiklah, jodoh nggak akan ke mana. Ya, kan? Ya kalau Memet jodoh gue, kalau bukan? Bakal gue paksa jadi jodoh gue. Eh, iya, kan nggak boleh memaksa, ya? Hmm," gumam Rosmawati pada diri sendiri.
Saking asyiknya ngomong sendiri, dia sampai tak menyadari jika Mehmet sekarang sudah berdiri di depannya. Keempat anak ajaib itu entah menghilang ke mana karena sudah lenyap dari pandangan.
"Rose, apa yang kau pikirkan?" tanya Mehmet lembut. Rosmawati sedikit terkejut dan gelagapan. "Eh, Memet. Mana Tono, Joni, Mahmud dan Brandon?"
Sebenarnya Mehmet sedikit heran dengan satu nama bocil yang terdengar berbeda, tapi ia berniat menanyakan hal itu nanti-nanti saja. Toh, masih banyak waktu, pikirnya.
"Mereka ikut Nining membeli bakso," jawab Mehmet ceria. "Oh, ya. Mereka juga mengajariku bahasa jawa, Rose! Listen up," Mehmet mengingat-ingat kosakata yang baru saja dia dapat dari tuyul-tuyul cilik itu.
"Kamu semok!" tunjuk Mehmet pada Rosmawati dengan bangga. Sementara Rosmawati hanya tersenyum kecut. Sudah jelas adik-adiknya telah mengerjai Mehmet.
"Memang kamu tahu apa artinya, Met?" cibir Rosmawati.
"Tadi aku sempat bertanya pada Nining, dia bilang artinya, 'kamu cantik'," jawab Mehmet tanpa berdosa.
"Makasih," timpal Rosmawati malas-malasan. Dia lalu memalingkan muka dari Mehmet.
"What's the matter, Rose?" Mehmet mulai merasakan gelagat aneh dari calon istrinya itu, namun Rosmawati tak kunjung menjawab.
"Rose?" panggil Mehmet lagi.
Beberapa waktu lamanya terdiam, akhirnya Rosmawati menoleh pada Mehmet dan menjawab, "Kita nggak jadi nikah aja, ya! Aku nggak mau kalau kamu merasa keberatan," tutupnya.
.
.
.
.
Sambil menunggu kegalauan si Ijem, intip dulu yuk karya keren dari temen otor yang kece badai ini ❤️
__ADS_1